Monthly Archives: Maret 2009

Aneka Gambar Bunda Hati Kudus

Bunda Hati Kudus

Bunda Hati Kudus

Patung Bunda Hati Kudus Asli

Patung Bunda Hati Kudus Asli

Bunda Hati Kudus yang berdiri di bawah kaki salib Puteranya

Bunda Hati Kudus yang berdiri di bawah kaki salib Puteranya

Bunda Hati Kudus versi wanita Jawa

Bunda Hati Kudus versi wanita Jawa

im_a0067

Maria Bunda Hati Kudus dari Perancis

Maria Bunda Hati Kudus dari Perancis

Bunda Hati Kudus

Bunda Hati Kudus

Iklan

3 Komentar

Filed under Religius

Refleksi Paskah 2009

“God didn’t promise days without pain, laughter without sorrow, sun without rain, but He did promise strength for the day, comfort for tears, and light for the way. Words which do not give the light of Christ increase the darkness.”  (Mother Teresa of Calcutta)

KESAKSIAN KEBANGKITAN

C A H A Y A

Tuhan... jadikalah aku pembawa terangMu!

Tuhan... jadikalah aku pembawa terangMu!

Semalam listrik padam. Ditemani sebatang lilin, angan saya langsung tiba ke kisah seorang baginda raja dan dua putranya. Ketika baginda raja telah berangkat tua, ia mengalami kesulitan, siapa di antara kedua putranya yang akan menjadi putra mahkota. Akhirnya ia mendapat akal. Kepada kedua putranya ia berkata, ”Siapa di antara kamu berdua yang sanggup memenuhi ruangan besar ini sampai malam tiba, dialah yang akan menggantikan aku”.

Keduanya segera meninggalkan istana. Si sulung langsung membeli apa saja yang ditemuinya di jalan, lalu membawa semuanya pulang. Bangsal besar pun segera penuh sesak. ”Ayah, jadikan aku penggantimu. Lihat, ruangan ini sudah penuh oleh hasil bawaanku.” Jawab sang raja, ”Sabarlah, kita harus menunggu adikmu, apalagi batas waktunya malam, dan ini belum juga malam.”

Ketika si adik pulang, ia tak membawa apa-apa. Tetapi ia memerintahkan pelayan menyingkirkan semua bawaan kakaknya. Lalu, di tengah ruangan besar yang kosong itu, ia menyalakan lilin. Nyala lilin semakin terang dan memenuhi ruangan ketika hari semakin gelap. Kepada ayahnya, ia berkata, ”Ayah, kuharap lilin kecil ini telah menjalankan tugasnya, yaitu memenuhi seluruh ruangan dengan cahaya dan kehangatannya.” Siapa yang menjadi putra mahkota tentu kita bisa menduga.

Terang atau cahaya atau apa pun namanya, baru benar-benar kita rasakan manfaatnya bila terang tak ada dan kita termangu dalam gelap. Bayangkan saja bila matahari sehari saja ”mogok” dan tidak terbit. Apa jadinya hidup kita tanpa cahaya? Frans Brentano (1838-1917), filsuf yang banyak memukau dengan jenis teka-teki bermutu pengasah otak, memberikan sebuah teka-teki sebagai berikut: ”Terangnya tak tertandingi, lajunya tak tersaingi burung di udara, mampu menembus mengalahkan anak panah, pintu dan jendela dia terobos tanpa paksa, tak terduga, mendadak ia ada di mana-mana, apakah itu, coba terka!” Itulah cahaya, jawab Brentano.

Semalam, ketika hanya ditemani sebatang lilin, saya semakin paham apa maksud Yesus, Tuhan kita, dengan berkata bahwa kita pengikut-Nya harus menjadi terang, menjadi cahaya bagi dunia, paling kurang bagi lingkungan dan sekitar kita sendiri.

(Dari ”Cerita Kecil Saja”, Stephie Kleden Beetz)

Pemberdayaan Kesejatian Hidup,

”Pemberdayaan Hubungan antarUmat Beriman”

demikian tema Aksi Puasa Pembangunan

(APP 2009)

Umat Katolik diajak untuk membuka diri kepada masyarakat dan lingkungan hidupnya yang nyata majemuk. Kita harus bersikap realistis bahwa jika kita ingin hidup berdampingan dengan tenteram dan damai, maka kita harus membuka diri dan dengan ikhlas menerima kehadiran orang lain, teristimewa yang berbeda institusi keagamaan dengan kita.

Baca dan renungkan (Yohanes 17 : 1 – 26), bagaimana Yesus berdoa untuk murid-murid-Nya dan juga untuk dunia mohon persatuan teguh.

Intinya bahwa kita iklhas menjadi ”cahaya” bagi dunia.

Paskah, memang diidentikan dengan ”cahaya, api yang bernyala menerangi.” Di malam Paskah, dalam tradisi gereja Katolik diawali dengan upacara ”cahaya”, gereja dan umat berada dalam kegelapan. Kemudian lilin Paskah yang adalah lambang cahaya Kristus yang bangkit diarak memasuki gereja dan menerangi umat dan ruangan gereja. Sambil berarak Iman berseru setengah bernyayi, ”Kristus cahaya dunia” dan umat meriah bersorak menjawab, ”Syukur kepada Allah”. Kemudian umat menyalakan lilin-lilin kecil di tangannya dengan api dari lilin Paskah.

Menjadi cahaya di tengah dunia gulita. Kita menjadi sebatang kandil mungil di dunia. Sebuah simbol agung khas paskah beruang-ulang kita kenangkan lewat upacara liturgi gereja. Tetapi, apakah kita sadar bahwa simbol itu seharusnya menjadi realitas dalam hidup beriman dan bermsyarakat? Sejauh mana kita berani bersaksi bahwa kita adalah cahaya dunia? Cahaya yang menerangi dan menyejukkan kehidupan? Ataukah kita justru menjadi ”virus” penyebar fenomena kegelapan dan kekacauan di dunia lewat kesaksian hidup semu kita?

Semoga sikap cerdik si bungsu dalam cerita awal renungan menjadi pedoman:

arif buat berlangkah dalam hidup ini.

Dan mari jauhi sikap picik sang sulung

yang memaknakan hidup ini lewat aksi penumpukan harta kekayaan serta adu gengsi yang justru menjadi penghalang masuk dan merebaknya cahaya suci.

Dan kita masing-masing boleh bertanya,

siapakah aku ini,

si bungsu ataukah si sulung?”

Selamat Berhari Raya Cahaya 2009

2 Komentar

Filed under Religius