Para Pemimpin Gereja Soroti Tantangan yang Dihadapi Guru Agama Katolik

BINTARO, Banten (UCAN) — Para pejabat Gereja mengakui bahwa guru-guru pendidikan agama Katolik di sekolah negeri menghadapi banyak tantangan, seperti kurangnya sarana untuk mengajar, kurangnya dukungan imam dan gaji rendah.

Banyak guru agama Katolik masih honorer (tidak tetap) dan gajinya lebih rendah daripada guru tetap, kata Pastor Fransiskus Xaverius Adi Susanto SJ.

Imam yang menjabat sekretaris eksekutif Komisi Kateketik Konferensi Waligereja Indonesia itu berbicara kepada UCA News setelah pertemuan 49 guru Katolik di Bintaro pada 5-8 April.

Pertemuan itu diisi dengan sharing tentang berbagai tantangan yang dihadapi guru Katolik dalam tugas mereka. BIMAS Katolik Departemen Agama mengadakan pertemuan itu dengan tema “Mari kita tingkatkan kompetensi spiritualitas guru agama se-wilayah Propinsi Banten.”

Propinsi Banten, yang mayoritas Muslim, berbatasan dengan Jakarta dan merupakan bagian dari keuskupan agung Jakarta.

Pastor Susanto mengatakan kepada UCA News bahwa meskipun BIMAS Katolik, bagian dari Departemen Agama RI yang melayani komunitas Katolik, “telah memberikan bantuan (buku) namun karena faktor tertentu, sarana pendidikan Katolik itu tidak bisa sampai ke daerah.”

Imam itu menyarankan supaya pemerintah mengangkat guru agama Katolik sebagai pegawai negeri sipil, kemudian menaikan gaji mereka, dan komisi-komisi kateketik keuskupan membantu menyediakan buku pelajaran agama Katolik.

Para guru tetap menerima gaji sekitar 1,5 juta rupiah per bulan, sedangkan guru agama Katolik honorer menerima kurang dari 1 juta rupiah.

Pelajaran pendidikan agama, yang diajarkan kepada para siswa dari berbagai agama, itu wajib di sekolah-sekolah Indonesia.

Pastor Bernardus Hardijantan Dermawan, ketua Komisi Kateketik Keuskupan Agung Jakarta, mengatakan kepada UCA News bahwa guru agama Katolik di sekolah-sekolah negeri sepertinya “ditelantarkan” dan kebanyakan pastor paroki kurang mengetahui permasalahan yang mereka hadapi.

Sekretaris Komisi Kateketik KAJ Marcus Leonhard Supama mengatakan bahwa komisinya mengadakan retret dan berbagai program pelatihan bagi guru agama Katolik. Di Banten, “kami meminta para guru agama Katolik untuk memahami situasi lokal dan menghargai para penganut agama lain,” katanya.

Supama mengakui bahwa para siswa Katolik di sekolah negeri jumlahnya sangat sedikit sehingga “sekolah-sekolah kurang memperhatikan mereka dengan baik.” Di beberapa sekolah, contohnya, para siswa Katolik mengikuti pelajaran agama di kantin sekolah atau di bawah pohon. “Di beberapa paroki ada pastor yang memberikan fasilitas ruangan untuk dipakai guru agama Katolik mengajar pendidikan agama Katolik,” katanya.

Dalam pertemuan itu, Petrus Kanisius Kebaowolo, seorang guru Katolik di Sekolah Dasar Negeri Tanah Tinggi III di Tangerang, Banten, menceritakan bagaimana ia dikunci dalam mushola sekolahnya selama satu jam tiga tahun lalu.

“Saya menduga oknum yang mengunci saya terkait ketidaksetujuannya penggunaan mushola untuk mengajar agama Katolik. Pada hal saya sudah meminta ijin kepada kepala sekolah untuk menggunakannya,” kata Kebaowolo. “Mushola itu juga digunakan guru bahasa Inggris untuk mengajar.”

Pria awam itu mengajar 15 siswa Katolik berusia 7-12 tahun di mushola itu karena sekolah itu tidak memiliki ruang kelas untuk pelajaran agama Katolik. Namun, sejak 18 bulan lalu, kepala sekolah memberinya ruang kelas untuk digunakan setelah jam sekolah.

Pastor Daniel Cambielli SX, mantan ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Padang, mendorong para peserta pertemuan. Meskipun “banyak problem, guru tidak boleh putus asa,” nasehatnya kepada mereka, seraya mengatakan bahwa Yesus setia dalam menjalankan tugas perutusan yang dipercayakan oleh Bapa-Nya hingga wafat di kayu salib. ***

Tinggalkan komentar

Filed under Berita UCAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s