Monthly Archives: Agustus 2009

Perayaan HUT Kongregasi dan Pesta Emas Membiara

Tanggal 13 Agustus 2009, sekitar 300 undangan memenuhi kapel Frateran di jalan J. A. Suprapto 21 Malang untuk mengikuti misa dalam rangka 136 tahun berdirinya Kongregasi Frater BHK. Momen ini semakin istimewa karena dirayakan pula peringatan 50 tahun hidup membiara dari 3 orang konfrater, fr. Sarto, fr. Amatus dan fr. Valens. Fr. Sarto tidak dapat hadir pada kesempatan ini. Tepat pukul 17.00 perayaan Ekaristi dimulai yang dipimpin oleh Pastor Paroki Celaket Rm…. Hadir dalam perayaan ini sejumlah undangan dari guru dan pegawai dari sekolah-sekolah Frater di sekitar Malang, biarawan-biarawati, keluarga tercinta para yubilaris dan beberapa mantan murid.

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under FOTO PERISTIWA

BERITA BULETIN UCAN BAHASA INDONESIA EDISI TERBIT: 4 – 8 MEI 2009

INDONESIA – Karakter Islam Indonesia adalah Pluralistik?
5 Mei 2009??|??IJ07097. 641b??| 1.607 kata

2_05836_medali perakSJAKARTA (UCAN)?–?Indonesia menawarkan versi Islam yang pluralistik kepada dunia yang bertabrakan dengan bentuk Islam yang ?monolitik,? yang terutama datang dari Timur Tengah, kata seorang cendekiawan Islam.

Seraya menjelaskan karakter Islam Indonesia, Ahmad Suaedy, direktur dari the Wahid Institute, mengatakan bahwa Islam Indonesia itu “pribumi” dan pluralistik, baik dalam ekspresi dan hubungannya dengan agama-agama lain.

Selain itu, Indonesia adalah negara yang memiliki penduduk Muslim terbesar di dunia, dan 87 persen dari 220 juta penduduknya beragama Islam.

The Wahid Institute, yang didirikan oleh mantan presiden Abdurrahman Wahid, berkarya untuk menciptakan dunia yang adil dan damai dengan membangun pemikiran Islam moderat yang mendorong terciptanya demokrasi, pluralisme agama-agama, multikulturalisme dan toleransi di kalangan kaum Muslim di Indonesia dan di seluruh dunia.

Suaedy, 45, mengatakan dalam wawancara baru-baru ini bahwa Islam Indonesia belum mendapatkan perhatian memadai dari media atau dari publik, baik Muslim maupun non-Muslim.

Suaedy adalah juga pendiri Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKIS), serta peneliti dari Insitut Dialog Antariman di Indonesia.

Wawancaranya sebagai berikut:

UCA NEWS: Mengapa the Wahid Institute berupaya membangun pemikiran Islam moderat?

AHMAD SUAEDY: Salah satu karakter dari Islam Indonesia yang paling menonjol adalah pluralitasnya. Ada perbedaan antara Islam di Jawa Tengah dan di Jawa Timur, atau di Jawa Barat.

Contohnya, Sultan Hamengku Buwono X (gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta) menganggap dirinya seorang Muslim yang baik dari keyakinannya, prateknya dan juga ekspresinya. Tapi Islamnya berbeda dengan Islam orang Nahdatul Ulama (NU) yang mempunyai kultur sendiri di pesantren. Ada juga perbedaan antara Islam di Jawa dan di luar Jawa.

Oleh karena itu, Islam di Indonesia menjadi barometer untuk Islam di dunia saat ini.

Islam Indonesia, khususnya Islam NU dengan budaya pesantren, adalah Islam pribumi. Tidak ada bedanya antara Islam dan Indonesia. Sejarah masyarakat Islam menurut versi ini adalah sejarah Indonesia. Sejarah Indonesia adalah sejarah Islam. Kebudayaan Indonesia adalah kebudayaan Islam. Kebudayan Islam adalah kebudayaan Indonesia.

Ini berbeda dengan kesadaran Islam formalistik yang menganggap Indonesia itu bukan Islam jadi harus di-Islamisasi atau diubah menurut kultur mereka, misalnya dengan mengenakan jubah. Pandangan ini khususnya datang dari Arab, Pakistan bahkan dari Malaysia.

Bagi kami, bangsa Indonesia dengan segala instrumennya ya Islam itu sendiri. Kami pakai baju kami yang bisa. Itulah yang kami tawarkan.

Indonesia itu adalah juga plural bukan saja dari segi Islamnya tapi juga dari segi latar belakang etnis.

Apa yang mendorong the Wahid Institute membangun pemikiran-pemikiran ini?

Islam Indonesia yang saya sebut berkarakter pluralis belum memperoleh perhatian di dunia. Jadi perlu ada proses globaliasasi terhadap paham pluralistik ini untuk menggantikan yang anti-pluralistik. Itu adalah agenda penting kami.

Kebudayaan Barat cenderung mendominasi kami. Dalam situsi itu, terjadi “clash of civilizations” antara Barat dan Islam yang monolitik. Islam Indonesia sebenarnya tidak terlibat di dalamnya. Tapi ini potensi yang bisa ditawarkan. Kalau Barat ingin memberikan penawarannya, harus juga negosiasi dengan kultur Islam Indonesia tanpa harus terjadi clash of civilizations.

Apa sebenarnya yang ditawarkan Islam Indonesia?

Kami menawarkan pengalaman-pengalam an pluralitas kami kepada dunia yang cenderung monolitik. Pengalaman-pengalam an pluralistik kami bisa menjadi faktor utama demokratisasi, karena di situ ada prinsip saling menghormati, saling tidak menyerang dan prinsip saling belajar.

Potensi besar Islam Indonesia adalah menciptakan civil society yang kuat. Kelompok masyarakat di Indonesia itu cukup kuat. Kita lihat misalnya, pemerintah di sini tak bisa menutup pesantren, betapa pun pesantren itu dianggap bertentangan dengan banyak orang. Lain kalau misalnya terbukti pesantren itu menjadi tempat pembuatan bom atau narkoba. Tetapi secara politik itu tidak bisa. Bedah dengan di Malaysia, Pakistan dan Arab Saudi. Di sana, kalau orang ingin berbeda dengan arus utama atau dengan pemerintah mereka harus menjadi underground.

Di Pakistan, ada Jamaat-e-Islami, suatu partai politik yang mempunyai basis cukup kuat seperti NU di sini. Islam di sana diseragamkan. Orang tidak boleh berbeda.

Sedangkan di sini, NU tak bisa dijadikan satu. NU di daerah ini tidak sama dengan NU di sebelahnya. Inilah independensi kelompok-kelompok masyarakat yang disebut civil society. Inilah yang bisa memberikan potensi besar untuk munculnya demokrasi atau dalam istilah poluter: social capital. Civil society adalah social capital dalam demokrasi.

Sekalangan umat Muslim mengatakan Al Quran adalah satu-satunya kitab suci benar, tak bisa ditawar-tawar. Dalam Islam, keesahan Tuhan dan kenabihan Muhammad itu tidak bisa ditawar. Namun, kami belajar keyakinan di dalam Islam dengan referensi lain juga. Keyakinan harus diimplemetasikan di dalam perbuatan. Dalam Islam keyakinan harus diimplementasikan dalam amal. Dalam implementasi itu kami bisa belajar dari orang lain. Untuk semakin dekat dengan Allah, para sufi belajar juga dari tradisi Yahudi dan Kristen.

Untuk menciptakan kemakmuran sistem ekonomi kami tidak bisa langsung ambil dari Al Quran, tapi kami harus belajar dari sosialisme, kapitalisme bahkan komunisme, misalnya.

Keyakinan tentu tak bisa dipertukarkan atau tak bisa dipengaruhi. Saling belajar menurut saya adalah sesuatu yang penting. Kalau ada seseorang menolak untuk ikut upacara agama tertentu itu adalah hak dia, tapi kalau menganggu upacara orang lain, itu soal lain. Bagi saya, ikut kegiatan Gereja asal bukan diyakini bahwa itu keyakinan saya ngak masalah. Orang berhak menolak. Orang bahkan berhak mengatakan bahwa itu tidak benar atau itu melanggar. Tetapi yang tidak boleh adalah memaksa apalagi melakukan kekerasan.

Berapa besar kelompok anti-pluralisme di Indonesia?

Dilihat kuantitatifnya, kelompok itu sebenarnya kecil. Tapi kuantitatif itu harus dilihat juga dari akses mereka. Dalam situasi sekarang, terutama sejak reformasi 1997, beberapa hal perlu diperhatikan. Pertama, ada semacam mainstreaming dari agenda mereka baik terhadap kelompok masyarakat, ormas, partai politik maupun terhadap perundang-undangan. Jadi ada elemen-elemen dari kelompok anti-pluralis yang masuk menjadi mainstream. Kita bisa melihat misalnya fatwa MUI yang anti-pluralisme.

Apa yang sedang dilakukan the Wahid Institute untuk mengkaunter perkembangan ini serta untuk mewujudkan cita-citanya?

Ada tiga hal besar. Pertama tingkat wacana. Kita mengintrodusir berbagai pemikiran yang bisa membantu mengangkat konsep-kosep pluralitas, toleransi, hak asasi manusia dan lain-lain dengan cara penelitian, pelaporan dan penerbitan buku, serta website. Tanggal 17 Maret kita meluncurkan sebuah buku dengan judul “Ragam Ekspresi Islam Nusantara” yang ingin mengatakan bahwa Indonesia secara historis adalah pluralistik.

Yang kedua capacity building lewat lokakarya, diskusi dan pelatihan untuk pemimpin agama lokal. Kami mengajak mereka untuk ikut memecahkan persoalan lokal tanpa harus terjatuh pada konservatisme dan fundamentalisme. Gerakan Islam fundamentalis menawarkan perbagai problem masyarakat dengan satu obat yakni shariah.

Ketiga adalah dialog ? antaragama, antarnegara, antardaerah. Beberapa waktu lalu bekerja sama dengan Kedutaan Inggris, enam imam dari Inggris datang ke Indonesia lalu kita membuat forum antaragama di sini. Kita perkenalkan imam-imam Inggris itu dengan pimpinan agama lain di sini.

Apakah ada kelompok-kelompok Islam lain yang mengupayakan cita-cita yang sama?

Banyak sekali kelompok yang bergerak untuk pluralisme agama di Indonesia. Jauh lebih banyak kelompok yang menawarkan persaudaraan meskipun tidak selalu dalam bahasa pluralisme. Cuma lebih besar perhatian media atau perhatian orang saat terjadi atau saat ada sesuatu yang tidak biasa seperti anti-pluralisme.

Saya sejak kecil hidup di mayoritas Muslim yang sangat taat. Di tetangga saya ada gereja yang berseberangan dengan pesantren, tapi tidak pernah umat Gereja serta warga pesantren itu saling menganggu. Mereka bergaul secara biasa.

Apakah kelompok-kelompok Muslim radikal semakin kuat?

Bukan ketakutan akan kekuatan mereka. Persoalan sekarang adalah bagaimana menawarkan model Islam yang kami yakini, dan bersamaan dengan itu memecahkan persoalan yang ada. Saat menawarkan model Islam yang pluralis, kami pun menciptakan kemakmuran atau memberantas kemiskinan dan meningkatkan pendidikan.

Di masa lalu, “kaum Muslim yang ideologis” ingin agar Islam menjadi dasar ideologi bangsa. Namun itu tidak mungkin.

Contohnya, Bank Islam. Bank itu kini sudah dipisahkan dari ideologi semula, dan sekarang ideologi bank itu sama dengan bank lain. Model dan istilahnya di-Arab-kan, tapi sebenarnya itu sudah dipisahkan dari ideologi Islam. Bank Shariah memang memakai istilah-istilah dan prinsip shariah tapi ideloginya sudah ideologi kapitalis, bagaimana menciptakan keuntungan sebesar-besarnya. Hampir tidak ada di situ, misalnya mengatakan, dengan bank itu maka orang miskin akan ditolong.

Begitu juga dengan perda-perda shariah.

Sejak mulanya Indonesia sudah pluralis, bahkan sebelum Islam datang. Ledakan bom di Bali dan kerusuhan-kerusuhan di beberapa bagian negeri ini terjadi karena intervensi dari luar. Meskipun kita tidak bisa menolak bahwa ada unsur Indonesia yang terlibat. Tetapi hal seperti itu bukan karakter Indonesia.

Apakah Anda punya rekanan dengan kelompok lain?

Kalau ada kesempatan, kami berdialog dan bekerja sama dengan kelompok-kelompok lain. Ini juga bagian dari capacity building. Kami tahu ada lebih banyak kelompok yang memiliki cita-cita yang sama. Kalau kita punya persoalan bersama di satu daerah tertentu, kita menyelesaikannya bersama-sama.

Bagaimana hubungan institute ini dengan Gereja Katolik?

Secara formal kita tak punya hubungan spesifik. Tetapi saya tahu beberapa hal tentang Gereja Katolik, kebijakan dan devisi-devisinya. Saya cukup dekat dan sering berkomunikasi dengan Pastor Ignatius Ismartono, koordinator Pelayanan Krisis dan Rekonsiliasi dari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), serta Pastor Antonius Benny Susetyo, sekretaris eksekutip Komisi Hubungan Agama dan Kepercayaan KWI. Kita bekerja sama dalam berbagai seminar, namun kita belum punya kerja sama yang sustainable.

Bersama Pastor Ismartono, kita sedang mendiskusikan tentang kemungkinan menjalankan dialog antaragama di Papua. Mungkin ini akan menjadi bentuk kerja sama yang relatif sustainable. Dia mengatakan kepada saya bahwa Gereja Katolik juga menghadapi problem besar dalam berhadapan dengan kepentingan- kepentingan politik lokal.

Apa pandangan Anda tentang Gereja Katolik Indonesia?

Saya memberi apresiasi besar terhadap Gereja Katolik karena strateginya. Saya membaca nota pastoral, surat gembala, serta hasil Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia sejak 1980. Ada strategi yang menurut saya sangat membantu saya dan teman-teman. Gereja Katolik memakai prinsip teologi pembebasan tapi menyesuaikannya dengan situasi di sini, misalnya menciptakan kelompok-kelompok komunitas mandiri atau kelompok basis.

Tapi saya juga mengeritik Gereja karena terlalu lunak, misalnya, untuk Pemilu 2009 kalau tidak salah pemimpin Gereja hanya menganjurkan kepada umatnya untuk memilih, tapi tidak menukik pada problem sekarang, misalnya jangan pilih caleg yang korupsi, meskipun caleg itu beragama Katolik. Kalau itu pasti menarik. Saya ingat sekali Surat Gembala APP Tahun 1997, ketika Pemilu Soeharto yang terakhir. Saat itu KWI mengeluarkan surat gembala untuk membebaskan orang Katolik untuk memilih atau tidak memilih karena situasi waktu itu. Itu bagi saya yang paling monumental dari KWI. Ternyata agama lain tidak melakukan seperti itu. ***
———

INDONESIA?-? Para Pemuka Agama Bersatu Menentang Diskriminasi terhadap Penderita HIV/AIDS
5 Mei 2009??|??IJ07133. 641b??|??468 kata

JAKARTA (UCAN)?–?Sebuah kelompok dari berbagai kepercayaan yang berbeda berkumpul di sebuah hotel di Jakarta untuk bersama-sama berkampanye menolak diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS (ODHA).

Umat Katolik, Protestan, Muslim, Buddha, Konghucu, Hindu, Jemaah Ahmadiyah Indonesia dan Baha’i sepakat mengadakan berbagai program pelatihan untuk para tokoh agama tentang HIV/AIDS dan saling bertukar informasi tentang penyakit ini.

Pertemuan yang baru-baru ini diadakan oleh Joint United Nations Program on HIV/AIDS (UNAIDS) itu menyatakan bahwa sekaranglah waktunya bagi semua orang untuk menghilangkan stigma negatif yang masih melekat pada penderita HIV/AIDS.

Tujuan diadakan pertemuan itu adalah untuk membicarakan isu-isu hak asasi manusia, terutama mengenai HIV/AIDS, dengan fokus pada dukungan para tokoh agama.

Para pemuka agama hanya menyadari masalah-masalah yang kompleks yang dihadapi penderita HIV/AIDS.

Rumah Sakit St. Carolus di Jakarta Pusat membantu penderita HIV/AIDS dan menerima mereka setiap hari di klinik khusus HIV/AIDS yang dibentuk pada Februari lalu.

Klinik yang dikelola oleh Kongregasi Suster-Suster St. Carolus Borromeus itu memahami, HIV/AIDS tak hanya menimbulkan masalah kesehatan tetapi juga masalah psikologis dan spiritual.

?Alasan utama klinik ini dibuka karena para pasien HIV/AIDS tidak hanya dilayani obat tapi juga konseling,? kata Dokter Angela Nusatya Abidin, direktur medik rumah sakit itu.

Selama ini, klinik itu hanya membantu sedikit orang, meskipun daftar pasiennya meningkat setiap bulannya.

Dokter Abidin mengatakan 10 penderita HIV/AIDS berobat dan 38 lainnya berkonsultasi setelah klinik itu dibuka

Klinik itu memiliki 10 konselor yang melayani konseling psikologi dan spiritual enam hari seminggu.

?Para konselor perlu ditambah karena konselor klinik ini masih kurang,? kata wanita awam Katolik itu.

Klinik itu juga memiliki beberapa dokter dan perawat. Bekerjasama dengan Departemen Kesehatan, klinik itu memberikan obat kepada para pasien.

Melayani penderita HIV/AIDS bukan hal baru lagi bagi RS St. Carolus. Sebelumnya, para pasien ditangani di bagian perawatan umum. ?RS ini tidak mau membuat klinik khusus HIV/AIDS karena kami tidak mau membeda-bedakan (penderita HIV/AIDS) dengan pasien lain,? kata Dokter Abidin.

Pada lokakarya yang diadakan PBB itu, para peserta, termasuk mereka dari KWI, sepakat untuk ?melayani para penderita HIV dan AIDS secara pro aktif melalui pendekatan spiritual, moral dan personal serta edukasi.?

Irwanto, seorang dosen dari Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, menjadi salah satu fasilitator lokakarya itu. ?Para pemuka agama sangat dipercaya oleh penderita HIV/AIDS karena mereka dapat merasakan kasih sayang,? katanya, seraya mendesak para tokoh agama mendorong umat mereka supaya secara terbuka membahas penyakit ini.

Nancy Fee, koordinator UNAIDS Indonesia, mengatakan dalam sambutannya bahwa pertemuan ini bertujuan untuk mengundang para tokoh agama supaya memberikan dukungan spiritual kepada penderita HIV/AIDS. “Kita tidak hanya melayani dari segi medis tapi pencegahan juga sangat penting melalui penanaman nilai-nilai spiritual dan moral,” tegasnya.

Perempuan itu juga menyoroti peningkatan penyakit itu di Indonesia, yang menurutnya meningkat setiap tahun. Data Menteri Kesehatan menunjukkan ada 2.947 penderita pada 2007 dan meningkat menjadi 4.968 pada 2008.

Namun, website UNAIDS memperkirakan bahwa sedikitnya ada 190.000 penderita HIV/AIDS di Indonesia tahun 2008.
———

INDONESIA?-? Keuskupan Agung Jakarta Bantu Kaum Buruh
5 Mei 2009??|??IJ07155. 641b??|??491 kata

JAKARTA (UCAN)?–?Ketua Biro Pelayanan Buruh Keuskupan Agung Jakarta (BPB KAJ) bersama sekitar 10.000 buruh melakukan aksi unjukrasa di Istana Negara, meminta pemerintah supaya membantu mereka dan buruh lainnya sehingga tetap bertahan di tengah-tengah krisis global.

Lukas Gatot Widyanata mengatakan ia bergabung dalam aksi demonstrasi pada 1 Mei itu untuk mendukung kaum buruh.

?Ini adalah panggilan kita. Gereja merasa prihatin dengan nasib kaum buruh yang semakin parah dari tahun ke tahun. Dengan kehadiran Gereja, mereka merasa didukung dan tidak berjuang sendiri,? katanya.

Ribuan warga Indonesia kehilangan pekerjaan karena kegiatan ekspor terhenti. Bahkan, buruh yang masih bekerja juga menghadapi perjuangan berat karena upah yang diterima sekitar 800 ribu hingga 1,2 juta rupiah per bulan. Jumlah itu tidak memungkinkan bagi seorang buruh yang sudah berkeluarga untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Dalam situasi normal, BPB KAJ memfokuskan pada pelatihan keterampilan dan advokasi. Namun, biro itu harus meningkatkan usaha bantuannya itu karena krisis finansial semakin memburuk.

?Upaya yang dilakukan Gereja terhadap kaum buruh sekarang ini lebih pada merespon krisis global dengan bantuan darurat agar mereka bisa memperoleh makanan dan tempat tinggal,? kata Widyanata kepada UCA News.

?Biro ini memberikan bantuan logistik dengan menjual sembako murah, dan khusus bagi mereka yang mendapat PHK dan tidak memiliki uang akan diberikan secara gratis,? katanya. Biro itu juga membantu mereka menyewa rumah dan memberikan beasiswa.

Buruh tekstil Theresia Susianti, 32, seorang janda dari dua anak, merupakan satu dari kaum buruh yang mengalami dampak krisis finansial.

Pabrik tempat ia bekerja mengalami penurunan ekspor dan mengurangi jumlah pekerja. Ia merasa takut pekerjaannya akan hilang.

?PHK tidak bisa terelakkan,? katanya. ?Kami mengharapkan Gereja bisa membantu kami dengan menyiapkan modal dana agar kami bisa mengembangkan usaha lain.?

Widyanata mengatakan biro keuskupan itu berjejaring dengan paroki-paroki, khususnya paroki-paroki di kawasan industri seperti kabupaten Tangerang di Banten, sebuah propinsi di sebelah barat ibukota negara.

Meskipun area itu dihuni oleh sekitar 4.000 buruh Katolik, Widyanata mengatakan upaya-upaya keuskupan agung Jakarta tidak hanya membantu para anggota Gereja saja.

?Kami juga memberi bantuan kepada buruh non-Katolik yang di-PHK,? kata Widyanata. Namun, ia menambahkan bahwa Gereja hanya dapat memberikan sedikit pendampingan saja dan harus bekerjasama dengan serikat-serikat buruh.

?Kami nanti dituduh melakukan kristenisasi, ? kata Widyanata.

Meskipun situasi ekonomi suram, ia berharap para buruh belajar dari krisis saat ini tentang bagaimana bisa menghasilkan pendapatan di masa depan.

?Mereka bisa menemukan potensi diri dan mengembangkannya melalui berbagai macam usaha mandiri untuk memperoleh pendapatan tambahan,? katanya.

Biro itu selama ini melayani kaum buruh di 15 komunitas.

?Di setiap komunitas, kami mendirikan kredit union dan memberikan trainning interpreneur, dan pendampingan rohani,? katanya.

Pemerintah berada di bawah tekanan untuk mengurangi jumlah pengangguran.

Lorensius Sena, seorang buruh Katolik dari Bandung, Jawa Barat, mengatakan kepada UCA News ia bergabung dalam demonstrasi itu untuk mendesak pemerintah pusat supaya berfokus pada perbaikan nasib kaum buruh.

?Kami menuntut dihapuskannya sistem outsourcing, menaikkan upah minimum regional, serta jangan lagi ada pemutusan hubungan kerja di masa masa ekonomi sulit seperti sekarang,? kata Sena. ***
——–

Tinggalkan komentar

Filed under Berita UCAN, Remah-remah