November 2005

Remah-remah Rohani

November 2005

KAMI KENANG KAMU

“NOVEMBER”, …..

bulan khusus buat kita mengenang orang-orang tercita, para tokoh pujaan kita, para pioner kita, para teladan kita…..!

(mereka telah pergi mendahului kita)

ke sebuah jalan, ke sebuah kerajaan,

ke …dalam hati kita???

Para kudus, Para santo dan santa, para beatus dan beata, para frater, para orang yang beriman kepada Allah

Kami kenang kamu

“Tuhan,……..,dalam bulan ini, kami sekongregasi mau menge-nang para saudara kami, para frater yang telah mendahului kami. Berpuluh-puluh frater telah pergi. Berpuluh bahkan beratus atau bahkan beribu jasa, suri teladang, kebaikan, kecerdasan, keterampilan, ilmu pengetahuan, kepemimpinan, seni, serta cinta teragung yang sudah mereka sumbangkan (diabdisembahkan) kepada kami (kepada dunia).

Tuhan,……wajah, gaya, karakter, keunikan, yang mereka miliki telah turut menghiasi wajah bumi ini, dan kamilah saksinya; kami serta para guru dan karyawan, teristimewa mantan anak didik mereka.

Betapa indah dan mulia, betapa tulus dan murni kami; jika kami mampu merefleksikan serta mengenang semua “jejak langkah mereka, semua harum aroma asap dupa mereka”.

Tuhan, Semoga peristiwa ini, dapat menjadi titian, sekalipun sangat kecil dan berkedip; sebagai penyambung tali kesadar-an kami untuk boleh menghadirkan mereka di sini, di dalam biara dan karya kami, di dalam doa serta hati tulus kami”, Amin.

Di Belanda, di Kenya, dan di Indonesia mereka akan tetap kita kenang. Sampai hari ini banyak frater dan mantan siswa yang masih mengenang “cahaya, api, dan …….apalagi” yang mereka tangkap dari ekspresi tiap-tiap frater pendahulu kita. Indah, bukan? Bangga dan mengharukan!!!

Ketika di De Bilt, (Agustus 2005), seorang frater di atas kursi roda dengan tabung udara (pernafasan) terpasang, dengan suara serta ingatan murni jernih, masih mau berkisah tentang masa silamnya di tanah misi, di Ndona, Ende, Flores; bahkan masih mau menyebut sejumlah nama mantan siswanya, antara lain yang kini mantan bupati, ketua DPRD NTT Dan Woda Palle. Dialah si frater almarhum Roberto, (ini hanya satu contoh, terlalu banyak contoh).

Kami mengenang kamu….

Mereka yang masih segar dalam memori kita

Frater Yakobus, Frater Rumoldus, Frater Adolfus, Frater Remigius, Frater Bosco, Frater Achiles, Frater Salesius, Frater Sebastian, Frater Timotheus, Frater Wilfried van Engen, Frater Bernardus, Frater Borgias, Frater Paulino, Frater Hilarius……..

Kenangan serta kesan kita terhadap mereka masing-masing sangat beragam, tentu disesuaikan dengan keunikan dan kekhasannya, juga karena kedekatan kita dengan mereka, atau karena peristiwa tertentu antara mereka dengan kita perorang; apa yang timbul dalam hati kita? Rasa syukur? Rasa marah? Kecewa, dendam dan benci? Atau keharuan serta penyesalan karena di antara kita dengan mereka sering berbeda pendapat, rasa bersaing? Atau pernah bersama sebagai rekan sekerja, kawan seangkatan, kawan bergurau? Atau malah pernah mereka sebagai pembimbing kita di postulan, novisiat, atau sebagai guru dan kepala sekolah kita? Saudara,……tidak bersalah dan rugi jika kita dengan niat murni kini, saat ini mau mengangkat “potre yang mulai mengabur ini”, pusara yang mulai diselimuti ilalang liar, noda kotor lelehan lilin mungil yang dibiarkan mengalir dan tergeletak di sana, bunga gugur serta dedaunan kering itu telah terhempas tercecer jauh di bawah lipatan selimut ke-sadaran kita;………………. kini kita ziarahi lagi!

Marilah kita mengenang mereka, mendatangi pusaranya, menabur sejumput bunga harum di atas makamnya, pejamkan mata dan mulai berdoa, menyambung tali kasih persaudaraan, merajut api kasih masa silam ketika kita tinggal bersama sebagai saudara di Surabaya, Palembang, Ende, Weetebula, Kediri, Malang, Larantuka, Maumere, Kupang atau di mana-pun…

Dan saat petang datang membayang, saat kesadaran kita akan peristiwa mahamulia ini mulai mengitari kita; bermain-main dalam kesadaran kita, maka berdoalah kian kuat, biar perjalanan kita di buana maya ini bukan sekadar suatu kesia-siaan; tetapi justru sebagai suatu kemuliaan yang telah dipancarkan kepada dunia serta isinya…

Saudara,

kukira yang terpenting dan utama ialah

……sesantiasa belajar untuk mengasihi,

mengampuni….

Sehingga kita boleh mati dalam cinta Tuhan sendiri

Renungkan

NUNC LENTO SONITO DICUUT, MORIERIS

(Sekarang bel ini berdentang lembut memanggil orang-orang, bahwa kau harus mati)

“janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada”

(Yohanes, 14 : 1 – 3)

Tinggalkan komentar

Filed under Remah-remah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s