September 2005

Remah-remah Rohani

Penghujung September ‘05

De Bilt, Jumat, 5 Agustus 2005, pukul 11. 30 (Belanda) Pater Kees Maas, SVD mengantarkan Para Peserta Ziarah 2005 di hotel De Biltsche Hoek dengan bahan pengantar berupa sebuah permenungan, bertemakan, “Sakramen Kehadiran”.

JEKAK – JEJAK

YANG KAU TINGGALKAN

Seorang lelaki memiliki dua orang putera, Yambu dan Rafiki. Mereka tinggal bersama di dalam sebuah gubuk di antara rerumputan yang tinggi. Suatu hari bapak itu me-manggil kedua puteranya dan berkata, “Kalian sekarang sudah cukup dewasa, pergilah dan kunjungilah desa-desa. Tinggalkanlah selama perjalananmu jejak-jejak dan kemba-lilah setelah beberapa minggu”.

Yambu dan Rafiki menuruti apa yang dikatakan oleh ayah mereka. Maka berangkatlah keduanya ke desa-desa. Setelah beberapa langkah, mulailah Yambu meninggalkan jejak-jejak sepanjang jalan yang dilewatinya. Ia mengikatkan rumput-rumput dan ranting-ranting pohon. Tetapi Rafiki, si bungsu, tidak berbuat apa-apa, juga tidak sewaktu Yambu mengingatkannya akan perintah yang diberikan oleh ayah mereka. “Ayah kan tidak berkata, bahwa kita harus meng-ikatkan rumput-rumput atau membengkokkan ranting-ran-ting pohon”, kata Rafiki.

Setelah beberapa saat, mereka memasuki sebuah desa. Para pria, wanita, dan anak-anak duduk bersama-sama di dalam sebuah gubuk, tempat mereka suka bercakap-cakap dan makan minum bersama-sama. Yambu pergi mengikatkan rumputnya dan membengkokkan ranting-ranting pohon. Dan setelah itu ia bersandar pada dinding sebuah gubuk dengan perasaan lapar dan letih. Tatapi Rafiki mendatangi orang-orang desa itu serta menyapa mereka. Mereka me-ngajarkan Rafiki segala kegiatan yang biasa mereka la-kukan. Ia makan dan minum bersama mereka, membica-rakan kesulitan dan problem mereka dan ia mencoba me-nolong mereka. Ia ikut menangis dalam kesedihan, tetapi ia juga ikut menikmati kegembiraan mereka, ia menghadiri pesta-pesta, bernyanyi dan menari bersama mereka. Dan begitulah Yambu dan Rafiki mengunjungi desa-desa ber-minggu-minggu lamanya. Yambu mengikat dan membeng-kokkan ranting-ranting pohon, Rafiki berbicara dan mende-ngarkan, tertawa, dan menangis bersama orang-orang desa.

Sewaktu mereka kembali ke rumah, mereka menjumpai ayah mereka di depan gubuk. Dan ia bertanya, “Bagaima-na?” Dan Yambu menceritakan tentang jejak-jejak yang ia tinggalkan. Lalu ayah itu bertanya, “Dan saya juga ingin melihat jejak-jejak yang ditinggalkan oleh Rafiki”. “Tidak ada”, kata Yambu. “Marilah kita melihat”, kata ayah itu. Dan pergilah mereka. Yambu menunjuk setiap jejak yang ditinggalkannya. Dan ayah itu tertawa. Di desa yang per-tama, orang-orang desa mendekati mereka dan memuji ayah itu atas kebaikan puteranya Rafiki.

Keesokan hari, terjadilah hal yang sama di desa lain. “Saya tidak mengerti”, kata Yambu. “Tidak ada seorang pun yang mengenali saya dan saya sudah melakukan tepat apa yang ayah perintahkan”. Dan ayah itu menjawab, “Masih ada jejak-jejak yang lain anakku, yang kau bisa tinggalkan di desa-desa. Sedangkan jejak-jejak yang tinggal di dalam hati manusia akan bertahan, menggema selamanya. Dan Rafiki telah meninggalkan jejak-jejak itu. Dan mereka tinggal lebih lama daripada rumput-rumput dan ranting-ranting yang di-ikat dan dimakan oleh binatang-binatang atau dilepaskan angin”.

Bandingkan

Konstitusi Kongregasi bagian Spiritual,

bab 1, ayat 9 :

Hendaklah kita bersedia dituntun oleh sabda Yesus, Anak Manusia:

“Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”,

(Mt. 25 : 40)

dan

Paralelkan dengan

(Lukas, 6 : 46)

“Menpa a kamu berseru kepada-Ku , Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?”

(49) “Akan tetapi barang siapa mendengar perkataan—Ku , tetapi tidak melakukan nya, ia sama dengan seorang yang mendirikasn rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumsh itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya”.

Berziarah, mulai dari Belanda dan selanjutnya di Perancis sungguh menyisahkan aneka impresi dan inspirasi serta kekaguman

Mengapa?

Menyaksikan kebisuan makam sang pendiri kongregasi sambil kala itu hujan rintik menyirami bumi, seakan mengajak kita untuk bertanya,

“Mengapa Mgr. Andreas berani mendirikan sebuah kongregasi?”

Hatinya yang sendu tergerak menyaksikan penderitaan lahir batin dari sesama pada zamannya. Inilah kharisma yang melahirkan spiritualitas hati!

Menyaksikan wajah tulus Vinsensius a Paulo yang terbujur diterangi cahaya lampu aneka warna, hati ini bertanya,

“Apa rahasia kekuatan batin seorang yang berani memproklamasikan bahwa,

kekayaan kita, sesungguhnya hanyalah titipan dari saudara kita kaum miskin!”

`Sungguh Saudara ,

Mereka adalah orang – orang yang telah mendengarkan , melihat, dan melakukan kehendak Bapak !

Dan bagaimanakah kita selaku pewaris kharisma mereka, beranikah kita mengikuti jejak mereka pada situasi serta kondisi zaman kita?

Tinggalkan komentar

Filed under Remah-remah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s