Monthly Archives: Januari 2009

Renungan

Renungan Harian Agama Katolik Oleh Ign.Sumarya SJ

“Aku datang untuk melemparkan api ke bumi”

(Rm 6:19-23; Luk 12:49-53)

“Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala! Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung!Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya.”(Luk 12:49-53), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Musim kemarau di Indonesia ini sering diwarnai kebakaran-kebakaran, entah disengaja atau tidak disengaja: kebakaran hutan, gedung dst.. Api atau si jago merah dalam waktu sekejap telah memusnahkan berbagai harta benda duniawi yang fana dan sementara, dan peristiwa kebakaran itu juga menimbulkan pertanyaan serta pertentangan di sana-sini dengan pertanyaan utama: “apa yang sebenarnya sedang terjadi”. “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakan Aku harapkan, api itu telah menyala!”, demikian sabda Yesus. Apa yang dimaksudkan dengan ‘api’ di sini antara lain kebenaran. Di tengah-tengah kehidupan bersama yang masih diwarnai oleh kebohongan serta kepentingan pribadi masa kini, rasanya kebenaran sungguh merupakan ‘api’ yang membuat panas dan gerah bagi mereka yang sombong dan hanya mengusahakan kepentingan pribadi. Maka dengan segala kelicikan dan usaha mereka berupaya memadamkan kebenaran atau ‘api’ tersebut. Dengan kuasa jabatan dan kedudukannya mereka seenaknya membunuh atau memecat para pejuang kebenaran, yang dianggap atau dinilai sebagai pengacau atau pembuat suasana menjadi panas dan gerah. Menghayati dan memperjuangkan kebenaran memang tidak mudah dan harus menghadapi pertentangan-pertentangan yang berasal dari para pembohong maupun pencari kepentingan pribadi, keluarga atau kelompoknya. Yesus sendiri sebagai Kebenaran dan Pembawa Kebenaran harus menjadi korban kekerasan, kesombongan dan kebohongan para penguasa yang gila harta, jabatan/kedudukan dan hormat;Ia harus menderita dan wafat di kayu salib. Maka dengan ini kami mengingatkan dan mengajak para pejuang kebenaran di manapun dan kapanpun: marilah kita tetap tegar , bergairah serta tidak takut terus berjuang demi kebenaran, meskipun untuk itu harus berjuang sendirian. Menjadi pejuang kebenaran kurang lebih sama dengan menjadi nabi atau siap menjadi martir, yang bernasib dikejar, diejek, dipukuli atau disakiti. Untuk menjadi benar dan memperjuangkan kebenaran rasanya harus siap sedia untuk menderita dan sakit.

· “Sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal. Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm 6:22-23) , demikian peringatan Paulus kepada umat di Roma, kepada kita semua. Kita telah dibaptis, dikaruniai rahmat Allah untuk bebas merdeka dari dosa dan menjadi hamba Allah; kita semua dipanggil untuk menjadi ‘kudus’ atau ‘suci’. Hidup suci berarti mempersembahkan atau menyisihkan diri seutuhnya kepada Tuhan; diri kita serta segala sesuatu yang kita miliki atau kuasai maupun lingkungan hidup kita. Dengan kata lain dengan mengurus atau mengelola dan terlibat dalam berbagai urusan duniawi, kita diharapkan semakin menjadi suci, dekat dengan dan dikasihi oleh Allah maupun sesama.. Semakin mendunia, terlibat dalam urusan-urusan duniawi diharapkan semakin suci. Kita semua kiranya lebih banyak terlibat dalam urusan-urusan duniawi, entah pastor, bruder, suster atau awam, maka baiklah apapun yang menjadi urusan atau tugas pekerjaan kita marilah kita laksanakan atau kerjakan sebaik mungkin. Dalam hal pengelolaan atau pengurusan harta benda marilah kita berpedoman pada ‘intentio dantis’/maksud pemberi: uang atau harta benda yang diperoleh dari penyelenggaraan sekolah, rumah sakit atau karya difungsikan untuk mengembangkan sekolah, rumah sakit atau karya bukan untuk kepentingan pribadi atau kelompok sendiri. Gereja dan karya-karya pelayanannya sering dianggap atau dinilai kaya oleh banyak orang, sebenarnya tidak kaya namun karena uang atau harta benda dikelola dan diurus sesuai dengan ‘intentio dantis’ dan tidak dikorupsi maka nampak kaya. Pengurusan atau pengelolaan harta benda atau uang sesuai ‘intentio dantis’ untuk masa kini rasanya merupakan bentuk kenabian atau kemartiran yang harus kita hayati dan sebarluaskan.

“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.” (Mzm 1:1-2)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Religius

Frater Bunda Hati Kudus

Mgr. Andreas Ignatius Schaepman

Mgr. Andreas Ignatius Schaepman

Mgr.Schaepman, pendiri tarekat

Kongregasi para frater Bunda Hati Kudus didirikan oleh uskup agung Utrecht, Mgr.Andreas Ignasius Schaepman. Moto: In Solicitudine et Simplicitate (dalam keprihatinan dan kesederhanaan).

Beliau lahir di Zwolle pada tanggal 4 September 1815. Setelah ditahbiskan sebagai imam pada tahun 1838 beliau mula-mula bertugas sebagai pastor pembantu di Zwolle, lalu menjadi pastor paroki berturut-turut di Ommerschans, Assen dan Zwolle.

Ketika pada tahun 1853 hirarki keuskupan ditegakkan kembali, Mgr.Zwijsen diangkap menjadi uskup agung Utrecht sekaligus uskup den Bosch. Tetapi beliau tinggal di den Bosch.

Pada tahun 1857 Mgr.Zwijsen mengangkat pastor Schaepman menjadi rektor seminari yang bakal didirikan di Rijsenburg. Tahun 1860 Schaepman menjadi plebaan (pastor paroki katedral) di Utrecht dan uskup koajutor dari uskup agung Zwijsen. Pada tahun yang sama ia ditahbiskan menjadi uskup. Tanggal 4 Februari 1868 ia menggantikan Mgr.Zwijsen sebagai uskup agung di Utrecht. Ia meninggal pada tanggal 19 September 1882.

Schaepman adalah seorang yang praktis. Ia berusaha memecahkan problem-problem yang sedang ia hadapi. Ia merasa prihatin dengan kaum miskin. Jauh sebelum ketimpangan sosial menjadi fokus perhatian masyarakat pada umumnya, ia sudah mencoba mencari jalan untuk memenuhi kebutuhan kaum miskin. Setelah diangkap menjadi uskup ia banyak menaruh perhatian dalam bidang pengajaran.

Mulai tahun 1848 undang-undang dasar menjamin kebebasan pengajaran. Pengajaran berdasarkan aliran agama tertentu diperbolehkan, tetapi subsidi pemerintah tetap hanya diberikan kepada sekolah-sekolah negeri.

Sekitar tahun 1870 di provinsi-provinsi utara Nederland sudah ada beberapa tarekat suster yang bermisi dalam pendidikan para pemudi, tetapi belum ada tarekat yang mengelola pendidikan para pemuda.

Untuk mengisi kekurangan inilah Mgr.Schaepman mengambil inisiatif untuk mendirikan suatu tarekat bruder.

Ia meminta nasihat Mgr.Zwijsen yang pada tahun 1844 telah mendirikan tarekat para frater CMM (tarekat Santa Perawan Maria, Bunda yang berbelaskasih) di Tilburg.

Sebutan ‘frater’

Agar dapat meneruskan tradisi historis ini, Schaepman kemudian memutuskan banhwa para anggota tarekat yang akal didirikannya akan memakai sebutan ‘frater’. Jadi berbeda dengan tarekat lain pada umumnya yang menggunakan sebutan ‘bruder’.

Para anggota tarekat Broeders van het Gemene Leven (kehidupan bersama) sewaktu hidupnya Geert Grote, yaitu dalam abad ke-14 juga memakai sebutan ‘frater’. Sewaktu tarekat ini berjaya, banyak yang dikerjakan demi pendidikan katolik di Nederland Utara.

Tarekat Frater Bunda Hati Kudus

Mgr.Schaepman mempersembahkan tarekat yang ia dirikan kepada Bunda Maria dengan nama “Bunda Hati Kudus”. Waktu itu devosi kepada Bunda Hati Kudus masih merupakan sesuatu yang baru yang pada waktu itu lebih dikenal dengan gelar ‘Harapan Orang-orang Putus Asa’. Promotor utama gerakan ini adalah pendiri para Misionaris Hati Kudus, yaitu Pere Chevalier. Devosi ini meluas dari Issoudun-Perancis. Di Nederland basilik di Sittard dipersembahkan kepada Bunda Hati Kudus.

Dari konstitusi ke konstitusi

Mula-mula tarekat frater BHK tidak mempunyai buku peraturan sendiri yang menggariskan sikap hidup kerasulan menurut ketiga kaul. Pada saat-saat tertentu dipakailah Peraturan Tarekat CMM dengan penyesuaian sana-sini. Dengan persetujuan pendiri, Peraturan yang disesuaikan ini lalu dicetak dan pada tahun 1878 dikukuhkan olehnya. Di samping Peraturan ada pula Konstitusi yang mencantumkan hal-hal yang berkaitan dengan kepengurusan.

Pada tahun 1893, 1919, 1936 dan 1952 Peraturan dan Konstitusi diterbitkan kembali tanpa perubahan yang berarti.

Dalam kapitel tahun 1960 pengurus mengajukan rancangan konstitusi baru. Selanjutnya Peraturan dan Konstitusi digabung menjadi satu: Konstitusi.

Pada tahun 1967 terbitlah Konstitusi yang telah diolah kembali, dengan persetujuan Uskup Agung Utrecht.

Sementara itu Konsili Vatikan II telah berlangsung. Semua Tarekat diminta untuk merenungkan isi kehidupan religius. Mereka ditugaskan untuk menyesuaikan Konstitusi dengan garis-garis haluan kongkret yang diterbitkan pada tahun 1966.

Demikianlah akhirnya terwujud Konstitusi yang sama sekali baru, yang diolah berdasarkan Kitab Hukum Kanonik yang terbit pada tahun 1983. Pada tahun 1992 Uskup Agung Utrecht, Adrianus Kardinal Simonis, menyetujui Konstitusi ini.

Dari penelitian yang saya lakukan terhadap konstitusi dari satu ke yang lain, ada hal yang menunjukkan hubungan yang sangat erat antara devosi kepada Hati Kudus Yesus dengan penghormatan kepada Maria Bunda Hati Kudus.

Konstitusi 1918

Art.74

Buah ilahi kepada Santa Perawan Tersuci Maria harus dihargai secara khusus oleh semua anggota kongregasi. Konggregasi sendiri bahkan ditempatkan secara khusus di bawah perlindungan S.P.Maria Bunda Hati Kudus… Setiap anggota menyandang nama maria dan hal ini dikaitkan dengan pembaktian secara khusus kepadanya. Sebagai anak-anak yang tulus, para frater harus berusaha keras meniru teladannya, menghormati Ibu mereka dan menjelmakan kekuasaan-kekuasaannya.

Para frater akan selalu menghidupkan buah-buah ilahi yang telah diserahkan kepada Ibu mereka dan juga bersyukur kepada Allah, yang telah memanggil mereka bukan karena jasa mereka, di mana Perawan Maria menjadi Ibu mereka.

Mereka akan mengembangkannya sendiri dan bahwa wajib menyebarluaskan buah-buah ilahi yang telah diserahkan kepada Perawan tersuci, terutama kepada anak-anak dan orang lain yang dipercayakan kepada mereka.

Art.76

Dalam doa dan latihan rohani, kongregasi wajibmenghormati secara lebih khusus Santa Perawan, mewujudkan doa harian dengan ofisi singkat Santa Perawan Maria pada tempat utama…

Art.80

Menghadiri Misa menurut St.Fransiskus dari Sales adalah “matahari segala devosi”. Maka para frater harus mengutamakannya dan dapat mempersembahkan persembahan setiap hari, yang tidak lain adalah melanjutkan persembahan di salib… Yesus mengikutsertakan kita dalam penerimaan rahmat-rahmat, yang telah Ia berikan melalui wafat-Nya.

Konstitusi 1936

Masih menempatkan artikel-artikel tersebut pada tempat yang sama.

Konstitusi 1952

Art.104

Para frater akan berusaha membangun dan memperluas devosi keselamatan kepada Hati Yesus yang Mahakudus baik bagi diri sendiri mau pun di tengah para murid.

Setiap Jum’at pertama dalam bulan para frater menyambut komuni untuk menghormati Hati Kudus Yesus, demi pemulihan kehormatan Penyelamat Ilahi di dalam sakramen kasih, yang telah dirusak oleh musuh-musuh-Nya.

Art.105

Maria Perawan Tersuci dan Bunda Allah adalah Pelindung Kongregasi dengan gelar Maria Bunda Hati Kudus.

Buah ilahi kepada Perawan tersuci harus dihargai secara khusus oleh semua frater.

Mereka akan menyebarluaskan buah-buah ilahi tersebut, terutama kepada para murid dan orang-orang lain yang dipercayakan kepada mereka.

Pesta Bunda Hati Kudus akan dipersiapkan melalui novena komunitas dan akan dirayakan dengan cara istimewa di dalam kongregasi.

Konstitusi 1967

Art.41

Isinya sama dengan Konstitusi 1952 art.105.

Konstitusi 1992

Art.6

Maria adalah pelindung persekutuan kita dengan gelar: Bunda Hati Kudus. Ia menunjukkan kepada kita Puteranya Yesus, yang lembut dan rendah hati, yang menganugerahkan ketenangan dan kelegaan kepada orang yang letih lesu dan berbeban berat yang pergi kepada-Nya.

Selanjutnya ada sesuatu yang baru dalam konstitusi ini, yang tidak pernah ada sebelumnya, yaitu secara panjang lebar disampaikan kepada kita dalam bagian spiritual konstitusi 2 bab penting untuk mendalami misteri Hati Yesus dan peran Maria sebagai pelindung tarekat. Kedua bab tersebut masing-masing berjudul:

Bab 2: Sehati dan sejiwa dalam mengikuti jejak Yesus dari Nasaret (art.10-15).

Bab 4: Diilhami oleh kehidupan Maria (art.45-52).

Catatan akhir

Dari uraian singkat di atas saya mencoba untuk menarik benang merahnya. Pada awalnya pendiri tarekat mempersembahkan tarekat yang ia dirikan ini di bawah naungan Maria, Bunda Hati Kudus Harapan Orang-orang Putus Asa, karena memang demikianlah keadaan Gereja di Nederland pada waktu itu. Persembahan ini diwujudkan dalam pernyataan-pernyataan dari konstitusi ke konstitusi bagaimana devosi kepada Bunda Maria harus mendapat tempat utama dalam tarekat.

Konsili Vatikan II menantang para religius untuk mengubah kebiasaan devosi ini menjadi suatu spiritualitas, suatu semangat yang tidak hanya diungkapkan lewat doa-doa saja tetapi lebih menjadi bagian dari kehidupan itu sendiri. Sebab itulah dalam konstitusi paling akhir (1992) kaitan erat antara Maria dan Yesus mendapat sorotan secara panjang lebar dalam 2 bab, yang sebelumnya tidak pernah muncul.

Dengan demikian mau dikatakan bahwa menjadi seorang frater BHK berarti:

  1. Hidup sehati-sejiwa dalam mengikuti jejak Yesus dari Nasaret.
  2. Hidup dengan diilhami oleh kehidupan Maria.

Semoga pertemuan ini menghasilkan suatu penyadaran bagi kita semua.

Malang, 20 Desember 2008

Fr. Frans Hardjosetiko BHK

Materi ini dipresentasikan pada Weekend Formator Keluarga Chevalier

Malang, 18 – 20 Desember 2008

1 Komentar

Filed under Religius

Asal-usul Gelar dan Devosi Bunda Hati Kudus

Gelar dan devosi Bunda Hati Kudus (Notre Dame du Sacré-Coeur; Our Lady of the Sacred Heart) tidak bisa dilepaskan dari Pater Jules Chevalier, pendiri Tarekat MSC dan PBHK.

Beberapa data penting tentang Jules Chevalier

1824 – Jules Chevalier lahir pada 15 Maret 1824. Ia anak bungsu dari tiga bersaudara, yang keesokkan harinya langsung dibaptis dengan nama «Jean-Jules», di Richelieu. Bapaknya bermana Charles Chevalier. Ibunya bernama Louise Orly.

1841 – Di bulan Oktober, dalam usia agak terlambat 17 tahun, ia masuk seminari kecil di St Gaultier, wilayah keuskupan Bourges.

1846-1851 – Jules melanjutkan masuk seminari tinggi di Bourges. Tanggal 14 Juni 1851, Jules ditahbiskan di katedral St Stefanus, Bourges. Tulis Pater Chevalier: «Saya merayakan perayaan misa pertama dalam kapel kecil di taman. Kapel itu dipersembahkan pada Bunda Perawan. Pada saat konsekrasi,, misteri yang agung serentak ketaklayakanku, benar-benar membuat saya mencucurkan air mata. Agar saya dapat menyelesaikan misa itu, saya harus dikuatkan kembali oleh imam konselebranku. Itu hari yang tak pernah kulupakan.”

1851-1854 – Tiga hari setelah pentahbisannya, ia langsung pergi ke tempat tugasnya. Pertama ia bertugas sebagai pastor pembantu di kampung kecil Ivroy-le-pré (17 Juni 1851), lalu di Châtillon-sur-Indre (21 Januari 1852), dan di Aubiny-sur-Nère (14 Oktober 1853). Pada 20 Oktober 1854, Pater Jules Chevalier tiba di Issoudun, dan menjabat sebagai pastor pembantu di paroki St Cyr, Issoudun.

1855 – 9 September: Pendirian Tarekat MSC mendapat restu eklesial. Diresmikan oleh Kardinal Du Pont, Uskup Agung Bourges. Chevalier memikirkan gelar Bunda Hati Kudus untuk Maria sebagai tanda syukur.

1857 – Untuk mengucapkan rasa terima kasih mereka pada Bunda Perawan Maria, atas peranannya yang besar hingga lahir tarekat MSC, Pater Chevalier mencetuskan untuk pertama kali nama yang indah ini: « Bunda Hati Kudus ». Nama, temuannya, ini mulai dipublikasikan kemudian pada tahun 1859. Juga atas permintaan para awam, lahirlah kemudian Fraternitas BHK. Majalah Les Annales Bunda Hati Kudus diterbitkan tahun 1866, yang dipimpin oleh Pater Victor Jouët msc

1858 – Dimulainya pembangunan gereja indah Basilika Bunda Hati Kudus. Baru tgl 7 Juli 1864 bangunan tersebut selesai dan diberkati.

1869 – Pemahkotaan patung pertama Bunda Hati Kudus, atas nama Paus, dalam kapel Bunda Hati Kudus. Perayaan misa mulia dan agung menandai peristiwa bersejarah tersebut pada tgl 8 September. Itulah hari ziarah terbesar jumlahnya dalam sejarah tempat ini. Sekitar 40 uskup dan 400 imam yang hadir.

1874 – Tgl 30 Agustus, Pater Chevalier mendirikan tarekat Putri-putri Bunda Hati Kudus (PBHK).

1880 – Tahun penuh bencana! Semua kaum religius di daratan Prancis dikejar-kejar. Akan tetapi, kelak patut disyukuri, saat itulah buah evangelisasi tumbuh di mana-mana di dataran Eropa: Belanda, Belgia, Austria, Jerman, Spanyol, Italia, Inggris dan Irlandia.

Tgl 25 Maret, Kadinal Simeoni, atas nama Paus Leo XIII, mengusulkan misi Melanesia dan Micronesia pada Tarekat MSC. Disetujui. Lima misionaris pertama MSC diutus, namun tiga yagn smapai, yakni : Pater Navarre, Pater Cramaille dan Bruder Fromm. Tgl 1 September 1881 mereka meninggalkan pelabuhan Barcelona. Era sebagai misionaris dimulai yang berlanjut hingga hari ini, para MSC sudah hadir di semua benua.

1901 – Sekali lagi terlihat Pemerintah Prancis dengan serius menentang gereja melalui undang-undang antireligius. Seluruh milik harta, kompleks, gedung gereja, baik milik MSC maupun suster PBHK diambil oleh pemerintah.

1905 – Lahirlah UU pemisahan Gereja dan Negara.

1907 – Tgl 21 Oktober. «Dengan perasaan sedih saya memberitahukan kepada anda tetang kematian Rev. Pater Chevalier, pada pkl 18.00, tadi malam. Kematiannya yang tenang dan jernih membawa penghiburan dalam kesedihan kami… », tulis Pater E. Meyer msc.

Asal Usul Devosi dan Gelar Bunda Hati Kudus

Pater Chevalier senang menceriterakan asal mula gelar dan devosi tersebut. Menurutnya untuk mengerti asal mulanya kita harus kembali ke peristiwa 8 Desember 1854:

“Untuk menemukan asal mula devosi kepada Bunda Hati Kudus, sebagaimana kita kenal sekarang, kita harus kembali ke peristiwa 8 Desember 1854, hari kenangan pemakluman dogma Maria Dikandung Tanpa Noda.”[1]

Lalu ia menjelaskan mengenai asal mula Tarekat Misionaris Hati Kudus, yang tidak lepas dari : – novena kepada Maria tanpa noda, yang dibuka pada 30 Nopember dan berakhir pada 8 Desember 1854; – cara doa-doa mereka dikabulkan melalui tanda yang diterima pada hari kesembilan;[2] – keadaan yang mendorong mereka untuk mengadakan novena kedua kepada Bunda Kita, dari 28 Januari (pesta Hati Maria tanpa noda) sampai dengan 6 Pebruari; – dan bagaimana doa-doa mereka dikabulkan lagi.[3] Namun nyatanya tanda kedua ini tidak cukup untuk meyakinkan para anggota Dewan dari Uskup Agung Dupont mengenai kelayakan pembentukan Tarekat yang diusulkan: “Proyek itu ditolak secara aklamasi.”[4]

“Rekanku yang terkasih, kata Pemimpin Seminari Tinggi Bourges kepada Pater Chevalier, “lupakan saja gagasan itu karena sudah menemui ajal sejak awal……” Tetapi Pater Chevalier menanggapi: “Jangan secepat itu, Pater Pemimpin! Perawan Terberkati belum memberikan kata terakhirnya; kami akan terus berdoa kepadanya.” “Baiklah, memang anda harus berdoa dan bilamana doa itu dikabulkan, dia akan mengerjakan suatu mukjizat besar.”[5]

Maka Pater Chevalier dan Maugenest berdoa lagi kepada Bunda Kita, meskipun hal ini bukan dalam bentuk novena. “Mukjizat besar” dikerjakannya! Kali ini tanda yang diterima bukanlah perubahan pikiran dari para anggota Dewan Uskup, tetapi perubahan prosedur dari pihak Uskup Agung, Kardinal Dupont. Meskipun beliau tidak biasa bertindak berlawanan dengan nasehat dewannya, kali ini ia membuat pengecualian dan memberi otorisasi kepada kedua imam pembantu paroki Issoudun untuk membentuk suatu Tarekat.

Bagi Pendiri bantuan yang diterima dari Bunda Kita selama masa genting kehidupannya merupakan suatu pengalaman mendalam. Baginya hal itu merupakan bukti bahwa pembentukan Tarekat Misionaris Hati Kudus merupakan kehendak Allah, dan bahwa Bunda Kita menyertai dia dalam proyek ini. Kenyataannya, dalam suatu versi “Kontrak antara Maria dan kedua imam Hati Kudus”, pasal III, kedua pendiri berjanji :

“Sebagai tanda terima kasih kepada Maria, mereka akan memandang dia sebagai Pendiri dan Pemegang Kedaulatan mereka. Mereka akan menyatukan diri dengannya dalam segala karya serta berupaya agar dia dicintai secara khusus.”[6]

Perasaan-perasaan syukur serta janji sedemikian memenuhi pikiran dan hati mereka sehingga tepat pada hari peresmian sebagai Misionaris Hati Kudus, 12 September 1855, pesta Nama Suci Maria, mereka tidak hanya merenungkan makna nama mereka, tetapi juga mulai memikirkan Maria sebagai Bunda Hati Kudus.[7] Bukankah Bunda Kita adalah juga seorang Misionaris Hati Kudus? Bukankah dia menyertai mereka dalam usaha ini?

Selama bertahun-tahun Pater Chevalier merenungkan hal ini dalam keheningan, tetapi nampaknya ia baru berbagi pikiran dengan rekan-rekan sejawatnya ketika ia sudah harus mewujudkannya. Percakapannya “di bawah pohon limau” telah menjadi bagian dari “saga pembentukan” Tarekat MSC.

Pada musim semi tahun 1859 dimulai bagian pertama pembangunan gereja baru. Gedung ini terdiri dari panti imam dengan lengkungnya, tiga jajar pertama ruang tengah dan bagian-bagian untuk bangku-bangku samping. Dengan fasilitas-fasilitas ini kami dimungkinkan untuk melanjutkan latihan-latihan religius kami di kapel sementara itu. Juga pada waktu ini kami tidak merasa pasti entah kami akan memperoleh dana cukup untuk menyelesaikan bagian pertama. Rupanya tidaklah bijaksana untuk mengerjakan seluruh rencana ini.

Dengan mudah anda dapat mengerti bahwa selama pembangunan bagian pertama ini pikiran para Misionaris terus menerus dipenuhi dengan usaha penting ini, demikian juga hati mereka. Mereka pun sering berbicara mengenai usaha tersebut.

Pada tahun 1859 kami biasanya melewatkan rekreasi sore kami sambil duduk di bawah naungan pohon-pohon limau, karena matahari sangat panas. Pada suatu waktu beberapa konfrater hadir, baik dari komunitas kami maupun dari paroki-paroki tetangga.[8] Seperti biasanya, kami membicarakan soal pembangunan gereja – hanya bercakap-cakap santai tanpa banyak berkonsentrasi pada pokok itu.

Tiba-tiba Pater Chevalier, yang rupanya sedang penuh dengan gagasan, bertanya kepada kami: “Nama apa yang akan kita berikan pada kapel Bunda Kita yang berada di dalam gereja kita?”

Kami menjawab sesuai daya tarik dan devosi kami masing-masing. Yang satu berkata: Hati Maria tanpa noda, atau Bunda Kemenangan. Yang lain: Bunda Kita, Bunda Kerahiman, dan yang lain lagi: Bunda Rosario.

“Tidak, tidak,” kata Pater Chevalier. “Kita akan menyebutnya Bunda Hati Kudus. Demikian gelar tercinta ini diucapkan untuk pertama kali dan mereka heran mendengarnya. “Hal itu akan berarti, “ kata Pater Piperon, “permohonan diajukan kepada Bunda Kita di Gereja Hati Kudus.”

“Bukan itu, rekanku terkasih,” kata Pater Chevalier dengan segera. “Gelar ini, ‘Bunda Hati Kudus’, memiliki suatu makna mendalam. Itu berarti bahwa karena keibuannya yang ilahi, Maria mempunyai pengaruh besar terhadap Hati Yesus dan melalui dia kita harus datang ke Hati ilahi ini.”

“Ini adalah sesuatu yang baru…” “Sesuatu yang baru! Tidak seperti yang anda pikirkan. Bagaimana pun juga, di dalam gereja kita akan ada suatu kapel yang dipersembahkan kepada Bunda Hati Kudus.”

“Tapi, apakah hal itu sesuai dengan teologi?” “Tentu saja,” jawab Pater Chevalier. Lalu dengan penuh keyakinan ia mulai menjelaskan alasan-alasan utama yang membenarkan pernyataannya. Pater yang mem-pertanyakan gelar itu mendesak lagi dan berusaha untuk melemahkan argumen Pater Chevalier. Lalu ia menambahkan: “Tidak ada sesuatu yang baru. Anda tahu betul bahwa anda sudah melangkah terlalu jauh. Bagi saya, hal itu nampaknya menyesatkan.”

Tentu saja kata-kata ini, yang diucapkan di tengah kehangatan diskusi, keras namun tidak banyak berpengaruh. Rekreasi mereka berakhir, lalu mereka berpisah.

Bagaimana pun juga, seorang konfrater dari Pater Chevalier menghabiskan sebagian sore hari itu menuliskan pada lengkung atas sekeliling patung Maria tanpa noda, di bawah pohon-pohon tempat mereka berdiskusi, seruan ini: “Bunda Hati Kudus, doakanlah kami.”

Sejak itu gelar baru tersebut menjadi pokok percakapan penting dalam komunitas:

Pada hari itu, setelah makan malan, dua Misionaris (Maugenest tidak hadir) melanjutkan diskusi tentang keabsahan gelar Bunda Hati Kudus. Setiap hari, hampir sepanjang bulan, masing-masing menyodorkan argumen-argumen baru untuk mendukung pendapat masing-masing. Hasil diskusi panjang ini diringkaskan dalam beberapa halaman, yang kemudian menjadi brosur kecil pertama mengenai devosi kepada Bunda Hati Kudus.[9]

Namun gelar itu baru mulai dikenal di luar komunitas ketika bagian pertama dari gereja Hati Kudus diberkati pada 7 Juni 1861, karena pada hari itu jendela Bunda Hati Kudus dipasang di kapel Bunda Kita. Pater pendiri memberi penjelasan tentang gambar itu sebagai berikut:

Saatnya telah tiba untuk memenuhi janji kita secara resmi dan memperkenalkan secara publik gelar yang telah diberikan kepada Maria, Bunda Hati Kudus. Kembali pada 1856, kita telah menulis gelar itu pada alas patung yang merepresentasikan Maria tanpa noda. Setiap hari kita menghormati patung ini, yang berdiri di taman kita di bawah naungan pohon-pohon limau. Kita tidak dapat menyembunyikan lagi harta berharga ini. Suatu pertanyaan muncul mengenai pemilihan tema untuk jendela kaca berwarna yang akan menghiasi tempat suci Bunda Kita. Bentuk apakah yang seharusnya diberikan? Apakah yang akan menjadi ciri-ciri yang menonjol? Barangkali kita perlu menonjolkan kehendak baik dari Yesus terhadap Ibu-Nya dan pengaruh sang Ibu terhadap Hati Puteranya.

Oleh karena itu, kita terikat pada gagasan merepresentasikan Perawan Terberkati, yang berdiri sambil menghancurkan kepala ular yang terkutuk dengan kakinya; mengulurkan tangannya kepada umat beriman, dan mengundang mereka untuk datang menimba dari dia segala rahmat yang dibutuhkan. Di hadapannya berdiri Kanak-Kanak Yesus berumur dua belas tahun. Dengan satu tangan ia menunjuk ke arah Hati-Nya, dan dengan tangan lain Ia menunjuk kepada Ibu-Nya, agar kita memahami bahwa kepa-danyalah kita harus pergi bilamana kita ingin memperoleh segala rahmat, karena dialah sumber-nya.[10]

Representasi: Penggambaran tentang BHK

Dalam buku oleh Pater Piperon diuraikan sebagai berikut:[11]

Dalam merancang jendela Bunda Hati Kudus, Pater Chevalier yang terhormat berusaha mengungkapkan secara menyentuh kuasa mengagumkan dari Maria terhadap Hati Yesus. Untuk maksud itu, ia meminta seorang seniman untuk melukiskan Maria tanpa noda dengan tangan terulur dan mata yang me-mandang ke bawah pada Yesus. Hal itu berarti juga bahwa ia memandang kepada anak-anaknya, kaum beriman. Dialah Bunda Kita yang dikandung tanpa noda, sebagaimana ia menampakkan diri kepada Suster Katarina Labouré, pengikut Santo Vinsensius de Paul.

Dalam pikiran Pater yang terhormat, gambar ini merupakan juga suatu persembahan tanda terima kasih kepada Perawan tanpa noda, yang telah begitu bermurah hati mengabulkan doa-doanya yang tekun pada 8 Desember 1854.

Kanak-kanak Yesus berusia dua belas tahun akan berdiri di depannya, dengan satu tangan menunjuk ke Hati-Nya, dan tangan lain kepada Ibu-Nya, seakan-akan hendak mengatakan kepada semua orang: “Bilamana anda menginginkan rahmat – Hatiku adalah sumbernya – maka datanglah kepada Ibu-Ku. Dia adalah bendahari yang dapat membagikan sekehendak hatinya segala kekayaan yang terkandung di dalamnya.”

Kanak-kanak Yesus direpresentasikan berusia dua belas tahun, seturut Penginjil Santo Lukas, yang, setelah melaporkan bahwa Yesus ditemukan oleh Maria dan Yosef di tengah kaum terpelajar, menam-bahkan: “Ia pulang bersama mereka ke Nazaret, dan ia tetap hidup dalam asuhan mereka.” Gambar ini dibuat untuk mengungkapkan kuasa pengantaraan Maria terhadap Hati Yesus.

Asal mula dari devosi kepada Bunda Hati Kudus terkait erat dengan pembangunan gereja Hati Kudus di Issoudun. Kita telah melihat di atas bagaimana lukisan pada jendela atas altar Bunda Kita di dalam gereja tersebut menjadi bahan percakapan di bawah empat pohon limau. Sekarang kita harus menelusuri pengaruh jendela itu, yang melukiskan gambar pertama Bunda Hati Kudus, dalam pengembangan devosi tersebut dan dalam penyelesaian gedung gereja Hati Kudus. Cara gereja itu muncul merupakan gambaran cara Tarekat muncul, yakni melalui kehadiran penuh kuasa dari Bunda Hati Kudus. Asal mula keduanya mengibaratkan kehadiran Maria di Kalvari, di mana Gereja dibentuk dari lambung Yesus yang tertikam.

Ada tiga representasi:

1. Patung besar di Kapel Bunda Hati Kudus, dengan Yesus yang berdiri di depan Maria.

2. Patung di gua (crypt), yakni yang lebih dikenal: Kanak-Kanak Yesus di pangkuan Maria.

3. Kalvari di basilik: Yesus di salib dan Maria di kaki Kalvari.

I. REPRESENTASI PERTAMA: DISARANKAN OLEH PATER CHEVALIER

Yang pertama-tama adalah kaca jendela berwarna, lalu muncul patung marmer besar di kapel. Ada dua pribadi, yakni Maria dan Yesus:

– Bunda Hati Kudus tidak pernah direpresentasikan sendirian, seperti misalnya Maria

yang dikandung tanpa noda atau Maria dari Lourdes, dsb.

– Praktek kesalehan kristen telah sering merepresentasikan Perawan Maria sendirian atau Maria dengan seorang anak di pangkuannya.

Dua tokoh yang direpresentasikana adalah YESUS dan MARIA.

1. Pater Chevalier mempunyai devosi besar kepada Maria:

– sebagai seorang anak ia dipersembahkan kepada Maria (Lihat Richelieu, Bunda Keajaiban)

– kemudian, devosi ini berlanjut. Pada 1830, ketika Chevalier berumur 6 tahun, Maria

menampakkan diri kepada Katarina Labouré di Paris. Maka, ada gerakan devosi Maria

yang besar di Perancis sambil menyebarkan medali kramat. Jutaan medali ini disebarkan.

– di seminari Jules Chevalier mempelajari spiritualitas yang disebut sekolah Perancis, yang dicirikhaskan oleh devosi besar dari Yohanes Eudes dan Olier.

2. Pater Chevalier mempunyai devosi besar kepada Yesus (sekolah spiritualitas Perancis):

– Yesus di hadapan mata, di dalam hati, di tangan.

– Penemuan Hati Kristus, pusat segala sesuatu; pengalaman pribadi.

– Hati Kudus adalah pusat segala sesuatu.

– Maria dilihat dalam relasi dengan pusat ini: suatu anugerah Hati Yesus yang menghantar ke Hati Yesus, dan seterusnya.

– Melalui intuisi rohani ia membuat sintese dua devosi ini: BUNDA HATI KUDUS.

II. REPRESENTASI KEDUA: YESUS DI PANGKUAN MARIA – SEKITAR 1875

Mengapa ada perubahan seperti dituntut oleh Roma?

1. Roma tidak menyukai jenis patung Perancis.

2. Beberapa contoh dianggap tidak baik: anak terlalu kecil dan di kaki IbuNya.

3. Bahasa kadang-kadang berarti ganda: Maria menjadi penguasa (sovereign), Ratu Hati Yesus..

Di Roma sudah dibuat sebuah patung, yakni Yesus sebagai seorang anak, dengan hatiNya yang kelihatan jelas, sambil memegang kedua tanganNya mengarah kepada kita. Pater Chevalier menolak patung ini. Ia menerima Yesus dalam tangan IbuNya, dan apa yang diiginkannya adalah patung dengan isyarat berikut:

– Yesus yang sedang menunjuk ke hatiNya

– dan menunjuk kepada Ibu-Nya

– dan Maria menunjuk ke Hati Yesus.

III.REPRESENTASI KETIGA: MARIA DI BAWAH SALIB – KALVARI DI BASILIK, 1964

Sesudah Konsili Vatikan II ada perasaan alergi mengenai Hati Kudus. Hal ini dirasakan berkaitan dengan patung-patung dan juga bahasa.

Dirasakan kebutuhan untuk kembali ke sumber devosi atau spiritualitas hati:

– Yesus di salib

– Yesus wafat

– dengan lambungNya yang tertikam dengan tombak dan mengalirkan darah dan air (Yoh 19)

– “Mereka akan memandang kepada Dia yang telah mereka tikam” (Zak 12:10). Zakaria melanjutkan: “Pada waktu itu akan terbuka suatu sumber bagi keluarga David dan bagi penduduk Yerusalem untuk membasuh dosa dan kecemaran.” (Zak 13:1). Hal itu mengingatkan kita akan teks-teks lain seperti Yeheskiel 35:25 (perecikan air suci), Yeh 36:26 (janji tentang hati yang baru), Yeh 46 (sumber di sisi kanan Bait Allah), Yoh 2:19 (Yesus memaklumkan diriNya ketika ia berada di Bait Allah).

Maria di kaki salib bersama dengan Yohanes:

– ia memandang; – ia berkontemplasi; – ia mengerti (dan membantu Yohanes mengerti)

Marilah kita melihat Kalvari di dalam basilik:

– Maria sedang berkontemplasi

– ia sedang mengundang kita untuk berkontemplasi bersama dia

– ia sedang menyambut sumber itu, baginya dan bagi kita

– ia sedang mengundang kita untuk berbuat seperti dia, untuk berada bersama dia bagi orang-orang lain.

Maria di bawah salib sangat disukai oleh Pater Chevalier, karena di tempat inilah ia menjadi Ibu kita.

Perkembangan Pesat

Devosi Bunda Hati Kudus berkembang pesat atas jasa Asosiasi Doa, Konfraternitas Bunda Hati Kudus dan Konfraternitas Agung Bunda Hati Kudus serta majalah Annales. Tercatat dalam angka sebagai berikut:

Desember 1864 100.000 anggota

Desember 1865 200.000 anggota

September 1866 600.000 anggota

Desember 1867 1.500.000 anggota

Juni 1868 2.000.000 anggota

1.719.906 ujud doa; 17.300 surat ucapan terima kasih. Dalam Annales dari Issoudun 1882 disebutkan jumlah 14.690.000 anggota; dan dalam Annales 1891 disebutkan lebih dari 18 juta anggota.

Pemahkotaan Patung Bunda Hati Kudus

Pesta pemahkotaan ditetapkan oleh Uskup Agung Bourges pada 8 September1869, merupakan hari yang sangat mulia. Pater Chevalier adalah seorang penyelenggara yang hebat, dan kali ini ia melampaui diri sendiri. Ia menerima kerja sama yang luar biasa: cuaca bagus, 13 Uskup Agung dan Uskup, seorang rahib Trapis, seorang protonotaris apostolik, lebih dari 700 imam dan ribuan peziarah dari pelbagai wilayah berpartisipasi dalam perayaan tersebut. Warga Issoudun menjadi sangat antusiastik: mereka menghiasi seluruh kota, sangat kooperatif menyambut para tamu, dan juga para pejabat sipil ikut ambil bagian.

Pada pkl 07.00 Uskup Agung Bourges menahbiskan altar di kapel Bunda Hati Kudus, sedangkan Uskup Autun menahbiskan altar utama Gereja Hati Kudus. Pada pkl 10.00 Uskup Poitiers mempersembahkan misa mulia di alam terbuka untuk umat yang berjumlah sangat besar, sedangkan Misa Agung dipersembahkan di Gereja Hati Kudus oleh Uskup Agung Sens. Dalam perayaan Misa inilah Mgr Pie, Uskkup Poitiers menyampaikan khotbahnya yang bagus, yang direkam dalam Annales 1869. Pada pkl 14.00 Uskup Tulle memberikan konferensi tentang Bunda Hati Kudus, yang dilanjutkan dengan prosesi agung. Sebagai perbandingan dengan zaman kita cobalah baca tulisan-tulisan di Annales 1869 dan 1870 tentang banyaknya bendera yang dibawa dalam prosesi; nampaknya hal ini sangatlah penting. Setiap kelompok umat punya tempatnya dalam prosesi: setiap sekolah, organisasi, sedangkan band-band berpawai di antara mereka. Dua mahkota, yang akan digunakan dalam perayaan itu, dibawa dalam prosesi. Ketika prosesi kembali ke “Place du Sacré-Cœur” pada pkl 18.00 patung yang digunakan dalam prosesi ditempatkan di atas altar di alam terbuka. Para Uskup berbaris pada anak-anak tangga di depan altar, dan setelah menyanyikan “Ave Maris Stella” mereka memberikan berkat.

Pemahkotaan patung Bunda Hati Kudus atas nama Paus terjadi delapan kali: di Issoudun (1869), Sittard (1873), Innsbruck (1874), Averbode, Belgi (21 Agustus 1910), Barcelona, Spanyol (5 Desember 1943), Mexico-City (26 September 1948), São Paulo, Brasil (8 Desember 1954), Roma (12 Desember 1954) di gereja-gereja atau basilika-basilika.

Pusat-Pusat Pertama Devosi BHK

Pusat-pusat pertama dan terpenting dari devosi ini di luar Perancis, di mana Konfraternitas secara resmi dibentuk oleh Uskup setempat. Kalau kita mengurutkan secara kronologis pusat-pusat tersebut kita mendapatkan daftar berikut ini:

ISSOUDUN, Perancis: 6 April 1864

Sittard, Belanda, 23 Januari 1867

Osimo, Itali: 8 September 1870

Tarragona, Spanyol: 31 Mei 1871

Innsbruck, Austria: 6 Januari 1872

Roma, Itali: 8 Desember 1872

Averbode, Belgi: 23 Maret 1877

Doa Memorare

Karena doa ‘Ingatlah, ya Bunda Hati Kudus….’ secara erat terkait dengan karangan Pater Chevalier pada 1862-1863, baik waktu maupun isinya, kiranya pada tempatnya sekarang untuk berbicara sedikit mengenai asal, bentuk dan isinya. Karena Pater Bertolini telah mengadakan penelitian sangat mendalam tentang hal ini, kita sekarang mengetahui penyusun doa ini, bahkan tanggal persis penulisannya.[12]

Karena Pater Jouet menulis novena Bunda Hati Kudus berdasarkan Memorare (Ingatlah),[13] beberapa orang berpendapat bahwa dialah penyusun doa itu. Namun, hal itu tidak mungkin, karena Pater Jouet tiba di Issoudun untuk pertama kali pada Desember 1864. Hanya pada waktu itulah ia mulai mengenal Bunda Hati Kudus. Tetapi Pater Chevalier menerbitkan Memorare beserta Statuta Asosiasi Bunda Hati Kudus, yang disetujui oleh Uskup Agung Bourges pada 29 Januari 1864. Kemudian kita akan melihat bahwa Pater Jouet memainkan peranan penting dalam pembetulan beberapa ungkapan doa ini, pada 1883, tetapi ia tidak berperanan dalam merancang versi pertamanya.

Calon penting lain untuk dipertimbangkan di sini adalah Pater Chevalier, karena dialah orang pertama yang menerbitkan Memorare, dan doa itu merefleksikan substansi karangannya pada 1862-1863. Kenyataannya, atas beberapa cara Pater Chevalier bertanggung jawab atas doa ini, tetapi sekarang kita tahu bahwa pada 8 Desember 1863 ia menerima suatu versi doa itu dari seorang lain yang telah membaca karangannya dan tersentuh olehnya.

Pada 29 Januari 1864 Statuta Asosiasi itu disetujui dan Pater Chevalier menerbitkan versi pertama Memorare seperti yang kita kenal. Versi kedua kemudian menyusul. Akan diberikan di sini versi pertama dan kedua:

1864 : Ingatlah, ya Bunda Hati Kudus, akan kuasa tak terbatas yang telah dianugerahkan kepadamu oleh Puteramu ilahi atas Hati-Nya yang patut disembah. Penuh kepercayaan akan jasa-jasamu, saya sekarang memohon perlindunganmu. Oh Ratu mulia Hati Yesus, Hati sumber segala rahmat yang tak habis-habisnya dan yang dapat kau bukakan sesuka hatimu, untuk membagikan kepada manusia harta kekayaan cintakasih dan kerahiman, terang dan keselamatan, yang terkandung di dalamnya. Saya mohon kepadamu, kabulkanlah permohonanku…. Tidak! Saya tidak akan kau tolak; dan karena engkaulah Bundaku, Bunda Hati Kudus, berkenanlah mendengarkan dan mengabulkan doaku. Amen.

1868 : Ingatlah, ya Bunda Hati Kudus, akan kuasa tak terbatas yang telah dianugerahkan kepadamu oleh Puteramu ilahi atas Hati-Nya yang patut disembah. Penuh kepercayaan akan jasa-jasamu, kami sekarang memohon perlindunganmu. Oh Ratu mulia Hati Yesus, Hati sumber segala rahmat yang tak habis-habisnya dan yang dapat kau bukakan sesuka hatimu, untuk membagikan kepada manusia harta kekayaan cintakasih dan kerahiman, kehidupan dan keselamatan, yang terkandung di dalamnya. Kami mohon kepadamu, kabulkanlah permohonan kami. Tidak! Kami tidak akan kau tolak; dan karena engkaulah Bunda kami, Bunda Hati Kudus, berkenanlah mendengarkan dan mengabulkan doa-doa kami. Amin.

Dalam Pouvoir, 5e éd. (1868) Pater Piperon masih memiliki versi 1864, sedangkan Pater Chevalier memiliki versi baru dalam edisi baru bukunya Notre-Dame du Sacré-Coeur (1868). Maka sementara itu perubahan telah dibuat. Versi 1864 berbentuk tunggal. Versi 1868 adalah doa kelompok, cocok bagi Asosiasi Bunda Hati Kudus. Supaya empat versi ditempatkan bersama-sama, maka akan disampaikan juga versi 1883 dan 1968.

1883 : Ingatlah, ya Bunda Hati Kudus, atas kuasa tak terkira yang telah dianugerahkan kepadamu oleh Putera ilahimu atas hati-Nya yang patut disembah. Penuh kepercayaan akan jasa-jasamu, kami sekarang mohon perlindunganmu. Oh bendahari surgawi hati Yesus, hati sumber segala rahmat yang tak habis-habisnya, dan yang dapat kau bukakan sesuka hatimu, untuk membagikan kepada kami semua harta kekayaan cintakasih dan kera-himan, terang dan keselamatan, yang terkandung di dalamnya. Kami mohon kepadamu, kabulkanlah permohonan-permohonan kami. Tidak! Kami tidak akan kau tolak; dan karena engkaulah Bunda kami, Bunda Hati Kudus, berkenanlah mendengarkan dan mengabulkan doa-doa kami. Amin.

1968 : Ingatlah, ya Bunda Hati Kudus, akan segala keajaiban yang Tuhan kerjakan bagimu. Ia telah memilih engkau menjadi ibu-Nya. Ia menghendaki engkau berdiri dekat salib-Nya, dan menghendaki engkau mengambil bagian dalam kemuliaan-Nya. Ia mendengarkan doamu. Persembahkan kepada-Nya doa-doa pujian dan syukur kami; sampaikan kepada-Nya permohonan-permohonan kami. Semoga kami hidup seperti engkau dalam cinta Puteramu agar Kerajaan-Nya datang. Hantarlah kami ke sumber air hidup, yang mengalir dari hati-Nya dan menyebarkan ke seluruh dunia pengharapan dan keselamatan, keadilan dan perdamaian. Pandanglah kepercayaan kami kepadamu; kabulkanlah doa kami. Tunjukkanlah dirimu selalu sebagai Bunda kami. Amin.

Solemnity of Our Lady of the Sacred Heart

On the last Saturday in May

ENTRANCE ANTIPHON: Jer 31,3b-4a

I have loved you with a never-ending love;

and so, taking pity on you

I have drawn you to myself

so that you may be joy-fully heartened,

O virgin Israel.

OPENING PRAYER

O God, you have made known to us

the inexpressible riches of your love, in Christ;

you chose to unite Blessed Mary, the Virgin,

to the mystery of his heart.

Let us, we pray, also be sharers in your love,

and witnesses to it in your Church.

We ask you this through Jesus, the Christ, your Son,

who lives and reigns with You and the Holy Spirit, for ever and ever.

Amen.

FIRST READING: Is 66, 10-14c

RESPONSORIAL PSALM: Ps 45, 11-12; 14-17.

Response: Listen daughter, pay careful attention.

SECOND READING: Gal 4,4-7

ALLELUIA: Lk 11,28

But he replied, “Still happier those who hear the word of God and keep it.

GOSPEL: Jn 19,25-37

PRAYER OVER THE GIFTS

Lord, take our prayers and the gifts we bring you

out of love for Blessed Mary the Virgin.

May your acceptance of what we offer help us

to sense within ourselves, as she did,

what was also in Christ Jesus, your Son.

He lives and rules forever. Amen.

COMMUNION ANTIPHON: 1Jn 4,16b

God is love; and whoever is filled with love

is full of God; God is in him.

PRAYER AFTER COMMUNION

Celebrating the feast of Blessed Mary the Virgin,

we have drunk deep from the fountain of the Saviour.

Lord let this mystery of unity and love

inspire us always to do those things which please you,

and lovingly serve our brothers.

We ask you this through our Lord,

Jesus Christ, who lives and reigns

with You and the Holy Spirit,

for ever and ever. Amen.

(Text of the Mass of OLSH approved in 1972 by the Vatican)

Sumber utama: Jan G. Bovenmars, MSC, Our Lady of the Sacred Heart, Rome 1996.

Bahan Kursus Spiritualitas Cor Novum 1996.

(J. Mangkey, msc)

Materi ini dipresentasikan pada Weekend Formator Keluarga Chevalier

Malang, 18 – 20 Desember 2008


[1] J. Chevalier, Notre-Dame du Sacré-Coeur Mieux Connue, edisi baru, 1879, hal. 5-8; Rapports, hal. 1-6; NDS, hal. 1-5. Sesungguhnya kita dapat menelusurinya lebih jauh dan menunjuk beberapa khotbah yang ditulisnya ketika ia berada di seminari Bourges, khususnya khotbah berjudul “Belaskasih Perawan Maria yang Terberkati terhadap para pendosa”, suatu teks yang berulang kali dikutipnya dalam khotbah-khotbah selanjutnya. Pertama-tama ia berbicara mengenai Bunda Kita sebagai Pengantin Allah dan bertanya: “Sejak ia dimuliakan, hak apakah yang tidak diberikan oleh gelar mulia ini bersama dengan Tuhan? Bersama Olier ia menyimpulkan: “Maria telah menaklukkan hati Allah-nya. Lalu Chevalier merefleksikan keibuan ilahi dari Bunda Kita dan menunjuk pada kuasa yang terkandung di dalamnya, sebagaimana dimanifestasikan di Kana, dan ia menyimpulkan: “Betapa besar kuasamu, Maria, di surga, atas Hati Yesus. Menurut St. Bernardus kuasa itu tak terbatas, bukan karena kodrat tetapi karena rahmat: ‘Melalui dia Putera yang penuh kuasa telah menjadikan sang Ibu penuh kuasa pula’. Oleh karena itu, Allah berkehendak agar segala rahmat dibagikan melalui Maria. Mengapa? Karena Maria memberikan Yesus kepada kita, maka sepantasnyalah ia memberikan kita kepada Yesus.” Olier menekankan kuasa Maria atas Hati Allah, dan menurut pandangannya dasar dari kuasa ini adalah relasi antara Maria sebagai Pengantin dengan Bapa. Pater Chevalier sudah terbiasa dengan pandangan ini, namun dalam karya-karya berikutnya ia menekankan kuasa Maria atas Hati Yesus dan pertama-tama menunjuk pada keibuan ilahi dari Maria sebagai dasar kuasa ini.

[2] Tanda yang diterima pada 8 Desember 1854 sering kali dijelaskan secara keliru. Pater Chevalier dan Maugenest tidak menerima uang apa pun pada hari itu, dan juga tidak menerima surat apa pun. Mereka semata-mata diberitahu oleh anggota paroki bernama Auguste Petit, atas nama tuan Philippe de Bengy, bahwa seorang dermawan, yang tidak mau menyebut namanya, sedang menyediakan dua puluh ribu frank yang diperuntukkan bagi suatu karya yang baik di Berry. Berdasarkan pernyataan adanya bantuan keuangan inilah kedua imam tersebut mengakui pengabulan doa-doa mereka oleh Perawan tanpa noda. Sebenarnya, baru beberapa bulan kemudian seorang yang tak mau disebut namanya, yakni tuan Ferdinand de Champgrand, bersedia mengeluarkan uang yang dibutuhkan untuk proyek khusus ini; ia mempunyai gagasannya sendiri. Lihat ‘Surat-Surat dari de Champgrand’ dalam J. Chevalier, Personal Notes, Appendix n. III, hal 122-132, yang diterbitkan oleh J. Bertolini.

[3] Pengabulan novena kedua adalah tawaran bantuan tahunan sebesar seribu frank oleh nyonya du Quesne.

[4] J. Chevalier, Personal Notes, hal. 23.

[5] Ibid.

[6] J. Chevalier, The Annals of the Little Society, hal. 4, pasal III. Versi lain dari Kontrak ini ditemukan dalam dokumen kecil yang berharga, tulisan Pater Chevalier, 1855-56, dan diterbitkan oleh J. Bertolini sebagai Appendix 1 dalam J. Chevalier, Personal Notes, hal. 106-110. Juga dalam versi yang lebih tua ini, yang ditulis hanya setahun setelah perjanjian dengan Bunda Kita dibuat, kedua pendiri itu berjanji bahwa mereka akan berusaha sejauh mungkin untuk mempromosikan devosi kepada Bunda Kita, terutama devosi kepada Hatinya yang tanpa noda. Dalam versi ini setiap pasal, II-VIII, berbicara mengenai Bunda Kita, dan bahkan dua pasal terakhir secara eksklusif mengenai dia. Karena dokumen tua ini mengungkapkan dengan baik spiritualitas kedua pendiri, terutama menyangkut Hati Maria tanpa noda, kami menurunkan teks versi lebih tua sebagai Lampiran 1. Pada tahap ini kedua pendiri secara jelas mewarisi spiritualitas St. Sulpisius, St. Yohanes Eudes dan Olier, yang berpusat pada Hati Yesus dan Hati Maria tanpa noda.Kedua devosi ini berjalan berdampingan; Bunda Kita belum dilihat dalam cahaya Hati Yesus.

[7] J. Chevalier, Le Sacré-Coeur de Jésus dans ses rapports avec Marie, 1884, hal. 5: “Seturut kerinduan mereka untuk menunjukkan cinta dan rasa syukur mereka kepada Maria, pada hari itu juga, dalam pikiran mereka, mereka memberi dia nama ‘Bunda Hati Kudus’.”

[8] Di sini Pater Piperon sendiri menambahkan catatan ini: “Tidak mungkin menentukan baik bulan maupun hari saat percakapan ini berlangsung. Tidak ada catatan mengenai hal itu. Sejauh kita dapat mengandalkan memoir-memoir yang ada, percakapan itu pasti terjadi menjelang akhir Mei atau permulaan Juni.

[9] Piperon, Writings, hal. 52.

[10] Chevalier, Histoire d’Issoudun, hal. 368f.

[11] Piperon, Writings, hal. 54-55.

[12] Jean Bertolini MSC, Surat tgl 20-23 April 1964 kepada G. Delbos MSC. Ms, 17 halaman. GAmsc. Id., “Souvenez-vous à ND du SC: Origine.” MSC salinan kasar, 6 Juni 1964, 5 hal. GAmsc.

[13] V. Jouet, rasul agung Bunda Hati Kudus, akan diperkenalkan secara resmi dalam bab kedua. Ia menerbitkan novenanya pertama-tama dalam Annals of Issoudun, 1867, hal. 81-82. Novena itu sudah banyak kali dicetak dan diterjemahkan.

4 Komentar

Filed under Religius

Tukang Periuk

Seperti seorang tukang periuk

yang mengambil tanah liat dari ladangnya

dan meremas-remas tanah liat itu dengan tangannya

dan sebelumnya ia telah mengetahui

bentuk apa yang akan diciptakannya

demikianlah Engkau membentuk hidupku.

Aku tidak memberontak

ketika Engkau menjamah dengan tanganMu

dan menciptakan aku menjadi manusia

mengangkat aku dari ketiadaan

Sungguh agung cintaMu kepadaku

Hidupku adalah kehendakMu

Menyadari kenyataan ini, akhirnya aku tertunduk diam

nafasMu Tuhan, adalah kekuatanMu

menjadikan aku seperti sekarang ini

dan aku dijunjung tinggi

jauh melampaui ciptaan lain

Engkau tidak hanya menjadi pencipta ya Tuhan

Engkau lebih daripada itu

Engkau batu karangku dan sumber imanku

Karena setiap hari aku dapat membangun harapanku

Karena setiap hari aku dapat menyebut namaMu: Bapa.

Kemuliaan …

Bunda hati Kudus, doakanlah kami.

Tinggalkan komentar

Filed under Remah-remah