Monthly Archives: Februari 2009

Refleksi Prapaskah 2009

Ini adalah uskup agung yang pernah bertugas di Rusia dan kini sudah sepuh. Di masa mudanya sebagai mahasiswa yang cerdas, ia terpilih untuk melanjutkan studi S-3 di bidang hukum gereja. Di samping menjalankan tugas akademisnya, ia mendapat giliran membantu di sebuah rumah sakit. Di sini ia punya kesempatan untuk meneruskan disertasinya. Sebuah metode yang unik ia pakai: ia kumpulkan berbagai pendapat ilmuwan, ia catat dengan cermat sumbernya, siapa pengarangnya, dan akan dimasukkan ke bagian mana dari tesisnya. Kemudian kutipan yang beratus-ratus jumlahnya ia susun rapi di atas meja kerjanya. Tak cukup di atas meja, ia tata dan ia urutkan sampai di lantai.

Suatu hari, pembantu yang mengurus kebersihan rumah membuka kamar kerja romo muda ini dan berhamburanlah ratusan kutipan kecil itu diterpa angin dari arah jendela dan pintu. Ia lalu menyapu dan ketika akan memasukkan kertas-kertas itu ke keranjang sampah, masuklah si romo. Pucat bagaikan kapur, si romo gemetar menahan diri untuk berteriak sejadi-jadinya. Daya ledak di dada sekuat gunung api yang siap sembur. Terlambat lima menit saja, semua jerih payah dan cucur keringatnya selama satu tahun lebih sudah jadi mangsa api. Namun romo kita dalam cerita ini cepat menguasai diri dan menyuruh pergi si pembantu, yang jadi gemetar dan panik tak paham apa sebenarnya kesalahannya.

Setelah tenang kembali, si romo muda menata lagi ratusan keping kertas yang berisi kutipan berharga dari berbagai sumber itu. Entah berapa lama ia harus menatanya kembali. Mene-ngadalah ke langit, ia berkata, ”Tuhan, terima kasih karena sudah memberikan kesabaran ke-padaku di saat yang sulit.”

Peribahasa Cina mengatakan,

”Jika engkau menahan diri sesaat saja dalam kemarahanmu yang luar biasa, engkau luput seratus hari dari seribu penyesalan”

(dari ”cerita kecil saja”, stephie kleden – beetz)

Para Frater yang dikasihi Tuhan,

Masa refleksi agung tahunan ”pra paska 2009” tiba.

Budaya bangsa kita mengajarkan sebuah petuah mulia,

”Penyabar kekasih Tuhan”.

Kali ini kita diajak untuk mengetes diri, apakah saya ini penyabar atau pemarah? Bukanlah, kemarahan akan mlahirkan banyak dosa?

Kita memang sering gampang marah. Jarang dan sedikit sekali di antara kita yang memiliki kemampuan untuk dapat mngendalikan diri dari ancaman maut ini, marah. Bahkan, sering, sedikit saja ada gangguan, kita sudah meledak memuntahkan ke-marahan yang menakutkan. Meresahkan suasana hidup. Bahkan, saya pernah me-nyaksikan ada seseorang yang berlari tunggang langgang karena ia tidak tega, ia tidak mampu menahan mendengar dan menyaksikan ”ledakan kmarahan” dari seseorang di hadapannya. Memang, kemarahan itu menakutkan! Dan kesabaran itu mengharukan!

Kemarahan dapat beranak pinak, artinya

sebuah kemarahan akan melahirkan sejuta kemarahan; bahkan dikatakan, ”kemarahanmu mendatangkan dosa di hatimu”

Pernahkah Anda sangat marah, di suatu kesempatan?

di suatu tempat?

karena suatu alasan sepeleh?

bagaimana perasaanmu setelah itu?

pernahkah berjanji untuk berhenti marah?

Nah,

adakan sebuah flash back akan peristiwa itu dan refleksikan dengan penuh konsentrasi!

Tuhan Ajari Kami

Tuhan,

ajari kami masing-masing agar tidak gampang panik dan marah menghadapi kehidupan harian ini

di komunitas-komunitas bersama saudara-saudara kami

kuatkan niat baik kami agar mampu mengontrol diri saat hendak marah

mampuhkan kami, agar boleh meneladan Yesus Putra-Mu

yang tetap mampu bersabar kepada siapa pun

jika memang kemarahan itu tidak seharusnya ditumpahkan

semoga semangat kerendahan hati serta kesadaran diri

selalu menghiasai hari-hari hidup kami

agar kami mampu mengatur hidup ini

menjadi kian bermakna, hening, dan lembut

bersahabat dan sabar

Amin.


“If you are patient in one moment of anger, you will escape a hundred days of sorrow.” (Chinese Proverb)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Religius

KEKERASAN TERHADAP ANAK

Pengertian Bullying

Konon, istilah bullying ini terkait dengan bull, sapi jantan yang suka
mendengus (untuk mengancam, menakuti-nakuti, atau memberi tanda).
Kamus Marriem Webster menjelaskan bahwa bully itu adalah to treat
abusively (memperlakukan secara tidak sopan) atau to affect by means
of force or coercion (mempengaruhi dengan paksaan dan kekuatan).

Dalam dunia anak-anak, Dan Olweus, seorang pakar yang berkonsentrasi
menangani praktek bullying, menyimpulkan, bullying pada anak-anak itu
mencakup penjelasan antara lain:

a) upaya melancarkan permusuhan atau penyerangan terhadap korban,

b) korban adalah pihak yang dianggap lemah atau tak berdaya oleh
pelaku, dan

c) menimbulkan efek buruk bagi fisik atau jiwanya (Preventing
Bullying, Kidscape, UK, 2001).

Bu Ria (36), sebut saja begitu, akhirnya lebih memilih memindahkan
anaknya ke sekolah lain. Ini dilakukan karena kasihan selalu mendengar
keluhan si putri yang kerap dijadikan objek pemalakan oleh sekelompok
anak di sekolah. Misalnya, makanan yang dibawanya dari rumah suka
diambil, peralatan sekolah suka diganti sama yang jelek, atau bahkan
uang jajannya pun tak luput dari praktek pemerasan. Menurut si putri,
dirinya diam saja sebab ada anak lain yang menolak kemauan si perkasa
diancam dengan kata-kata yang menakutkan. Misalnya, tidak ditemani,
selalu dicemooh sebagai orang pelit, dan semisalnya.

Apa yang dialami Bu Ria itu sebetulnya hanyalah gambaran kecil dari
praktek bullying yang sangat variatif. Menurut pengamatan Dan Olweus,
dkk, bullying di kalangan anak-anak itu memiliki bentuk yang beragam,
antara lain:

* Penyerangan fisik: memukul, menendang, mendorong, dan seterusnya

* Penyerangan verbal: mengejek, menyebarkan isu buruk, atau menjuluki
sebutan yang jelek

* Penyerangan emosi: menyembunyikan peralatan sekolah, memberikan
ancaman, menghina

* Penyerangan rasial: mengucilkan anak karena ras, agama, kelompok, dst

* Penyerangan seksual: meraba, mencium, dan seterusnya

Dalam dunia anak-anak, bullying biasanya terjadi karena adanya
kerjasama yang bagus dari ketiga pihak, yang oleh Barbara Coloroso
((The Bully, The Bullied, dan The Bystander: 2004), disebutnya dengan
istilah tiga mata rantai penindasan.

Pertama, bullying terjadi karena ada pihak yang menindas.

Kedua, ada penonton yang diam atau mendukung, entah karena takut atau
karena merasa satu kelompok.

Ketiga, ada pihak yang dianggap lemah dan menganggap dirinya sebagai
pihak yang lemah (takut bilang sama guru atau orangtua, takut melawan,
atau malah memberi permakluman) .

Atas kerjasama ketiga pihak itu biasanya praktek bullying sangat
sukses dilakukan oleh anak yang merasa punya punya power atau
kekuatan. Jika kebetulan anak kita masuk di sekolah yang pengawasan
gurunya lebih dari cukup, mungkin akan cepat terdeteksi. Tapi bila
tidak, maka kitalah yang sangat diharapkan proaktif.

Siapa Korban Dan Siapa Pelaku?

Pak Wardiman setengah menyesali keputusannya “menyogok” pihak sekolah
agar menerima si anak yang usianya kala itu belum cukup enam tahun.
Dipikirnya, dengan masuk SD lebih dini itu bagus. Dia khawatir anaknya
nanti menjadi orang bodoh karena kerjaannya main terus di rumah.
Seiring dengan berjalannya waktu, terasa ada yang ganjil dari
perkembangan si anak. Di sekolah yang pengawasan gurunya sangat
terbatas, si anak kerap dijadikan korban yang harus mengalah oleh
teman yang badanya lebih gede dan usianya lebih tua.

Apa yang dialami Pak Wardiman itu sebetulnya hanya sebuah kasus.
Maksudnya, tidak semua anak yang usianya lebih muda itu akan pasti
menjadi korban bullying. Faktor usia bisa menjadi sebab langsung dan
bisa pula menjadi sebab tidak langsung atau bisa saja tidak terkait
sama sekali. Usia tidak selalu menjadi sebab. Mungkin lingkungan
sekolah, mungkin pengaruh pola asuh, atau mungkin karena yang lain.

Dari penjelasan sejumlah pakar tentang korban bullying, umumnya para
korban itu memiliki ciri-ciri “ter”, misalnya:
terkecil, terbodoh, terpintar, tercantik, terkaya, dan seterusnya.

Di bukunya Barbara Colorosa (The bully, The bullied, dan The
bystander: 2004), ciri-ciri yang terkait dengan korban itu antara lain:

* Anak baru di lingkungan itu.

* Anak termuda atau paling kecil di sekolah.

* Anak yang pernah mengalami trauma sehingga sering menghindar karena
rasa takut

* Anak penurut karena cemas, kurang percaya diri, atau anak yang
melakukan sesuatu karena takut dibenci atau ingin menyenangkan

* Anak yang perilakunya dianggap mengganggu orang lain.

* Anak yang tidak mau berkelahi atau suka mengalah

* Anak yang pemalu, menyembunyikan perasaannya, pendiam atau tidak mau
menarik perhatian orang lain

* Anak yang paling miskin atau paling kaya.

* Anak yang ras atau etnisnya dipandang rendah

* Anak yang orientasi gender atau seksualnya dipandang rendah

* Anak yang agamanya dipandang rendah

* Anak yang cerdas, berbakat, memiliki kelebihan atau beda dari yang lain

* Anak yang merdeka atau liberal, tidak memedulikan status sosial, dan
tidak berkompromi dengan norma-norma.

* Anak yang siap mendemontrasikan emosinya setiap waktu.

* Anak yang gemuk atau kurus, pendek atau jangkung.

* Anak yang memakai kawat gigi atau kacamata.

* Anak yang berjerawat atau memiliki masalah kondisi kulit lainnya.

* Anak yang memiliki kecacatan fisik atau keterbelakangan mental

* Anak yang berada di tempat yang keliru pada saat yang salah
(bernasib buruk)

Sedangkan untuk para pelaku, mereka umumnya memiliki ciri-ciri sebagai
berikut:

* Suka mendominasi anak lain.

* Suka memanfaatkan anak lain untuk mendapatkan apa yang diinginkan.

* Sulit melihat situasi dari titik pandang anak lain.

* Hanya peduli pada keinginan dan kesenangannya sendiri, dan tak mau
peduli dengan perasaan anak lain.

* Cenderung melukai anak lain ketika orangtua atau orang dewasa
lainnya tidak ada di sekitar mereka.

* Memandang saudara-saudara atau rekan-rekan yang lebih lemah sebagai
sasaran.

* Tidak mau bertanggung jawab atas tindakannya.

* Tidak memiliki pandangan terhadap masa depan atau masa bodoh
terhadap akibat dari perbuatannya.

* Haus perhatian

Bagaimana Membantu Korban?

Kita semua diajari untuk menolong dua pihak, baik yang tertindas atau
yang menindas. Menolong yang tertindas bisa dilakukan dengan
membebaskan mereka dari ketertindasan. Ini penting sebab jika si
korban tidak segera ditolong, akibat yang paling fatal bisa meninggal
dunia.

Seorang wali murid di salah satu SD di Jakarta Timur akhirnya hanya
bisa berbagai pengalaman agar peristiwa buruk yang pernah menimpanya
tak lagi terjadi. Anak lelakinya meninggal dunia. Menurut diagnosa
dokter, di dada si anak ada memar bekas pukulan benda keras. Mungkin
saja benda keras itu tidak langsung mengakibatkan hilangnya nyawa.
Karena si anak takut bilang dan kurang ada perhatian dini, akhirnya
terjadilan kejadian yang tidak diharapkan itu.

Jangankan anak-anak yang masih di SD, anak remaja saja belum tentu
bisa berterus terang kepada orangtuanya soal ini. Kalau merujuk pada
kasus-kasus di sekolah tinggi kedinasan milik pemerintah, para korban
penindasan di sana bukan lagi anak-anak, melainkan mahasiswa. Mereka
bungkam dengan berbagai alasan.

Dari kajian para ahli, jika korban bullying itu dibiarkan atau tidak
mendapatkan penanganan, mereka akan :
depresi, mengalami penurunan harga diri, menjadi pemalu, penakut,
prestasinya jeblok, mengisolasi diri, atau ada yang mau mencoba bunuh
diri karena tidak tahan (Stop Bullying, Kidscape: 2005).

Lantas, bagaimana membantu si korban? Untuk membantu si korban,
Coloroso menyarankan:

* Yakinkan bahwa kita akan berada di sisinya dalam mengatasi masalah ini.

* Ajari si anak untuk menjadi orang baik namun juga tidak takut
melawan kesombongan.

* Galilah inisiatif dari si anak tentang cara-cara yang bisa ditempuh.
Ini untuk menumbuhkan kepercayaan diri si anak atau ajukan beberapa
usulan.

* Rancanglah pertemuan dengan pihak sekolah.

* Jangan lupa membawa penjelasan yang faktual dan detail. Misalnya
bukti fisik, harinya, prosesnya, nama anak-anaknya, tempat
kejadiannya, dan lain-lain. Kalau bisa, cari juga dukungan dari wali
murid lain yang anaknya kerap menjadi korban.

* Usahakan dalam pertemuan itu muncul kesepakatan yang pasti akan
dijalankan dan akan membuat anak aman dari penindasan. Maksudnya,
jangan hanya puas mengadu dan puas diberi janji.

* Akan lebih sempurna jika pihak sekolah mau memfasilitasi pertemuan
dengan wali yang anaknya pelaku dan yang anaknya menjadi korban untuk
ditemukan solusinya

Yang perlu kita hindari adalah

praktekmenyalahkan atau menyudutkan si anak.
Misalnya
mengatakan, kamu sih yang mancing, kamu sih yang nggak mau mengerti,
dan seterusnya. Kesalahan ada pada pelaku, bukan pada korban.

Hindari juga membuat rasionalisasi yang meremehkan
Misalnya
kita mengatakan, wah digituin aja sedih, jangan cengeng dong, dia kan
hanya bercanda, dan seterusnya. Terus, jangan juga langsung meledak
dan ngamuk. Ini malah membuat anak enggan bercerita. Galilah dari si
anak sebanyak mungkin.

Bagaimana Membantu Pelaku?

Bagaimana cara membantu pelaku? Membantu pelaku adalah dengan
mencegahnya. Pencegahan ini bisa diajarkan dengan cara-cara di bawah ini:

* Beri disiplin.
Jelaskan bahwa menindas itu perbuatan salah, ajari untuk
bertanggungjawab atas kesalahannya, misalnya minta maaf, mengontrol
proses agar tidak mengulangi lagi, dan meyakinkan dirinya bahwa dia
bukan orang jahat. Dia hanya butuh belajar untuk menjadi orang yang
lebih baik.

* Ciptakan kesempatan untuk berbuat baik kepada keluarga atau
teman-temannya di sekolah, misalnya mengundang hari ulang tahun,
berbagi, dan seterusnya

* Tumbuhkan empati, misalnya menjenguk atau menelpon yang sakit,
membantu yang membutuhkan, mengutarakan kata-kata yang baik

* Ajari keterampilan berteman dengan cara-cara yang asertif, sopan,
dan tenang. Tunjukkan bahwa memaksa orang lain itu tidak baik.

* Pantaulah acara televisi yang ditonton mereka, video game yang
dimainkan, aktivitas-aktivitas komputer yang mereka lakukan, dan musik
yang mereka dengarkan atau mainkan. Jika berbau kekerasan, ajarilah
untuk mengganti secara bertahap

* Libatkan dalam kegiatan-kegiatan yang lebih konstruktif, menghibur,
dan menggairahkan.

* Ajari anak Anda untuk beritikad baik kepada anak lain.

* Hindari kekerasan dalam bentuk apapun ketika memperlakukan mereka.
Kekerasan seringkali melahirkan kekerasan

Kesimpulan

Praktek bullying, entah itu pelaku atau korbannya bisa menimpa siapa
saja. Anak-anak tentu belum sepenuhnya menyadari kefatalan yang
ditimbulkannya. Karena itu, peranan orangtua dalam mencegah dan
menolong sangat diharapkan. Dengan keterlibatan orangtua yang notebene
lebih matang, mudah-mudahan bisa memutus mata rantai kekerasan di
antara mereka. Semoga bermanfaat.

Oleh : Ubaydillah, AN

sumber
http://groups. yahoo.com/ group/anakcerdas /message/ 787

Tinggalkan komentar

Filed under Remah-remah

Mengapa Kongregasi Kita Memilih Bunda Hati Kudus

Mgr.Schaepman, pendiri tarekat

Kongregasi para frater Bunda Hati Kudus didirikan oleh uskup agung Utrecht, Mgr.Andreas Ignasius Schaepman. Moto: In Solicitudine et Simplicitate (dalam keprihatinan dan kesederhanaan).

Beliau lahir di Zwolle pada tanggal 4 September 1815. Setelah ditahbiskan sebagai imam pada tahun 1838 beliau mula-mula bertugas sebagai pastor pembantu di Zwolle, lalu menjadi pastor paroki berturut-turut di Ommerschans, Assen dan Zwolle.

Ketika pada tahun 1853 hirarki keuskupan ditegakkan kembali, Mgr.Zwijsen diangkap menjadi uskup agung Utrecht sekaligus uskup den Bosch. Tetapi beliau tinggal di den Bosch.

Pada tahun 1857 Mgr.Zwijsen mengangkat pastor Schaepman menjadi rektor seminari yang bakal didirikan di Rijsenburg. Tahun 1860 Schaepman menjadi plebaan (pastor paroki katedral) di Utrecht dan uskup koajutor dari uskup agung Zwijsen. Pada tahun yang sama ia ditahbiskan menjadi uskup. Tanggal 4 Februari 1868 ia menggantikan Mgr.Zwijsen sebagai uskup agung di Utrecht. Ia meninggal pada tanggal 19 September 1882.

Schaepman adalah seorang yang praktis. Ia berusaha memecahkan problem-problem yang sedang ia hadapi. Ia merasa prihatin dengan kaum miskin. Jauh sebelum ketimpangan sosial menjadi fokus perhatian masyarakat pada umumnya, ia sudah mencoba mencari jalan untuk memenuhi kebutuhan kaum miskin. Setelah diangkap menjadi uskup ia banyak menaruh perhatian dalam bidang pengajaran.

Mulai tahun 1848 undang-undang dasar menjamin kebebasan pengajaran. Pengajaran berdasarkan aliran agama tertentu diperbolehkan, tetapi subsidi pemerintah tetap hanya diberikan kepada sekolah-sekolah negeri.

Sekitar tahun 1870 di provinsi-provinsi utara Nederland sudah ada beberapa tarekat suster yang bermisi dalam pendidikan para pemudi, tetapi belum ada tarekat yang mengelola pendidikan para pemuda.

Untuk mengisi kekurangan inilah Mgr.Schaepman mengambil inisiatif untuk mendirikan suatu tarekat bruder.

Ia meminta nasihat Mgr.Zwijsen yang pada tahun 1844 telah mendirikan tarekat para frater CMM (tarekat Santa Perawan Maria, Bunda yang berbelaskasih) di Tilburg.

Sebutan ‘frater’

Agar dapat meneruskan tradisi historis ini, Schaepman kemudian memutuskan banhwa para anggota tarekat yang akal didirikannya akan memakai sebutan ‘frater’. Jadi berbeda dengan tarekat lain pada umumnya yang menggunakan sebutan ‘bruder’.

Para anggota tarekat Broeders van het Gemene Leven (kehidupan bersama) sewaktu hidupnya Geert Grote, yaitu dalam abad ke-14 juga memakai sebutan ‘frater’. Sewaktu tarekat ini berjaya, banyak yang dikerjakan demi pendidikan katolik di Nederland Utara.

Tarekat Frater Bunda Hati Kudus

Mgr.Schaepman mempersembahkan tarekat yang ia dirikan kepada Bunda Maria dengan nama “Bunda Hati Kudus”. Waktu itu devosi kepada Bunda Hati Kudus masih merupakan sesuatu yang baru yang pada waktu itu lebih dikenal dengan gelar ‘Harapan Orang-orang Putus Asa’. Promotor utama gerakan ini adalah pendiri para Misionaris Hati Kudus, yaitu Pere Chevalier. Devosi ini meluas dari Issoudun-Perancis. Di Nederland basilik di Sittard dipersembahkan kepada Bunda Hati Kudus.

Dari konstitusi ke konstitusi

Mula-mula tarekat frater BHK tidak mempunyai buku peraturan sendiri yang menggariskan sikap hidup kerasulan menurut ketiga kaul. Pada saat-saat tertentu dipakailah Peraturan Tarekat CMM dengan penyesuaian sana-sini. Dengan persetujuan pendiri, Peraturan yang disesuaikan ini lalu dicetak dan pada tahun 1878 dikukuhkan olehnya. Di samping Peraturan ada pula Konstitusi yang mencantumkan hal-hal yang berkaitan dengan kepengurusan.

Pada tahun 1893, 1919, 1936 dan 1952 Peraturan dan Konstitusi diterbitkan kembali tanpa perubahan yang berarti.

Dalam kapitel tahun 1960 pengurus mengajukan rancangan konstitusi baru. Selanjutnya Peraturan dan Konstitusi digabung menjadi satu: Konstitusi.

Pada tahun 1967 terbitlah Konstitusi yang telah diolah kembali, dengan persetujuan Uskup Agung Utrecht.

Sementara itu Konsili Vatikan II telah berlangsung. Semua Tarekat diminta untuk merenungkan isi kehidupan religius. Mereka ditugaskan untuk menyesuaikan Konstitusi dengan garis-garis haluan kongkret yang diterbitkan pada tahun 1966.

Demikianlah akhirnya terwujud Konstitusi yang sama sekali baru, yang diolah berdasarkan Kitab Hukum Kanonik yang terbit pada tahun 1983. Pada tahun 1992 Uskup Agung Utrecht, Adrianus Kardinal Simonis, menyetujui Konstitusi ini.

Dari penelitian yang saya lakukan terhadap konstitusi dari satu ke yang lain, ada hal yang menunjukkan hubungan yang sangat erat antara devosi kepada Hati Kudus Yesus dengan penghormatan kepada Maria Bunda Hati Kudus.

Konstitusi 1918

Art.74

Buah ilahi kepada Santa Perawan Tersuci Maria harus dihargai secara khusus oleh semua anggota kongregasi. Konggregasi sendiri bahkan ditempatkan secara khusus di bawah perlindungan S.P.Maria Bunda Hati Kudus… Setiap anggota menyandang nama maria dan hal ini dikaitkan dengan pembaktian secara khusus kepadanya. Sebagai anak-anak yang tulus, para frater harus berusaha keras meniru teladannya, menghormati Ibu mereka dan menjelmakan kekuasaan-kekuasaannya.

Para frater akan selalu menghidupkan buah-buah ilahi yang telah diserahkan kepada Ibu mereka dan juga bersyukur kepada Allah, yang telah memanggil mereka bukan karena jasa mereka, di mana Perawan Maria menjadi Ibu mereka.

Mereka akan mengembangkannya sendiri dan bahwa wajib menyebarluaskan buah-buah ilahi yang telah diserahkan kepada Perawan tersuci, terutama kepada anak-anak dan orang lain yang dipercayakan kepada mereka.

Art.76

Dalam doa dan latihan rohani, kongregasi wajibmenghormati secara lebih khusus Santa Perawan, mewujudkan doa harian dengan ofisi singkat Santa Perawan Maria pada tempat utama…

Art.80

Menghadiri Misa menurut St.Fransiskus dari Sales adalah “matahari segala devosi”. Maka para frater harus mengutamakannya dan dapat mempersembahkan persembahan setiap hari, yang tidak lain adalah melanjutkan persembahan di salib… Yesus mengikutsertakan kita dalam penerimaan rahmat-rahmat, yang telah Ia berikan melalui wafat-Nya.

Konstitusi 1936

Masih menempatkan artikel-artikel tersebut pada tempat yang sama.

Konstitusi 1952

Art.104

Para frater akan berusaha membangun dan memperluas devosi keselamatan kepada Hati Yesus yang Mahakudus baik bagi diri sendiri mau pun di tengah para murid.

Setiap Jum’at pertama dalam bulan para frater menyambut komuni untuk menghormati Hati Kudus Yesus, demi pemulihan kehormatan Penyelamat Ilahi di dalam sakramen kasih, yang telah dirusak oleh musuh-musuh-Nya.

Art.105

Maria Perawan Tersuci dan Bunda Allah adalah Pelindung Kongregasi dengan gelar Maria Bunda Hati Kudus.

Buah ilahi kepada Perawan tersuci harus dihargai secara khusus oleh semua frater.

Mereka akan menyebarluaskan buah-buah ilahi tersebut, terutama kepada para murid dan orang-orang lain yang dipercayakan kepada mereka.

Pesta Bunda Hati Kudus akan dipersiapkan melalui novena komunitas dan akan dirayakan dengan cara istimewa di dalam kongregasi.

Konstitusi 1967

Art.41

Isinya sama dengan Konstitusi 1952 art.105.

Konstitusi 1992

Art.6

Maria adalah pelindung persekutuan kita dengan gelar: Bunda Hati Kudus. Ia menunjukkan kepada kita Puteranya Yesus, yang lembut dan rendah hati, yang menganugerahkan ketenangan dan kelegaan kepada orang yang letih lesu dan berbeban berat yang pergi kepada-Nya.

Selanjutnya ada sesuatu yang baru dalam konstitusi ini, yang tidak pernah ada sebelumnya, yaitu secara panjang lebar disampaikan kepada kita dalam bagian spiritual konstitusi 2 bab penting untuk mendalami misteri Hati Yesus dan peran Maria sebagai pelindung tarekat. Kedua bab tersebut masing-masing berjudul:

Bab 2: Sehati dan sejiwa dalam mengikuti jejak Yesus dari Nasaret (art.10-15).

Bab 4: Diilhami oleh kehidupan Maria (art.45-52).

Catatan akhir

Dari uraian singkat di atas saya mencoba untuk menarik benang merahnya. Pada awalnya pendiri tarekat mempersembahkan tarekat yang ia dirikan ini di bawah naungan Maria, Bunda Hati Kudus Harapan Orang-orang Putus Asa, karena memang demikianlah keadaan Gereja di Nederland pada waktu itu. Persembahan ini diwujudkan dalam pernyataan-pernyataan dari konstitusi ke konstitusi bagaimana devosi kepada Bunda Maria harus mendapat tempat utama dalam tarekat.

Konsili Vatikan II menantang para religius untuk mengubah kebiasaan devosi ini menjadi suatu spiritualitas, suatu semangat yang tidak hanya diungkapkan lewat doa-doa saja tetapi lebih menjadi bagian dari kehidupan itu sendiri. Sebab itulah dalam konstitusi paling akhir (1992) kaitan erat antara Maria dan Yesus mendapat sorotan secara panjang lebar dalam 2 bab, yang sebelumnya tidak pernah muncul.

Dengan demikian mau dikatakan bahwa menjadi seorang frater BHK berarti:

1. Hidup sehati-sejiwa dalam mengikuti jejak Yesus dari Nasaret.

2. Hidup dengan diilhami oleh kehidupan Maria.

Semoga pertemuan ini menghasilkan suatu penyadaran bagi kita semua.

Malang, 20 Desember 2008

Fr. Frans Hardjosetiko BHK

1 Komentar

Filed under Spiritualitas

BELAJAR DARI HATI YESUS

1. Belajarlah pada-Ku

Perjalanan hidup akan selalu ditandai oleh perubahan, datangnya hal-hal baru, yang dapat menimbulkan tanda tanya (Mat 11:3). Menghadapi gerak hidup yang seperti itu Yesus memberi tanda kehadiran Allah yaitu bila orang yang miskin dan tersingkir di­sapa dan diringankan beban hidupnya serta dilibatkan (Mat 11:2-5). Untuk menyambut kehadiran Kerajaan Allah seperti itu diperlukan orang yang teguh iman dan tak mudah goyah (Mat 11:7-9), karena dihadapkan pada perjuangan keras namun tetap setia kepada panggilan dan misinya (Mat 11:10-15). Untuk menjadi teguh orang perlu mengalahkan dorongan yang mengukur hidup berdasar­kan diri dan kesenangannya (Mat 11:16-19), sehingga hanya mempersalahkan orang la­in. Hati yang teguh itulah yang diminta oleh Tuhan (Mat 11:25), berani melawan arus du­nia yang menolak warta Injil (Mat 11:20-24).

Menghadapi kenyataan seperti itu Yesus mengundang para pengikut-Nya agar memiliki hati yang teguh dalam mewujudkan Kerajaan Surga (Mat 11:29)

a. Hati penuh syukur

Yesus menjadi kuat tak tergoyahkan sampai akhir hidup-Nya de­ngan tergantung di Salib karna dilandasi oleh hati yang peka akan karya Allah. Mata hati Yesus menangkap bagaimana Allah bekerja menyatakan rahasia-rahasia hidup Kerajaan pada orang kecil, se­ba­gaimana nampak dalam sikap, tindakan dan cara hidup serta Kebijaksanaan hidup me­reka. Salah satu dampak rahasia Kerajaan Allah dalam hidup manusia ialah kesa­dar­an mendalam akan keterlibatan dan kehadiran Allah, sehingga hidup orang kecil di­tan­dai oleh rasa syukur yang mendalam dan membebaskan dalam setiap peristiwa yang mereka alami.

Doa Yesus “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi,” tidak ha­nya mengungkapkan bahwa Yesus melihat dan merasakan kebijaksanaan Allah dalam hidup orang kecil, tetapi juga karena Yesus sebagai orang kecil mengalami dan memi­liki rahasia-rahasia kebijaksanaan Allah dalam hati-Nya (Mat 11:25). Yesus sebagai orang kecil dan miskin di hadapan Allah (Flp 2:7) mengalami kuasa Allah yang bekerja. Hati Yesus, seperti pula hati orang miskin dan Allah tetap terarah kepada Allah, tidak se­perti kota Khorazim dan Betsaida, sebagai pengumpul ikan akhirnya menjadi pe­ngum­pul uang dan penyembah Mammon (Mat 11:21). Yesus memilih menyembah Ba­pa Allah-Nya, tidak menyembah Mammon (Luk 16:13), seperti kebanyakan orang kecil dan orang miskin. Penyembah Mammon menjadikan hati tak pernah puas, tak dapat ber­syukur tulus, yang ada ingin lagi dan lagi. Mereka menjadi pelahap yang tak tahu ber­syukur. Begitu pula Yesus melawan arus Kapernaum, tempat kekuasaan dan tenta­ra bersemayam yang merupakan penindas dan pelaku kekerasan, pembunuhan se­hing­ga tidak dapat berterima kasih kalau dikritik. Yang ada ialah hati yang yakin bahwa kritik kepada diri adalah musuh maka harus dihancurkan dan dimusnahkan. Bersyukur ba­gi Yesus berarti sungguh bebas dari rasa terancam, tidak seperti para penguasa. Ber­syu­kur berarti tenang dan hening karena Allah melindungi dalam keadaan apa pun ju­ga. Ha­ti bersyukur adalah hati yang tajam akan karya Allah sebagai Yang Kudus dan Jun­­jung­an hidup.

b. Hati yang percaya

Hati, yang penuh syukur Yesus atas rahasia-rahasia Kerajaan Alah yang dita­nam dalam hati yang rendah hati, membuahkan kesadaran bahwa ternyata Bapa berke­nan terlebih dahulu mempercayakan harta surgawi (Mat 11:27). Itulah sebabnya Yesus da­pat mengajarkan bagaimana Bapa di surga sungguh luar biasa dalam menyerahkan harta surgawi, sewaktu Yesus menjelaskan mengapa Dia bergaul dan bahkan mengun­dang orang berdosa (Luk 15:2), yaitu “Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan Aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu” (Luk 15:31). Dengan memperca­ya­kan harta seperti itu Yesus juga merasakan kegembiraan Bapa bila ada saudara hi­lang ditemukan dan mati hidup kembali (Luk 15:7.10.32). Harta surgawi itu tidak lain dan tidak bukan adalah belas-kasih (Luk 15:24).

Bagi Yesus itu merupakan kesatuan yang mendalam, maka yang ada dalam hati Ye­sus ialah percaya kepada Bapa sebagai jawabannya (Mat 11:27). Di situ ada kesatu­an hati dan kesatuan kehendak yang memberikan kejernihan untuk melangkah dalam hi­dup, sebagaimana diungkapkan pada orang yang kepadanya Anak itu berkenan me­nya­ta­kannya. Dalam perasaan mendalam hati yang percaya ini Yesus membagikan har­ta surgawi dengan kemerdekaan, bebas dari keinginan dan kecenderungan untuk me­ngendalikan orang lain dalam jiwa kekanak-kanakan (Mat 11:16-19). Hati percaya Yesus sungguh hati keanakan di hadapan Bapa bukannya hati kekanak-kanakan di ha­dapan Bapa dan hidup.

c. Hati yang meringankan beban

Hati yang akrab dengan Allah seperti hati Yesus, tanpa banyak kata pun akan me­mancarkan persahabatan kepada setiap orang yang dijumpai terutama yang merasa sendirian, terkucil, sakit, ketidakberdayaan. Kehadiran-Nya sudah merupakan undang­an, bahkan mendengar nama Yesus Zakheus sudah merasa ada harapan, ingin mene­mui (Luk 19:1-10). Diberitahu nama siapa yang lewat, Bartimeus langsung berseru: “Ye­­­sus Anak Daud, kasihanilah aku!” (Mrk 10:47). Persahabatan Yesus melampaui batas su­ku dan bangsa, sebagaimana Dia menyapa dan berbicara lama dengan perempuan Sa­maria (Yoh 4) dan perempuan Siro – Fenisia tak segan-segan mengejar Yesus kare­na yakin akan persahabatan yang tulus dan meringankan beban kehidupan (Mrk 7:24-30). Persahabatan Yesus memang tak pernah mengecewakan bagi yang terbuka. Per­sahabatan Yesus yang memanggil membawa kegembiraan luar biasa (Mrk 2:13-17). Per­sahabatan Yesus mampu membangkitkan hidup lagi (Yoh 11:1-44). Persahabatan Yesus menantang tidak kepalang-tanggung untuk hidup baru (Yoh 3:1-13).

Sapaan Yesus yang penuh persahabatan menumbuhkan tanggapan yang tulus, se­dia dan rela berkorban (Mrk 1:16-20). Sentuhan tangan Yesus membuat banyak orang disembuhkan (Mrk 1:31). Kata-kata Yesus membuat banyak orang memiliki per­ca­ya diri lagi (Mrk 1:41.42; 2:11). Kehadiran Yesus mengusir roh-roh jahat, seperti per­musuhan, kesombongan, dendam, kembali untuk hidup beriman (Mrk 3:10-11). Semua itu terjadi karena hati Yesus yang bersatu dengan hati Bapa penuh daya hidup karena merdeka penuh belaskasih. Persahabatan Yesus tidak hanya meringankan beban teta­pi menjadikan orang ringan hati menanggung beban perutusan bersama Yesus (Luk 8: 1-3). Persahabatan Yesus dengan hati yang merdeka pelan-pelan membuat hati para sa­habat-Nya menjadi meluas, mau ikut serta di dalam Kuk yang ditanggung Yesus sen­di­ri dengan sukacita (Mat 11:29). Persahabatan Yesus mengalirkan kekuatan kelembut­an dan kerendahan hati dan keheningan karena iman (Mat 11:29). Persahabatan yang mem­buat nyaman, meski harus menanggung beban kehidupan (Mat 11:30).

d. Belajarlah

Yesus memang selalu mendatangi orang-orang (Mrk 1:16), bahkan pergi ke ma­na­pun diperlukan bagaikan pengembara yang berjalan (Mrk 1:38). Namun Yesus juga me­ngundang kepada-Nya kepada siapa pun yang punya keinginan untuk hidup seperti diri-Nya (Mat 11:28), dan dengan undangan itu Yesus ingin bahwa orang datang kepa­da-Nya bukan karena terpaksa tetapi karena kerelaan dan keinginan merdeka. Datang ke­pada-Nya berarti berada di mana Ia tinggal (Yoh 1:39), yaitu Yesus berada pada orang miskin (Mat 25:40), dan secara rohani tinggal dalam hati yang sama sekali ter­gan­tung pada Bapa (bdk. Luk 2:49).

“Belajarlah,” pertama-tama para pengikut-Nya diundang untuk berada di antara orang mis­kin dan belajar kebijaksanaan hidup mereka, seperti yang diucapkan oleh Ye­sus (Mat 11:28-30). Kedua, para pengikut-Nya diundang belajar dengan membaca dan me­­re­nungkan Injil, dan ketiga dengan kontemplasi Salib, sebagaimana dilakukan oleh Ge­­re­ja dan banyak orang kudus.

2. Kasih Kristus menguasai kami

Kontemplasi Salib sesungguhnya memandang Kasih Kristus, Dia yang telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, te­tapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka (2Kor 5:14-15). Kon­templasi berarti membiarkan diri untuk dikuasai. Kontemplasi Salib membiarkan diri di­kuasai oleh Kasih yang diungkapkan dan dipancarkan oleh Salib. Dari kontemplasi Sa­lib inilah para pengikut Yesus Kristus harus bertolak untuk hidup dan mewartakan In­jil dengan menjadi Injil bersama Yesus Kristus.

Bertolak dari Salib, bertolak dari Kasih Kristus berarti hidup dan melayani Injil da­lam kuasa dan kekuatan Salib, yang adalah Kasih yang menyerahkan nyawa (Yoh 15: 13), dengan rela berkorban dan mati untuk menghasilkan banyak buah (Yoh 12:24-25) da­lam kesatuan dengan Kristus (Yoh 15:5), sebagai batu penjuru (1Ptr 2:1-10). Itu­lah wu­jud penghayatan hukum utama dalam Yesus Kristus (Mrk 12:29-31).

a. Dengan segenap hati

Pada lubuk terdalam hati manusia oleh Allah ditanam kurnia hukum kehidupan men­jadi milik pusaka (Sir 17:11), artinya menjadi kekuatan yang tak dapat dikalahkan, ka­rena di dalamnya ada perjanjian kekal artinya kasih tanpa syarat dari pihak Allah (Sir 17:12), yang akan menjadi sumber pengaturan dan penataan hidup (Sir 17:12-17). Da­lam hati manusia disertakan karunia lain untuk hidup berdasarkan hukum kehidupan ya­i­tu kesadaran akan hadirat Allah yang sedemikian dekat dengan diri-Nya (Sir 17:15.19-22), kesadaran bahwa Allah akan bertindak adil (Sir 17:23-24), namun Allah penuh be­las­kasihan bagi yang penuh penyesalan (Sir 17:25-29). Hati sesungguhnya merupakan roh manusia untuk dapat mengalahkan kegelapan hidup, kedagingan dan kelemahan (Sir 17:30-32), karena hati merupakan tempat batin dan pikiran manusia untuk meman­dang kemuliaan dan karya agung Allah (Sir 17:8-10.13).

Mengasihi dengan segenap hati berarti mengasihi dengan penuh kesetiaan de­ngan segala pergulatannya untuk tetap berpegang pada janji (Mrk 12:1-12). Mengasihi dengan hati yang jernih dan sadar berarti penuh kebijaksanaan (Mrk 12:13-17). Maka hati yang dipenuhi oleh kasih akan memiliki rasa takut akan Allah artinya tidak mau ber­pisah dari Allah (Ams 1:7). Kedekatan hati dengan Allah sumber kebijaksanaan menjadi permulaan kebijaksanaan artinya mau menata diri dan hidup. Hati yang takut akan Allah berarti mau mengasihi secara benar, tertata dan terarah, sehingga hidup dan pelayanan hanya demi kemuliaan Allah dan kebaikan sesama (2Kor 5:11-13).

Mengasihi dengan segenap hati pada intinya mengasihi dengan dan dalam kesa­daran akan kedinaan diri di hadapan Allah dan sesama (Sir 17:1.32).

b. Dengan segenap jiwa

Jiwa menunjuk secara religius bahwa hidup ini merupakan buah embusan nafas Tuhan Allah. Manusia hidup karena semata kuasa kebaikan Allah (Kej 2:4; 1Kor 15:45). Nafas kehidupan adalah milik Allah yang dianugerahkan kepada manusia (Mzm 104:29-30; Luk 12:20). Dengan segenap jiwa mengasihi menegaskan agar manusia mengasihi de­ngan kesadaran bahwa hidup ini rahmat dan anugerah. Mengasihi dengan segenap ji­wa merupakan ungkapan syukur atas anugerah hidup yang cuma-cuma dalam wujud ka­sih yang cuma-cuma pula (Mat 10:8). Maka mengasihi dengan segenap jiwa yang di­tandai rasa syukur diyakini sebagai ungkapan diri manusia religius, seluruh diri dan hi­dup dipersembahkan kepada Allah dan sesama karena rasa iman yang menda­lam. Ber­iman berarti selalu bersyukur dan karena itu mau mempersembahkan diri se­utuh­nya.

Mengasihi dengan segenap jiwa, kalau demikian juga berarti mempersembahkan dan memberikan nyawa bagi Tuhan dan sesama. Itulah sebabnya Tuhan Yesus ber­sab­da: “Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barang­sia­pa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang ke­kal (Yoh 12:25). Manusia sering mudah hanya berhenti pada hidup di dunia, sehing­ga tidak berani berkorban demi hidup yang akan datang. Mencintai dengan segenap ji­wa berarti rela berkorban, memberikan nyawa – hidup bagi Allah dan sesama, seperti yang dilakukan oleh Yesus (Mat 20:28; Yoh 10:11-15.17). Untuk para pengikutnya men­cintai dengan segenap jiwa dapat tercermin pada persembahan janda miskin (Mrk 12: 41-44).

c. Dengan segenap akal budi

Akal budi atau kemampuan manusia untuk berpikir sebagai kekuatan untuk meng­ha­yati kasih tak terpisahkan dari hati yang berpikir atau merenung-renung (Sir 17: 6) mengenai apa yang dirasakan, dilihat dan didengar atau dengan singkat dialami, un­tuk memiliki kearifan dalam melangkah pada perjalanan hidup (Sir 17:7). Akal budi juga tak terpisahkan dari mata batin manusia, yang dapat mengenal tujuan hidup di dunia ya­itu memuji, memuliakan dan mengabdi Tuhan Allah (Sir 17:10). Mengasihi dengan se­genap akal budi berarti hidup dan berbuat sesuai dengan tujuan hidup yaitu memuji dan memuliakan Tuhan dan bertindak sejalan dengan kebenaran tujuan hidup, sejalan de­ngan kekuatan yang serupa dengan kekuatan Allah dan menurut gambar Allah ma­nu­sia dijadikan (Sir 17:1-4). Mengasihi dengan segenap akal budi berarti hidup dalam ke­benaran dan demi kebaikan sebagai gerak mata batin atau hati nurani. Tindakan ka­sih dengan segenap akal budi ditandai oleh kemampuan mana yang baik dan buruk de­mi tujuan manusia diciptakan.

Mencintai dengan segenap akal budi berarti mau hidup dalam kearifan, yang ke­nal akan tujuan hidup (Mrk 12:13-17), sehingga dimampukan terus sadar akan hukum ke­hidupan dan tuntutan hidup yang benar (Mrk 12:32-34), dan mampu memiliki sikap dan pandangan yang benar (Mrk 12:35-37), dan tidak jatuh pada akal-akalan, yang pa­da intinya memenangkan pikiran sendiri. Mencintai dengan segenap akal budi berarti orang mengikuti hati nurani dalam hidup dan bertindak (Mrk 12:38-40). Kasih tulus itu­lah kasih dengan segenap akal budi.

d. Dengan segenap kekuatan

Mengasihi dengan segenap kekuatan pertama-tama berarti mengasihi berdasar firman Allah yang harus ditaati. Bagi Yesus mengasihi dengan segenap kekuatan berar­ti melaksanakan segala sesuatu untuk menggenapi Kehendak Bapa (Mat 3:15). De­ngan demikian mengasihi dengan segenap kekuatan, pertama-tama mengenakan keku­at­an yang datang dari atas. Kekuatan yang dari atas ini sesungguhnya dekat, sebagai­ma­na diyakini oleh Musa: “Firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan” (Ul 30:14). Bagi para pengikut Yesus Firman itu Terang dan tinggal di antara manusia dengan menjadi manusia (Yoh 1:5.14) sebagai ke­muliaan agar para pengikut Yesus mampu mengasihi dengan seluruh hidup dan diri­nya dalam kuasa Kasih Kristus.

Firman memang bagaikan benih yang disebarkan ke tanah hati manusia. Maka agar Firman sebagai kekuatan hidup kasih semakin kuat, para pengikut-Nya harus ber­ju­ang melawan kekerasan hati, ketakutan dan kecemasan dengan kekuatan keutamaan teologal, yaitu iman, harapan dan kasih (Mrk 4:1-29), sehingga dapat menghasilkan per­sahabatan, damai dan rasa aman (Mrk 4:30-32; 2Kor 5:16-21). Segala yang ada, se­perti janda miskin harus dengan penuh kerelaan dan pengorbanan dipersembahkan un­tuk terwujudnya kasih.

e. Perjalanan pewartaan – pelayanan

Belajar dari pengalaman Paulus, mengikut Yesus dan mewartakan Injil, yaitu Ye­sus Kristus mau tidak mau akan menghadapi tantangan baik dari orang yang tak perca­ya pada Injil tentang Yesus Kristus yang wafat dan bangkit, maupun dari sesama pe­war­ta Injil (Flp 1:12.13). Injil yang demi keuntungan diri pribadi, karena ditandai oleh deng­ki dan iri dengan sesama pewarta Injil – penumbuh iman kepada Yesus Kristus yang tersalib, wafat dan bangkit (Flp 1:15). Ada orang mewartakan Injil dengan tidak ikhlas (Flp 1:17a), memanfaatkan keadaan Paulus yang dipenjara untuk wibawa dan pan­dangan sendiri lebih disebar-luaskan dan diterima oleh penerima pewarta Injil. Se­sa­ma pewarta Injil, bila belum matang dan merdeka mudah bersaing dan menjelekkan pihak lain yang sedang mengalami nasib tak baik seperti Paulus di penjara.

Bagi Paulus dipenjara ternyata merupakan kebanggaan, karena dia merasa dan yakin dia dipenjara untuk Kristus (Flp 1:13) dan malahan bersyukur karena ternyata ma­lahan membangkitkan banyak orang lain berani mewartakan Injil (Flp 1:14). Hal itu men­ja­di tanda bagi Paulus bahwa meski di penjara berada pada tempat yang benar yaitu membela Injil yang benar (Flp 1:16). Dalam kemerdekaan Paulus tetap menghar­gai, tidak membenci pewarta-pewarta Injil egois dan tak ikhlas, bagi Paulus yang pen­ting ialah Injil tetap diwartakan (Flp 1:18). Bagi Paulus apa pun yang dialami entah hi­dup entah mati ialah Kristus tetap dimuliakan (Flp 1:20-21). Inilah landasan Paulus un­tuk menerima kenyataan yang tak enak, menghadapi berbagai kemungkinan. Namun Pa­ulus juga mengakui bahwa di dalam dirinya ada dua gerak: pertama mati dan berada bersama dalam kemuliaan Kristus dan kedua ada gerak untuk tetap tinggal dengan umat yang dilayani. Memperhatikan kepentingan dan kebutuhan umat Paulus lebih ber­ha­rap untuk diperkenankan berada di tengah-tengah umat (Flp 1:22-26).

Demi kepentingan iman umat Paulus lebih memilih berada bersama mereka mes­­ki karena itu Paulus harus menderita.

Sr. Immaculae PBHK

Tinggalkan komentar

Filed under Spiritualitas

RELASI MARIA “BUNDA KITA PADA HATI KUDUS” DENGAN HATI KUDUS YESUS DALAM RENCANA PENYELAMATAN ALLAH

(1).Gelar yang diberikan kepada Maria sebagai “Bunda kita pada Hati Kudus” (Our Lady of the Sacred Heart) secara hakiki mengungkapkan relasi kesatuan antara Maria dengan Hati Kudus Yesus. Dengan gelar “Bunda kita pada Hati Kudus” kita juga dimasukan kedalam relasi kasih dengan Maria dan Puteranya. Dia adalah Bunda Yesus dan Bunda kita juga. Bunda Maria mempunyai relasi yang tetap dan tak terpisahkan dengan Hati Puteranya dan putera-puterinya yaitu kita. Mari kita mencermati fakta relasi kesatuan Maria dengan Yesus dan dengan kita ini lebih lanjut.

(2).Kalau kita merenungkan relasi Maria dengan Yesus maka fakta ini bukanlah sesuatu yang bersifat statis, sekali jadi dan selesai, melainkan dinamis dalam proses sejarah. Sejak awal mula ternyata Maria dan Yesus sudah ada dalam rencana Allah. Maria dipilih dan dituturkan sejak saat Allah menciptakan laki-laki dan perempuan. Pada kenyataannya jemaat Kristen awal memahami Maria dan Yesus sebagai model untuk ciptaan pertama Allah. Paulus berbicara tentang Adam sebagai gambaran dari Yesus (Rom 5:14), gambaran dari Yesus Adam baru atau Adam terakhir (1Kor 15:21-23,4549). Maria disebut sebagai Hawa baru yang melahirkan penyelamat semua bangsa sepanjang zaman (bdk. Wahyu 12:5).

(3).Jemaat kristen perdana memandang awal kejadian dengan kisah penciptaan dan jatuhnya manusia serta janji penebusan sedemikian kristologis dalam penerapannya, sehingga mereka menyebutnya proto evangelium atau Injil pertama. Janji penebusan itu terpenuhi dalam diri Yesus yang lahir dari Maria. Relasi Maria dengan Yesus itu berawal dan sungguh dimulai saat Maria menerima warta Allah melalui Gabriel. Maria mengandung dari Roh Kudus, melahirkan, memelihara dan mendidik, menyertai perjalanan hidupNya, menghantar Yesus kepada orang lain dan menemaniNya sampai di kalvari. Ia adalah wanita yang penuh rahmat.

MARIA ADALAH WANITA YANG PENUH RAHMAT

(4).Surat Paulus kepada jemaat di Efesus (1:3-6) dimulai dengan sebuah gambaran yang indah tentang rencana keselamatan Allah sejak kekal. “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga….” (Ef 1:3-6). Sejak kekal Allah telah merencanakan keselamatan kepada semua orang dalam Kristus. Rencana keselamatan universal bagi manusia pria-wanita yang diciptakan menurut citra Allah (bdk. Kej 1:26). Di dalam Kristus Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan supaya kudus dan tak bercacat di hadapanNya, Dalam Kristus kita ditentukan menjadi anak-anakNya. Sebab di dalam Dia dan oleh darahNya kita beroleh penebusan yaitu pengampunan dosa menurut kekayaan kasih karuniaNya (Ef 1:4-7)

(5). Rencana penyelamatan ilahi sejak kekal itu sepenuhnya diwahyukan dengan kedatangan Kristus. Rencana penyelamatan ini menyangkut siapa saja, namun menyediakan tempat khusus untuk seorang “wanita” yang menjadi BundaNya yang oleh Bapa dipercayakan karya penyelamatan. Maria adalah wanita itu. Pada saat penyampaian warta sukacita, Gabriel tidak menyapa dengan nama Maria tetapi dengan nama baru “Yang penuh rahmat’ (Yunani: kecharitomene), Selanjutnya ia disebut sebagai “yang terberkati diantara wanita” (Luk 1:42). Kalau kita merenungkan nama “penuh rahmat ini’ maka surat Efesus langsung bergema. Di dalam Kristus Allah melimpahkan berkatNya. Berkat itu adalah “berkat spiritual” untuk semua orang, Berkat itu mengalir dari Cintakasih yang mempersatukan Putera dengan Bapa dalam Roh Kudus, Pada waktu yang sama ia juga merupakan berkat yang mengalir melalui Yesus Kristus kepada sejarah sampai akhirnya kepada semua manusia. Namun demikian berkat ini mengacu kepada Maria dalam taraf khusus dan istimewa karena ia mendapat salam dari Malaikat sebagai “yang terberkati di antara wanita” (RMa, no.7).

(6). Dalam Kitab Suci “rahmat” berarti kurnia khusus yang menurut perjanjian baru sebenamya bersumber dalam kehidupan Allah Tri Tunggal, Allah yang adalah Kasih (bdk 1 Yoh 4:13). Buah cinta kasih ialah keterpilihan manusia menjadi putera-puteri Allah dalam Kristus sejak dunia dijadikan. Manusia mengambil bagian dari hidup ilahi dalam Kristus. Kurnia abadi itu yaitu kurnia pemilihan manusia oleh Allah untuk menjadi kudus. Bila Malaikat menyebut Maria sebagai yang “penuh rahmat”, kita memahami bahwa di antara semua “berkat rohani dalam Kristus” berkat ini merupakan “berkat” khusus. Dalam misteri Kristus, Maria “hadir’ malahan “sebelum penciptaan dunia” sebagai seorang yang dipilih Bapa sebagai “Bunda PuteraNya” dalam penjelmaan. Dalam cara yang khusus dan istimewa itu Maria dipersatukan dengan misteri Kristus dan dengan itu Maria dikasihi dalam PuteraNya yang terkasih. Maria sejak kekal dipilih Allah menjadi Bunda Tuhan. Ia kudus dan tak bercela. Karena itu kita percaya bahwa Maria sungguh kudus dan tak bernoda sejak ia dikandung. Dogma Maria dikandung tanpa noda dosa yang diumumkan oleh Paus Pius lX pada tanggal 8 Desember 1854 menegaskan keyakinan sejak lama dalam diri jemaat awali bahwa Maria adalah kudus. Bahkan sejak awal Maria telah dinyatakan sebagai Wanita yang menang mengalahkan si jahat dan keturunannya, Karena itu Maria bukan hanya menjadi puteri terkasih Bapa, ibu Putera Allah tetapi juga pemenang atas kuasa setan. Maria adalah wanita yang penuh rahmat, Tuhan menyertainya (bdk. RMa. no.8). Maria adalah wanita yang rendah hati sebagai seorang hamba. Seperti diajarkan Konsili, Maria berada di antara yang miskin dan rendah hati di hadapan Tuhan, yang dengan percaya menunggu dan menerima penyelamatan dari padaNya” (LG. no.55).

“TERJADILAH PADAKU MENURUT PERKATAANMU’ (Lk. 1:38)

(7). Malaikat berkata kepada Maria “jangan takut Tuhan menyertaimu” (bdk. Lk 1:30) Engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai dia Yesus, Dia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah yang maha tinggi (Lk 1:30-32). Maria terkejut dan bertanya bagaimana mungkin hal itu terjadi karena aku belum bersuami? Dan Malaikat memberikan jawaban bahwa “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah yang mahatinggi akan menaungi engkau sebab itu anak yang akan kau lahirkan akan disebut Kudus Anak Allah” (Lk 1:35).

(8). Maria menerima berita dan panggilan Allah dan ia diundang untuk menjadi ibu Yesus. Tapi bagaimana mungkin itu terjadi? Seperti kisah panggilan dalam perjanjian lama yang selalu disertai dengan keberatan. Di sini Maria juga menyampaikan keberatannya. Karena hal itu tak mungkin terjadi secara manusiawi. Setelah mendengar jawaban yang kabur dari Malaikat itu disertai tanda lain yaitu bahwa Elizabet saudarinya juga sedang mengandung di hari tuanya, Maria menerima panggilan Allah atas dirinya dengan berkata: “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu’ (Lk 1:38). Maria telah dipilih untuk memainkan peranan khusus dalam sejarah keselamatan. Ia telah dipersiapkan Allah sejak awal untuk tugas ini. Sekarang ia menerima peranan ini secara pribadi dengan penuh iman dan penyerahan diri total kepada kehendak Allah. Aku ini hamba. Sama seperti Yesus adalah hamba (Ib. 10:4-7), begitu juga Maria ibuNya. Nampaklah bahwa Maria menerima dua hal ini: “Ia menerima untuk menjadi ibu Yesus dan menerima menjadi ibuNya dalam cara sebagai perawan . Dan dua aspek dari panggilan Maria ini menunjukan relasinya yang istimewa dengan Yesus” (Jan G. Bovenmars, MSC, Our Lady of the Secred Heart, p.311- 312)

(9). Maria menjadi ibu Yesus, Keibuan Maria ini menunjukkan suatu relasi yang sangat khusus dengan Yesus. Suatu relasi dengan pelbagai aspek yang bertumbuh sesuai perkembangan hidup Yesus. Ada banyak misteri indah yang dapat direnungkan tapi tidak dapat dipahami semua. Ya Maria adalah wanita yang telah memberikan kepada Yesus buah hati manusiawi dalam arti yang lebih luas dan kaya. Pater Chevalier suka dengan ungkapan ini, Maria telah mempunyai peranan penting dalam perkembangan kemanusiaan Yesus. Ia mengajar banyak hal kepadaNya. Maria menjalankan peranannya yang istimewa dalam membentukNya sejak la kecil untuk meneguhkannya. la memperkenalkan kepadaNya lman lsrael, tentang cinta, tentang doa. Sebelum Maria menjadi murid Yesus, Yesus telah menjadi seorang murid dari Maria (Our Lady of the Sacred Heart, p. 312). Pater Jan Bovenmars berpendapat bahwa “sesudah kelahiran Yesus, Maria dan Josep memutuskan untuk bersama-sama menghidupi keprawanan mereka untuk kepentingan Yesus. lni mau mengatakan bahwa hidup mereka didedikasikan sepenuhnya untuk Yesus dengan cara yang sangat khusus. Jesus adalah pusat cinta dan perhatian besar mereka sekaligus Yesus adalah Dia yang memberi arti bagi hidup mereka. Hal ini menjadikan Maria dan Josep dua perawan kristen pertama” (p. 312). Relasi Jesus dan Maria sungguh sangat unik. Maria mencurahkan seluruh cintanya dan seluruh hatinya untuk Jesus. “Seluruh keberadaannya mengalir dari hubungannya dengan Allah dan keterkaitannya dengan rencanaNya. Ia menjadi Bunda Allah.

BERBAHAGIALAH DIA YANG TELAH PERCAYA (Lk 1:45)

(10). Aspek yang menonjol dari Maria, yang menjadi perhatian dalam Kitab Suci adalah iman Maria. Kita perlu memperhatikan aspek ini karena relasinya dengan Yesus mendalam karena pertumbuhan imannya ini. Konstitusi tentang Gereja mengatakan: “Perawan suci Maria maju dalam ziarah iman, dan mempertahankan dengan setia kesatuannya dengan Putera sampai di salib..’ (LG 58). Abraham disebut bapa kaum beriman karena imannya kepada Allah. Maria juga disebut sebagai ibu kaum beriman karena imannya yang dalam akan Kristus, la adalah murid pertama dan yang terkasih dari Yesus.

(a). Lagu pujian Elizabet

(11). Pada saat Maria masuk di rumah Elizabet Maria memberikan salam kepada Elizabet. Elizabet sepupunya membalas salamnya dan ia merasa anaknya melonjak dalam kandungannya yang digerakkan oleh Roh Kudus”. Dia dipenuhi dengan Roh Kudus dan menyapa Maria dengan suara nyaring: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu (Lk 1:40-42). Tetapi yang lebih menarik lagi kata-kata Elizabet dalam pertanyaan berikut “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku”? (Lk 1:43). Elizabeth memberikan kesaksian tentang Maria: “dia menyatakan bahwa di depannya berdiri Bunda Tuhan, Bunda Mesias’. Putera yang dikandung Elizabet juga ikut memberikan kesaksian: “Sebab sesungguhnya ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan” (Lk 1:44). Anaknya ini yaitu Yohanes Pembaptis yang nantinya akan menunjuk kepada Yesus sebagai Messias (bdk. RMa. no,12). Yohanes dalam kandungan ibunya mengenal Mesias. Elizabet juga mengenal Mesias pada saat ia menyebut Maria sebagai ibu Tuhanku.

(12). Kalimat penutupnya memiliki arti mendasar. “Dan berbahagialah ia , yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan akan terlaksana” (Lk 1:45). Maria sungguh-sungguh hadir dalam misteri Kristus karena dia percaya. “Penuh rahmat” dinyatakan oleh malaikat sebagai karunia dari Allah sendiri. lman Maria yang diungkapkan oleh Elizabeth menunjukkan bagaimana Maria menjawab karunia tersebut. Ketaatan iman harus ditunjukkan kepada Allah yang mewahyukan, suatu ketaatan dimana manusia mempercayakan seluruh dirinya dengan bebas kepada Allah (DV. 5). Maria telah mempercayakan dirinya kepada Allah sepenuhnya dengan menundukan akal dan kehendaknya yang menunjukkan “ketaatan iman” kepada Allah yang berbicara melalui utusanNya. Dengan ketaatan imannya Maria menjadi Bunda Tuhan dan misteri ilahi penjelmaan dilaksanakan dalam dirinya.

(13). Kalimat ‘berbahagialah ia yang telah percaya” langsung menunjuk pada sikap iman Maria kepada warta sukacita dari Allah melalui Malaikat tapi juga akan menentukan selanjutnya peziarahan iman Maria sampai di bawah kaki salib Puteranya. Maria menunjukkan ketaatannya kepada kehendak Allah dengan hati dan telinga yang terbuka mendengarkan kehendak Allah. Melalui misteri Kristus, Maria juga hadir di dalam umat manusia. Maka melalui misteri Sang Putera menjadi jelaslah misteri BundaNya. Maria benar-benar hadir dalam misteri Kristus karena dia percaya” (RMa. 12).

(b). Hati kontemplatif Maria

(14). Hati Maria secara eksplisit disebut dua kali dalam Luk 2:19 dan 2:51. Dua teks ini memberikan kepada kita bagaimana iman Maria terus bertumbuh dan bagaimana relasinya dengan Yesus berkembang secara lebih mendalam. Teks-teks ini menunjukkan kepada kita bahwa “Maria adalah murid pertama Yesus. Ketika para gembala mengunjungi Maria,, Yosep dan bayi yang berbaring di palungan mereka bercerita tentang segala sesuatu tentang anak itu, “Maria menyimpan segala perkara itu dalam hatinya dan merenungkannya” (Lk 2:19). Dan sesudah menemukan Yesus di bait suci dan setelah kembali ke Nazaret, Lukas mengulangi lagi “ibuNya menyimpan semuanya itu di dalam hatinya’ (Lk 2:51). “lnilah sikap kontemplatif hati Maria. Maria mendengar Sabda Allah dengan hatinya” (J,E. Bifet).

(15). Aktivitas Maria dijelaskan dengan dua kata kerja: la “menyimpan” dalam hatinya sabda yang disampaikannya tentang Yesus dan peristiwa-peristiwa di mana Maria terlibat. Maria tidak melupakan semuanya itu dan menyimpan dalam ingatannya. Kedua, ia”merenungkan” semuanya itu dalam hatinya (Lk 2:19). Kata kerja yunani yang dipakai disini secara harafiah berarti “menempatkan segala sesuatu secara bersama” (putting things together). Sabda yang disampaikan oleh malaikat, pada saat kunjungannya, warta dari para gembala, kata-kata Simeon bahkan sabda para nabi tentang Mesias semuanya yang telah terjadi dan akan terjadi kemudian diletakkan bersama, diintegrasikan sehingga Maria mempunyai suatu pengetahuan yang dalam tentang Yesus, puteranya dan Putera Allah. Paus Yohanes Paulus II dalam ensiklik Redemptoris Mater mengutip kata-kata indah dari St. Agustinus dan Leo Agung: “Ia mengandungNya dalam jiwanya sebelum ia mengandungNya dalam rahimnya’. (RMa, no. 13). Mesias telah tinggal dalam hatinya dalam harapan dan penantian sebelum inkarnasi, Dan proses ini berlanjut sampai penyaliban ketika Maria berdiri memandang kepada Dia yang mereka tikam (Yoh 19:37; Wahyu 1:7). Yesus adalah hidupnya dan sebagai ibu Gereja ia dipanggil membagikan imannya kepada putera-puterinya. la mengenal secara mendalam Puteranya: HatiNya, pikiranNya, cita-cita dan cintaNya, Dengan pengenalan dan imannya yang mendalam akan puteranya, maka kita dapat menyapanya sebagai “Bunda kita pada Hati Kudus“.

(c). Ramalan Simeon

(16). Lukas tidak menyebut Maria yang berdiri di bawah kaki salib di Kalvari dalam injilnya, tetapi ia menyebut Maria yang berbagi dalam derita Yesus yang diramalkan oleh Simeon pada saat Yesus dipersembahkan di kenisah (Lk 2:22-38). Simeon menatang bayi itu dalam tangannya dan menyanyikan kidung indah. la menyebut Yesus terang yang menerangi bangsa-bangsa (Lk 2:30-32). Ia juga melihat penolakan dan penderitaan yang akan dialami oleh anak itu dari pihak Israel. ‘Sesungguhnya anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan..‘ (Lk 2:34). Ia juga menyampaikan kepada Maria bahwa hatinya akan tersayat menyaksikan derita anaknya. “suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri” (Lk 2: 35). Maria memulai perjalanan imannya sebagai ibu Tuhan dengan ramalan Simeon bahwa ia akan berbagi derita bersama puteranya. Puteranya akan menderita banyak. Karena Maria begitu bersatu dengan puteraNya maka ia juga sebagai ibu akan turut menderita. Karena itu Maria menjadi ratu para martir. Hati puteranya yang tertikam juga menjadi hati sang bunda yang tersayat, Maria setia sampai akhir. Ia terus menapaki panggilannya sebagai ibu Tuhan dengan ketaatan iman sebagai hamba.

(d). Tidak tahukah kamu bahwa Aku harus berada dalam rumah BapaKu? (Lk. 2:49)

(17). Kalimat ini dilontarkan Yesus kepada Maria dan Yosep sewaktu mereka berlelah-lelah mencari Dia dan menemukanNya di kenisah. Mereka tidak mengerti arti semuanya itu, tetapi Maria merenungkannya dalam hatinya. Pada usia 12 tahun Yesus mewahyukan rahasia keilahiaan diriNya untuk pertama kalinya kepada Maria dan Yosep dan itu la lakukan di Bait suci di Yerusalem. Pada saat itu Yesus mewahyukan kepada orangtuanya bahwa sejak sekarang la berada di rumah BapaNya atau la peduli dengan urusan BapaNya. Yesus mewahyukan kepada orang tuaNya bahwa la sesungguhnya adalah putera terkasih BapaNya dan harus tinggal di rumah BapaNya dan peduli dengan kepentingan BapaNya. Karena itu la berkata: “Tidak tahukah kamu bahwa aku harus berada dalam rumah BapaKu? Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakanNya kepada mereka” (Lk 2:48-50). Dalam jawabannya yang berbentuk pertanyaan ini Yesus berbicara tentang relasinya dengan Bapa surgawi dan itu Ia utamakan dari hubungan daging dengan mereka. Yesus sadar bahwa tidak seorangpun mengenal Putera kecuali Bapa” (bdk. Mat 11:27) bahkan ibuNya pun tidak. Maria hanya mengenalNya melalui imannya dan tetap setia berjalan di depan dalam ziarah iman (LG. 58) demikian juga selama kehidupan Kristus di depan umum (bdk 3:21-35) dari hari ke hari terpenuhilah dalam dirinya pujian yang diucapkan Elisabeth pada kunjungan Maria: “Terberkatilah yang percaya“.

(18). Yesus kembali ke Nazaret dan taat kepada mereka. Namun kesadaran mendalam Yesus bertumbuh bahwa la harus lebih taat kepada BapaNya dari pada orangtuaNya secara daging. Maria sadar bahwa sebagai manusia ia tidak mempunyai hak atas puteranya. Di Nazaret Yesus taat kepada Maria dan Josep yang la kenal sebagai orangtua secara daging. Namun dalam kesadaranNya la tetap mengutamakan kehendak bapaNya disurga. “Maria menyadari bahwa sebagai manusia ia tidak mempunyai hak atas puteranya. Menarik bahwa ungkapan “Ia taat kepada mereka” terletak persis sesudah penemuan Yesus di bait Allah, suatu kisah yang memperlihatkan bahwa Yesus sungguh menyadari bahwa Ia harus lebih taat kepada BapaNya di surga daripada kedua orangtua duniawiNya.”

(e). Berbagialah mereka yang mendengarkan Sabda Allah dan melaksanakannya

(19). Dalam Injil Lukas kita mendengar Yesus menanggapi pemberitahuan orang bahwa ibu dan saudara-saudaranya mencari Dia dengan kalimat ini “IbuKu dan saudara-saudaraKu ialah mereka yang mendengarkan Firman Allah dan melaksanakannya” (Lk 8:20-21). Jawaban ini nampaknya cocok dengan jawaban yang diberikan oleh Yesus ketika ia berumur 12 tahun kepada Maria dan Yosep ketika la ditemukan di kenisah. Dengan mendengarkan Sabda Allah dan melaksanakannya kita masuk dalam cara hidup Yesus, kita menjadi saudara-saudari dan ibu, digabungkan denganNya dalam ikatan spiritual, dicintai olehNya sebagai keluargaNya. Kita menjadi keluarga baru dalam Yesus (bdk Kis 1:14).

(20). Dalam Lukas 11:27-28 seorang wanita tak dikenal memuji ibu yang mengandung dan menyusui Yesus. Yesus menanggapi seruan pujian wanita itu dengan jawaban yang mencolok: “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan memeliharanya” (Lk 11:28). Yesus ingin mengalihkan perhatian dari keibuan yang dipahami melulu sebagai ikatan daging dan mengarahkannya kepada ikatan misteri rohani yang berkembang karena mendengarkan dan memelihara sabda Allah. Apakah Yesus dengan ini ingin menjauhkan diri dari ibuNya menurut daging? Nampaknya tidak karena kata-kata Yesus tentang keluarga atau keibuan baru yang rohaniah itu justru mengacu kepada Maria secara khusus. Bukankah Maria yang pertama-tama dari mereka yang mendengarkan Sabda Allah dan melaksanakannya? Dan karena itu, pujian yang diucapkan oleh Yesus untuk menanggapi wanita di antara kerumunan orang pertama-tama menunjuk kepada ibuNya? Tanpa disangsikan lagi, Maria pantas diberi pujian begitu karena kenyataan ia menjadi Bunda Yesus menurut daging, dia yang melahirkan dan menyusui Yesus, juga karena sesudah warta dari Malaikat, ia menyambut Sabda Allah, karena percaya, karena taat kepada Allah dan karena menyimpan Sabda dan merenungkannya dalam hati (bdk. Lk 1:38,45; 2:19,51) dan melaksanakannya sepanjang hidupnya.

(21). Maka kita dapat mengatakan bahwa pujian yang diucapkan oleh Yesus tidak bertentangan dengan pujian yang diucapkan oleh wanita yang tak dikenal itu, walaupun tampaknya berlawanan, melainkan justru berhimpitan dengan pujian itu dalam pribadi Bunda Maria yang menyebut diri hanyalah “hamba Tuhan” (Lk 1:38). Maria sungguh adalah hamba Tuhan yang percaya. Dengan iman Maria yang terus mendengarkan dan merenungkan Sabda Putera Allah dengan cara yang melampaui segala pengetahuan pewahyuan diri Allah yang hidup. Maka dalam arti tertentu, Maria sebagai ibu menjadi “murid pertama” puteranya. Kepada Maria murid pertamaNya, Kristus mengatakan “lkutlah Aku” bahkan sebelum panggilan ini ditujukan kepada para rasul atau manusia lain. Dengan imannya Maria menerima misteri puteranya yang adalah Mesias, Putera Allah dan ini menciptakan suatu relasi yang baru dan dalam dengan Yesus. Maria adalah murid pertama Yesus yang percaya akan Yesus sebelum para rasul percaya kepadaNya. Dengan imannya, Maria dapat membantu para rasul untuk percaya. Dengan imannya kepada pribadi Yesus dan misiNya , Maria telah menjadi Bunda Gereja.

(f). Magnificat

(22).Kedalaman iman Maria nampak dalam kidung indah yang ia lagukan sebagai jawaban terhadap pujian dari sepupunya Elizabet. Elizabet memuji Maria pertama-tama karena relasinya dengan Yesus: “Terberkatilah buah rahimmu’. Maria adalah yang terberkati karena ia adalah ibu Tuhan dan sebab ia percaya akan sabda yang disampaikan kepadanya. Dalam jawabannya Maria menyampaikan pujian kepada Allah: “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah Juruselamatku”. Kidung pujian ini muncul dari kedalaman iman Maria. Hatinya dipenuhi dengan kekaguman karena perbuatan besar Allah. Maria memuji Allah karena belaskasihNya. Maria adalah hamba yang rendah hati. Dan Allah memandang kerendahan hati hambaNya ini.

(23). Maria menyadari bahwa rencana penyelamatan Allah terpenuhi dalam dirinya dan bahwa karena alasan ini semua bangsa akan menyebutnya bahagia, seperti yang dilakukan oleh Elizabet. Sungguh Dia yang maha kudus telah melakukan perbuatan besar kepadanya dan kepada lsrael dan semua orang yang takut akan Dia. Kasih sayangNya turun temurun kepada hambanya. Kasih sayang dan belaskasih Maria sejalan dengan belaskasih Yesus PuteraNya. Magnificat adalah kidung utama tentang perjanjian baru yang telah dijanjikan kepada Abraham dan keturunannya. Maria menempatkan apa yang terjadi pada dirinya dalam konteks rencana keselamatan Allah yang telah masuk dalam sejarah baru.

(24). Maria mengagumi cara Allah bertindak. la memperhatikan kerendahan hambaNya dan berbelarasa kepada kaum kecil. Ensiklik Redemptoris Mater (no. 37) membuat suatu kesimpulan penting tentang magnificat ini, Kidung ini menekankan baik pujian kepada Allah dan perhatianNya kepada kaum miskin. Dua elemen ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Keduanya adalah unsur penting misi Gereja: “Kasih Gereja yang lebih tertuju kepada yang miskin secara mengagumkan tertulis dalam magnificat Maria. Maria sangat tergerak oleh semangat miskin. la benar menyatakan kedatangaan ‘Mesias orang miskin’ (bdk. Yes 11:4:61:1). Bersumber dari hati Maria, dari imannya yang dalam yang tercetus dari kata-kata magnificat, Gereja selalu mengulang dalam dirinya kesadaran bahwa kebenaran tentang Allah yang menyelamatkan, kenyataan tentang Allah yang menjadi sumber setiap karunia, tidak dapat dipisahkan dari manifestasi cintaNya yang mengutamakan yang miskin dan yang lemah, yaitu cinta kasih yang dipuji dalam Magnificat dan kemudian dinyatakan dalam kata dan seluruh karya Yesus (RMa. 37).

(25). Kita menemukan dalam magnificat Maria sesuatu yang sangat penting untuk misi Gereja. Maria tidak hanya melihat cinta dan belaskasih Allah yang menyelamatkan tetapi kenyataan bahwa kasih ini adalah kasih yang membebaskan secara khusus bagi orang miskin. Yesus adalah hamba kaum miskin: la lahir di palungan, mewartakan Injil kepada kaum miskin dan memperhatikan kaum miskin. Magnificat membenarkan apa yang nantinya terjadi pada diri Yesus. “Dari kidung Maria ini kita belajar bahwa pujian akan kasih Allah dan solidaritas kita kepada orang miskin harus berjalan bersama dan merupakan unsur penting untuk misi kita” (P. C. Braun MSC). Dalam hatinya Maria tidak hanya merenungkan misteri adanya Yesus tetapi juga misteri misiNya. Allah mendengarkan jeritan orang miskin, begitu juga PuteraNya. Maria begitu tercekam dengan tindakan Allah ini sehingg ia menjadikan dirinya Bunda yang berbelaskasih.

MARIA BERDIRI DI BAWAH KAKI SALIB (Yoh 19:25-37)

(26). Di Kana, saat Yesus belum tiba, kerjasama Maria dengan Yesus hanyalah suatu antisipasi. Selama hidup publik Yesus, Maria tinggal samar-samar. Yesus sibuk dengan kepentingan BapaNya: mewartakan Kerajaan Bapa. Tetapi di atas Kalvari, waktuNya telah tiba, saat penderitaan dan kebangkitan, saat pengangkatan, saat kerjasama Maria dengan puteraNya. “Dekat kaki Yesus, berdiri ibuNya”. Lumen Gentium no. 58 menegaskan: “Perawan Suci maju dalam ziarah iman, dan mempertahankan dengan setia kesatuannya dengan Puteranya sampai di salib, di mana ia tegak dengan bantuan Tuhan (bdk. Yoh 19:15). la turut menderita dengan dasyat bersama puteranya dengan hati seorang ibu, sambil menyetujui dengan kasih sayang, dipersembahkannya kurban yang ia lahirkan” (LG. 58).

(a). “Wanita, ini anakmu” (Yoh 19:26)

(27). “Ketika melihat ibuNya dan murid yang dikasihiNya berdiri di dekatnya, Yesus berkata kepada ibuNya: “wanita itu anakmu dan kepada muridNya, la berkata “lni ibumu” (Yoh 19:26-27). Gelar “Bunda kita pada Hati Kudus” mengekspresikan bukan hanya relasi antara Maria dan Yesus tetapi juga antara Maria dan kita. Di atas Kalvari, Maria menjadi Bunda kita karena ia diberikan kepada kita sebagai ibu. Sekali lagi Yesus menyebutnya sebagai “wanita”. Dalam Redemptoris Mater, Paus Yohanes Paulus ll menjelaskan gelar itu sebagai berikut: ‘Kita berada pada pusat pemenuhan janji yang termaktub dalam lnjil perdana: “keturunan sang wanita… akan meremukan kepala ular (bdk. Kej. 3:15). Dengan kematianNya untuk menebus, Yesus Kristus mengalahkan kejahatan dosa dan kematian sampai ke akar-akarnya. Adalah mencolok mata bahwa ketika Dia berbicara kepada ibuNya dari salib, Yesus menyebutnya “wanita” dan berkata kepadanya: “Wanita itulah puteramu’. Demikian juga menegurnya pada pesta di Kana dengan istilah yang sama juga (bdk. Yoh 2:4). Bagaimana orang menyangsikan bahwa khususnya sekarang di Golgota, ungkapan ini kena pada inti misteri Maria, dan menunjukkan tempat khusus yang ditempatinya dalam seluruh tata penyelamatan?” (RMa. 24).

(28). Maria berdiri di bawah kaki salib sebagai ibu yang menderita (Mater Dolorosa) bersama puteranya tapi juga sebagai orang beriman yang telah menghayati secara mendalam misteri penyelamatan; sebagai Hawa baru yang erat disatukan dengan Adam baru. Relasinya dengan Yesus mencapai puncaknya di sini. Mereka menjadi satu dalam ketaatan kepada Bapa, mereka menjadi satu dalam derita; mereka menjadi satu dalam menyelamatkan dunia. Dengan menjadi ibu Yesus, ia siap memberikan hidup kepada dunia; ia menjadi bunda kita: “inilah ibumu”. Titik puncak kesatuan Maria dengan puteranya; juga menjadi titik puncak kesatuan Maria dengan kita; karena saat Yesus di salib adalah momen keibuan rohaninya mencapai kepenuhannya.

(29). Oleh karena itu, kitapun menerima hadiah berharga seperti yang diterima oleh Yohanes ‘yang sejak saat itu, murid itu menerima dia dalam rumahnya” (Yoh 19:27). Kata-kata “di dalam rumahnya” adalah terjemahan tiga kata Yunani yang secara harafiah berarti “diantara barang-barang atau harta miliknya”. Suatu studi mengatakan bahwa “barang-barang atau sesuatu pertama-tama menunjuk rumah, penginapan, tetapi juga rumah rohani St. Yohanes yaitu imannya. Maria diterima dan masuk dalam kesatuan hidup dengan Yohanes sebagai hasil dari Sabda Yesus yang wafat di salib. Johanes sungguh menerima Maria sebagai ibunya. Kata-kata Yesus ini diucapkan sebelum wafatNya ‘lnilah ibumu dan teladan dari Johanes juga diaplikasikan untuk kita masing-masing. Karena itu, Konsili tidak ragu-ragu menyebut Maria Bunda Kristus dan Bunda umat manusia” (LG 54). Kata-kata yang diucapkan Yesus dari salib menunjukkan bahwa keibuan Maria yang melahirkan Kristus mendapatkan suatu kelanjutan dalam Gereja dan melalui Gereja seperti yang disimbolkan dan diwakilkan oleh Yohanes (RMa. No. 24). “Apakah kita juga menyambut secara hangat Bunda kita pada Hati Kudus dalam hati kita’?

(b). Seorang prajurit menikam lambungNya dengan tombak (Yoh 19:34)

(30). Setelah Yesus meminum anggur asam, la berkata: “sudah selesai” dan menundukkan kepalaNya dan menyerahkan nyawaNya. Yesus imam agung kita mempersembahkan korbanNya; la sekarang masuk ke tempat terkudus sebagai pelayan dari tempat kudus dan kemah pertemuan yang benar (lbr 8:2). Dengan kurban ini kita diselamatkan. “Betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diriNya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia supaya kita dapat beibadat kepada Allah yang hidup’(lb 9:14-15). Kematian Yesus adalah titik puncak dari pewahyuan Allah. Manusia baru, manusia dengan hati baru adalah orang yang menyerahkan dirinya, cintanya; yang mengatasi kebencian; yang mencintai bahkan menyerahkan dirinya sampai mati. Dalam cara ini la menjadi sumber kehidupan dan sumber kesatuan.

(31). Bunda kita berdiri di bawah kaki salib dalam kesedihan yang mendalam, tapi dengan iman dan penyerahan yang lebih dalam. St. Johanes memberikan kesaksian bahwa Maria juga melihat peristiwa itu: “Sebagai ganti mematahkan lengannya, seorang serdadu menikam lambung Yesus dengan tombak dan segeralah mengalir keluar darah dan air. Sejak saat itu, Maria sungguh menjadi Bunda kita pada Hati Kudus. Untuk memahami adegan ini, Pater A. Tostain mengatakan bahwa: “Yohanes memberikan kepada kita dua kunci. Kunci pertama yang menunjuk pada teks Keluaran 12:46: “Sebab hal itu terjadi supaya genapnya yang tertulis dalam Kitab Suci: “Tidak ada tulangnya yang akan dipatahkan“. Dalam Kitab Keluaran tulisan ini dihubungkan dengan anak domba paska, domba yang dimakan orang yahudi dalam memperingati pembebasan mereka keluar Mesir. St. Johanes menempatkannya pada Yesus, Anak domba paska yang sejati yang menghapus dosa dunia. Hal ini memberikan cahaya baru atas makna kematian Yesus. Anak domba paska yang benar menebus kita dengan cara yang baru. Pantas diingatkan di sini bahwa Yesus wafat pada saat domba-domba paska disembelih di Yerusalem selama pesta perayaan paskah Yahudi.

(32). Teks Kunci kedua yaitu kutipan dari Kitab Zakaria 12:10 yang menunjuk pada penikaman lambung Yesus: ‘Mereka akan memandang kepada dia yang telah mereka tikam” (Yoh 19:37). Dalam kitab Zakaria kematian dari dia yang tertikam ditempatkan dalam konteks eskatologis dari perkabungan nasional dan pembukaan dari sumber keselamatan. la menyatakan bahwa masa mesianik tergantung dari sebuah misteri penderitaan dan kematian, paralel dengan nasib hamba penderita dalam Yesaya 52:13-53:12, Johanes melihat teks ini terpenuhi di sini dalam penderitaan Yesus. Dalam darah dan air yang mengalir dari lambung Yesus yang tertikam ia melihat mata air yang terbuka. Sesungguhnya dalam Johanes 7:37-39 ia telah menampilkan lambung Yesus sebagai sumber air hidup; sebagai simbol dari Roh Kudus yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepadaNya apabila Yesus dimuliakan.

(33). Ada teks lain dari perjanjian Lama tentang sumber air yang mengagumkan yang menunjuk pada saat mesianik yaitu teks Yesaya 12:3: ” Kamu akan menimba air dengan kegembiraan dari mata air keselamatan“. Dalam Yehezkiel 47:1-12 sang nabi menyampaikan visinya tentang aliran air yang mengalir dari bawah ambang pintu bait suci dan mengalir menuju ke timur. Air itu mengalir dari bawah bagian samping kanan dari bait suci itu, sebelah selatan mesbah” (47:1). Ketika St. Johanes memandang ke dalam hati Yesus yang tertikam terpenuhilah teks Zakaria 12:10, itu berarti bahwa kita harus melihatnya sebagai pemenuhan dari seluruh tradisi ini. Hati Yesus adalah sumber air hidup, sumber keselamatan dan sumber ini secara simbolik dibuka di Kalvari dengan tombak serdadu. Ada orang yang melihat sendiri dan memberikan kesaksian. Orang-orang itu melihat dengan matanya sendiri, bahkan lebih dari itu dengan mata imannya. Maria juga sebagai murid pertama, ibu kaum beriman secara erat disatukan dengan penderitaan puteranya memandang kepada dia yang tertikam dan bergemalah secara mendalam misteri ini dalam hatinya. Kristus menyerahkan rohNya, la memperoleh hidup untuk kita dengan wafatNya dan Maria yang menjadi bunda kita pada saat itu memperoleh hidup untuk kita berkat kesatuannya dengan Yesus. Kehadirannya, dukungan moralnya, penyerahan dirinya yang total mengekspresikan kesetiaan imannya. Memandang kepada Dia yang tertikam sungguh membuat Maria menjadi Bunda Hati Kudus.

Hati Baru dan Semangat Baru

(34). Memandang kepada Yesus yang lambungNya tertikam, kita menemukan hatiNya dan sekaligus cintaNya. St. Bemardus melihat dalam Hati Yesus yang tertikam cinta yang terluka. Dalam konstitusi MSC nomor 9 dikatakan: ‘Memandang kepada Dia yang tertikam, kita melihat Hati baru yang diberikan Allah kepada kita sebagai sumber kehidupan yang tak kunjung habis”.

Surat kepada jemaat di Ibrani mengajarkan kita bahwa perjanjian baru terjadi berkat darah Kristus. Nabi Jeremia dan Yeheskiel menegaskan bahwa perjanjian baru dicirikan dengan hati baru dan semangat baru. Oleh karena itu, memandang kepada dia yang mereka tikam, kita melihat bahwa hati baru yang mengalir dari hati Allah sendiri yang lemah lembut dan rendah hati; sumber air hidup. Dengan percaya kepadaNya, dengan meminum dari sumber ini kita menerima Roh Kudus. Di atas Kalvari kita menemukan hati baru dan roh baru. Dengan iman ini, pembaharuan hati dan pembaharuan muka bumi menjadi mungkin. Kepada wanita Samaria, Yesus berkata: “Air yang akan saya berikan kepadamu akan menjadi mata air di dalam dirimu yang terus menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal (Yoh 4:14). Dan kata rasul Paulus: ‘…karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita’ (Rom 5:5). Roh Kudus adalah anugerah paskah Kristus, anugerah perkawinannya yang menjadikan Gereja mempelainya.

Bunda kita pada Hati Kudus

(35). Dengan memandang Yesus yang tersalib, kita menemukan pelbagai dimensi dari misteri paskah. Di atas Kalvari: – Yesus memberikan Maria kepada kita sebagai Bunda kita, – Gereja dilahirkan, – Perjanjian Baru dimeteraikan, – Anugerah pernikahan: Roh Kudus yang membaharui hati kita dan membuat Gereja mempelainya yang setia. Empat dimensi yang terintegrasi ini menunjukkan bagaimana Maria dilibatkan dalam misteri paskah dan menyingkapkan secara sangat jelas apa arti dan kapan kita memanggilnya Bunda Kita pada Hati Kudus.

(36). Ketika kita berpikir tentang peranan Maria dalam misteri paskah, kita diingatkan akan peristiwa kehadiran Maria dalam senakel di mana ia berdoa bersama para rasul dalam mempersiapkan Pentekosta (Kis 1:14). Di atas Kalvari Gereja lahir secana simbolik, dalam senakel Gereja sungguh menerima hidup dan evangelisasi dimulai. Kata-kata Yesus yang diucapkan kepada Yohanes: “Inilah ibumu” menyatakan bahwa Maria diberikan kepada kita sebagai Bunda Gereja yang berdoa di tengah dan bersama para rasul. Air yang mengalir keluar dari lambung Yesus, adalah simbol anugerah Roh Kudus; dalam senakel Roh Kudus dicurahkan yang disimbolkan dengan lidah api dan secara kelihatan mentransformasikan para rasul yang takut menjadi saksi-saksi kebangkitan yang berani.

(37). Ketika memandang kepada Bunda kita yang berdiri di bawah kaki salib, hal pertama yang dapat kita katakan adalah bahwa Maria menderita bersama Kristus. la mengambil bagian dalam korban Puteranya dengan penyerahan dirinya yang sempurna. Maria mempersembahkan puteranya demi keselamatan kita melalui hatiNya yang tertikam. Relasi Kristus dan Maria di sini mencapai titik puncaknya. Maria sungguh menjadi ‘Ratu para martir melalui kemartiran spiritualnya dan melalui bela rasanya. Dan sejak ia ambil bagian dalam karya penyelamatan pada tingkatan yang begitu dalam, Puteranya mengumumkan dan menyerahkan dia menjadi Bunda kita. Gereja lahir di Kalvari. Sebab dengan partisipasi Maria dalam karya penebusan, kita dapat memahami bahwa Maria menghantar Gereja kepada kehidupan di atas Kalvari. la adalah Bunda Gereja. Perjanjian baru dimeteraikan diatas Kalvari oleh darah Kristus. Tetapi relasi Kristus – Gereja didahului oleh relasi Kristus – Maria. Oleh karena itu istilah biblis untuk relasi Kristus – Maria adalah “perjanjian” (covenant). Perjanjian baru sungguh dimulai antara Yesus dan Maria. Dalam acara pernikahan di Kana dikatakan bahwa: Para rasul mulai percaya akan Kristus ketika mereka melihat mujizat perubahan air menjadi anggur. Tetapi Maria lebih dahulu percaya kepadaNya karena mujizat terjadi melalui pengantaraannya.

(38). Gereja menerima hidupnya dari Kristus dan juga dari Maria. Karena bagi Yesus, peranan ibuNya itu sangat berharga. la telah mengalaminya dalam hidupNya sendiri dan la mau agar Gereja mengalaminya juga. Maria memperoleh hidup untuk Gereja melalui partisipasinya dalam penderitaan Yesus dan juga melalui doanya untuk memperoleh anugerah Roh Kudus. Maria melihat hati Yesus yang tertikam, ia melihat darah dan air mengalir keluar, ia menerima kaum beriman sebagai putera-puterinya dan ia memperoleh anggur baru untuk perkawinan yaitu Roh Kudus. Ketika kita memanggilnya Bunda kita pada Hati Kudus, kita sedang merenungkan tentang semuanya ini. la adalah ibu semua kaum beriman, lbu Gereja dan sebagai Bunda kita pada Hati Kudus, ia adalah juga ratu para martir. Ia adalah murid pertama Yesus dan misionaris Hati Kudus pertama puteranya.

(40). Relasinya dengan Yesus mempumyai pelbagai aspek. la adalah ibu Yesus, dari Dia, Gereja dapat belajar bagaimana menjadikan Maria ibu kita. la mengajarkan kita bagaimana memberikan Kristus kepada dunia. la adalah orang beriman pertama, murid pertama Yesus. Dari Maria Gereja dapat belajar bagaimana bertumbuh dalam iman. Sebagai Eva baru, Maria disatukan pada Kristus. Dari Maria, Gereja dapat belajar bagaimana menjadi mempelai Kristus dan beriman kepadaNya juga pada saat penderitaan salib. Ia menerima Roh Kudus dan menerima anugerah ini untuk kaum beriman. Dari Maria, Gereja dapat belajar bagaimana menerima anugerah Roh Kudus untuk dirinya sendiri dan untuk sesamanya. Di atas Kalvari kita menemukan hati Yesus, sebuah hati baru, sumber dari pembaharuan dunia. Pada hari Pentekosta kita melihat bagaimana hati para murid dibaharui oleh Roh Kudus, anugerah dari hati Kristus. Dan pada kedua kesempatan tersebut kita memandang Maria sebagai Bunda yang memberikan hidup kepada Gereja. Sebagaimana Maria membentuk hati puteranya, begitu pula ia membentuk hati kita dengan cinta keibuannya.

Beberapa butir refleksi untuk hidup bakti dan misi kita:

1. Pater Jules Chevalier yakin bahwa cinta hati Allah yang nampak dalam hati Yesus puteraNya adalah jawaban dan obat mujarab bagi penyakit zamannya. la pun yakin bahwa Maria Bunda kita pada Hati Kudus mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses penyembuhan ini. Kita dan dunia kita dalam arti tertentu sedang sakit. Kita membutuhkan penyembuhan. Kita diundang Maria untuk mengalami penyembuhan itu dari Hati Kudus Yesus puteranya. Maria berdiri di bawah salib memandang kepada hati Yesus sumber air hidup yang terbuka itu. Sebelah tangannya menunjuk pada hati Yesus dan tangannya yang lain mengundang kita putera-puterinya untuk datang ke sumber keselamatan itu. la bersatu dengan puteranya dan memperolehnya bagi kita anugerah Roh Kudus. Ia membaharui hati kita. Kesatuannya dengan Yesus memampukan dia untuk menuntun kita ke sumber keselamatan itu. Mari kita membiarkan diri dituntun oleh Bunda Hati Kudus berarak menuju sumber kehidupan itu.

2. Gelar Bunda kita pada Hati Kudus mengungkapkan misteri kesatuan yang erat antara Yesus dan BundaNya. Maria dipilih Allah menjadi perawan dan Bunda Yesus sejak kekal. Dia seutuhnya dipersembahkan untuk Puteranya. Ia adalah orang beriman pertama kepada Yesus. Ia adalah Hawa baru yang disatukan secara dekat dengan Adam baru. Maria dapat membantu kita untuk menghidupi secara mendalam kesatuan kita dengan puteranya. Dan dari Maria kita dapat belajar untuk hidup dalam kesatuan yang erat dengan Yesus. Dia adalah Bunda kita, bunda Gereja dalam kesatuan dengan Hati Yesus Puteranya. Dengan pengantaraan Maria kita memperoleh hati baru dan semangat baru dan dalam cara ini Maria memainkan peranan penting dalam pembaharuan masyarakat.

3. Maria adalah murid pertama dan misionaris pertama dari Hati Puteranya. Pada saat Yesus masih kecil, Maria menjadi guru dan pembina bagi Yesus tapi pelan-pelan, Maria menunjukkan dirinya sebagai murid pertama dari Puteranya. Ia dengan tekun menyimpan sabda Tuhan dan merenungkannya di dalam hatinya. Maria juga adalah misionaris pertama dari Hati Puteranya. Maria bergegas membawa Yesus sewaktu mengunjungi Elizabet sepupunya. Dan sepanjang hidupnya, Maria mempersembahkan diri seutuhnya untuk Yesus dan untuk mewartakan Yesus kepada manusia. Maka dengan fiatnya ia telah mempersembahkan dan membaktikan seluruh hidupnya untuk Puteranya demi keselamatan dunia. Maria mengajarkan kepada kita bagaimana kita belajar percaya kepada Yesus dan membaktikan hidup dan karya kita dalam mewartakan cinta Hati Kudus Yesus ke mana-mana (Ametur Ubique Terrarum Cor Jesu Sacratissimum). Ia mengajarkan juga kepada kita bagaimana kita belajar untuk menjadi murid Yesus. Maria menjadi model bagi hidup yang dari hidup bakti kita.

4. Maria adalah “Mater Dolorosa’. Ia adalah Bunda para martir. Ia menyatukan deritanya bersama derita Puteranya. Hati Sang Bunda dan Sang Putera menjadi satu dalam suka dan duka. Maria menderita karena cinta keibuannya yang dalam kepada Yesus puteranya dan kita putera-puterinya. Maria mengajarkan kepada kita bagaimana caranya mencintai Yesus juga di saat kita harus menderita karena Dia. Cinta menuntut penderitaan dan pengorbanan. Tugas pemberitaan Injil cinta kasih itu menuntut dari kita spirit kemartiran.

5. Maria bersatu dengan para rasul dalam senakel mempersiapkan hari Pentekosta. Dalam doa senakel, Maria sebagai Bunda Gereja menghantar kita kepada kehidupan dengan memperoleh anugerah Roh Kudus yang mengalir dari Hati Kudus Yesus. Dalam kesatuan doa dengan Maria, kita dilimpahi anugerah iman, kasih, hati baru dan semangat baru yang menjadikan kita berani untuk menjadi saksi-saksi cintaNya. Seperti para Rasul, kita perlu membiarkan diri dibaharui dan dituntun oleh Roh Kudus. Kita hendaklah melakukan hal yang sama berdoa bersama Maria, dengan mengikuti teladan Maria, ibu Gereja dan model Gereja. Maria adalah model bagi cinta keibuan Gereja yang hendaknya mengilhami semua orang yang bekerja sama dalam tugas penginjilan (bdk. RMi, 92). Maria menjadi “Bintang evangelisasi” (RMi 92; EN 82).

6. Oleh karena itu hendaknya kita menanggapi teladan Bunda kita pada Hati Kudus ini dengan mengkontemplasikan selalu dia yang berdiri memandang puteranya yang tertikam. Bersama Maria kita turut merasakan kesatuan hati Bunda, hati Yesus dalam hati kita sendiri. Kita juga diajak untuk mencontohi teladan kesetiaan iman dan cinta Maria serta persembahan diri total kepada kehendak Bapa dan PuteraNya. Sebagai misionaris pertama dari hati puteranya, kitapun belajar dari Maria untuk menjadi murid Yesus dan misionaris hati Kudus yang penuh cinta dan bersemangat. Setiap misionaris adalah manusia cinta (RMi. 89). Maria adalah Bunda kita pada Hati Kudus karena itu, kita diundang untuk selalu memohon perlindungan dan doanya: “Bunda Hati Kudus, doakanlah kami.”***(P. Albertus Jamlean, MSC)

Bahan Bacaan:

1. Jan G. Bovenmans, MSC, Our Lady of the Sacred Heart., Rome, 1996

2. Paus Johanes Paulus II; Ensiklik Redemptoris Mater (lbunda Sang Penebus), Roma, 1987.

3. Paus Johanes Paulus II; Ensiklik Redemptoris Missio (Tugas perutusan Sang Penebus), Roma, 1990.

4. Dokumen KonsiliVatikan ll, khusus tentang Gereja (Lumen Gentium), Roma, 1964.

5. Juan Esquesda Bifet, Spiritualita’Mariana Della Chiesa, Roma, 1994.

1 Komentar

Filed under Spiritualitas

150 tahun Devosi dan Gelar Bunda Hati Kudus (1859 – 2009)

ASAL USUL GELAR DAN DEVOSI BUNDA HATI KUDUS

Our Lady of the Sacred Heart

Our Lady of the Sacred Heart

Gelar dan devosi Bunda Hati Kudus (Notre Dame du Sacré-Coeur; Our Lady of the Sacred Heart) tidak bisa dilepaskan dari Pater Jules Chevalier, pendiri Tarekat MSC dan PBHK.

Beberapa data penting tentang Jules Chevalier

1824 – Jules Chevalier lahir pada 15 Maret 1824. Ia anak bungsu dari tiga bersaudara, yang keesokkan harinya langsung dibaptis dengan nama «Jean-Jules», di Richelieu. Bapaknya bermana Charles Chevalier. Ibunya bernama Louise Orly.

1841 – Di bulan Oktober, dalam usia agak terlambat 17 tahun, ia masuk seminari kecil di St Gaultier, wilayah keuskupan Bourges.

1846-1851 – Jules melanjutkan masuk seminari tinggi di Bourges. Tanggal 14 Juni 1851, Jules ditahbiskan di katedral St Stefanus, Bourges. Tulis Pater Chevalier: «Saya merayakan perayaan misa pertama dalam kapel kecil di taman. Kapel itu dipersembahkan pada Bunda Perawan. Pada saat konsekrasi,, misteri yang agung serentak ketaklayakanku, benar-benar membuat saya mencucurkan air mata. Agar saya dapat menyelesaikan misa itu, saya harus dikuatkan kembali oleh imam konselebranku. Itu hari yang tak pernah kulupakan.”

1851-1854 – Tiga hari setelah pentahbisannya, ia langsung pergi ke tempat tugasnya. Pertama ia bertugas sebagai pastor pembantu di kampung kecil Ivroy-le-pré (17 Juni 1851), lalu di Châtillon-sur-Indre (21 Januari 1852), dan di Aubiny-sur-Nère (14 Oktober 1853). Pada 20 Oktober 1854, Pater Jules Chevalier tiba di Issoudun, dan menjabat sebagai pastor pembantu di paroki St Cyr, Issoudun.

1855 – 9 September: Pendirian Tarekat MSC mendapat restu eklesial. Diresmikan oleh Kardinal Du Pont, Uskup Agung Bourges. Chevalier memikirkan gelar Bunda Hati Kudus untuk Maria sebagai tanda syukur.

1857 – Untuk mengucapkan rasa terima kasih mereka pada Bunda Perawan Maria, atas peranannya yang besar hingga lahir tarekat MSC, Pater Chevalier mencetuskan untuk pertama kali nama yang indah ini: « Bunda Hati Kudus ». Nama, temuannya, ini mulai dipublikasikan kemudian pada tahun 1859. Juga atas permintaan para awam, lahirlah kemudian Fraternitas BHK. Majalah Les Annales Bunda Hati Kudus diterbitkan tahun 1866, yang dipimpin oleh Pater Victor Jouët msc

1858 – Dimulainya pembangunan gereja indah Basilika Bunda Hati Kudus. Baru tgl 7 Juli 1864 bangunan tersebut selesai dan diberkati.

1869 – Pemahkotaan patung pertama Bunda Hati Kudus, atas nama Paus, dalam kapel Bunda Hati Kudus. Perayaan misa mulia dan agung menandai peristiwa bersejarah tersebut pada tgl 8 September. Itulah hari ziarah terbesar jumlahnya dalam sejarah tempat ini. Sekitar 40 uskup dan 400 imam yang hadir.

1874 – Tgl 30 Agustus, Pater Chevalier mendirikan tarekat Putri-putri Bunda Hati Kudus (PBHK).

1880 – Tahun penuh bencana! Semua kaum religius di daratan Prancis dikejar-kejar. Akan tetapi, kelak patut disyukuri, saat itulah buah evangelisasi tumbuh di mana-mana di dataran Eropa: Belanda, Belgia, Austria, Jerman, Spanyol, Italia, Inggris dan Irlandia.

Tgl 25 Maret, Kadinal Simeoni, atas nama Paus Leo XIII, mengusulkan misi Melanesia dan Micronesia pada Tarekat MSC. Disetujui. Lima misionaris pertama MSC diutus, namun tiga yagn smapai, yakni : Pater Navarre, Pater Cramaille dan Bruder Fromm. Tgl 1 September 1881 mereka meninggalkan pelabuhan Barcelona. Era sebagai misionaris dimulai yang berlanjut hingga hari ini, para MSC sudah hadir di semua benua.

1901 – Sekali lagi terlihat Pemerintah Prancis dengan serius menentang gereja melalui undang-undang antireligius. Seluruh milik harta, kompleks, gedung gereja, baik milik MSC maupun suster PBHK diambil oleh pemerintah.

1905 – Lahirlah UU pemisahan Gereja dan Negara.

1907 – Tgl 21 Oktober. «Dengan perasaan sedih saya memberitahukan kepada anda tetang kematian Rev. Pater Chevalier, pada pkl 18.00, tadi malam. Kematiannya yang tenang dan jernih membawa penghiburan dalam kesedihan kami… », tulis Pater E. Meyer msc.

Asal Usul Devosi dan Gelar Bunda Hati Kudus

Pater Chevalier senang menceriterakan asal mula gelar dan devosi tersebut. Menurutnya untuk mengerti asal mulanya kita harus kembali ke peristiwa 8 Desember 1854:

“Untuk menemukan asal mula devosi kepada Bunda Hati Kudus, sebagaimana kita kenal sekarang, kita harus kembali ke peristiwa 8 Desember 1854, hari kenangan pemakluman dogma Maria Dikandung Tanpa Noda.”[1]

Lalu ia menjelaskan mengenai asal mula Tarekat Misionaris Hati Kudus, yang tidak lepas dari : – novena kepada Maria tanpa noda, yang dibuka pada 30 Nopember dan berakhir pada 8 Desember 1854; – cara doa-doa mereka dikabulkan melalui tanda yang diterima pada hari kesembilan;[2] – keadaan yang mendorong mereka untuk mengadakan novena kedua kepada Bunda Kita, dari 28 Januari (pesta Hati Maria tanpa noda) sampai dengan 6 Pebruari; – dan bagaimana doa-doa mereka dikabulkan lagi.[3] Namun nyatanya tanda kedua ini tidak cukup untuk meyakinkan para anggota Dewan dari Uskup Agung Dupont mengenai kelayakan pembentukan Tarekat yang diusulkan: “Proyek itu ditolak secara aklamasi.”[4]

“Rekanku yang terkasih, kata Pemimpin Seminari Tinggi Bourges kepada Pater Chevalier, “lupakan saja gagasan itu karena sudah menemui ajal sejak awal……” Tetapi Pater Chevalier menanggapi: “Jangan secepat itu, Pater Pemimpin! Perawan Terberkati belum memberikan kata terakhirnya; kami akan terus berdoa kepadanya.” “Baiklah, memang anda harus berdoa dan bilamana doa itu dikabulkan, dia akan mengerjakan suatu mukjizat besar.”[5]

Maka Pater Chevalier dan Maugenest berdoa lagi kepada Bunda Kita, meskipun hal ini bukan dalam bentuk novena. “Mukjizat besar” dikerjakannya! Kali ini tanda yang diterima bukanlah perubahan pikiran dari para anggota Dewan Uskup, tetapi perubahan prosedur dari pihak Uskup Agung, Kardinal Dupont. Meskipun beliau tidak biasa bertindak berlawanan dengan nasehat dewannya, kali ini ia membuat pengecualian dan memberi otorisasi kepada kedua imam pembantu paroki Issoudun untuk membentuk suatu Tarekat.

Bagi Pendiri bantuan yang diterima dari Bunda Kita selama masa genting kehidupannya merupakan suatu pengalaman mendalam. Baginya hal itu merupakan bukti bahwa pembentukan Tarekat Misionaris Hati Kudus merupakan kehendak Allah, dan bahwa Bunda Kita menyertai dia dalam proyek ini. Kenyataannya, dalam suatu versi “Kontrak antara Maria dan kedua imam Hati Kudus”, pasal III, kedua pendiri berjanji :

“Sebagai tanda terima kasih kepada Maria, mereka akan memandang dia sebagai Pendiri dan Pemegang Kedaulatan mereka. Mereka akan menyatukan diri dengannya dalam segala karya serta berupaya agar dia dicintai secara khusus.”[6]

Perasaan-perasaan syukur serta janji sedemikian memenuhi pikiran dan hati mereka sehingga tepat pada hari peresmian sebagai Misionaris Hati Kudus, 12 September 1855, pesta Nama Suci Maria, mereka tidak hanya merenungkan makna nama mereka, tetapi juga mulai memikirkan Maria sebagai Bunda Hati Kudus.[7] Bukankah Bunda Kita adalah juga seorang Misionaris Hati Kudus? Bukankah dia menyertai mereka dalam usaha ini?

Selama bertahun-tahun Pater Chevalier merenungkan hal ini dalam keheningan, tetapi nampaknya ia baru berbagi pikiran dengan rekan-rekan sejawatnya ketika ia sudah harus mewujudkannya. Percakapannya “di bawah pohon limau” telah menjadi bagian dari “saga pembentukan” Tarekat MSC.

Pada musim semi tahun 1859 dimulai bagian pertama pembangunan gereja baru. Gedung ini terdiri dari panti imam dengan lengkungnya, tiga jajar pertama ruang tengah dan bagian-bagian untuk bangku-bangku samping. Dengan fasilitas-fasilitas ini kami dimungkinkan untuk melanjutkan latihan-latihan religius kami di kapel sementara itu. Juga pada waktu ini kami tidak merasa pasti entah kami akan memperoleh dana cukup untuk menyelesaikan bagian pertama. Rupanya tidaklah bijaksana untuk mengerjakan seluruh rencana ini.

Dengan mudah anda dapat mengerti bahwa selama pembangunan bagian pertama ini pikiran para Misionaris terus menerus dipenuhi dengan usaha penting ini, demikian juga hati mereka. Mereka pun sering berbicara mengenai usaha tersebut.

Pada tahun 1859 kami biasanya melewatkan rekreasi sore kami sambil duduk di bawah naungan pohon-pohon limau, karena matahari sangat panas. Pada suatu waktu beberapa konfrater hadir, baik dari komunitas kami maupun dari paroki-paroki tetangga.[8] Seperti biasanya, kami membicarakan soal pembangunan gereja – hanya bercakap-cakap santai tanpa banyak berkonsentrasi pada pokok itu.

Tiba-tiba Pater Chevalier, yang rupanya sedang penuh dengan gagasan, bertanya kepada kami: “Nama apa yang akan kita berikan pada kapel Bunda Kita yang berada di dalam gereja kita?”

Kami menjawab sesuai daya tarik dan devosi kami masing-masing. Yang satu berkata: Hati Maria tanpa noda, atau Bunda Kemenangan. Yang lain: Bunda Kita, Bunda Kerahiman, dan yang lain lagi: Bunda Rosario.

“Tidak, tidak,” kata Pater Chevalier. “Kita akan menyebutnya Bunda Hati Kudus. Demikian gelar tercinta ini diucapkan untuk pertama kali dan mereka heran mendengarnya. “Hal itu akan berarti, “ kata Pater Piperon, “permohonan diajukan kepada Bunda Kita di Gereja Hati Kudus.”

“Bukan itu, rekanku terkasih,” kata Pater Chevalier dengan segera. “Gelar ini, ‘Bunda Hati Kudus’, memiliki suatu makna mendalam. Itu berarti bahwa karena keibuannya yang ilahi, Maria mempunyai pengaruh besar terhadap Hati Yesus dan melalui dia kita harus datang ke Hati ilahi ini.”

“Ini adalah sesuatu yang baru…” “Sesuatu yang baru! Tidak seperti yang anda pikirkan. Bagaimana pun juga, di dalam gereja kita akan ada suatu kapel yang dipersembahkan kepada Bunda Hati Kudus.”

“Tapi, apakah hal itu sesuai dengan teologi?” “Tentu saja,” jawab Pater Chevalier. Lalu dengan penuh keyakinan ia mulai menjelaskan alasan-alasan utama yang membenarkan pernyataannya. Pater yang mem-pertanyakan gelar itu mendesak lagi dan berusaha untuk melemahkan argumen Pater Chevalier. Lalu ia menambahkan: “Tidak ada sesuatu yang baru. Anda tahu betul bahwa anda sudah melangkah terlalu jauh. Bagi saya, hal itu nampaknya menyesatkan.”

Tentu saja kata-kata ini, yang diucapkan di tengah kehangatan diskusi, keras namun tidak banyak berpengaruh. Rekreasi mereka berakhir, lalu mereka berpisah.

Bagaimana pun juga, seorang konfrater dari Pater Chevalier menghabiskan sebagian sore hari itu menuliskan pada lengkung atas sekeliling patung Maria tanpa noda, di bawah pohon-pohon tempat mereka berdiskusi, seruan ini: “Bunda Hati Kudus, doakanlah kami.”

Sejak itu gelar baru tersebut menjadi pokok percakapan penting dalam komunitas:

Pada hari itu, setelah makan malan, dua Misionaris (Maugenest tidak hadir) melanjutkan diskusi tentang keabsahan gelar Bunda Hati Kudus. Setiap hari, hampir sepanjang bulan, masing-masing menyodorkan argumen-argumen baru untuk mendukung pendapat masing-masing. Hasil diskusi panjang ini diringkaskan dalam beberapa halaman, yang kemudian menjadi brosur kecil pertama mengenai devosi kepada Bunda Hati Kudus.[9]

Namun gelar itu baru mulai dikenal di luar komunitas ketika bagian pertama dari gereja Hati Kudus diberkati pada 7 Juni 1861, karena pada hari itu jendela Bunda Hati Kudus dipasang di kapel Bunda Kita. Pater pendiri memberi penjelasan tentang gambar itu sebagai berikut:

Saatnya telah tiba untuk memenuhi janji kita secara resmi dan memperkenalkan secara publik gelar yang telah diberikan kepada Maria, Bunda Hati Kudus. Kembali pada 1856, kita telah menulis gelar itu pada alas patung yang merepresentasikan Maria tanpa noda. Setiap hari kita menghormati patung ini, yang berdiri di taman kita di bawah naungan pohon-pohon limau. Kita tidak dapat menyembunyikan lagi harta berharga ini. Suatu pertanyaan muncul mengenai pemilihan tema untuk jendela kaca berwarna yang akan menghiasi tempat suci Bunda Kita. Bentuk apakah yang seharusnya diberikan? Apakah yang akan menjadi ciri-ciri yang menonjol? Barangkali kita perlu menonjolkan kehendak baik dari Yesus terhadap Ibu-Nya dan pengaruh sang Ibu terhadap Hati Puteranya.

Oleh karena itu, kita terikat pada gagasan merepresentasikan Perawan Terberkati, yang berdiri sambil menghancurkan kepala ular yang terkutuk dengan kakinya; mengulurkan tangannya kepada umat beriman, dan mengundang mereka untuk datang menimba dari dia segala rahmat yang dibutuhkan. Di hadapannya berdiri Kanak-Kanak Yesus berumur dua belas tahun. Dengan satu tangan ia menunjuk ke arah Hati-Nya, dan dengan tangan lain Ia menunjuk kepada Ibu-Nya, agar kita memahami bahwa kepa-danyalah kita harus pergi bilamana kita ingin memperoleh segala rahmat, karena dialah sumber-nya.[10]

Representasi: Penggambaran tentang BHK

Dalam buku oleh Pater Piperon diuraikan sebagai berikut:[11]

Dalam merancang jendela Bunda Hati Kudus, Pater Chevalier yang terhormat berusaha mengungkapkan secara menyentuh kuasa mengagumkan dari Maria terhadap Hati Yesus. Untuk maksud itu, ia meminta seorang seniman untuk melukiskan Maria tanpa noda dengan tangan terulur dan mata yang me-mandang ke bawah pada Yesus. Hal itu berarti juga bahwa ia memandang kepada anak-anaknya, kaum beriman. Dialah Bunda Kita yang dikandung tanpa noda, sebagaimana ia menampakkan diri kepada Suster Katarina Labouré, pengikut Santo Vinsensius de Paul.

Dalam pikiran Pater yang terhormat, gambar ini merupakan juga suatu persembahan tanda terima kasih kepada Perawan tanpa noda, yang telah begitu bermurah hati mengabulkan doa-doanya yang tekun pada 8 Desember 1854.

Kanak-kanak Yesus berusia dua belas tahun akan berdiri di depannya, dengan satu tangan menunjuk ke Hati-Nya, dan tangan lain kepada Ibu-Nya, seakan-akan hendak mengatakan kepada semua orang: “Bilamana anda menginginkan rahmat – Hatiku adalah sumbernya – maka datanglah kepada Ibu-Ku. Dia adalah bendahari yang dapat membagikan sekehendak hatinya segala kekayaan yang terkandung di dalamnya.”

Kanak-kanak Yesus direpresentasikan berusia dua belas tahun, seturut Penginjil Santo Lukas, yang, setelah melaporkan bahwa Yesus ditemukan oleh Maria dan Yosef di tengah kaum terpelajar, menam-bahkan: “Ia pulang bersama mereka ke Nazaret, dan ia tetap hidup dalam asuhan mereka.” Gambar ini dibuat untuk mengungkapkan kuasa pengantaraan Maria terhadap Hati Yesus.

Asal mula dari devosi kepada Bunda Hati Kudus terkait erat dengan pembangunan gereja Hati Kudus di Issoudun. Kita telah melihat di atas bagaimana lukisan pada jendela atas altar Bunda Kita di dalam gereja tersebut menjadi bahan percakapan di bawah empat pohon limau. Sekarang kita harus menelusuri pengaruh jendela itu, yang melukiskan gambar pertama Bunda Hati Kudus, dalam pengembangan devosi tersebut dan dalam penyelesaian gedung gereja Hati Kudus. Cara gereja itu muncul merupakan gambaran cara Tarekat muncul, yakni melalui kehadiran penuh kuasa dari Bunda Hati Kudus. Asal mula keduanya mengibaratkan kehadiran Maria di Kalvari, di mana Gereja dibentuk dari lambung Yesus yang tertikam.

Ada tiga representasi:

1. Patung besar di Kapel Bunda Hati Kudus, dengan Yesus yang berdiri di depan Maria.

2. Patung di gua (crypt), yakni yang lebih dikenal: Kanak-Kanak Yesus di pangkuan Maria.

3. Kalvari di basilik: Yesus di salib dan Maria di kaki Kalvari.

I. REPRESENTASI PERTAMA: DISARANKAN OLEH PATER CHEVALIER

Yang pertama-tama adalah kaca jendela berwarna, lalu muncul patung marmer besar di kapel. Ada dua pribadi, yakni Maria dan Yesus:

§ Bunda Hati Kudus tidak pernah direpresentasikan sendirian, seperti misalnya Maria yang dikandung tanpa noda atau Maria dari Lourdes, dsb.

§ Praktek kesalehan kristen telah sering merepresentasikan Perawan Maria sendirian atau Maria dengan seorang anak di pangkuannya.

Dua tokoh yang direpresentasikana adalah YESUS dan MARIA.

1. Pater Chevalier mempunyai devosi besar kepada Maria:

o sebagai seorang anak ia dipersembahkan kepada Maria (lihat Richelieu, Bunda Keajaiban)

o kemudian, devosi ini berlanjut. Pada 1830, ketika Chevalier berumur 6 tahun, Maria menampakkan diri kepada Katarina Labouré di Paris. Maka, ada gerakan devosi Maria yang besar di Perancis sambil menyebarkan medali kramat. Jutaan medali ini disebarkan.

o di seminari Jules Chevalier mempelajari spiritualitas yang disebut sekolah Perancis, yang dicirikhaskan oleh devosi besar dari Yohanes Eudes dan Olier.

2. Pater Chevalier mempunyai devosi besar kepada Yesus (sekolah spiritualitas Perancis):

¾ Yesus di hadapan mata, di dalam hati, di tangan.

¾ Penemuan Hati Kristus, pusat segala sesuatu; pengalaman pribadi.

¾ Hati Kudus adalah pusat segala sesuatu.

¾ Maria dilihat dalam relasi dengan pusat ini: suatu anugerah Hati Yesus yang menghantar ke Hati Yesus, dan seterusnya.

¾ Melalui intuisi rohani ia membuat sintese dua devosi ini: BUNDA HATI KUDUS.

II. REPRESENTASI KEDUA: YESUS DI PANGKUAN MARIA – SEKITAR 1875

Mengapa ada perubahan seperti dituntut oleh Roma?

  1. Roma tidak menyukai jenis patung Perancis.
  2. Beberapa contoh dianggap tidak baik: anak terlalu kecil dan di kaki IbuNya.
  3. Bahasa kadang-kadang berarti ganda: Maria menjadi penguasa (sovereign), Ratu Hati Yesus.

Di Roma sudah dibuat sebuah patung, yakni Yesus sebagai seorang anak, dengan hatiNya yang kelihatan jelas, sambil memegang kedua tanganNya mengarah kepada kita. Pater Chevalier menolak patung ini. Ia menerima Yesus dalam tangan IbuNya, dan apa yang diiginkannya adalah patung dengan isyarat berikut:

o Yesus yang sedang menunjuk ke hatiNya

o dan menunjuk kepada Ibu-Nya

o dan Maria menunjuk ke Hati Yesus.

III. REPRESENTASI KETIGA: MARIA DI BAWAH SALIB – KALVARI DI BASILIK, 1964

<!–[if supportFields]> SHAPE \* MERGEFORMAT <![endif]–><!–[if supportFields]><![endif]–>Sesudah Konsili Vatikan II, ada perasaan alergi mengenai Hati Kudus. Hal ini dirasakan berkaitan dengan patung-patung dan juga bahasa.

Dirasakan kebutuhan untuk kembali ke sumber devosi atau spiritualitas hati:

§ Yesus di salib

§ Yesus wafat

§ dengan lambungNya yang tertikam dengan tombak dan mengalirkan darah dan air (Yoh 19)

§ “Mereka akan memandang kepada Dia yang telah mereka tikam” (Zak 12:10). Zakaria melanjutkan: “Pada waktu itu akan terbuka suatu sumber bagi keluarga David dan bagi penduduk Yerusalem untuk membasuh dosa dan kecemaran.” (Zak 13:1). Hal itu mengingatkan kita akan teks-teks lain seperti Yeheskiel 35:25 (perecikan air suci), Yeh 36:26 (janji tentang hati yang baru), Yeh 46 (sumber di sisi kanan Bait Allah), Yoh 2:19 (Yesus memaklumkan diriNya ketika ia berada di Bait Allah).

Maria di kaki salib bersama dengan Yohanes:

– ia memandang; – ia berkontemplasi; – ia mengerti (dan membantu Yohanes mengerti)

Marilah kita melihat Kalvari di dalam basilik:

« Maria sedang berkontemplasi

« ia sedang mengundang kita untuk berkontemplasi bersama dia

« ia sedang menyambut sumber itu, baginya dan bagi kita

« ia sedang mengundang kita untuk berbuat seperti dia, untuk berada bersama dia bagi orang-orang lain.

Maria di bawah salib sangat disukai oleh Pater Chevalier, karena di tempat inilah ia menjadi Ibu kita.

Perkembangan Pesat

Devosi Bunda Hati Kudus berkembang pesat atas jasa Asosiasi Doa, Konfraternitas Bunda Hati Kudus dan Konfraternitas Agung Bunda Hati Kudus serta majalah Annales. Tercatat dalam angka sebagai berikut:

Desember 1864 100.000 anggota

Desember 1865 200.000 anggota

September 1866 600.000 anggota

Desember 1867 1.500.000 anggota

Juni 1868 2.000.000 anggota

1.719.906 ujud doa; 17.300 surat ucapan terima kasih. Dalam Annales dari Issoudun 1882 disebutkan jumlah 14.690.000 anggota; dan dalam Annales 1891 disebutkan lebih dari 18 juta anggota.

Pemahkotaan Patung Bunda Hati Kudus

Pesta pemahkotaan ditetapkan oleh Uskup Agung Bourges pada 8 September1869, merupakan hari yang sangat mulia. Pater Chevalier adalah seorang penyelenggara yang hebat, dan kali ini ia melampaui diri sendiri. Ia menerima kerja sama yang luar biasa: cuaca bagus, 13 Uskup Agung dan Uskup, seorang rahib Trapis, seorang protonotaris apostolik, lebih dari 700 imam dan ribuan peziarah dari pelbagai wilayah berpartisipasi dalam perayaan tersebut. Warga Issoudun menjadi sangat antusiastik: mereka menghiasi seluruh kota, sangat kooperatif menyambut para tamu, dan juga para pejabat sipil ikut ambil bagian.

Pada pkl 07.00 Uskup Agung Bourges menahbiskan altar di kapel Bunda Hati Kudus, sedangkan Uskup Autun menahbiskan altar utama Gereja Hati Kudus. Pada pkl 10.00 Uskup Poitiers mempersembahkan misa mulia di alam terbuka untuk umat yang berjumlah sangat besar, sedangkan Misa Agung dipersembahkan di Gereja Hati Kudus oleh Uskup Agung Sens. Dalam perayaan Misa inilah Mgr Pie, Uskkup Poitiers menyampaikan khotbahnya yang bagus, yang direkam dalam Annales 1869. Pada pkl 14.00 Uskup Tulle memberikan konferensi tentang Bunda Hati Kudus, yang dilanjutkan dengan prosesi agung. Sebagai perbandingan dengan zaman kita cobalah baca tulisan-tulisan di Annales 1869 dan 1870 tentang banyaknya bendera yang dibawa dalam prosesi; nampaknya hal ini sangatlah penting. Setiap kelompok umat punya tempatnya dalam prosesi: setiap sekolah, organisasi, sedangkan band-band berpawai di antara mereka. Dua mahkota, yang akan digunakan dalam perayaan itu, dibawa dalam prosesi. Ketika prosesi kembali ke “Place du Sacré-Cœur” pada pkl 18.00 patung yang digunakan dalam prosesi ditempatkan di atas altar di alam terbuka. Para Uskup berbaris pada anak-anak tangga di depan altar, dan setelah menyanyikan “Ave Maris Stella” mereka memberikan berkat.

Pemahkotaan patung Bunda Hati Kudus atas nama Paus terjadi delapan kali: di Issoudun (1869), Sittard (1873), Innsbruck (1874), Averbode, Belgi (21 Agustus 1910), Barcelona, Spanyol (5 Desember 1943), Mexico-City (26 September 1948), São Paulo, Brasil (8 Desember 1954), Roma (12 Desember 1954) di gereja-gereja atau basilika-basilika.

Pusat-Pusat Pertama Devosi BHK

Pusat-pusat pertama dan terpenting dari devosi ini di luar Perancis, di mana Konfraternitas secara resmi dibentuk oleh Uskup setempat. Kalau kita mengurutkan secara kronologis pusat-pusat tersebut kita mendapatkan daftar berikut ini:


ISSOUDUN, Perancis: 6 April 1864

Sittard, Belanda, 23 Januari 1867

Osimo, Itali: 8 September 1870

Tarragona, Spanyol: 31 Mei 1871

Innsbruck, Austria: 6 Januari 1872

Roma, Itali: 8 Desember 1872

Averbode, Belgi: 23 Maret 1877


Doa Memorare

Karena doa ‘Ingatlah, ya Bunda Hati Kudus….’ secara erat terkait dengan karangan Pater Chevalier pada 1862-1863, baik waktu maupun isinya, kiranya pada tempatnya sekarang untuk berbicara sedikit mengenai asal, bentuk dan isinya. Karena Pater Bertolini telah mengadakan penelitian sangat mendalam tentang hal ini, kita sekarang mengetahui penyusun doa ini, bahkan tanggal persis penulisannya.[12]

Karena Pater Jouet menulis novena Bunda Hati Kudus berdasarkan Memorare (Ingatlah),[13] beberapa orang berpendapat bahwa dialah penyusun doa itu. Namun, hal itu tidak mungkin, karena Pater Jouet tiba di Issoudun untuk pertama kali pada Desember 1864. Hanya pada waktu itulah ia mulai mengenal Bunda Hati Kudus. Tetapi Pater Chevalier menerbitkan Memorare beserta Statuta Asosiasi Bunda Hati Kudus, yang disetujui oleh Uskup Agung Bourges pada 29 Januari 1864. Kemudian kita akan melihat bahwa Pater Jouet memainkan peranan penting dalam pembetulan beberapa ungkapan doa ini, pada 1883, tetapi ia tidak berperanan dalam merancang versi pertamanya.

Calon penting lain untuk dipertimbangkan di sini adalah Pater Chevalier, karena dialah orang pertama yang menerbitkan Memorare, dan doa itu merefleksikan substansi karangannya pada 1862-1863. Kenyataannya, atas beberapa cara Pater Chevalier bertanggung jawab atas doa ini, tetapi sekarang kita tahu bahwa pada 8 Desember 1863 ia menerima suatu versi doa itu dari seorang lain yang telah membaca karangannya dan tersentuh olehnya.

Pada 29 Januari 1864 Statuta Asosiasi itu disetujui dan Pater Chevalier menerbitkan versi pertama Memorare seperti yang kita kenal. Versi kedua kemudian menyusul. Akan diberikan di sini versi pertama dan kedua:

1864 : Ingatlah, ya Bunda Hati Kudus, akan kuasa tak terbatas yang telah dianugerahkan kepadamu oleh Puteramu ilahi atas Hati-Nya yang patut disembah. Penuh kepercayaan akan jasa-jasamu, saya sekarang memohon perlindunganmu. Oh Ratu mulia Hati Yesus, Hati sumber segala rahmat yang tak habis-habisnya dan yang dapat kau bukakan sesuka hatimu, untuk membagikan kepada manusia harta kekayaan cintakasih dan kerahiman, terang dan keselamatan, yang terkandung di dalamnya. Saya mohon kepadamu, kabulkanlah permohonanku…. Tidak! Saya tidak akan kau tolak; dan karena engkaulah Bundaku, Bunda Hati Kudus, berkenanlah mendengarkan dan mengabulkan doaku. Amen.

1868 : Ingatlah, ya Bunda Hati Kudus, akan kuasa tak terbatas yang telah dianugerahkan kepadamu oleh Puteramu ilahi atas Hati-Nya yang patut disembah. Penuh kepercayaan akan jasa-jasamu, kami sekarang memohon perlindunganmu. Oh Ratu mulia Hati Yesus, Hati sumber segala rahmat yang tak habis-habisnya dan yang dapat kau bukakan sesuka hatimu, untuk membagikan kepada manusia harta kekayaan cintakasih dan kerahiman, kehidupan dan keselamatan, yang terkandung di dalamnya. Kami mohon kepadamu, kabulkanlah permohonan kami. Tidak! Kami tidak akan kau tolak; dan karena engkaulah Bunda kami, Bunda Hati Kudus, berkenanlah mendengarkan dan mengabulkan doa-doa kami. Amin.

Dalam Pouvoir, 5e éd. (1868) Pater Piperon masih memiliki versi 1864, sedangkan Pater Chevalier memiliki versi baru dalam edisi baru bukunya Notre-Dame du Sacré-Coeur (1868). Maka sementara itu perubahan telah dibuat. Versi 1864 berbentuk tunggal. Versi 1868 adalah doa kelompok, cocok bagi Asosiasi Bunda Hati Kudus. Supaya empat versi ditempatkan bersama-sama, maka akan disampaikan juga versi 1883 dan 1968.

1883 : Ingatlah, ya Bunda Hati Kudus, atas kuasa tak terkira yang telah dianugerahkan kepadamu oleh Putera ilahimu atas hati-Nya yang patut disembah. Penuh kepercayaan akan jasa-jasamu, kami sekarang mohon perlindunganmu. Oh bendahari surgawi hati Yesus, hati sumber segala rahmat yang tak habis-habisnya, dan yang dapat kau bukakan sesuka hatimu, untuk membagikan kepada kami semua harta kekayaan cintakasih dan kera-himan, terang dan keselamatan, yang terkandung di dalamnya. Kami mohon kepadamu, kabulkanlah permohonan-permohonan kami. Tidak! Kami tidak akan kau tolak; dan karena engkaulah Bunda kami, Bunda Hati Kudus, berkenanlah mendengarkan dan mengabulkan doa-doa kami. Amin.

1968 : Ingatlah, ya Bunda Hati Kudus, akan segala keajaiban yang Tuhan kerjakan bagimu. Ia telah memilih engkau menjadi ibu-Nya. Ia menghendaki engkau berdiri dekat salib-Nya, dan menghendaki engkau mengambil bagian dalam kemuliaan-Nya. Ia mendengarkan doamu. Persembahkan kepada-Nya doa-doa pujian dan syukur kami; sampaikan kepada-Nya permohonan-permohonan kami. Semoga kami hidup seperti engkau dalam cinta Puteramu agar Kerajaan-Nya datang. Hantarlah kami ke sumber air hidup, yang mengalir dari hati-Nya dan menyebarkan ke seluruh dunia pengharapan dan keselamatan, keadilan dan perdamaian. Pandanglah kepercayaan kami kepadamu; kabulkanlah doa kami. Tunjukkanlah dirimu selalu sebagai Bunda kami. Amin.

Solemnity of Our Lady of the Sacred Heart

On the last Saturday in May

ENTRANCE ANTIPHON: Jer 31,3b-4a

I have loved you with a never-ending love;

and so, taking pity on you

I have drawn you to myself

so that you may be joy-fully heartened,

O virgin Israel.

OPENING PRAYER

O God, you have made known to us

the inexpressible riches of your love, in Christ;

you chose to unite Blessed Mary, the Virgin,

to the mystery of his heart.

Let us, we pray, also be sharers in your love,

and witnesses to it in your Church.

We ask you this through Jesus, the Christ, your Son,

who lives and reigns with You and the Holy Spirit, for ever and ever.

Amen.

FIRST READING: Is 66, 10-14c

RESPONSORIAL PSALM: Ps 45, 11-12; 14-17.

Response: Listen daughter, pay careful attention.

SECOND READING: Gal 4,4-7

ALLELUIA: Lk 11,28

But he replied, “Still happier those who hear the word of God and keep it.

GOSPEL: Jn 19,25-37

PRAYER OVER THE GIFTS

Lord, take our prayers and the gifts we bring you

out of love for Blessed Mary the Virgin.

May your acceptance of what we offer help us

to sense within ourselves, as she did,

what was also in Christ Jesus, your Son.

He lives and rules forever. Amen.

COMMUNION ANTIPHON: 1Jn 4,16b

God is love; and whoever is filled with love

is full of God; God is in him.

PRAYER AFTER COMMUNION

Celebrating the feast of Blessed Mary the Virgin,

we have drunk deep from the fountain of the Saviour.

Lord let this mystery of unity and love

inspire us always to do those things which please you,

and lovingly serve our brothers.

We ask you this through our Lord,

Jesus Christ, who lives and reigns

with You and the Holy Spirit,

for ever and ever. Amen.

(Text of the Mass of OLSH approved in 1972 by the Vatican)

Sumber utama: Jan G. Bovenmars, MSC, Our Lady of the Sacred Heart, Rome 1996.

Bahan Kursus Spiritualitas Cor Novum 1996.

P. Yan Mangkey, MSC


[1] J. Chevalier, Notre-Dame du Sacré-Coeur Mieux Connue, edisi baru, 1879, hal. 5-8; Rapports, hal. 1-6; NDS, hal. 1-5. Sesungguhnya kita dapat menelusurinya lebih jauh dan menunjuk beberapa khotbah yang ditulisnya ketika ia berada di seminari Bourges, khususnya khotbah berjudul “Belaskasih Perawan Maria yang Terberkati terhadap para pendosa”, suatu teks yang berulang kali dikutipnya dalam khotbah-khotbah selanjutnya. Pertama-tama ia berbicara mengenai Bunda Kita sebagai Pengantin Allah dan bertanya: “Sejak ia dimuliakan, hak apakah yang tidak diberikan oleh gelar mulia ini bersama dengan Tuhan? Bersama Olier ia menyimpulkan: “Maria telah menaklukkan hati Allah-nya. Lalu Chevalier merefleksikan keibuan ilahi dari Bunda Kita dan menunjuk pada kuasa yang terkandung di dalamnya, sebagaimana dimanifestasikan di Kana, dan ia menyimpulkan: “Betapa besar kuasamu, Maria, di surga, atas Hati Yesus. Menurut St. Bernardus kuasa itu tak terbatas, bukan karena kodrat tetapi karena rahmat: ‘Melalui dia Putera yang penuh kuasa telah menjadikan sang Ibu penuh kuasa pula’. Oleh karena itu, Allah berkehendak agar segala rahmat dibagikan melalui Maria. Mengapa? Karena Maria memberikan Yesus kepada kita, maka sepantasnyalah ia memberikan kita kepada Yesus.” Olier menekankan kuasa Maria atas Hati Allah, dan menurut pandangannya dasar dari kuasa ini adalah relasi antara Maria sebagai Pengantin dengan Bapa. Pater Chevalier sudah terbiasa dengan pandangan ini, namun dalam karya-karya berikutnya ia menekankan kuasa Maria atas Hati Yesus dan pertama-tama menunjuk pada keibuan ilahi dari Maria sebagai dasar kuasa ini.

[2] Tanda yang diterima pada 8 Desember 1854 sering kali dijelaskan secara keliru. Pater Chevalier dan Maugenest tidak menerima uang apa pun pada hari itu, dan juga tidak menerima surat apa pun. Mereka semata-mata diberitahu oleh anggota paroki bernama Auguste Petit, atas nama tuan Philippe de Bengy, bahwa seorang dermawan, yang tidak mau menyebut namanya, sedang menyediakan dua puluh ribu frank yang diperuntukkan bagi suatu karya yang baik di Berry. Berdasarkan pernyataan adanya bantuan keuangan inilah kedua imam tersebut mengakui pengabulan doa-doa mereka oleh Perawan tanpa noda. Sebenarnya, baru beberapa bulan kemudian seorang yang tak mau disebut namanya, yakni tuan Ferdinand de Champgrand, bersedia mengeluarkan uang yang dibutuhkan untuk proyek khusus ini; ia mempunyai gagasannya sendiri. Lihat ‘Surat-Surat dari de Champgrand’ dalam J. Chevalier, Personal Notes, Appendix n. III, hal 122-132, yang diterbitkan oleh J. Bertolini.

[3] Pengabulan novena kedua adalah tawaran bantuan tahunan sebesar seribu frank oleh nyonya du Quesne.

[4] J. Chevalier, Personal Notes, hal. 23.

[5] Ibid.

[6] J. Chevalier, The Annals of the Little Society, hal. 4, pasal III. Versi lain dari Kontrak ini ditemukan dalam dokumen kecil yang berharga, tulisan Pater Chevalier, 1855-56, dan diterbitkan oleh J. Bertolini sebagai Appendix 1 dalam J. Chevalier, Personal Notes, hal. 106-110. Juga dalam versi yang lebih tua ini, yang ditulis hanya setahun setelah perjanjian dengan Bunda Kita dibuat, kedua pendiri itu berjanji bahwa mereka akan berusaha sejauh mungkin untuk mempromosikan devosi kepada Bunda Kita, terutama devosi kepada Hatinya yang tanpa noda. Dalam versi ini setiap pasal, II-VIII, berbicara mengenai Bunda Kita, dan bahkan dua pasal terakhir secara eksklusif mengenai dia. Karena dokumen tua ini mengungkapkan dengan baik spiritualitas kedua pendiri, terutama menyangkut Hati Maria tanpa noda, kami menurunkan teks versi lebih tua sebagai Lampiran 1. Pada tahap ini kedua pendiri secara jelas mewarisi spiritualitas St. Sulpisius, St. Yohanes Eudes dan Olier, yang berpusat pada Hati Yesus dan Hati Maria tanpa noda.Kedua devosi ini berjalan berdampingan; Bunda Kita belum dilihat dalam cahaya Hati Yesus.

[7] J. Chevalier, Le Sacré-Coeur de Jésus dans ses rapports avec Marie, 1884, hal. 5: “Seturut kerinduan mereka untuk menunjukkan cinta dan rasa syukur mereka kepada Maria, pada hari itu juga, dalam pikiran mereka, mereka memberi dia nama ‘Bunda Hati Kudus’.”

[8] Di sini Pater Piperon sendiri menambahkan catatan ini: “Tidak mungkin menentukan baik bulan maupun hari saat percakapan ini berlangsung. Tidak ada catatan mengenai hal itu. Sejauh kita dapat mengandalkan memoir-memoir yang ada, percakapan itu pasti terjadi menjelang akhir Mei atau permulaan Juni.

[9] Piperon, Writings, hal. 52.

[10] Chevalier, Histoire d’Issoudun, hal. 368f.

[11] Piperon, Writings, hal. 54-55.

[12] Jean Bertolini MSC, Surat tgl 20-23 April 1964 kepada G. Delbos MSC. Ms, 17 halaman. GAmsc. Id., “Souvenez-vous à ND du SC: Origine.” MSC salinan kasar, 6 Juni 1964, 5 hal. GAmsc.

[13] V. Jouet, rasul agung Bunda Hati Kudus, akan diperkenalkan secara resmi dalam bab kedua. Ia menerbitkan novenanya pertama-tama dalam Annals of Issoudun, 1867, hal. 81-82. Novena itu sudah banyak kali dicetak dan diterjemahkan.

Tinggalkan komentar

Filed under Spiritualitas

REKOMENDASI PERTEMUAN KOMISI HUBUNGAN ANTARAGAMA DAN KEPERCAYAAN (HAK) REGIO JAWA

Di Wisma Nasaret, Semarang, 17-19 Februari 2009

Kami: Peserta Pertemuan Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan (KOM HAK) Regio Jawa (di Wisma Nasaret, Semarang, 17-19 Februari 2009) dengan tema “Kaderisasi Dialog Antaragama dan Kepercayaan serta Pendidikan Politik Orang Muda Katolik Menjelang Pemilu 2009” menanggapi secara positif ajakan Konsili Vatikan II dalam *Nostra Aetate* bahwa Gereja mendorong putera-puterinya untuk membangun dialog dan kerja sama dengan agama-agama dan kepercayaan sambil memberikan kesaksian iman akan Tuhan Yesus Kristus sebagai jalan, kebenaran dan hidup (NA 2, Bdk. Mat 5:44; 22:37-38). Ajakan tersebut membuat kami menyadari bahwa dialog antaragama dan kepercayaan bukan lagi suatu pilihan, melainkan sebuah keniscayaan, yang mau tidak mau harus dilaksanakan. Kami juga menyadari bahwa proses dialog antaragama dan kepercayaan erat terkait dengan dinamika kehidupan sosial-politik bermasyarakat dan berbangsa.

Maka, dalam konteks hidup bermasyarakat dan berbangsa, khususnya sebagai warga negara dan masyarakat Indonesia yang akan memilih para pemimpin dan wakil rakyat sekaligus pelayan masyarakat melalui Pemilu 2009, kami merekomendasikan pokok-pokok strategis sebagai berikut.

*Pertama,* tindakan cinta kasih diwujudkan oleh umat Katolik secara nyata melalui keterlibatan dalam pendidikan politik dan pemantauan (monitoring) Pemilu 2009. Hal ini merupakan tugas perutusan yang tidak terbantahkan bagi
umat Katolik, baik orangtua maupun orang muda, untuk terlibat aktif dan cerdas dalam merajut dialog antaragama dan kepercayaan serta membangun ruang publik yang beradab.

*Kedua,* adalah panggilan umat Katolik, baik orangtua maupun orang muda,
untuk mewujudkan iman melalui dialog antaragama dan kepercayaan serta terlibat dalam proses dan dinamika politik di Indonesia.

*Ketiga,* mendorong perlunya kerja sama antara Komisi HAK, Kepemudaan, dan Kerawam, untuk melibatkan orang muda Katolik secara pro-aktif dalam kaderisasi dialog antaragama dan kepercayaan serta pendidikan politik.

Oleh karenanya, perlulah ditempuh langkah-langkah strategis untuk membangun dialog antaragama dan kepercayaan serta membangun ruang publik yang beradab melalui proses politik, khususnya Pemilu 2009, sebagai berikut:

*Pertama,* perlunya ditingkatkan kerjasama lintaskomisi dan keuskupan untuk melaksanakan kaderisasi dialog antaragama dan kepercayaan untuk orang muda Katolik dan umat Katolik pada umumnya.

*Kedua,* perlunya kerjasama lintaskomisi dan keuskupan dalam mempersiapkan diri menyambut Pemilu 2009 baik di tingkat paroki, kevikepan, dekenat dan keuskupan maupun antarkeuskupan.

*Ketiga,* mendorong umat Katolik, khususnya orang muda, untuk mengawal dan memantau (monitoring) pelaksanaan Pemilu 2009 melalui proses pencerahan dan pendampingan umat untuk menggunakan hak pilih mereka secara tepat, benar dan proporsional dengan cara (1) menganalisa aturan dan sistem Pemilu 2009 [memahami dapil, bilangan pembagi, jumlah pemilih, jumlah kursi, dan peluang serta *track record* para caleg] dan konsekuensi logisnya bagi keutuhan NKRI, (2) sosialisasi hasil analisa tersebut kepada seluruh umat, dan (3) membantu umat untuk sadar politik dengan menerangkan berbagai hal yang positif terkait dengan pelaksanaan dan pemantauan Pemilu 2009.

Demikianlah rekomendasi ini kami buat, agar semakin banyak umat tercerahkan dalam merajut dialog antaragama dan kepercayaan serta membangun ruang publik yang beradab melalui Pemilu 2009.

Semarang, 19 Februari 2009

PESERTA PERTEMUAN KOMISI HAK REGIO JAWA

Di Wisma Nasaret, Semarang, 17-19 Februari 2009

From: Lukas A. Tristanto

Tinggalkan komentar

Filed under DOKUMEN ASG