Monthly Archives: Agustus 2008

Memorare Bunda Hati Kudus

Ingatlah ya Bunda Hati Kudus

akan segala karya ajaib,

yang dikerjakan Tuhan bagimu.

Ia telah memilih engkau menjadi bundaNya

Ia telah menghendaki engkau berdiri dekat salibNya

Ia mengikutsertakan engkau

dalam kemuliaanNya

Ia mendengarkan doamu.

Persembahkanlah kepadaNya

segala pujian dan ucapan syukur kami

serahkanlah kepadaNya permohonan kami

Jadikanlah hidup kami sepadan

dengan hidupmu di dalam cinta PuteraMu

agar datanglah kerajaanMu

Hantarkanlah semua orang kepada sumber air hidup

yang memancar dari hatiNya

Berikanlah kepada dunia pengharapan dan kedamaian

kebaikan dan keselamatan

dengarkanlah doa kami

dan pandanglah iman kami

bantulah kami agar dapat hidup seperti engkau

di dalam cinta Puteramu

sehingga hadirlah kerajaanNya

dan tunjukkanlah bahwa engkau bunda kami. Amin.

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Remah-remah

Maret 2006

Remah – remah Rohani

Maret 2006

Lanjutan dari pokok renungan bulan Februari ….

GODAAN VS RELIGIUS

(Sebuah Tantangan dalam Pelayanan)

Godaan Ketiga

“Semua itu akan Kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku”

(ayat 9)

Godaan ini merupakan godaan akan kekuasan: kekuasaan politis, militer, ekonomi, moral, dll. Untuk sejenak kita merenung dan mengenang kehidupan Yesus sepanjang penampilan-Nya di Palestina. Tak dapat dipungkiri kalau toh semua orang memandang pada Yesus sambil berharap dalam hati; inilah pemimpin politis nan hebat yang dapat membebaskan kita dari penjajahan Roma. Inilah Dia yang selalu dinanti-nantikan. Tetapi Yesus menolak akan semuanya itu. Bagi-Nya kekuasaan dengan segala kemegahan / kejayaanya bukan merupakan suatu ukuran dalam menghayati hidup ini, mlainkan sejauh mana kesemuanya itu dihayati sebagai suatu rahmat kasih yang menyelamatkan dan membebaskan. Namun, patut diakui dan direnungkan juga bahwa apa yang menjadi harapan mereka, penantian dan kerinduan yang mendalam akan hadirnya seorang penyelamat.

Dalam sejarah gereja, godaan akan kekuasaan ini senantiasa menghantui. Orang sering berpikir bahwa kekuasaan adalah sarana yang tepat dan ampuh bagi pewartaan Injil. Kekuasaan seolah-olah dinomorsatukan dan di atas segala-galanya. Dalihnya, mempunyai kekuasaan asal digunakan dalam rangka pengabdian kepada Allah dan sesama pasti baik adanya. Dengan dalih ini, dalam sejarah, pecahlah perang salib, merajalelanya praktik simonia, perbudakan indian, dll. Kekuasaan yang demikian sering membawa suasana khaos. Akan tetapi godaan kekuasaan ini sulit sekali dilepaspisahkan. Alasannya, mungkin karena kekuasaan dapat dengan mudah mengganti tanggung jawab kasih yang sulit. Tampaknya, lebih gampang menjadi Allah daripada mencintai Allah, lebih mudah menguasai daripada mencintai. Semua itu merupakan gambaran situasi hidup manusia yang diliputi arus kehidupan yang mendunia penuh tantangan dan pergulatan.

Mengahadapi tantangan ini yang diperlukan kaum religius adalah menjadi pemimpin dan pelayan spiritual yang bersedia dipimpin, memiliki cinta yang universal dan selalu berusaha menjadi pribadi yang terus menerus melepaskan diri dari kekuasaan. Dengan memiliki beberapa aspek tersebut tantangan yang dihadapi dapat menjadi ringan serta dapat mengikuti jalan-jalan Yesus dengan rendah hati. Melepaskan kekuasaan di sini tentu tidak bermaksud agar religius menjadi serba lembek, lalu membiarkan diri dimanipulasi oleh pelbagai struktur kehidupan dunia atau masyarakat yang adalah kawanan dombanya, tetapi justru sebaliknya. Berarti pemimpin yang melayani dengan kesabaran dan kasih yang didasarkan pada tuntunan Allah yang mencintai penuh kesabaran.

Penutup

Demikianlah aneka godaan yang akan mengiringi kehidupan manusia pada umumnya dan religius pada khususnya. Ketiganya tak harus serempak menemani penziarahan ini. Barangkali salah satu atau salah dua; yang pasti godaan tidak terlepas dari karya kepemimpinan dan pelayanan religius. Godaan itu selalu ada. Orang yang mengatakan, “tak ada godaan” sama artinya membiarkan diri ditelan godaan habis-habisan.

Dalam pada itu kita sebagai pengikut-Nya / para religius, perlu meneropong ziarah panggilan pilihan hidup kita, kita perlu mengevaluasi secara terus-menerus. Adakah godaan semacam itu menemani bahkan menggoncangkan panggilan pilihan hidup ini? Kalau toh ada dan senantiasa menggerogoti, maka perlu mengintrospeksi diri, biar dapat menatanya kembali secara lebih baik. Dengan demikian kita tetap komitmen dengan panggilan yang sudah, tengah, dan akan selalu kita rintis ini.

Sebagai penutup tulisan sederhana ini, baiklah kita membaca sembari merenungkan dalam hati sabda Tuhan ini; “Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada siapa yang mengasihi Dia. Apabila seseorang dicobai, janganlah ia berkata, “Pencobaan ini datang dari Allah”. Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun. Tetapi, tiap – tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa, dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut”

(Yak. 1 : 12 – 15).

DOA DAN REFLEKSI

O1. DOA : MOHON RAHMAT PELAYANAN

Ya Allah, Bapak, Putera, dan Roh Kudus. Saat ini kami sekongregasi Frater Bunda Hati Kudus, para pemimpin kong-regasi serta pemimpin komunitas berkumpul untuk menimba rahmat, kekuatan, kekayaan, serta pengalaman dari hati-Mu, dan dari hati saudara-saudara kami. Kami sudah menjadi pemimpin dalam tubuh kongregasi kami, kami sudah mengalami aneka pengalaman dalam pelayanan sebagai pemimpin komunitas; banyak hal yang menarik dan mengesankan, namun tidak sedikit hal yang mendesak kami, menyesakkan dada, yang melahirkan kemarahan serta kekecewaan yang menyebabkan kami sering merasa bingung.

Kehadiran kami di sini untuk belajar dan mendengar-kan, menimba kekayaan serta pengalaman dari sesama kami; bantulah kami dengan rahmat pelayanan-Mu, agar kami rela dan mau mengubah paradigma lama kami, dan mau menerima habitus baru dalam pelayanan kami sebagai wujud kebangkitan dalam kongregasi.

Berilah kami semangat kerendahan hati, untuk sadar, bahwa tugas pelayanan kami adalah suatu anugerah yang Kau limpahkan kepada kami untuk menjadi pelayan bagi saudara kekomunitas dan sekongregasi. Tanamkanlah rahmat pelayanan-Mu, agar kami sanggup melakukannya. Doa ini kami panjatkan kepada-Mu, dengan perantaraan Kristus, guru, dan pelayan kami. Amin.

O2. Bacaan Singkat : Markus, 10 : 42 – 44.

O3. Refleksi : Memimpin dengan Hati ( Pemimpinan Penuh Kasih

Karunia)

“DUA KEPING HATI”

Tinggalkan komentar

Filed under Remah-remah

Januari 2006

Remah – remah Rohani

Januari 2006

Godaan Vs Religius

(sebuah tantangan dalam pelayanan)

Pengantar

Religius dalam arti tertentu adalah seorang pemimpin sekaligus pelayan. Lebih tepat lagi pemimpin dan pelayan spiritual, karena akar maupun ujung kehidupannya Allah sendiri dan orientasi karya pelayanannya mengalir dari pola hidup-Nya; hidup menyerupai Kristus. Untuk menjalankan kedua peran yang saling berhubungan itu, diperlukan semangat cinta berjiwa dedikasi yang disertai komitmen yang tinggi. Hal ini mengandung pengertian religius dibantu untuk tunduk dan setia pada ajaran iman yang benar pada Kristus yang diikuti, tunduk kepada kehendak Allah; pada firman-Nya. Religius berusaha membawa dunia kepada Allah tetapi serentak pula menghadirkan Allah di tengah dunia.

Tantangan atau godaan dalam merealisasikan kedua peran tersebut merupakan suatu hal yang tak dapat dilepaspisahkan. Tak dapat dipungkiri bahwa aneka tawaran dunia yang merupakan godaan yang sering munculsenantiasa menghantui karya kepemimpinan dan pelayann religius. Bertaian dengan itu, tulisan ini dikemas dalam bentuk renungan sederhana ini mencoba mengangkat tema, “Godaan Vs Religus (sebuah tantangan dalam pelayanan). Tulisan ini terinspirasi dari Injil Mat. 4 : 1 – 11, tentang godaan yang dialami oleh Yesus di padang gurun. Sejauh mana aneka godaan serupa itu juga menemani sepak terjang kehidupan religius dan bagaimana religius meresponsnya secara kreatif dalam terang iman dan kebenaran, tentu suatu harapan dan perjuangan yang tak ada habisnya.

Godaan Berdasarkan Mateus, 4 : 1 – 11 :

Kisah godaan Yesus di Padang gurun atas salah satu cara bisa ditafsirkan sebagai godaan dan kecenderungan yang sering muncul dalam diri kita kaum religius, sebagai pemimpin dan pelayan spriritual. Teks menunjukkan bahwa ada tiga macam godaan. Antara godaan yang satu dengan godaan yang lainnya, tentu tidak terlepas dari realita dan perjuangan kaum religius dalam ziarah hidup dan panggilannya. Untuk memfokuskan perhatian atas judul tulisan ini, maka ketiga godaan akan disoroti dari satu aspek kehidupan yang kontekstual. Saya dan kita semua pun diajak untuk mencoba menggalinya satu persatu sambil berpikir lebih lanjut untuk menemukan solusinya.

Godaan Pertama :

Setan meminta Yesus mengubah batu menjadi roti, Jika Engkau anak Allah, perlihatkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti” (ayat 3).

Godaan ini relevan dengan keadaan Yesus saat itu. Ia sedang lapar hebat. Kebutuhan mendesak dan relevan, tentu adalah makan. Dia harus menguasai hal itu dengan segala kasa-Nya, kuasa menciptakan makanan fisis. Tetapi kita tahu Yesus justru menolak godaan itu dengan mengatakan, “Ada tertulis, manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (ayat 4).

Henri Nouwen menyebut godaan pertama ini sebagai godaan untuk menjadi relevan. Godaan ini hadir di segala zaman dengan aneka corak dan warna. Betapa banyak manusia dewasa ini tergoda untuk relevan, dengan situasi dunia fisis. Di zaman kita sekarang ini secera keseluruhan dunia dunia telah menjadi sekular. Ciri utama yang dapat kita sebutkan adalah kompetensi, kesanggupana untuk berdiri sendiri di atas kaki sendiri, dsb. Dunia di sekitar kita rasanya berteriak histeris; kita dapat mengurus diri sendiri, kita dapat menguasai keadaan, seandainya kita tidak dapat bekerja lagi untuk menguasainya. Tidak perlu peduli dengan mereka yang tidak mengenal situasi dunia dengan segala kuasa dan kelimpahannya. Dunia adalah milik kita, tunggu apa lagi? Lalu di mana kaum religius yang nota bene adalah seorang pemimpin sekaligus pelayan spiritual dalam kompetisi ini?

Godaan terjadi manakala religius merasa tidak ada tempat dalam pertarungan itu. Lalu, berjuang mati-matian untuk merebut satu bentuk kompetensi tertentu agar dirinya tetap eksis dan relevan bagi dunia. Dunia seringkali dijadikan objek, untuk hidup sesuai dengan perkembangan zaman. Orang yang tidak erlibat di dalamnya atau yang mengkritisi perjuangan yang terkesan tampil beda itu seringkali dinilai tidak menzaman, konservatif, pra-konsili dan pelbagai ungkapan minor lainnya. Seringkali lupa bahwa di balik dunia kompetensi seperti itu, ada kokosongan luar biasa yang tak dapat diisi oleh ilmu pengetahuan dan teknologi canggig (IPTEK) atau keahlian apapun. Kekosongan itu hanya dapat dijamah dengan perhatian dan kasih sayang, yaitu kasih Allah sendiri yang tanpa batas dan tanpa pamrih.

Dalam dunia seperti ini, religius kiranya tidak tergoda untuk relevan. Dalam arti mengambil satu entuk kompetensi dunia itu untuk bisa terlibat dalam pertarungan. Sabda Tuhan itu patut direnungkan, “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi juga dari firman yang keluar dari mulut Allah”. Lalu, apa yang mau diupayakan oleh religius di tengan realita yang demikian itu? Jawabannya mungkin perlu menyadari diri sebagai pribadi terpanggil, agar tidak terlena dengan sikon dunia yang hanya akan mengantarnya kepada dunia tak menentu. Dengan menyadari dan menghayatinya sangat diharapkan bahwa religius tetap menjadi saluran kasih dan suka cita Kristus serta tetap komitmen dalam mencintai Allah yang dikutinya.

Penutup

Baiklah kita membaca sembari merenungkan dalam hati sabda Tuhan ini, Berbahagialah orang yang bertahan dalam cobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada orang yang mengasihinya. Apabila orang digodai, jangan ia berkata, “Percoban tu datang dari Allah”. Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun. Tetapi, tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut (Yak. 1 : 12 – 15).

Tinggalkan komentar

Filed under Remah-remah

November 2005

Remah-remah Rohani

November 2005

KAMI KENANG KAMU

“NOVEMBER”, …..

bulan khusus buat kita mengenang orang-orang tercita, para tokoh pujaan kita, para pioner kita, para teladan kita…..!

(mereka telah pergi mendahului kita)

ke sebuah jalan, ke sebuah kerajaan,

ke …dalam hati kita???

Para kudus, Para santo dan santa, para beatus dan beata, para frater, para orang yang beriman kepada Allah

Kami kenang kamu

“Tuhan,……..,dalam bulan ini, kami sekongregasi mau menge-nang para saudara kami, para frater yang telah mendahului kami. Berpuluh-puluh frater telah pergi. Berpuluh bahkan beratus atau bahkan beribu jasa, suri teladang, kebaikan, kecerdasan, keterampilan, ilmu pengetahuan, kepemimpinan, seni, serta cinta teragung yang sudah mereka sumbangkan (diabdisembahkan) kepada kami (kepada dunia).

Tuhan,……wajah, gaya, karakter, keunikan, yang mereka miliki telah turut menghiasi wajah bumi ini, dan kamilah saksinya; kami serta para guru dan karyawan, teristimewa mantan anak didik mereka.

Betapa indah dan mulia, betapa tulus dan murni kami; jika kami mampu merefleksikan serta mengenang semua “jejak langkah mereka, semua harum aroma asap dupa mereka”.

Tuhan, Semoga peristiwa ini, dapat menjadi titian, sekalipun sangat kecil dan berkedip; sebagai penyambung tali kesadar-an kami untuk boleh menghadirkan mereka di sini, di dalam biara dan karya kami, di dalam doa serta hati tulus kami”, Amin.

Di Belanda, di Kenya, dan di Indonesia mereka akan tetap kita kenang. Sampai hari ini banyak frater dan mantan siswa yang masih mengenang “cahaya, api, dan …….apalagi” yang mereka tangkap dari ekspresi tiap-tiap frater pendahulu kita. Indah, bukan? Bangga dan mengharukan!!!

Ketika di De Bilt, (Agustus 2005), seorang frater di atas kursi roda dengan tabung udara (pernafasan) terpasang, dengan suara serta ingatan murni jernih, masih mau berkisah tentang masa silamnya di tanah misi, di Ndona, Ende, Flores; bahkan masih mau menyebut sejumlah nama mantan siswanya, antara lain yang kini mantan bupati, ketua DPRD NTT Dan Woda Palle. Dialah si frater almarhum Roberto, (ini hanya satu contoh, terlalu banyak contoh).

Kami mengenang kamu….

Mereka yang masih segar dalam memori kita

Frater Yakobus, Frater Rumoldus, Frater Adolfus, Frater Remigius, Frater Bosco, Frater Achiles, Frater Salesius, Frater Sebastian, Frater Timotheus, Frater Wilfried van Engen, Frater Bernardus, Frater Borgias, Frater Paulino, Frater Hilarius……..

Kenangan serta kesan kita terhadap mereka masing-masing sangat beragam, tentu disesuaikan dengan keunikan dan kekhasannya, juga karena kedekatan kita dengan mereka, atau karena peristiwa tertentu antara mereka dengan kita perorang; apa yang timbul dalam hati kita? Rasa syukur? Rasa marah? Kecewa, dendam dan benci? Atau keharuan serta penyesalan karena di antara kita dengan mereka sering berbeda pendapat, rasa bersaing? Atau pernah bersama sebagai rekan sekerja, kawan seangkatan, kawan bergurau? Atau malah pernah mereka sebagai pembimbing kita di postulan, novisiat, atau sebagai guru dan kepala sekolah kita? Saudara,……tidak bersalah dan rugi jika kita dengan niat murni kini, saat ini mau mengangkat “potre yang mulai mengabur ini”, pusara yang mulai diselimuti ilalang liar, noda kotor lelehan lilin mungil yang dibiarkan mengalir dan tergeletak di sana, bunga gugur serta dedaunan kering itu telah terhempas tercecer jauh di bawah lipatan selimut ke-sadaran kita;………………. kini kita ziarahi lagi!

Marilah kita mengenang mereka, mendatangi pusaranya, menabur sejumput bunga harum di atas makamnya, pejamkan mata dan mulai berdoa, menyambung tali kasih persaudaraan, merajut api kasih masa silam ketika kita tinggal bersama sebagai saudara di Surabaya, Palembang, Ende, Weetebula, Kediri, Malang, Larantuka, Maumere, Kupang atau di mana-pun…

Dan saat petang datang membayang, saat kesadaran kita akan peristiwa mahamulia ini mulai mengitari kita; bermain-main dalam kesadaran kita, maka berdoalah kian kuat, biar perjalanan kita di buana maya ini bukan sekadar suatu kesia-siaan; tetapi justru sebagai suatu kemuliaan yang telah dipancarkan kepada dunia serta isinya…

Saudara,

kukira yang terpenting dan utama ialah

……sesantiasa belajar untuk mengasihi,

mengampuni….

Sehingga kita boleh mati dalam cinta Tuhan sendiri

Renungkan

NUNC LENTO SONITO DICUUT, MORIERIS

(Sekarang bel ini berdentang lembut memanggil orang-orang, bahwa kau harus mati)

“janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada”

(Yohanes, 14 : 1 – 3)

Tinggalkan komentar

Filed under Remah-remah

Oktober 2005

Remah-remah Rohani

Oktober 2005

INGATLAH

(memorare, teks Issoudun)

Ingatlah ya Bunda Hati Kudus

Akan segala karya ajaib

Yang dikerjakan Tuhan bagimu

Ia telah memilih engkau menjadi bunda-Nya

Ia telah menghendaki engkau berdiri dekat salib-Nya

Ia mengikutsertakan engkau

Dalam kemuliaan-Nya

Ia mendengarkan doamu

Persembahkanlah kepada-Nya

Segala pujian dan ucapan syukur kami

Serahkanlah kepada-Nya permohonan kami

Jadikanlah hidup kami sepadan

Dengan hidupmu di dalam cinta Puteramu

Agar datanglah kerajaan-Nya

Hantarkanlah semua orang kepada sumber air hidup

Yang memancar dari hati-Nya

Berikanlah kepada dunia pengharapan dan kedamaian

Kebaikan dan keselamatan

Dengarkanlah doa kami

Dan pandanglah iman kami

Bantulah kami agar dapat hidup seperti engkau

Di dalam cinta Puteramu

Sehingga hadirlah kerajaan-Nya

Dan tunjukkanlah bahwa engkau bunda kami, Amin

Para Frater pencinta Bunda Hati Kudus,

Dalam bulan Oktober ini,

marilah kita secara khusus berjumpa dengan bunda kita. Kita datang di hadapannya, berbicara, dan mendengarkan suaranya………

Di dalam dinding Basilik Issoudun (Prancis), pun di dalam dinding Basilik Bunda Hati Kudus Sittard (Belanda), dipenuhi tulisan / teks ujud doa serta permohonan ribuan orang dari berbagai bangsa, termasuk dari Indonesia. Itulah ribuan un-taian doa yang keluar dari hati manusia yang membutuhkan Allah melalui Bunda Hati Kudus. Itulah teks ucapan syukur dari si pemohon karena sadar bahwa doanya dikabulkan. Dan manusia yang disembuhkan, manusia yang doanya dikabulkan, serta manusia yang harapannya dipenuhi mau mengabadikan kenangan bahagia itu di tembok Basilik. Manusia ingin jejak-jejak nuraninya diukir dipahat di sana. Dan, siapa pun yang memasuki kedua Basilik itu akan tertarik, tergerak, dan tersentuh untuk membaca ribuan kerinduan hati manusia dalam wujud tulisan-tulisan itu. Dan ingat Saudara, ini rupanya bukanlah hal yang terpenting. Karena yang terpenting bahwa Allah sendiri telah menjawab, Allah sendiri telah mendengar, dan Allah sendiri telah mematrikan tangisan kerinduan serta teriakan umat-Nya di dalam dinding Hati-Nya!

Inilah sejumlah teks ungkapan hati sejumlah pemohon:

Actions de graces pour la solution d’une affaire importante et difficile a Notre Dame du Sacre Coeur (Juillet, 1869) (teks Prancis),

“In thaksgiving to Our lady of the Sacred Heart for the solution to an important and difficult concern (teks Inggris).

Terimakasih Bunda Hati Kudus untuk solusi dalam kesulitan…”(Indonesia).

Merci Notre Dame du Sacre Coeur – Heureuse Naissance de leur Petite Cecile (Prancis),

“Thank you Our Lady of the Sacred Heart for the Happy birth of little Cecilia” (Inggris),

Terimakasih Bunda Hati Kudus, untuk keselamatan kelahiran Cecilia kecil” (Indonesia).

“Je Vous recommande mon avenir” (Prancis),

“Our Lady of the Sacred Heart, I give you my future” (Inggris), “Bunda Hati Kudus, saya mempersembahkan masa depanku” (Indonesia).

Saudara, kerinduan manusia dari abad ke abad selalu dan akan tetap sama? Setiap zaman ada kegelisahannya, ada ketakutan serta kecemasannya. Ada pergolakan politik, eko-nomi, ada peperangan antarabangsa dan budaya, ada aneka diskriminasi dan wabah penyakit. Warga mayoritas akan menindas warga minoritas dalam segala aspek kehidupan. Bahkan di dalam tubuh suatu bangsa beradab, suatu suku bangsa terhormat, bahkan di dalam komunitas biara dan di dalam keluarga-keluarga kita pun; senantiasa ada perten-tangan, perbedaan,…..persaingan,….irihati, dan cemburu, serta kedengkian berkepanjangan tanpa solusi….dan (kehi-dupan ini jadi laksana sang bunda yang mengandung benih-benih akar segala kejahatan), dan ia pun akan melahirkan kejahatan pula….!

Apa solusinya?

Kandungan Kejahatan akan melahirkan pengharapan,”

Bunda Hati Kudus adalah pengharapan kita. Dia telah ter-bukti setia dan teruji dalam berbagai tantangan hidup ini. Ia senantiasa memberikan harapan kepada dunia, kepada kita, kepada siapa pun. Dan, Ia tidak saja setia seperti yang kita renungkan dari dalam kitab suci (Injil). Tetapi, Ia juga tetap dan senantiasa menyertai kita, lebih-lebih sebagai Bunda pengharapan yang setia menolong.

C o b a

Renungkan, apa pesan serta harapannya ketika ia datang di Fatima (Portugal), renungkan, apa pesan serta harapannya ketika ia tampil di Lourdes (Prancis)?

Mari kita berdoa bersama Bunda Hati Kudus dan mem-persembahkan hidup, karya, serta masa depan Kongregasi kita ke dalam tangannya!

Ia akan tetap bersama kita di dalam persatuan dengan cinta Puteranya yang telah bersabda,

“Aku senantiasa beserta kamu sampai akhir zaman!”

Tinggalkan komentar

Filed under Remah-remah

September 2005

Remah-remah Rohani

Penghujung September ‘05

De Bilt, Jumat, 5 Agustus 2005, pukul 11. 30 (Belanda) Pater Kees Maas, SVD mengantarkan Para Peserta Ziarah 2005 di hotel De Biltsche Hoek dengan bahan pengantar berupa sebuah permenungan, bertemakan, “Sakramen Kehadiran”.

JEKAK – JEJAK

YANG KAU TINGGALKAN

Seorang lelaki memiliki dua orang putera, Yambu dan Rafiki. Mereka tinggal bersama di dalam sebuah gubuk di antara rerumputan yang tinggi. Suatu hari bapak itu me-manggil kedua puteranya dan berkata, “Kalian sekarang sudah cukup dewasa, pergilah dan kunjungilah desa-desa. Tinggalkanlah selama perjalananmu jejak-jejak dan kemba-lilah setelah beberapa minggu”.

Yambu dan Rafiki menuruti apa yang dikatakan oleh ayah mereka. Maka berangkatlah keduanya ke desa-desa. Setelah beberapa langkah, mulailah Yambu meninggalkan jejak-jejak sepanjang jalan yang dilewatinya. Ia mengikatkan rumput-rumput dan ranting-ranting pohon. Tetapi Rafiki, si bungsu, tidak berbuat apa-apa, juga tidak sewaktu Yambu mengingatkannya akan perintah yang diberikan oleh ayah mereka. “Ayah kan tidak berkata, bahwa kita harus meng-ikatkan rumput-rumput atau membengkokkan ranting-ran-ting pohon”, kata Rafiki.

Setelah beberapa saat, mereka memasuki sebuah desa. Para pria, wanita, dan anak-anak duduk bersama-sama di dalam sebuah gubuk, tempat mereka suka bercakap-cakap dan makan minum bersama-sama. Yambu pergi mengikatkan rumputnya dan membengkokkan ranting-ranting pohon. Dan setelah itu ia bersandar pada dinding sebuah gubuk dengan perasaan lapar dan letih. Tatapi Rafiki mendatangi orang-orang desa itu serta menyapa mereka. Mereka me-ngajarkan Rafiki segala kegiatan yang biasa mereka la-kukan. Ia makan dan minum bersama mereka, membica-rakan kesulitan dan problem mereka dan ia mencoba me-nolong mereka. Ia ikut menangis dalam kesedihan, tetapi ia juga ikut menikmati kegembiraan mereka, ia menghadiri pesta-pesta, bernyanyi dan menari bersama mereka. Dan begitulah Yambu dan Rafiki mengunjungi desa-desa ber-minggu-minggu lamanya. Yambu mengikat dan membeng-kokkan ranting-ranting pohon, Rafiki berbicara dan mende-ngarkan, tertawa, dan menangis bersama orang-orang desa.

Sewaktu mereka kembali ke rumah, mereka menjumpai ayah mereka di depan gubuk. Dan ia bertanya, “Bagaima-na?” Dan Yambu menceritakan tentang jejak-jejak yang ia tinggalkan. Lalu ayah itu bertanya, “Dan saya juga ingin melihat jejak-jejak yang ditinggalkan oleh Rafiki”. “Tidak ada”, kata Yambu. “Marilah kita melihat”, kata ayah itu. Dan pergilah mereka. Yambu menunjuk setiap jejak yang ditinggalkannya. Dan ayah itu tertawa. Di desa yang per-tama, orang-orang desa mendekati mereka dan memuji ayah itu atas kebaikan puteranya Rafiki.

Keesokan hari, terjadilah hal yang sama di desa lain. “Saya tidak mengerti”, kata Yambu. “Tidak ada seorang pun yang mengenali saya dan saya sudah melakukan tepat apa yang ayah perintahkan”. Dan ayah itu menjawab, “Masih ada jejak-jejak yang lain anakku, yang kau bisa tinggalkan di desa-desa. Sedangkan jejak-jejak yang tinggal di dalam hati manusia akan bertahan, menggema selamanya. Dan Rafiki telah meninggalkan jejak-jejak itu. Dan mereka tinggal lebih lama daripada rumput-rumput dan ranting-ranting yang di-ikat dan dimakan oleh binatang-binatang atau dilepaskan angin”.

Bandingkan

Konstitusi Kongregasi bagian Spiritual,

bab 1, ayat 9 :

Hendaklah kita bersedia dituntun oleh sabda Yesus, Anak Manusia:

“Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”,

(Mt. 25 : 40)

dan

Paralelkan dengan

(Lukas, 6 : 46)

“Menpa a kamu berseru kepada-Ku , Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?”

(49) “Akan tetapi barang siapa mendengar perkataan—Ku , tetapi tidak melakukan nya, ia sama dengan seorang yang mendirikasn rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumsh itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya”.

Berziarah, mulai dari Belanda dan selanjutnya di Perancis sungguh menyisahkan aneka impresi dan inspirasi serta kekaguman

Mengapa?

Menyaksikan kebisuan makam sang pendiri kongregasi sambil kala itu hujan rintik menyirami bumi, seakan mengajak kita untuk bertanya,

“Mengapa Mgr. Andreas berani mendirikan sebuah kongregasi?”

Hatinya yang sendu tergerak menyaksikan penderitaan lahir batin dari sesama pada zamannya. Inilah kharisma yang melahirkan spiritualitas hati!

Menyaksikan wajah tulus Vinsensius a Paulo yang terbujur diterangi cahaya lampu aneka warna, hati ini bertanya,

“Apa rahasia kekuatan batin seorang yang berani memproklamasikan bahwa,

kekayaan kita, sesungguhnya hanyalah titipan dari saudara kita kaum miskin!”

`Sungguh Saudara ,

Mereka adalah orang – orang yang telah mendengarkan , melihat, dan melakukan kehendak Bapak !

Dan bagaimanakah kita selaku pewaris kharisma mereka, beranikah kita mengikuti jejak mereka pada situasi serta kondisi zaman kita?

Tinggalkan komentar

Filed under Remah-remah

Agustus 2005

Remah-remah Rohani

Penghujung Agustus ‘05

Dari Sebuah Perjalanan Ziarah Panjang……..

SEBUAH REFLEKSI PADA HARI RAYA KITA

Utrecht, 13 Agustus 1873

“In Sollicitudine Et Simplicitate”

(Mgr. Andreas Ignasius Schaepman)

Kongregasi kita genap berusia 132 tahun pada tanggal 13 Agustus 2005 ini. Kita mengisi dengan sebuah refleksi dari suatu perjalanan ziarah panjang di bumi ini. Hari raya ini (132 tahun), menghentak kita semua untuk sejenak berhening hati, menoleh dengan cermat tapak-tapak perjalanan nurani seorang Andreas sang Peduliwan tulen sejati yang telah mencoba mengangkat butir-butir kristal dari endapan lubuk batinnya dengan berani mendirikan sebuah kongregasi.

Nama kongregasi kita Onze Lieve Vrouw van het Heilig Hart = Nostrae Dominaea Sacro Corde = Bunda Hati Kudus = Our Lady of the Sacred Heart dan kini dikenal sebagai, “Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus” = Congregatio Fratrum Nostrae Dominae a Sacro Corde” dikenal juga dengan nama, ”Fraters van Utrecht” = Frater-frater dari Utrecht………

Kita semua diajak untuk merefleksi bersama. Sejumlah frater kita yang saat ini sedang berziarah di tanah tempat lahirnya kongregasi kita (Sittard, Belanda dan Issoudun, Perancis) akan mencoba untuk me-nemukan kembali jejak-jejak langkah awal itu dengan suatu ziarah. Kita saat ini seolah masuk ke dalam “suatu masa rindu puja” mencari dan mau menemukan kembali mutiara kita, jati diri kita, semangat kita, spiritualitas kita. Ke mana kita akan pergi? Di mana kita harus men-carinya? Siapakah yang harus menolong kita? Saudara, Sang Visioner sejati akan sungguh tersiksa batinnya, jika getaran-getaran binar nu-raninya sirna tanpa tertangkap kembali. Maka, aktivitas mencari adalah suatu upaya mulia dari angkatan penerus yang tidak mau kehilangan wajah serta arah kiblatnya. Malu, jika harus kehilangan orientasi! Men-cari jejak adalah tanda sebuah tindakan mencintai, mecintai sejarah, yang berarti mencintai para Pendahulu kita.

Kongregasi kita lahir dari suatu kepedulian dan kesederhanaan. Lahir dari lubuk hati seorang tokoh sejati yang merasa bertanggung jawab kepada kehidupan, kepada anak manusia pada zamannya. Keliru dan daiflah kita jika meninggalkan mutiara ini. Bertolak dari semangat dasar ini, masih beranikah kita untuk berteriak lantang kepada sejarah serta anak zaman ini, bahwa kita adalah sang Penerus sejati? Masih setiakah kita melintasi relung lorong batin sang Pendiri? Masihkah kita me-neruskan pembangunan menara kasih yang telah dirintisnya? Ataukah kita ternyata telah melupakan sejarah, dan kini sibuk mencari jalan kita masing-masing? Inilah pentingnya suatu refleksi! Inilah suatu arena na-pak tilas sambil bergandeng tangan, adalah setitik pijar dari pelita ke-setiaan kita.

Saudara, kita harus segera berangkat! Mengembara, dan akan terus mengembara bersama dengan sang Pendiri kongregasi kita menuju rumah Sang Gembala sejati….mari kita pergi!

Kita membutuhkan sebuah dacing (Timbangan). Kita mau menimbang kehidupan kita dalam kurun waktu 132 tahun silam. Andaikan piringan kanan dacing diberi nama A, yang berarti (Positif = sesuai spiritualitas visi misi kongregasi), dan piringan kiri dacing diberi nama B yang berarti (Negatif = tidak sesuai spiritualitas visi misi kongregasi), maka kita mengidealkan kondisi piringan dacing yang bagimana posisinya? Co-ndong ke A? Atau ke B? Atau suatu kondisi seimbang (balance)?

Ke mana arah kita berjalan, itulah jalan kita. Ke arah sanalah seluruh idealisme (spiritualitas, visi, misi) kongregasi kita berorientasi. Ini ber-arti, potret sebuah kongregasi yang ideal ialah kongregasi dengan po-sisi piringan A dalam kondisi lebih berat! Posisi piringan A ke bawah. Dan Saudara, tidak ada posisi lain lagi bagi kita. Kita tidak bisa berkata, “ini atau itu”, atau kita mencoba yang ini atau yang itu,. .…tidak! Kita hanya memiliki satu idealisme, “yang ini, atau yang itu”. (Ya atau tidak)! Lain-lain, tidak!

Mari kita jujur merefleksi!

Renungkan Amanat sang Pendiri kita :

“Saya memerlukan Frater-frater berkeyakinan mendalam tentang pentingnya segala sesuatu dari pendidikan dan pembentukan kaum muda. Saya memerlukan biarawan yang rajin dan unggul dalam kebijaksanaan dan kecakapan yang dijiwai oleh suatu titikad murni dan penuh cinta kasih. Saya memerlukan guru-guru yang rajin dalam hal kebenaran”

Saya memetik untaian kalimat paling tengah, untuk kita renungkan,

“Saya memerlukan biarawan yang rajin dan unggul dalam kebijaksanaan dan kecakapan yang dijiwai oleh suatu itikad murni dan penuh cinta kasih”

Relasikan

amanat sang Pendiri kita,

dengan

Sabda Yesus berikut ini….

“Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu. Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu”.

(Yoh. 10 : 11 – 13).

Tinggalkan komentar

Filed under Remah-remah