Teknologi Baru, Relasi Baru: Memajukan Budaya Menghormati, Dialog dan Persahabatan

(Pesan Bapa Suci Benediktus XVI untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke- 43,  24 Mei 2009)

Pope Benedict XVI

Pope Benedict XVI

Saudara dan Saudari Terkasih,

 

1. Mendahului Hari Komunikasi Sedunia yang akan datang,  Saya ingin menyampaikan kepada  anda beberapa permenungan mengenai tema yang dipilih untuk tahun ini yakni – Teknologi Baru, Relasi Baru:  Memajukan Budaya Menghormati, Dialog dan Persahabatan. Sesungguhnya teknologi digital baru sedang membawa  pergeseran yang hakikih  terhadap perilaku-perilaku komunikasi juga terhadap ragam hubungan manusia, khususnya bagi kaum muda yang bertumbuh bersama teknologi baru dan  telah merasakan dunia digital sebagai rumah sendiri.  Mereka berusaha memahami dan memanfaatkan  peluang yang diberikan olehnya, sesuatu yang bagi kita orang dewasa acapkali dirasakan cukup asing. Dalam pesan tahun ini, Saya menyadari mereka yang dikenal sebagai generasi digital, dan Saya ingin berbagi dengan mereka, khususnya tentang gagasan-gagasan menyangkut potensi ulung teknologi baru apabila dipergunakan untuk mamajukan pemahaman  dan rasa kesetiakawanan manusia.  Teknologi baru itu sesungguhnya merupakan anugerah bagi umat manusia dan kita mesti sungguh-sungguh memberikan jaminan bahwa manfaat yang dimilikinya dipergunakan untuk melayani semua umat manusia secara pribadi dan komunitas, secara istimewa bagi mereka yang kurang beruntung dan disakiti.

 

2.  Akses yang mudah terhadap telpon seluler dan komputer yang dikombinasikan dengan jangkauan dan penyebaran internet secara meluas telah menciptakan serba ragam sarana  melaluinya, kata-kata dan gambar dapat disampaikan secara langsung ke wilayah-wilayah terjauh dan terpencil di dunia, sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh generasi-generasi sebelumnya. Kekuatan besar media baru ini telah digenggam oleh orang-orang muda dalam mengembangkan jalinan, komunikasi dan pengertian di antara individu maupun secara bersama. Mereka telah beralih kepada media baru  sebagai sarana berkomunikasi dengan teman- teman , sarana untuk berjumpa dengan teman-teman baru, sararana untuk membangun paguyuban dan jejaringan, mencari informasi dan berita serta sarana berbagi gagasan dan pendapat. Banyak manfaat muncul dari budaya baru komunikasi ini, antara lain keluarga-keluarga masih tetap bisa berkomunikasi walau terpisah oleh jarak yang jauh, para mahasiswa dan peneliti mendapat  peluang yang lebih cepat dan  mudah kepada dokumen, sumber-sumber rujukan dan penemuan-penemuan ilmiah sehingga mereka bisa bekerja secara bersama meski dari tempat yang berbeda. Lebih dari itu, kodrat interaktif yang dihadirkan oleh bebagai media baru mempermudah  pembelajaran dan komunikasi dalam bentuk yang lebih dinamis sehingga memberikan sumbangsih bagi perkembangan sosial.

 

3. Betapapun kecepatan media baru ini begitu mengagumkan dalam artian daya guna dan rasa aman,  namun popularitasnya bagi para pengguna  tidak seharusnya membuat kita terheran-heran kalau  ia menjawabi kerinduan  mendasar  umat manusia untuk berkomunikasi dan  berhubungan dengan orang lain.

 

Hasrat akan komunikasi dan persahabatan ini berakar pada kodrat kita yang paling dalam sebagai manusia dan tak boleh  dimengerti  sebagai jawaban terhadap berbagai inovasi teknis. Dalam terang amanat Kitab Suci, hasrat untuk berkomunikasi dan berhubungan dengan orang lain, pertama-tama harus dimengerti sebagai  ungkapan peran-serta kita akan kasih Allah yang komunikatif dan mempersatukan yang ingin menjadikan seluruh umat manusia sebagai suatu keluarga. Tatkala kita ingin mendekati orang lain, tatkala kita ingin mengetahui lebih banyak tentang mereka, dan membuat kita dikenal oleh mereka,  kita justru sedang menjawabi panggilan Allah   yakni panggilan yang terpatok dalam kodrat kita sebagai mahkluk yang diciptakan seturut gambar dan rupa Allah, Allah komunikasi dan persekutuan.

 

4. Hasrat  saling berhubungan dan naluri komunikasi  yang sudah sedemikian melekat dalam kebudayaan masa kini sungguh dipahami sebagai  ungkapan kecendrungan  mendasar dan berkelanjutan manusia yang mutakhir untuk menjangkau keluar dan mengupayakan persekutuan dengan orang lain.  Kenyataanya,  tatkala kita membuka diri terhadap orang lain,  kita sedang memenuhi hasrat kita yang terdalam dan menjadi lebih sungguh manusia.  Pada dasarnya, mencintai adalah hal yang dikehendaki oleh Sang Pencipta.  Dalam hal ini, Saya tidak berbicara tentang hubungan sekilas dan dangkal, tetapi tentang kasih yang sesungguhnya, yang menjadi inti ajaran moral Yesus: ”Kasihilah TuhanAllahmu dengan sepenuh hati, dengan seluruh jiwa raga,  dengan seluruh akal budimu dan dengan seluruh kekuatanmu” dan ” kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri” (bdk. Mrk 12:30-31).  Dalam terang pemahaman ini, merenungi   makna teknologi baru amatlah penting agar kita tidak  sekadar menaruh pehatian pada kemampuannya yang tak dapat diragukan  untuk mengembangkan kontak dengan orang lain, tetapi tertutama pada kwalitas isi yang disebarkan melaui media dimaksud. Saya ingin mendorong semua orang yang berkehendak baik yang sedang bergiat di  lingkungan komunikasi digital masa kini untuk sungguh membaktikan diri  dalam  memajukan budaya menghomati, dialog dan persahabatan.

 

Oleh karena itu,  mereka yang bergiat dalam pembuatan dan penyebaran isi media baru  harus benar-benar menghormati martabat dan nilai pribadi manusia. Apabila teknologi baru dipergunakan untuk melayani kebaikan pribadi dan masyarakat,  semua penggunanya akan mengelakkan tukar menukar kata dan gambar yang merendahkan umat manusia dan keintiman hubungan seksual atau yang mengeksploitasi orang lemah dan menderita.

 

5. Teknologi baru juga membuka jalan untuk dialog di antara orang-orang dari berbagai negara, budaya dan agama. Gelanggang digital baru yang disebut jagat maya, memungkinkan mereka untuk bertemu dan saling mengenal kebiasaan dan nilai-nilai mereka masing-masing. Perjumpaan-perjumpa an yang demikian kalau mau berhasil guna, menuntut bentuk pengungkapan bersama yang jujur dan tepat disertai  sikap mendengar dengan penuh perhatian dan penuh penghargaan.  Bila dialog bertujuan  untuk memajukan pertumbuhan pengertian dan sikap setia kawan, ia harus  berakar pada ikhtiar mencari kebenaran  sejati dan  bersama. Hidup bukanlah sekadar rangkaian peristiwa dan pengalaman: hidup adalah sebuah pencarian kebenaran, kebaikan dan keindahan. Untuk maksud inilah maka kita membuat pilihan; untuk maksud inilah maka kita meragakan kebebasan kita, dengan maksud inilah-  yakni dalam kebenaran, dalam kebaikan dan dalam keindahan-  kita menemukan kebahagiaan dan sukacita.  Kita tidak boleh membiarkan diri kita diperdaya oleh orang-orang yang semata-mata melihat kita sebagai konsumen dalam sebuah pasar yang dijejali dengan aneka ragam kemungkinan dimana pilihan itu sendiri berubah menjadi barang, kebaruan mengganti keindahan dan pengalaman sukyektif menggantikan kebenaran.

 

6.  Gagasan tentang persahabatan telah mendapat pemahaman  baru  oleh munculnya kosa kata jaringan sosial digital dalam beberapa tahun belakangan ini. Gagasan ini merupakan suatu pencapaian yang paling luhur dalam budaya manusia. Dalam dan melalui persahabatan, kita bertumbuh dan berkembang sebagai manusia. Karena itu,  persahabatan yang benar harus selalu dilihat sebagai  kekayaan  paling besar yang dapat dialami oleh pribadi manusia. Dengan ini, kita mestinya hati-hati  memandang remeh gagasan atau pengalaman persahabatan. Sungguh menyedihkan apabila hasrat untuk  mempertahankan dan mengembangkan persahabatan ’on-line’ mengorbankan kesempatan untuk keluarga,  tetangga dan mereka  yang kita jumpai dalam keseharian  di tempat kerja, di tempat pendidikan dan tempat rekreasi. Apabila hasrat akan jalinan maya berubah menjadi obsesi,  maka hasrat itu akan memarjinalkan pribadi dari interaksi sosial  rial sekaligus menghambat pola istirahat, keheningan dan permenungan yang berguna bagi perkembangan kesehatan manusia.

 

7. Persahabatan adalah kekayaan terbesar manusia, tetapi nilai ulungnya bisa hilang apabila persahabatan itu dipahami sebagai tujuan itu sendiri. Sahabat harus saling mendukung dan saling memberi dorongan dalam mengembangkan bakat dan pembawaan mereka  dan memanfaatkannya demi pelayanan bagi manusia. Dalam konteks ini,  sungguh membanggakan bahwa  jejaringan digital baru  ini berihktiar  memajukan kesetiakawanan umat manusia, damai dan keadilan, hak asasi manusia dan penghargaan terhadap hidup manusia serta kebaikan ciptaan. Jejaringan-jejaring an ini dapat mempermudah  bentuk-bentuk kerjasama antar orang dari  konteks geografis dan budaya yang berbeda dan membuat mereka mampu memperdalam  kemanusiaan mereka  dan  rasa sepenanggungan demi kebaikan untuk semua. Karena itu kita mesti secara tegas menjamin bahwa dunia digital, dimana jejaringan serupa itu dapat dibangun, adalah dunia yang sungguh terbuka untuk semua orang. Sungguh  akan menjadi  tragedi masa depan bagi umat manusia, apabila sarana baru komunikasi  yang memungkinkan orang berbagi pengetahuan dan informasi dengan cara yang lebih cepat dan berdayaguna, tidak terakses oleh mereka yang terpinggirkan secara ekonomi dan sosial, atau apabila  ia cuma membantu memperbesar kesenjangan yang memisahkan orang miskin dari jejaringan baru itu yang  justru dikembangkan bagi pelayanan sosialisasi manusia dan penyebaran informasi.

 

8. Saya bermaksud mensyimpulkan pesan ini   dengan menyampaikan secara istimewa kepada orang muda katolik  untuk mendorong mereka memberikan kesaksian iman dalam dunia digital. Saudara dan Saudari terkasih, saya meminta kepada anda sekalian untuk memperkenalkan nilai-nilai yang melandasi hidup anda ke dalam lingkungan budaya baru yakni budaya komunikasi dan informasi teknologi. Pada awal kehidupan gereja, para rasul  bersama murid-muridnya  mewartakan  kabar gembira tentang Yesus kepada dunia  orang Yunani dan Romawi. Sudah sejak masa itu,  keberhasilan karya evangelisasi menuntut  perhatian yang saksama dalam memahami kebudayaan dan kebiasaan bangsa-bangsa kafir  sehingga kebenaran Injil  dapat menjamah hati dan pikiran mereka. Demikian juga pada masa kini,  karya pewartaan Kristus  dalam dunia teknologi baru menuntut suatu pengetahuan yang mendalam tentang dunia  kalau  teknologi itu dipergunakan untuk melayani perutusan kita secara berdayaguna.

 

Kepada anda kalian, orang-orang muda, yang  agaknya memiliki  hubungan  yang spontan terhadap sarana baru komunikasi, supaya bertanggungjawab terhadap evangelisasi ’benua digital’ ini.  Pastikan untuk mewartakan Injil  ke dalam dunia jaman sekarang  dengan penuh semangat. Kamu mengetahui kecemasan dan harapan mereka, cita-cita dan kekecewaan mereka:  hadiah terbesar yang dapat kalian berikan kepada mereka adalah  berbagi dengan mereka ”kabar gembira” Allah yang telah menjadi manusia, yang menderita, wafar dan bangkit kembali untuk menyelamatkan semua orang. Hati umat manusia sedang haus akan sebuah dunia dimana kasih meraja,  dimana anugerah dibagikan dan dimana jati diri ditemukan dalam bentuk persekutuan yang saling menghargai.  Iman kita mampu menjawabi harapan-harapan itu:  semoga kamu menjadi bentaranya! Ketahuilah, Bapa Suci memberkati anda dengan doa dan berkatnya.

 

Vatikan, 24 januari 2009, pesta Santu Fransiskus dari Sales

 

Benediktus XVI

Tinggalkan komentar

Filed under Suara Vatikan

Aneka Gambar Bunda Hati Kudus

Bunda Hati Kudus

Bunda Hati Kudus

Patung Bunda Hati Kudus Asli

Patung Bunda Hati Kudus Asli

Bunda Hati Kudus yang berdiri di bawah kaki salib Puteranya

Bunda Hati Kudus yang berdiri di bawah kaki salib Puteranya

Bunda Hati Kudus versi wanita Jawa

Bunda Hati Kudus versi wanita Jawa

im_a0067

Maria Bunda Hati Kudus dari Perancis

Maria Bunda Hati Kudus dari Perancis

Bunda Hati Kudus

Bunda Hati Kudus

3 Komentar

Filed under Religius

Refleksi Paskah 2009

“God didn’t promise days without pain, laughter without sorrow, sun without rain, but He did promise strength for the day, comfort for tears, and light for the way. Words which do not give the light of Christ increase the darkness.”  (Mother Teresa of Calcutta)

KESAKSIAN KEBANGKITAN

C A H A Y A

Tuhan... jadikalah aku pembawa terangMu!

Tuhan... jadikalah aku pembawa terangMu!

Semalam listrik padam. Ditemani sebatang lilin, angan saya langsung tiba ke kisah seorang baginda raja dan dua putranya. Ketika baginda raja telah berangkat tua, ia mengalami kesulitan, siapa di antara kedua putranya yang akan menjadi putra mahkota. Akhirnya ia mendapat akal. Kepada kedua putranya ia berkata, ”Siapa di antara kamu berdua yang sanggup memenuhi ruangan besar ini sampai malam tiba, dialah yang akan menggantikan aku”.

Keduanya segera meninggalkan istana. Si sulung langsung membeli apa saja yang ditemuinya di jalan, lalu membawa semuanya pulang. Bangsal besar pun segera penuh sesak. ”Ayah, jadikan aku penggantimu. Lihat, ruangan ini sudah penuh oleh hasil bawaanku.” Jawab sang raja, ”Sabarlah, kita harus menunggu adikmu, apalagi batas waktunya malam, dan ini belum juga malam.”

Ketika si adik pulang, ia tak membawa apa-apa. Tetapi ia memerintahkan pelayan menyingkirkan semua bawaan kakaknya. Lalu, di tengah ruangan besar yang kosong itu, ia menyalakan lilin. Nyala lilin semakin terang dan memenuhi ruangan ketika hari semakin gelap. Kepada ayahnya, ia berkata, ”Ayah, kuharap lilin kecil ini telah menjalankan tugasnya, yaitu memenuhi seluruh ruangan dengan cahaya dan kehangatannya.” Siapa yang menjadi putra mahkota tentu kita bisa menduga.

Terang atau cahaya atau apa pun namanya, baru benar-benar kita rasakan manfaatnya bila terang tak ada dan kita termangu dalam gelap. Bayangkan saja bila matahari sehari saja ”mogok” dan tidak terbit. Apa jadinya hidup kita tanpa cahaya? Frans Brentano (1838-1917), filsuf yang banyak memukau dengan jenis teka-teki bermutu pengasah otak, memberikan sebuah teka-teki sebagai berikut: ”Terangnya tak tertandingi, lajunya tak tersaingi burung di udara, mampu menembus mengalahkan anak panah, pintu dan jendela dia terobos tanpa paksa, tak terduga, mendadak ia ada di mana-mana, apakah itu, coba terka!” Itulah cahaya, jawab Brentano.

Semalam, ketika hanya ditemani sebatang lilin, saya semakin paham apa maksud Yesus, Tuhan kita, dengan berkata bahwa kita pengikut-Nya harus menjadi terang, menjadi cahaya bagi dunia, paling kurang bagi lingkungan dan sekitar kita sendiri.

(Dari ”Cerita Kecil Saja”, Stephie Kleden Beetz)

Pemberdayaan Kesejatian Hidup,

”Pemberdayaan Hubungan antarUmat Beriman”

demikian tema Aksi Puasa Pembangunan

(APP 2009)

Umat Katolik diajak untuk membuka diri kepada masyarakat dan lingkungan hidupnya yang nyata majemuk. Kita harus bersikap realistis bahwa jika kita ingin hidup berdampingan dengan tenteram dan damai, maka kita harus membuka diri dan dengan ikhlas menerima kehadiran orang lain, teristimewa yang berbeda institusi keagamaan dengan kita.

Baca dan renungkan (Yohanes 17 : 1 – 26), bagaimana Yesus berdoa untuk murid-murid-Nya dan juga untuk dunia mohon persatuan teguh.

Intinya bahwa kita iklhas menjadi ”cahaya” bagi dunia.

Paskah, memang diidentikan dengan ”cahaya, api yang bernyala menerangi.” Di malam Paskah, dalam tradisi gereja Katolik diawali dengan upacara ”cahaya”, gereja dan umat berada dalam kegelapan. Kemudian lilin Paskah yang adalah lambang cahaya Kristus yang bangkit diarak memasuki gereja dan menerangi umat dan ruangan gereja. Sambil berarak Iman berseru setengah bernyayi, ”Kristus cahaya dunia” dan umat meriah bersorak menjawab, ”Syukur kepada Allah”. Kemudian umat menyalakan lilin-lilin kecil di tangannya dengan api dari lilin Paskah.

Menjadi cahaya di tengah dunia gulita. Kita menjadi sebatang kandil mungil di dunia. Sebuah simbol agung khas paskah beruang-ulang kita kenangkan lewat upacara liturgi gereja. Tetapi, apakah kita sadar bahwa simbol itu seharusnya menjadi realitas dalam hidup beriman dan bermsyarakat? Sejauh mana kita berani bersaksi bahwa kita adalah cahaya dunia? Cahaya yang menerangi dan menyejukkan kehidupan? Ataukah kita justru menjadi ”virus” penyebar fenomena kegelapan dan kekacauan di dunia lewat kesaksian hidup semu kita?

Semoga sikap cerdik si bungsu dalam cerita awal renungan menjadi pedoman:

arif buat berlangkah dalam hidup ini.

Dan mari jauhi sikap picik sang sulung

yang memaknakan hidup ini lewat aksi penumpukan harta kekayaan serta adu gengsi yang justru menjadi penghalang masuk dan merebaknya cahaya suci.

Dan kita masing-masing boleh bertanya,

siapakah aku ini,

si bungsu ataukah si sulung?”

Selamat Berhari Raya Cahaya 2009

2 Komentar

Filed under Religius

Refleksi Prapaskah 2009

Ini adalah uskup agung yang pernah bertugas di Rusia dan kini sudah sepuh. Di masa mudanya sebagai mahasiswa yang cerdas, ia terpilih untuk melanjutkan studi S-3 di bidang hukum gereja. Di samping menjalankan tugas akademisnya, ia mendapat giliran membantu di sebuah rumah sakit. Di sini ia punya kesempatan untuk meneruskan disertasinya. Sebuah metode yang unik ia pakai: ia kumpulkan berbagai pendapat ilmuwan, ia catat dengan cermat sumbernya, siapa pengarangnya, dan akan dimasukkan ke bagian mana dari tesisnya. Kemudian kutipan yang beratus-ratus jumlahnya ia susun rapi di atas meja kerjanya. Tak cukup di atas meja, ia tata dan ia urutkan sampai di lantai.

Suatu hari, pembantu yang mengurus kebersihan rumah membuka kamar kerja romo muda ini dan berhamburanlah ratusan kutipan kecil itu diterpa angin dari arah jendela dan pintu. Ia lalu menyapu dan ketika akan memasukkan kertas-kertas itu ke keranjang sampah, masuklah si romo. Pucat bagaikan kapur, si romo gemetar menahan diri untuk berteriak sejadi-jadinya. Daya ledak di dada sekuat gunung api yang siap sembur. Terlambat lima menit saja, semua jerih payah dan cucur keringatnya selama satu tahun lebih sudah jadi mangsa api. Namun romo kita dalam cerita ini cepat menguasai diri dan menyuruh pergi si pembantu, yang jadi gemetar dan panik tak paham apa sebenarnya kesalahannya.

Setelah tenang kembali, si romo muda menata lagi ratusan keping kertas yang berisi kutipan berharga dari berbagai sumber itu. Entah berapa lama ia harus menatanya kembali. Mene-ngadalah ke langit, ia berkata, ”Tuhan, terima kasih karena sudah memberikan kesabaran ke-padaku di saat yang sulit.”

Peribahasa Cina mengatakan,

”Jika engkau menahan diri sesaat saja dalam kemarahanmu yang luar biasa, engkau luput seratus hari dari seribu penyesalan”

(dari ”cerita kecil saja”, stephie kleden – beetz)

Para Frater yang dikasihi Tuhan,

Masa refleksi agung tahunan ”pra paska 2009” tiba.

Budaya bangsa kita mengajarkan sebuah petuah mulia,

”Penyabar kekasih Tuhan”.

Kali ini kita diajak untuk mengetes diri, apakah saya ini penyabar atau pemarah? Bukanlah, kemarahan akan mlahirkan banyak dosa?

Kita memang sering gampang marah. Jarang dan sedikit sekali di antara kita yang memiliki kemampuan untuk dapat mngendalikan diri dari ancaman maut ini, marah. Bahkan, sering, sedikit saja ada gangguan, kita sudah meledak memuntahkan ke-marahan yang menakutkan. Meresahkan suasana hidup. Bahkan, saya pernah me-nyaksikan ada seseorang yang berlari tunggang langgang karena ia tidak tega, ia tidak mampu menahan mendengar dan menyaksikan ”ledakan kmarahan” dari seseorang di hadapannya. Memang, kemarahan itu menakutkan! Dan kesabaran itu mengharukan!

Kemarahan dapat beranak pinak, artinya

sebuah kemarahan akan melahirkan sejuta kemarahan; bahkan dikatakan, ”kemarahanmu mendatangkan dosa di hatimu”

Pernahkah Anda sangat marah, di suatu kesempatan?

di suatu tempat?

karena suatu alasan sepeleh?

bagaimana perasaanmu setelah itu?

pernahkah berjanji untuk berhenti marah?

Nah,

adakan sebuah flash back akan peristiwa itu dan refleksikan dengan penuh konsentrasi!

Tuhan Ajari Kami

Tuhan,

ajari kami masing-masing agar tidak gampang panik dan marah menghadapi kehidupan harian ini

di komunitas-komunitas bersama saudara-saudara kami

kuatkan niat baik kami agar mampu mengontrol diri saat hendak marah

mampuhkan kami, agar boleh meneladan Yesus Putra-Mu

yang tetap mampu bersabar kepada siapa pun

jika memang kemarahan itu tidak seharusnya ditumpahkan

semoga semangat kerendahan hati serta kesadaran diri

selalu menghiasai hari-hari hidup kami

agar kami mampu mengatur hidup ini

menjadi kian bermakna, hening, dan lembut

bersahabat dan sabar

Amin.


“If you are patient in one moment of anger, you will escape a hundred days of sorrow.” (Chinese Proverb)

Tinggalkan komentar

Filed under Religius

KEKERASAN TERHADAP ANAK

Pengertian Bullying

Konon, istilah bullying ini terkait dengan bull, sapi jantan yang suka
mendengus (untuk mengancam, menakuti-nakuti, atau memberi tanda).
Kamus Marriem Webster menjelaskan bahwa bully itu adalah to treat
abusively (memperlakukan secara tidak sopan) atau to affect by means
of force or coercion (mempengaruhi dengan paksaan dan kekuatan).

Dalam dunia anak-anak, Dan Olweus, seorang pakar yang berkonsentrasi
menangani praktek bullying, menyimpulkan, bullying pada anak-anak itu
mencakup penjelasan antara lain:

a) upaya melancarkan permusuhan atau penyerangan terhadap korban,

b) korban adalah pihak yang dianggap lemah atau tak berdaya oleh
pelaku, dan

c) menimbulkan efek buruk bagi fisik atau jiwanya (Preventing
Bullying, Kidscape, UK, 2001).

Bu Ria (36), sebut saja begitu, akhirnya lebih memilih memindahkan
anaknya ke sekolah lain. Ini dilakukan karena kasihan selalu mendengar
keluhan si putri yang kerap dijadikan objek pemalakan oleh sekelompok
anak di sekolah. Misalnya, makanan yang dibawanya dari rumah suka
diambil, peralatan sekolah suka diganti sama yang jelek, atau bahkan
uang jajannya pun tak luput dari praktek pemerasan. Menurut si putri,
dirinya diam saja sebab ada anak lain yang menolak kemauan si perkasa
diancam dengan kata-kata yang menakutkan. Misalnya, tidak ditemani,
selalu dicemooh sebagai orang pelit, dan semisalnya.

Apa yang dialami Bu Ria itu sebetulnya hanyalah gambaran kecil dari
praktek bullying yang sangat variatif. Menurut pengamatan Dan Olweus,
dkk, bullying di kalangan anak-anak itu memiliki bentuk yang beragam,
antara lain:

* Penyerangan fisik: memukul, menendang, mendorong, dan seterusnya

* Penyerangan verbal: mengejek, menyebarkan isu buruk, atau menjuluki
sebutan yang jelek

* Penyerangan emosi: menyembunyikan peralatan sekolah, memberikan
ancaman, menghina

* Penyerangan rasial: mengucilkan anak karena ras, agama, kelompok, dst

* Penyerangan seksual: meraba, mencium, dan seterusnya

Dalam dunia anak-anak, bullying biasanya terjadi karena adanya
kerjasama yang bagus dari ketiga pihak, yang oleh Barbara Coloroso
((The Bully, The Bullied, dan The Bystander: 2004), disebutnya dengan
istilah tiga mata rantai penindasan.

Pertama, bullying terjadi karena ada pihak yang menindas.

Kedua, ada penonton yang diam atau mendukung, entah karena takut atau
karena merasa satu kelompok.

Ketiga, ada pihak yang dianggap lemah dan menganggap dirinya sebagai
pihak yang lemah (takut bilang sama guru atau orangtua, takut melawan,
atau malah memberi permakluman) .

Atas kerjasama ketiga pihak itu biasanya praktek bullying sangat
sukses dilakukan oleh anak yang merasa punya punya power atau
kekuatan. Jika kebetulan anak kita masuk di sekolah yang pengawasan
gurunya lebih dari cukup, mungkin akan cepat terdeteksi. Tapi bila
tidak, maka kitalah yang sangat diharapkan proaktif.

Siapa Korban Dan Siapa Pelaku?

Pak Wardiman setengah menyesali keputusannya “menyogok” pihak sekolah
agar menerima si anak yang usianya kala itu belum cukup enam tahun.
Dipikirnya, dengan masuk SD lebih dini itu bagus. Dia khawatir anaknya
nanti menjadi orang bodoh karena kerjaannya main terus di rumah.
Seiring dengan berjalannya waktu, terasa ada yang ganjil dari
perkembangan si anak. Di sekolah yang pengawasan gurunya sangat
terbatas, si anak kerap dijadikan korban yang harus mengalah oleh
teman yang badanya lebih gede dan usianya lebih tua.

Apa yang dialami Pak Wardiman itu sebetulnya hanya sebuah kasus.
Maksudnya, tidak semua anak yang usianya lebih muda itu akan pasti
menjadi korban bullying. Faktor usia bisa menjadi sebab langsung dan
bisa pula menjadi sebab tidak langsung atau bisa saja tidak terkait
sama sekali. Usia tidak selalu menjadi sebab. Mungkin lingkungan
sekolah, mungkin pengaruh pola asuh, atau mungkin karena yang lain.

Dari penjelasan sejumlah pakar tentang korban bullying, umumnya para
korban itu memiliki ciri-ciri “ter”, misalnya:
terkecil, terbodoh, terpintar, tercantik, terkaya, dan seterusnya.

Di bukunya Barbara Colorosa (The bully, The bullied, dan The
bystander: 2004), ciri-ciri yang terkait dengan korban itu antara lain:

* Anak baru di lingkungan itu.

* Anak termuda atau paling kecil di sekolah.

* Anak yang pernah mengalami trauma sehingga sering menghindar karena
rasa takut

* Anak penurut karena cemas, kurang percaya diri, atau anak yang
melakukan sesuatu karena takut dibenci atau ingin menyenangkan

* Anak yang perilakunya dianggap mengganggu orang lain.

* Anak yang tidak mau berkelahi atau suka mengalah

* Anak yang pemalu, menyembunyikan perasaannya, pendiam atau tidak mau
menarik perhatian orang lain

* Anak yang paling miskin atau paling kaya.

* Anak yang ras atau etnisnya dipandang rendah

* Anak yang orientasi gender atau seksualnya dipandang rendah

* Anak yang agamanya dipandang rendah

* Anak yang cerdas, berbakat, memiliki kelebihan atau beda dari yang lain

* Anak yang merdeka atau liberal, tidak memedulikan status sosial, dan
tidak berkompromi dengan norma-norma.

* Anak yang siap mendemontrasikan emosinya setiap waktu.

* Anak yang gemuk atau kurus, pendek atau jangkung.

* Anak yang memakai kawat gigi atau kacamata.

* Anak yang berjerawat atau memiliki masalah kondisi kulit lainnya.

* Anak yang memiliki kecacatan fisik atau keterbelakangan mental

* Anak yang berada di tempat yang keliru pada saat yang salah
(bernasib buruk)

Sedangkan untuk para pelaku, mereka umumnya memiliki ciri-ciri sebagai
berikut:

* Suka mendominasi anak lain.

* Suka memanfaatkan anak lain untuk mendapatkan apa yang diinginkan.

* Sulit melihat situasi dari titik pandang anak lain.

* Hanya peduli pada keinginan dan kesenangannya sendiri, dan tak mau
peduli dengan perasaan anak lain.

* Cenderung melukai anak lain ketika orangtua atau orang dewasa
lainnya tidak ada di sekitar mereka.

* Memandang saudara-saudara atau rekan-rekan yang lebih lemah sebagai
sasaran.

* Tidak mau bertanggung jawab atas tindakannya.

* Tidak memiliki pandangan terhadap masa depan atau masa bodoh
terhadap akibat dari perbuatannya.

* Haus perhatian

Bagaimana Membantu Korban?

Kita semua diajari untuk menolong dua pihak, baik yang tertindas atau
yang menindas. Menolong yang tertindas bisa dilakukan dengan
membebaskan mereka dari ketertindasan. Ini penting sebab jika si
korban tidak segera ditolong, akibat yang paling fatal bisa meninggal
dunia.

Seorang wali murid di salah satu SD di Jakarta Timur akhirnya hanya
bisa berbagai pengalaman agar peristiwa buruk yang pernah menimpanya
tak lagi terjadi. Anak lelakinya meninggal dunia. Menurut diagnosa
dokter, di dada si anak ada memar bekas pukulan benda keras. Mungkin
saja benda keras itu tidak langsung mengakibatkan hilangnya nyawa.
Karena si anak takut bilang dan kurang ada perhatian dini, akhirnya
terjadilan kejadian yang tidak diharapkan itu.

Jangankan anak-anak yang masih di SD, anak remaja saja belum tentu
bisa berterus terang kepada orangtuanya soal ini. Kalau merujuk pada
kasus-kasus di sekolah tinggi kedinasan milik pemerintah, para korban
penindasan di sana bukan lagi anak-anak, melainkan mahasiswa. Mereka
bungkam dengan berbagai alasan.

Dari kajian para ahli, jika korban bullying itu dibiarkan atau tidak
mendapatkan penanganan, mereka akan :
depresi, mengalami penurunan harga diri, menjadi pemalu, penakut,
prestasinya jeblok, mengisolasi diri, atau ada yang mau mencoba bunuh
diri karena tidak tahan (Stop Bullying, Kidscape: 2005).

Lantas, bagaimana membantu si korban? Untuk membantu si korban,
Coloroso menyarankan:

* Yakinkan bahwa kita akan berada di sisinya dalam mengatasi masalah ini.

* Ajari si anak untuk menjadi orang baik namun juga tidak takut
melawan kesombongan.

* Galilah inisiatif dari si anak tentang cara-cara yang bisa ditempuh.
Ini untuk menumbuhkan kepercayaan diri si anak atau ajukan beberapa
usulan.

* Rancanglah pertemuan dengan pihak sekolah.

* Jangan lupa membawa penjelasan yang faktual dan detail. Misalnya
bukti fisik, harinya, prosesnya, nama anak-anaknya, tempat
kejadiannya, dan lain-lain. Kalau bisa, cari juga dukungan dari wali
murid lain yang anaknya kerap menjadi korban.

* Usahakan dalam pertemuan itu muncul kesepakatan yang pasti akan
dijalankan dan akan membuat anak aman dari penindasan. Maksudnya,
jangan hanya puas mengadu dan puas diberi janji.

* Akan lebih sempurna jika pihak sekolah mau memfasilitasi pertemuan
dengan wali yang anaknya pelaku dan yang anaknya menjadi korban untuk
ditemukan solusinya

Yang perlu kita hindari adalah

praktekmenyalahkan atau menyudutkan si anak.
Misalnya
mengatakan, kamu sih yang mancing, kamu sih yang nggak mau mengerti,
dan seterusnya. Kesalahan ada pada pelaku, bukan pada korban.

Hindari juga membuat rasionalisasi yang meremehkan
Misalnya
kita mengatakan, wah digituin aja sedih, jangan cengeng dong, dia kan
hanya bercanda, dan seterusnya. Terus, jangan juga langsung meledak
dan ngamuk. Ini malah membuat anak enggan bercerita. Galilah dari si
anak sebanyak mungkin.

Bagaimana Membantu Pelaku?

Bagaimana cara membantu pelaku? Membantu pelaku adalah dengan
mencegahnya. Pencegahan ini bisa diajarkan dengan cara-cara di bawah ini:

* Beri disiplin.
Jelaskan bahwa menindas itu perbuatan salah, ajari untuk
bertanggungjawab atas kesalahannya, misalnya minta maaf, mengontrol
proses agar tidak mengulangi lagi, dan meyakinkan dirinya bahwa dia
bukan orang jahat. Dia hanya butuh belajar untuk menjadi orang yang
lebih baik.

* Ciptakan kesempatan untuk berbuat baik kepada keluarga atau
teman-temannya di sekolah, misalnya mengundang hari ulang tahun,
berbagi, dan seterusnya

* Tumbuhkan empati, misalnya menjenguk atau menelpon yang sakit,
membantu yang membutuhkan, mengutarakan kata-kata yang baik

* Ajari keterampilan berteman dengan cara-cara yang asertif, sopan,
dan tenang. Tunjukkan bahwa memaksa orang lain itu tidak baik.

* Pantaulah acara televisi yang ditonton mereka, video game yang
dimainkan, aktivitas-aktivitas komputer yang mereka lakukan, dan musik
yang mereka dengarkan atau mainkan. Jika berbau kekerasan, ajarilah
untuk mengganti secara bertahap

* Libatkan dalam kegiatan-kegiatan yang lebih konstruktif, menghibur,
dan menggairahkan.

* Ajari anak Anda untuk beritikad baik kepada anak lain.

* Hindari kekerasan dalam bentuk apapun ketika memperlakukan mereka.
Kekerasan seringkali melahirkan kekerasan

Kesimpulan

Praktek bullying, entah itu pelaku atau korbannya bisa menimpa siapa
saja. Anak-anak tentu belum sepenuhnya menyadari kefatalan yang
ditimbulkannya. Karena itu, peranan orangtua dalam mencegah dan
menolong sangat diharapkan. Dengan keterlibatan orangtua yang notebene
lebih matang, mudah-mudahan bisa memutus mata rantai kekerasan di
antara mereka. Semoga bermanfaat.

Oleh : Ubaydillah, AN

sumber
http://groups. yahoo.com/ group/anakcerdas /message/ 787

Tinggalkan komentar

Filed under Remah-remah

Mengapa Kongregasi Kita Memilih Bunda Hati Kudus

Mgr.Schaepman, pendiri tarekat

Kongregasi para frater Bunda Hati Kudus didirikan oleh uskup agung Utrecht, Mgr.Andreas Ignasius Schaepman. Moto: In Solicitudine et Simplicitate (dalam keprihatinan dan kesederhanaan).

Beliau lahir di Zwolle pada tanggal 4 September 1815. Setelah ditahbiskan sebagai imam pada tahun 1838 beliau mula-mula bertugas sebagai pastor pembantu di Zwolle, lalu menjadi pastor paroki berturut-turut di Ommerschans, Assen dan Zwolle.

Ketika pada tahun 1853 hirarki keuskupan ditegakkan kembali, Mgr.Zwijsen diangkap menjadi uskup agung Utrecht sekaligus uskup den Bosch. Tetapi beliau tinggal di den Bosch.

Pada tahun 1857 Mgr.Zwijsen mengangkat pastor Schaepman menjadi rektor seminari yang bakal didirikan di Rijsenburg. Tahun 1860 Schaepman menjadi plebaan (pastor paroki katedral) di Utrecht dan uskup koajutor dari uskup agung Zwijsen. Pada tahun yang sama ia ditahbiskan menjadi uskup. Tanggal 4 Februari 1868 ia menggantikan Mgr.Zwijsen sebagai uskup agung di Utrecht. Ia meninggal pada tanggal 19 September 1882.

Schaepman adalah seorang yang praktis. Ia berusaha memecahkan problem-problem yang sedang ia hadapi. Ia merasa prihatin dengan kaum miskin. Jauh sebelum ketimpangan sosial menjadi fokus perhatian masyarakat pada umumnya, ia sudah mencoba mencari jalan untuk memenuhi kebutuhan kaum miskin. Setelah diangkap menjadi uskup ia banyak menaruh perhatian dalam bidang pengajaran.

Mulai tahun 1848 undang-undang dasar menjamin kebebasan pengajaran. Pengajaran berdasarkan aliran agama tertentu diperbolehkan, tetapi subsidi pemerintah tetap hanya diberikan kepada sekolah-sekolah negeri.

Sekitar tahun 1870 di provinsi-provinsi utara Nederland sudah ada beberapa tarekat suster yang bermisi dalam pendidikan para pemudi, tetapi belum ada tarekat yang mengelola pendidikan para pemuda.

Untuk mengisi kekurangan inilah Mgr.Schaepman mengambil inisiatif untuk mendirikan suatu tarekat bruder.

Ia meminta nasihat Mgr.Zwijsen yang pada tahun 1844 telah mendirikan tarekat para frater CMM (tarekat Santa Perawan Maria, Bunda yang berbelaskasih) di Tilburg.

Sebutan ‘frater’

Agar dapat meneruskan tradisi historis ini, Schaepman kemudian memutuskan banhwa para anggota tarekat yang akal didirikannya akan memakai sebutan ‘frater’. Jadi berbeda dengan tarekat lain pada umumnya yang menggunakan sebutan ‘bruder’.

Para anggota tarekat Broeders van het Gemene Leven (kehidupan bersama) sewaktu hidupnya Geert Grote, yaitu dalam abad ke-14 juga memakai sebutan ‘frater’. Sewaktu tarekat ini berjaya, banyak yang dikerjakan demi pendidikan katolik di Nederland Utara.

Tarekat Frater Bunda Hati Kudus

Mgr.Schaepman mempersembahkan tarekat yang ia dirikan kepada Bunda Maria dengan nama “Bunda Hati Kudus”. Waktu itu devosi kepada Bunda Hati Kudus masih merupakan sesuatu yang baru yang pada waktu itu lebih dikenal dengan gelar ‘Harapan Orang-orang Putus Asa’. Promotor utama gerakan ini adalah pendiri para Misionaris Hati Kudus, yaitu Pere Chevalier. Devosi ini meluas dari Issoudun-Perancis. Di Nederland basilik di Sittard dipersembahkan kepada Bunda Hati Kudus.

Dari konstitusi ke konstitusi

Mula-mula tarekat frater BHK tidak mempunyai buku peraturan sendiri yang menggariskan sikap hidup kerasulan menurut ketiga kaul. Pada saat-saat tertentu dipakailah Peraturan Tarekat CMM dengan penyesuaian sana-sini. Dengan persetujuan pendiri, Peraturan yang disesuaikan ini lalu dicetak dan pada tahun 1878 dikukuhkan olehnya. Di samping Peraturan ada pula Konstitusi yang mencantumkan hal-hal yang berkaitan dengan kepengurusan.

Pada tahun 1893, 1919, 1936 dan 1952 Peraturan dan Konstitusi diterbitkan kembali tanpa perubahan yang berarti.

Dalam kapitel tahun 1960 pengurus mengajukan rancangan konstitusi baru. Selanjutnya Peraturan dan Konstitusi digabung menjadi satu: Konstitusi.

Pada tahun 1967 terbitlah Konstitusi yang telah diolah kembali, dengan persetujuan Uskup Agung Utrecht.

Sementara itu Konsili Vatikan II telah berlangsung. Semua Tarekat diminta untuk merenungkan isi kehidupan religius. Mereka ditugaskan untuk menyesuaikan Konstitusi dengan garis-garis haluan kongkret yang diterbitkan pada tahun 1966.

Demikianlah akhirnya terwujud Konstitusi yang sama sekali baru, yang diolah berdasarkan Kitab Hukum Kanonik yang terbit pada tahun 1983. Pada tahun 1992 Uskup Agung Utrecht, Adrianus Kardinal Simonis, menyetujui Konstitusi ini.

Dari penelitian yang saya lakukan terhadap konstitusi dari satu ke yang lain, ada hal yang menunjukkan hubungan yang sangat erat antara devosi kepada Hati Kudus Yesus dengan penghormatan kepada Maria Bunda Hati Kudus.

Konstitusi 1918

Art.74

Buah ilahi kepada Santa Perawan Tersuci Maria harus dihargai secara khusus oleh semua anggota kongregasi. Konggregasi sendiri bahkan ditempatkan secara khusus di bawah perlindungan S.P.Maria Bunda Hati Kudus… Setiap anggota menyandang nama maria dan hal ini dikaitkan dengan pembaktian secara khusus kepadanya. Sebagai anak-anak yang tulus, para frater harus berusaha keras meniru teladannya, menghormati Ibu mereka dan menjelmakan kekuasaan-kekuasaannya.

Para frater akan selalu menghidupkan buah-buah ilahi yang telah diserahkan kepada Ibu mereka dan juga bersyukur kepada Allah, yang telah memanggil mereka bukan karena jasa mereka, di mana Perawan Maria menjadi Ibu mereka.

Mereka akan mengembangkannya sendiri dan bahwa wajib menyebarluaskan buah-buah ilahi yang telah diserahkan kepada Perawan tersuci, terutama kepada anak-anak dan orang lain yang dipercayakan kepada mereka.

Art.76

Dalam doa dan latihan rohani, kongregasi wajibmenghormati secara lebih khusus Santa Perawan, mewujudkan doa harian dengan ofisi singkat Santa Perawan Maria pada tempat utama…

Art.80

Menghadiri Misa menurut St.Fransiskus dari Sales adalah “matahari segala devosi”. Maka para frater harus mengutamakannya dan dapat mempersembahkan persembahan setiap hari, yang tidak lain adalah melanjutkan persembahan di salib… Yesus mengikutsertakan kita dalam penerimaan rahmat-rahmat, yang telah Ia berikan melalui wafat-Nya.

Konstitusi 1936

Masih menempatkan artikel-artikel tersebut pada tempat yang sama.

Konstitusi 1952

Art.104

Para frater akan berusaha membangun dan memperluas devosi keselamatan kepada Hati Yesus yang Mahakudus baik bagi diri sendiri mau pun di tengah para murid.

Setiap Jum’at pertama dalam bulan para frater menyambut komuni untuk menghormati Hati Kudus Yesus, demi pemulihan kehormatan Penyelamat Ilahi di dalam sakramen kasih, yang telah dirusak oleh musuh-musuh-Nya.

Art.105

Maria Perawan Tersuci dan Bunda Allah adalah Pelindung Kongregasi dengan gelar Maria Bunda Hati Kudus.

Buah ilahi kepada Perawan tersuci harus dihargai secara khusus oleh semua frater.

Mereka akan menyebarluaskan buah-buah ilahi tersebut, terutama kepada para murid dan orang-orang lain yang dipercayakan kepada mereka.

Pesta Bunda Hati Kudus akan dipersiapkan melalui novena komunitas dan akan dirayakan dengan cara istimewa di dalam kongregasi.

Konstitusi 1967

Art.41

Isinya sama dengan Konstitusi 1952 art.105.

Konstitusi 1992

Art.6

Maria adalah pelindung persekutuan kita dengan gelar: Bunda Hati Kudus. Ia menunjukkan kepada kita Puteranya Yesus, yang lembut dan rendah hati, yang menganugerahkan ketenangan dan kelegaan kepada orang yang letih lesu dan berbeban berat yang pergi kepada-Nya.

Selanjutnya ada sesuatu yang baru dalam konstitusi ini, yang tidak pernah ada sebelumnya, yaitu secara panjang lebar disampaikan kepada kita dalam bagian spiritual konstitusi 2 bab penting untuk mendalami misteri Hati Yesus dan peran Maria sebagai pelindung tarekat. Kedua bab tersebut masing-masing berjudul:

Bab 2: Sehati dan sejiwa dalam mengikuti jejak Yesus dari Nasaret (art.10-15).

Bab 4: Diilhami oleh kehidupan Maria (art.45-52).

Catatan akhir

Dari uraian singkat di atas saya mencoba untuk menarik benang merahnya. Pada awalnya pendiri tarekat mempersembahkan tarekat yang ia dirikan ini di bawah naungan Maria, Bunda Hati Kudus Harapan Orang-orang Putus Asa, karena memang demikianlah keadaan Gereja di Nederland pada waktu itu. Persembahan ini diwujudkan dalam pernyataan-pernyataan dari konstitusi ke konstitusi bagaimana devosi kepada Bunda Maria harus mendapat tempat utama dalam tarekat.

Konsili Vatikan II menantang para religius untuk mengubah kebiasaan devosi ini menjadi suatu spiritualitas, suatu semangat yang tidak hanya diungkapkan lewat doa-doa saja tetapi lebih menjadi bagian dari kehidupan itu sendiri. Sebab itulah dalam konstitusi paling akhir (1992) kaitan erat antara Maria dan Yesus mendapat sorotan secara panjang lebar dalam 2 bab, yang sebelumnya tidak pernah muncul.

Dengan demikian mau dikatakan bahwa menjadi seorang frater BHK berarti:

1. Hidup sehati-sejiwa dalam mengikuti jejak Yesus dari Nasaret.

2. Hidup dengan diilhami oleh kehidupan Maria.

Semoga pertemuan ini menghasilkan suatu penyadaran bagi kita semua.

Malang, 20 Desember 2008

Fr. Frans Hardjosetiko BHK

1 Komentar

Filed under Spiritualitas

BELAJAR DARI HATI YESUS

1. Belajarlah pada-Ku

Perjalanan hidup akan selalu ditandai oleh perubahan, datangnya hal-hal baru, yang dapat menimbulkan tanda tanya (Mat 11:3). Menghadapi gerak hidup yang seperti itu Yesus memberi tanda kehadiran Allah yaitu bila orang yang miskin dan tersingkir di­sapa dan diringankan beban hidupnya serta dilibatkan (Mat 11:2-5). Untuk menyambut kehadiran Kerajaan Allah seperti itu diperlukan orang yang teguh iman dan tak mudah goyah (Mat 11:7-9), karena dihadapkan pada perjuangan keras namun tetap setia kepada panggilan dan misinya (Mat 11:10-15). Untuk menjadi teguh orang perlu mengalahkan dorongan yang mengukur hidup berdasar­kan diri dan kesenangannya (Mat 11:16-19), sehingga hanya mempersalahkan orang la­in. Hati yang teguh itulah yang diminta oleh Tuhan (Mat 11:25), berani melawan arus du­nia yang menolak warta Injil (Mat 11:20-24).

Menghadapi kenyataan seperti itu Yesus mengundang para pengikut-Nya agar memiliki hati yang teguh dalam mewujudkan Kerajaan Surga (Mat 11:29)

a. Hati penuh syukur

Yesus menjadi kuat tak tergoyahkan sampai akhir hidup-Nya de­ngan tergantung di Salib karna dilandasi oleh hati yang peka akan karya Allah. Mata hati Yesus menangkap bagaimana Allah bekerja menyatakan rahasia-rahasia hidup Kerajaan pada orang kecil, se­ba­gaimana nampak dalam sikap, tindakan dan cara hidup serta Kebijaksanaan hidup me­reka. Salah satu dampak rahasia Kerajaan Allah dalam hidup manusia ialah kesa­dar­an mendalam akan keterlibatan dan kehadiran Allah, sehingga hidup orang kecil di­tan­dai oleh rasa syukur yang mendalam dan membebaskan dalam setiap peristiwa yang mereka alami.

Doa Yesus “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi,” tidak ha­nya mengungkapkan bahwa Yesus melihat dan merasakan kebijaksanaan Allah dalam hidup orang kecil, tetapi juga karena Yesus sebagai orang kecil mengalami dan memi­liki rahasia-rahasia kebijaksanaan Allah dalam hati-Nya (Mat 11:25). Yesus sebagai orang kecil dan miskin di hadapan Allah (Flp 2:7) mengalami kuasa Allah yang bekerja. Hati Yesus, seperti pula hati orang miskin dan Allah tetap terarah kepada Allah, tidak se­perti kota Khorazim dan Betsaida, sebagai pengumpul ikan akhirnya menjadi pe­ngum­pul uang dan penyembah Mammon (Mat 11:21). Yesus memilih menyembah Ba­pa Allah-Nya, tidak menyembah Mammon (Luk 16:13), seperti kebanyakan orang kecil dan orang miskin. Penyembah Mammon menjadikan hati tak pernah puas, tak dapat ber­syukur tulus, yang ada ingin lagi dan lagi. Mereka menjadi pelahap yang tak tahu ber­syukur. Begitu pula Yesus melawan arus Kapernaum, tempat kekuasaan dan tenta­ra bersemayam yang merupakan penindas dan pelaku kekerasan, pembunuhan se­hing­ga tidak dapat berterima kasih kalau dikritik. Yang ada ialah hati yang yakin bahwa kritik kepada diri adalah musuh maka harus dihancurkan dan dimusnahkan. Bersyukur ba­gi Yesus berarti sungguh bebas dari rasa terancam, tidak seperti para penguasa. Ber­syu­kur berarti tenang dan hening karena Allah melindungi dalam keadaan apa pun ju­ga. Ha­ti bersyukur adalah hati yang tajam akan karya Allah sebagai Yang Kudus dan Jun­­jung­an hidup.

b. Hati yang percaya

Hati, yang penuh syukur Yesus atas rahasia-rahasia Kerajaan Alah yang dita­nam dalam hati yang rendah hati, membuahkan kesadaran bahwa ternyata Bapa berke­nan terlebih dahulu mempercayakan harta surgawi (Mat 11:27). Itulah sebabnya Yesus da­pat mengajarkan bagaimana Bapa di surga sungguh luar biasa dalam menyerahkan harta surgawi, sewaktu Yesus menjelaskan mengapa Dia bergaul dan bahkan mengun­dang orang berdosa (Luk 15:2), yaitu “Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan Aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu” (Luk 15:31). Dengan memperca­ya­kan harta seperti itu Yesus juga merasakan kegembiraan Bapa bila ada saudara hi­lang ditemukan dan mati hidup kembali (Luk 15:7.10.32). Harta surgawi itu tidak lain dan tidak bukan adalah belas-kasih (Luk 15:24).

Bagi Yesus itu merupakan kesatuan yang mendalam, maka yang ada dalam hati Ye­sus ialah percaya kepada Bapa sebagai jawabannya (Mat 11:27). Di situ ada kesatu­an hati dan kesatuan kehendak yang memberikan kejernihan untuk melangkah dalam hi­dup, sebagaimana diungkapkan pada orang yang kepadanya Anak itu berkenan me­nya­ta­kannya. Dalam perasaan mendalam hati yang percaya ini Yesus membagikan har­ta surgawi dengan kemerdekaan, bebas dari keinginan dan kecenderungan untuk me­ngendalikan orang lain dalam jiwa kekanak-kanakan (Mat 11:16-19). Hati percaya Yesus sungguh hati keanakan di hadapan Bapa bukannya hati kekanak-kanakan di ha­dapan Bapa dan hidup.

c. Hati yang meringankan beban

Hati yang akrab dengan Allah seperti hati Yesus, tanpa banyak kata pun akan me­mancarkan persahabatan kepada setiap orang yang dijumpai terutama yang merasa sendirian, terkucil, sakit, ketidakberdayaan. Kehadiran-Nya sudah merupakan undang­an, bahkan mendengar nama Yesus Zakheus sudah merasa ada harapan, ingin mene­mui (Luk 19:1-10). Diberitahu nama siapa yang lewat, Bartimeus langsung berseru: “Ye­­­sus Anak Daud, kasihanilah aku!” (Mrk 10:47). Persahabatan Yesus melampaui batas su­ku dan bangsa, sebagaimana Dia menyapa dan berbicara lama dengan perempuan Sa­maria (Yoh 4) dan perempuan Siro – Fenisia tak segan-segan mengejar Yesus kare­na yakin akan persahabatan yang tulus dan meringankan beban kehidupan (Mrk 7:24-30). Persahabatan Yesus memang tak pernah mengecewakan bagi yang terbuka. Per­sahabatan Yesus yang memanggil membawa kegembiraan luar biasa (Mrk 2:13-17). Per­sahabatan Yesus mampu membangkitkan hidup lagi (Yoh 11:1-44). Persahabatan Yesus menantang tidak kepalang-tanggung untuk hidup baru (Yoh 3:1-13).

Sapaan Yesus yang penuh persahabatan menumbuhkan tanggapan yang tulus, se­dia dan rela berkorban (Mrk 1:16-20). Sentuhan tangan Yesus membuat banyak orang disembuhkan (Mrk 1:31). Kata-kata Yesus membuat banyak orang memiliki per­ca­ya diri lagi (Mrk 1:41.42; 2:11). Kehadiran Yesus mengusir roh-roh jahat, seperti per­musuhan, kesombongan, dendam, kembali untuk hidup beriman (Mrk 3:10-11). Semua itu terjadi karena hati Yesus yang bersatu dengan hati Bapa penuh daya hidup karena merdeka penuh belaskasih. Persahabatan Yesus tidak hanya meringankan beban teta­pi menjadikan orang ringan hati menanggung beban perutusan bersama Yesus (Luk 8: 1-3). Persahabatan Yesus dengan hati yang merdeka pelan-pelan membuat hati para sa­habat-Nya menjadi meluas, mau ikut serta di dalam Kuk yang ditanggung Yesus sen­di­ri dengan sukacita (Mat 11:29). Persahabatan Yesus mengalirkan kekuatan kelembut­an dan kerendahan hati dan keheningan karena iman (Mat 11:29). Persahabatan yang mem­buat nyaman, meski harus menanggung beban kehidupan (Mat 11:30).

d. Belajarlah

Yesus memang selalu mendatangi orang-orang (Mrk 1:16), bahkan pergi ke ma­na­pun diperlukan bagaikan pengembara yang berjalan (Mrk 1:38). Namun Yesus juga me­ngundang kepada-Nya kepada siapa pun yang punya keinginan untuk hidup seperti diri-Nya (Mat 11:28), dan dengan undangan itu Yesus ingin bahwa orang datang kepa­da-Nya bukan karena terpaksa tetapi karena kerelaan dan keinginan merdeka. Datang ke­pada-Nya berarti berada di mana Ia tinggal (Yoh 1:39), yaitu Yesus berada pada orang miskin (Mat 25:40), dan secara rohani tinggal dalam hati yang sama sekali ter­gan­tung pada Bapa (bdk. Luk 2:49).

“Belajarlah,” pertama-tama para pengikut-Nya diundang untuk berada di antara orang mis­kin dan belajar kebijaksanaan hidup mereka, seperti yang diucapkan oleh Ye­sus (Mat 11:28-30). Kedua, para pengikut-Nya diundang belajar dengan membaca dan me­­re­nungkan Injil, dan ketiga dengan kontemplasi Salib, sebagaimana dilakukan oleh Ge­­re­ja dan banyak orang kudus.

2. Kasih Kristus menguasai kami

Kontemplasi Salib sesungguhnya memandang Kasih Kristus, Dia yang telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, te­tapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka (2Kor 5:14-15). Kon­templasi berarti membiarkan diri untuk dikuasai. Kontemplasi Salib membiarkan diri di­kuasai oleh Kasih yang diungkapkan dan dipancarkan oleh Salib. Dari kontemplasi Sa­lib inilah para pengikut Yesus Kristus harus bertolak untuk hidup dan mewartakan In­jil dengan menjadi Injil bersama Yesus Kristus.

Bertolak dari Salib, bertolak dari Kasih Kristus berarti hidup dan melayani Injil da­lam kuasa dan kekuatan Salib, yang adalah Kasih yang menyerahkan nyawa (Yoh 15: 13), dengan rela berkorban dan mati untuk menghasilkan banyak buah (Yoh 12:24-25) da­lam kesatuan dengan Kristus (Yoh 15:5), sebagai batu penjuru (1Ptr 2:1-10). Itu­lah wu­jud penghayatan hukum utama dalam Yesus Kristus (Mrk 12:29-31).

a. Dengan segenap hati

Pada lubuk terdalam hati manusia oleh Allah ditanam kurnia hukum kehidupan men­jadi milik pusaka (Sir 17:11), artinya menjadi kekuatan yang tak dapat dikalahkan, ka­rena di dalamnya ada perjanjian kekal artinya kasih tanpa syarat dari pihak Allah (Sir 17:12), yang akan menjadi sumber pengaturan dan penataan hidup (Sir 17:12-17). Da­lam hati manusia disertakan karunia lain untuk hidup berdasarkan hukum kehidupan ya­i­tu kesadaran akan hadirat Allah yang sedemikian dekat dengan diri-Nya (Sir 17:15.19-22), kesadaran bahwa Allah akan bertindak adil (Sir 17:23-24), namun Allah penuh be­las­kasihan bagi yang penuh penyesalan (Sir 17:25-29). Hati sesungguhnya merupakan roh manusia untuk dapat mengalahkan kegelapan hidup, kedagingan dan kelemahan (Sir 17:30-32), karena hati merupakan tempat batin dan pikiran manusia untuk meman­dang kemuliaan dan karya agung Allah (Sir 17:8-10.13).

Mengasihi dengan segenap hati berarti mengasihi dengan penuh kesetiaan de­ngan segala pergulatannya untuk tetap berpegang pada janji (Mrk 12:1-12). Mengasihi dengan hati yang jernih dan sadar berarti penuh kebijaksanaan (Mrk 12:13-17). Maka hati yang dipenuhi oleh kasih akan memiliki rasa takut akan Allah artinya tidak mau ber­pisah dari Allah (Ams 1:7). Kedekatan hati dengan Allah sumber kebijaksanaan menjadi permulaan kebijaksanaan artinya mau menata diri dan hidup. Hati yang takut akan Allah berarti mau mengasihi secara benar, tertata dan terarah, sehingga hidup dan pelayanan hanya demi kemuliaan Allah dan kebaikan sesama (2Kor 5:11-13).

Mengasihi dengan segenap hati pada intinya mengasihi dengan dan dalam kesa­daran akan kedinaan diri di hadapan Allah dan sesama (Sir 17:1.32).

b. Dengan segenap jiwa

Jiwa menunjuk secara religius bahwa hidup ini merupakan buah embusan nafas Tuhan Allah. Manusia hidup karena semata kuasa kebaikan Allah (Kej 2:4; 1Kor 15:45). Nafas kehidupan adalah milik Allah yang dianugerahkan kepada manusia (Mzm 104:29-30; Luk 12:20). Dengan segenap jiwa mengasihi menegaskan agar manusia mengasihi de­ngan kesadaran bahwa hidup ini rahmat dan anugerah. Mengasihi dengan segenap ji­wa merupakan ungkapan syukur atas anugerah hidup yang cuma-cuma dalam wujud ka­sih yang cuma-cuma pula (Mat 10:8). Maka mengasihi dengan segenap jiwa yang di­tandai rasa syukur diyakini sebagai ungkapan diri manusia religius, seluruh diri dan hi­dup dipersembahkan kepada Allah dan sesama karena rasa iman yang menda­lam. Ber­iman berarti selalu bersyukur dan karena itu mau mempersembahkan diri se­utuh­nya.

Mengasihi dengan segenap jiwa, kalau demikian juga berarti mempersembahkan dan memberikan nyawa bagi Tuhan dan sesama. Itulah sebabnya Tuhan Yesus ber­sab­da: “Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barang­sia­pa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang ke­kal (Yoh 12:25). Manusia sering mudah hanya berhenti pada hidup di dunia, sehing­ga tidak berani berkorban demi hidup yang akan datang. Mencintai dengan segenap ji­wa berarti rela berkorban, memberikan nyawa – hidup bagi Allah dan sesama, seperti yang dilakukan oleh Yesus (Mat 20:28; Yoh 10:11-15.17). Untuk para pengikutnya men­cintai dengan segenap jiwa dapat tercermin pada persembahan janda miskin (Mrk 12: 41-44).

c. Dengan segenap akal budi

Akal budi atau kemampuan manusia untuk berpikir sebagai kekuatan untuk meng­ha­yati kasih tak terpisahkan dari hati yang berpikir atau merenung-renung (Sir 17: 6) mengenai apa yang dirasakan, dilihat dan didengar atau dengan singkat dialami, un­tuk memiliki kearifan dalam melangkah pada perjalanan hidup (Sir 17:7). Akal budi juga tak terpisahkan dari mata batin manusia, yang dapat mengenal tujuan hidup di dunia ya­itu memuji, memuliakan dan mengabdi Tuhan Allah (Sir 17:10). Mengasihi dengan se­genap akal budi berarti hidup dan berbuat sesuai dengan tujuan hidup yaitu memuji dan memuliakan Tuhan dan bertindak sejalan dengan kebenaran tujuan hidup, sejalan de­ngan kekuatan yang serupa dengan kekuatan Allah dan menurut gambar Allah ma­nu­sia dijadikan (Sir 17:1-4). Mengasihi dengan segenap akal budi berarti hidup dalam ke­benaran dan demi kebaikan sebagai gerak mata batin atau hati nurani. Tindakan ka­sih dengan segenap akal budi ditandai oleh kemampuan mana yang baik dan buruk de­mi tujuan manusia diciptakan.

Mencintai dengan segenap akal budi berarti mau hidup dalam kearifan, yang ke­nal akan tujuan hidup (Mrk 12:13-17), sehingga dimampukan terus sadar akan hukum ke­hidupan dan tuntutan hidup yang benar (Mrk 12:32-34), dan mampu memiliki sikap dan pandangan yang benar (Mrk 12:35-37), dan tidak jatuh pada akal-akalan, yang pa­da intinya memenangkan pikiran sendiri. Mencintai dengan segenap akal budi berarti orang mengikuti hati nurani dalam hidup dan bertindak (Mrk 12:38-40). Kasih tulus itu­lah kasih dengan segenap akal budi.

d. Dengan segenap kekuatan

Mengasihi dengan segenap kekuatan pertama-tama berarti mengasihi berdasar firman Allah yang harus ditaati. Bagi Yesus mengasihi dengan segenap kekuatan berar­ti melaksanakan segala sesuatu untuk menggenapi Kehendak Bapa (Mat 3:15). De­ngan demikian mengasihi dengan segenap kekuatan, pertama-tama mengenakan keku­at­an yang datang dari atas. Kekuatan yang dari atas ini sesungguhnya dekat, sebagai­ma­na diyakini oleh Musa: “Firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan” (Ul 30:14). Bagi para pengikut Yesus Firman itu Terang dan tinggal di antara manusia dengan menjadi manusia (Yoh 1:5.14) sebagai ke­muliaan agar para pengikut Yesus mampu mengasihi dengan seluruh hidup dan diri­nya dalam kuasa Kasih Kristus.

Firman memang bagaikan benih yang disebarkan ke tanah hati manusia. Maka agar Firman sebagai kekuatan hidup kasih semakin kuat, para pengikut-Nya harus ber­ju­ang melawan kekerasan hati, ketakutan dan kecemasan dengan kekuatan keutamaan teologal, yaitu iman, harapan dan kasih (Mrk 4:1-29), sehingga dapat menghasilkan per­sahabatan, damai dan rasa aman (Mrk 4:30-32; 2Kor 5:16-21). Segala yang ada, se­perti janda miskin harus dengan penuh kerelaan dan pengorbanan dipersembahkan un­tuk terwujudnya kasih.

e. Perjalanan pewartaan – pelayanan

Belajar dari pengalaman Paulus, mengikut Yesus dan mewartakan Injil, yaitu Ye­sus Kristus mau tidak mau akan menghadapi tantangan baik dari orang yang tak perca­ya pada Injil tentang Yesus Kristus yang wafat dan bangkit, maupun dari sesama pe­war­ta Injil (Flp 1:12.13). Injil yang demi keuntungan diri pribadi, karena ditandai oleh deng­ki dan iri dengan sesama pewarta Injil – penumbuh iman kepada Yesus Kristus yang tersalib, wafat dan bangkit (Flp 1:15). Ada orang mewartakan Injil dengan tidak ikhlas (Flp 1:17a), memanfaatkan keadaan Paulus yang dipenjara untuk wibawa dan pan­dangan sendiri lebih disebar-luaskan dan diterima oleh penerima pewarta Injil. Se­sa­ma pewarta Injil, bila belum matang dan merdeka mudah bersaing dan menjelekkan pihak lain yang sedang mengalami nasib tak baik seperti Paulus di penjara.

Bagi Paulus dipenjara ternyata merupakan kebanggaan, karena dia merasa dan yakin dia dipenjara untuk Kristus (Flp 1:13) dan malahan bersyukur karena ternyata ma­lahan membangkitkan banyak orang lain berani mewartakan Injil (Flp 1:14). Hal itu men­ja­di tanda bagi Paulus bahwa meski di penjara berada pada tempat yang benar yaitu membela Injil yang benar (Flp 1:16). Dalam kemerdekaan Paulus tetap menghar­gai, tidak membenci pewarta-pewarta Injil egois dan tak ikhlas, bagi Paulus yang pen­ting ialah Injil tetap diwartakan (Flp 1:18). Bagi Paulus apa pun yang dialami entah hi­dup entah mati ialah Kristus tetap dimuliakan (Flp 1:20-21). Inilah landasan Paulus un­tuk menerima kenyataan yang tak enak, menghadapi berbagai kemungkinan. Namun Pa­ulus juga mengakui bahwa di dalam dirinya ada dua gerak: pertama mati dan berada bersama dalam kemuliaan Kristus dan kedua ada gerak untuk tetap tinggal dengan umat yang dilayani. Memperhatikan kepentingan dan kebutuhan umat Paulus lebih ber­ha­rap untuk diperkenankan berada di tengah-tengah umat (Flp 1:22-26).

Demi kepentingan iman umat Paulus lebih memilih berada bersama mereka mes­­ki karena itu Paulus harus menderita.

Sr. Immaculae PBHK

Tinggalkan komentar

Filed under Spiritualitas