Agustus 2005

Remah-remah Rohani

Penghujung Agustus ‘05

Dari Sebuah Perjalanan Ziarah Panjang……..

SEBUAH REFLEKSI PADA HARI RAYA KITA

Utrecht, 13 Agustus 1873

“In Sollicitudine Et Simplicitate”

(Mgr. Andreas Ignasius Schaepman)

Kongregasi kita genap berusia 132 tahun pada tanggal 13 Agustus 2005 ini. Kita mengisi dengan sebuah refleksi dari suatu perjalanan ziarah panjang di bumi ini. Hari raya ini (132 tahun), menghentak kita semua untuk sejenak berhening hati, menoleh dengan cermat tapak-tapak perjalanan nurani seorang Andreas sang Peduliwan tulen sejati yang telah mencoba mengangkat butir-butir kristal dari endapan lubuk batinnya dengan berani mendirikan sebuah kongregasi.

Nama kongregasi kita Onze Lieve Vrouw van het Heilig Hart = Nostrae Dominaea Sacro Corde = Bunda Hati Kudus = Our Lady of the Sacred Heart dan kini dikenal sebagai, “Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus” = Congregatio Fratrum Nostrae Dominae a Sacro Corde” dikenal juga dengan nama, ”Fraters van Utrecht” = Frater-frater dari Utrecht………

Kita semua diajak untuk merefleksi bersama. Sejumlah frater kita yang saat ini sedang berziarah di tanah tempat lahirnya kongregasi kita (Sittard, Belanda dan Issoudun, Perancis) akan mencoba untuk me-nemukan kembali jejak-jejak langkah awal itu dengan suatu ziarah. Kita saat ini seolah masuk ke dalam “suatu masa rindu puja” mencari dan mau menemukan kembali mutiara kita, jati diri kita, semangat kita, spiritualitas kita. Ke mana kita akan pergi? Di mana kita harus men-carinya? Siapakah yang harus menolong kita? Saudara, Sang Visioner sejati akan sungguh tersiksa batinnya, jika getaran-getaran binar nu-raninya sirna tanpa tertangkap kembali. Maka, aktivitas mencari adalah suatu upaya mulia dari angkatan penerus yang tidak mau kehilangan wajah serta arah kiblatnya. Malu, jika harus kehilangan orientasi! Men-cari jejak adalah tanda sebuah tindakan mencintai, mecintai sejarah, yang berarti mencintai para Pendahulu kita.

Kongregasi kita lahir dari suatu kepedulian dan kesederhanaan. Lahir dari lubuk hati seorang tokoh sejati yang merasa bertanggung jawab kepada kehidupan, kepada anak manusia pada zamannya. Keliru dan daiflah kita jika meninggalkan mutiara ini. Bertolak dari semangat dasar ini, masih beranikah kita untuk berteriak lantang kepada sejarah serta anak zaman ini, bahwa kita adalah sang Penerus sejati? Masih setiakah kita melintasi relung lorong batin sang Pendiri? Masihkah kita me-neruskan pembangunan menara kasih yang telah dirintisnya? Ataukah kita ternyata telah melupakan sejarah, dan kini sibuk mencari jalan kita masing-masing? Inilah pentingnya suatu refleksi! Inilah suatu arena na-pak tilas sambil bergandeng tangan, adalah setitik pijar dari pelita ke-setiaan kita.

Saudara, kita harus segera berangkat! Mengembara, dan akan terus mengembara bersama dengan sang Pendiri kongregasi kita menuju rumah Sang Gembala sejati….mari kita pergi!

Kita membutuhkan sebuah dacing (Timbangan). Kita mau menimbang kehidupan kita dalam kurun waktu 132 tahun silam. Andaikan piringan kanan dacing diberi nama A, yang berarti (Positif = sesuai spiritualitas visi misi kongregasi), dan piringan kiri dacing diberi nama B yang berarti (Negatif = tidak sesuai spiritualitas visi misi kongregasi), maka kita mengidealkan kondisi piringan dacing yang bagimana posisinya? Co-ndong ke A? Atau ke B? Atau suatu kondisi seimbang (balance)?

Ke mana arah kita berjalan, itulah jalan kita. Ke arah sanalah seluruh idealisme (spiritualitas, visi, misi) kongregasi kita berorientasi. Ini ber-arti, potret sebuah kongregasi yang ideal ialah kongregasi dengan po-sisi piringan A dalam kondisi lebih berat! Posisi piringan A ke bawah. Dan Saudara, tidak ada posisi lain lagi bagi kita. Kita tidak bisa berkata, “ini atau itu”, atau kita mencoba yang ini atau yang itu,. .…tidak! Kita hanya memiliki satu idealisme, “yang ini, atau yang itu”. (Ya atau tidak)! Lain-lain, tidak!

Mari kita jujur merefleksi!

Renungkan Amanat sang Pendiri kita :

“Saya memerlukan Frater-frater berkeyakinan mendalam tentang pentingnya segala sesuatu dari pendidikan dan pembentukan kaum muda. Saya memerlukan biarawan yang rajin dan unggul dalam kebijaksanaan dan kecakapan yang dijiwai oleh suatu titikad murni dan penuh cinta kasih. Saya memerlukan guru-guru yang rajin dalam hal kebenaran”

Saya memetik untaian kalimat paling tengah, untuk kita renungkan,

“Saya memerlukan biarawan yang rajin dan unggul dalam kebijaksanaan dan kecakapan yang dijiwai oleh suatu itikad murni dan penuh cinta kasih”

Relasikan

amanat sang Pendiri kita,

dengan

Sabda Yesus berikut ini….

“Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu. Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu”.

(Yoh. 10 : 11 – 13).

Tinggalkan komentar

Filed under Remah-remah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s