Category Archives: Religius

Biarawan Laikal

Berita Dewan Juli 2009

SAKIT

Fr. Gaudensius sejak pertengahan Juni lalu dirawat di rumah sakit RKZ St. Vincent de Paul, Surabaya karena menderita penyakit lever kronis. Hingga saat ini, kondisinya belum mengalami perubahan yang menggembirakan, malah semakin memburuk. Tanggal 23 Juni 2009, ia menerima sakramen pengurapan orang sakit (minyak suci) atas permintaannya sendiri.

¶¶¶

Pembinaan Frater Yunior

Para frater yunior wilayah Jawa dan Palembang mengadakan pertemuan pembinaan tiga bulanan pada tanggal 13 – 14 Juni 2009 di Novisiat BHK. Pertemuan kali ini mengusung tema, “Kesehatan mental dalam membina kehidupan bersama”, dengan nara sumber, dr. Wydiastuti, Spjk (psikiater) dan fr. Fransiskus, BHK (pendamping frater yunior).

¶¶¶

Kembali ke Keluarga

Ü      Fr. Beatus, anggota komunitas St. Frans Borgias telah mengajukan permohonan pengunduran diri dari Kongregasi. Pembebasan dari ikatan kaul-kaulnya telah diberikan oleh Uskup Keuskupan Agung Kupang melalui surat nomor: 22/KAK/I/2009, tanggal 22 Januari 2009.

Ü      Fr. Hilarius Dale dan fr. Servasius Lado Rema (novis II) telah kembali ke keluarga. Keduanya tidak diperkenankan melanjutkan masa novisiat. Sementara itu, fr. Hubertus Koa, fr. Paulino Pebruaris, fr. Frederikus B. Witin (novis I) telah mengajukan permohonan pengunduran diri dari masa pembinaan novisiat. Pengunduran diri mereka telah disetujui oleh DPI. Pada awal Februari lalu, mereka telah kembali ke keluarga masing-masing.

Ü      Enam orang postulan tidak diterima untuk melanjutkan masa pendidikan dasar ke novisiat. Mereka adalah:

–          Fransiskus Ekarius

–          Yanuarius Mikhael Ulanaga

–          Marianus Dau Dura

–          Elias Heryanto Degot

–          Ronaldus Nanga

–          Andreas Meni.

Ü      Fr. Redemptus Sama, Fr. Leonardo Lamauring Lanang (komunitas Kupang) dan Fr. Richardus Guru (komunitas Ndao) tidak diterima untuk membaharui kaul. Terhitung mulai 12 Juni 2009, ikatan kaul-kaul mereka dalam kongregasi berakhir.

Retret Tahunan

Para Frater komunitas-komunitas di Jawa dan Palembang mengikuti retret tahunan mulai tanggal 20 sampai 26 Juni 2009, bertempat di rumah khalwat Dharmaningsih, Claket, Pacet, Mojokerto. Sebanyak 33 frater mengambil bagian dalam retret ini. Retret yang mengambil tema, “melayani dengan hati“ ini didampingi oleh Romo Martinus Suhartomo SJ. Tanggal 26 Juni, pada misa penutupan retret, dilaksanakan pula upacara pembaharuan kaul fr. Chrisostomus.

Retret tahunan para frater wilayah NTT dilaksanakan di rumah retret Sesabano, Hokeng, Flores Timur; tanggal 7 – 12 Juli 2009. Retret ini dipimpin oleh Pater Bernhard Muller SVD dengan tema, “setia mengikuti Yesus sang Guru, kebenaran dan kehidupan“. Pada misa penutupan retret diadakan upacara pembaharuan kaul beberapa frater yunior.

Penjubahan dan Kaul

Upacara pembaharuan kaul untuk sejumlah Frater yunior di wilayah NTT dilaksanakan pada tanggal 12 Juli 2009 di kapela rumah retret Sesabano, Hokeng, tepat pada misa penutupan retret. Misa pembaharuan kaul ini dipimpin oleh P. Bernhard Muller, SVD. Sementara yang menerima kaul adalah Fr. M. Simon, BHK, pemimpin umum.

Para Frater yunior yang membaharui kaul:

–          Fr. Aquino Jasmon

–          Fr. Giovani Tiwu

–          Fr. Adolfus Nggano

–          Fr. Ubaldus Ngongo

¶¶¶

Untuk para Frater yunior di wilayah Jawa dan palembang, upacara penerimaan busana biara, pengikraran kaul perdana dan pembaharuan kaul dilaksanakan pada tanggal 12 Juli 2009 di kapela novisiat Frater BHK, Malang. Upacara ini dipimpin oleh Mgr. H. J. S. Pandoyoputro, O.Carm (Uskup Malang). Sementara yang menerima kaul adalah Frater M. Kanisius, BHK (wakil pemimpin umum).

Postulan yang menerima busana biara:

–          Petrus Pendi Senda                 : Fr. M. Alfred, BHK

–          Leonardus Leksimus               : Fr. M. Aleksander, BHK

–          Stefanus Raga Teha                   : Fr. M. Stefanus, BHK

–          Martinus Budianto D. Tena    : Fr. M. Siardus, BHK

–          Alfonsus Jemi                            : Fr. Alfonsus, BHK

–          Emanuel Nigha                         : Fr. M. Charles, BHK

Novis II yang mengikrarkan kaul perdana:

–          Fr. M. Andreas, BHK

Para Frater yunior yang membaharui kaul:

–          Fr. Asterius Soge

–          Fr. Faustinus Banusu

–          Fr. Yuvensius G. Watu

–          Fr. Lodovikus Radha

–          Fr. Arnoldus Bere

–          Fr. Donatus P. Bei

–          Fr. Karolus Waikelak

–          Fr. Roberto Hardin

¶¶¶

Pengangkatan Overste

Beberapa Frater diangkat / diangkat kembali untuk jabatan overste:

  1. Frater M. Gabriel, BHK: overste komunitas Palembang (diangkat kembali)
  2. Frater M. Gonsalis, BHK: overste komunitas Kebraon, Surabaya. Pengangkatan baru ini untuk menggantikan fr. Amatus yang telah berakhir masa jabatan.
  3. Frater M. Adriano, BHK: overste komunitas Podor, Larantuka Pengangkatan baru ini untuk menggantikan fr. Yasintus yang diangkat untuk jabatan Socius magister novis.

MUTASI dan TUGAS BARU

Terhitung mulai 1 Juli 2009, sejumlah frater mendapat tugas baru dan mutasi:

A. Tugas baru & Mutasi

No. N a m a Tugas Baru Komunitas
1. Fr. Walterus
  • Asisten Prokurator
  • Asisten Bendahara Sub perwakilan
BHK, Malang 1
2. Fr. Ubaldus
  • Asisten Bapak Asrama SMA
  • Asisten Bendahara Sub Perwakilan
Ndao, Ende
3. Fr. Gilbertus Prokurator Novisiat
4. Fr. Andreas
  • Asisten Bapak Asrama SMP
  • Asisten Bendahara Sub Perwakilan
Maumere 1
5. Fr. Lodovikus Prokurator Kepanjen
6. Fr. Yohanes Mau
  • Bpk. Asrama SMA
  • Guru Matematika SMA
Sumba
7. Fr. Gonsalis Guru SMPK Surabaya 2
8. Fr. Valentino Guru SDK Surabaya 1
9. Fr. Nikolaus Magang di LBH Kupang
10. Fr. Yasintus Socius Magister Novisiat, Malang

B. Tugas Tambahan/Alih Tugas tanpa Mutasi

No. N a m a Tugas Tambahan Komunitas
1. Fr. Roberto Asisten Prokurator (tugas tambahan) Kebraon
2. Fr. Efrem Asisten prokurator

(alih tugas)

Podor
3. Fr. Pius Pegawai Perpustakaan SMAK (alih tugas) Sumba
4. Fr. Sebastianus –      Bpk. Asrama SMA

–      Guru Agama di SMA

Ndao
5. Fr. Blasius Prokurator (tugas tambahan) Maumere 1
6. Fr. Flavianus Asisten Prokurator (tugas tambahan) Kupang
7. Fr. Erikson – Staf Pembina Postulat

– Guru Agama di SMP

Postulat
8. Fr. Faustinus Guru Agama di SMP Xaverius (tugas tambahan) Palembang
9. Fr. Bonaventura Pegawai TU SMP  (tugas tambahan) Kediri
10. Fr. Gaudensius Istirahat – bebas tugas Kebraon
11. Fr. Patrisius Studi STFT Malang 3
12. Fr. Amatus Prokurator Surabaya 2

C. Tugas Belajar (tugas tambahan):

  1. Fr. Gabriel    : jenjang S2 – Studi Manajemen Pendidikan di Universitas Sriwijaya, palembang
  2. Fr. Timotheus : jenjang S2 – Studi Akuntansi di Universitas Brawijaya, Malang
  3. Fr. Polikarpus : jenjang S2 – Studi Manajemen Pendidikan di Universitas Negeri Malang
  4. Fr. Calixtus : jenjang S1 – Studi Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas PGRI, Palembang

Misionaris

Fr. Donatus dan fr. Romanus, calon misionaris ke Kenya, Afrika saat ini tengah mempersiapkan diri untuk berangkat ke tanah misi. Dalam rangka itu, mereka telah mengikuti kursus bahasa Inggris sejak bulan April hingga Juni lalu di Wisma Bahasa, Yogyakarta. Saat ini keduanya sedang mengikuti kursus komputer dan mengemudi di Malang. Menurut rencana, mereka akan segera menuju ke Lodwar, Kenya, segera setelah mendapat work permit (ijin kerja) dari pemerintah Kenya.

SELESAI STUDI

«      Fr. Erikson anggota komunitas Postulat, telah menyelesaikan studinya di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik, Ledalero.

«      Fr. Yohanes Mau telah menyelesaikan studinya pada jurusan Pendidikan Matematika, FKIP di universitas Katolik Widya Mandira, Kupang.

Proficiat dan sukses!

Tim Ametur Indonesia

Peristiwa bersejarah bagi Keluarga Chevalier Indonesia belum lama ini dicatat ketika Pimpinan empat tarekat Religius dan Perwakilan Awam Chevalier mendeklarasikan terbentuknya Ametur Indonesia (pusat pendalaman spiritualitas bagi keluarga Chevalier) pada akhir pertemuan mereka di Biara PBHK Purworejo pada 12 – 14 Maret 2009. Mereka adalah Sr. Madeleine Yuliwarti PBHK (Provinsial PBHK), Sr. Epivany Ongirwalu TMM (anggota Dewan Umum TMM), P. Johanis Mangkey MSC (Provinsial MSC), Fr. Damianus Roy Hurint BHK (Provinsial Frater BHK), Bpk. Yan Pontoan dan Ibu Milly Karmila Sareal (Awam Chevalier). Penandatanganan deklarasi tersebut disaksikan oleh P. Hans Kwakman MSC, mewakili Pusat Cor Novum Internasional di Issoudun, Perancis, dan oleh anggota Tim Ametur Indonesia, yang terdiri dari P. Budi Santoso MSC (Ketua), P. Samuel Maranresy MSC, P. Estephanus Rolly Untu MSC, Yan Pontoan, Milly Karmila Sareal, Sr. Immacule PBHK, Sr. Francine Palit PBHK, Sr. Evarina Suji Utami PBHK dan Sr. Oliva Atdjas TMM. Adapun Formasi Ametur Indonesia, adalah:

Ketua                : P. Budi Santoso, MSC

Wakil               : Sr. M. Immaculae PBHK

Sekretaris I     : Sr. Oliva Atjas TMM

Sekretaris II    : Sr. Evarina Suji Utami PBHK

Bendahara I     : Milly karmila Sareal, SH

Bendahara II    : Sr. M. Theresia Wulur PBHK

Anggota            : P. Benediktus Estephanus Untu MSC

P. Samuel Maranresy MSC

Sr. M. Francine Palit PBHK

Sr. Epivany Ongirwalu TMM

Fr. Damianus R. Hurint BHK

Fr. Fransiskus Hardjosetiko BHK

Fr. Patrik Totok Mardianto BHK

Yan Petrus Wilhelmus Ponto’an

Pembentukan Ametur Indonesia tersebut didahului dengan kesepakatan pembentukan secara resmi Keluarga Chevalier pada 12 maret 2009 oleh Pemimpin empat Tarekat Religius dan Perwakilan Awam Chevalier, sebagaimana disebutkan diatas. Keluarga Chevalier meliputi tarekat-Tarekat PBHK, TMM, MSC, Frater BHK dan kelompok-kelompok awam Chevalier.

Disadari betapa pentingnya anggota-anggota Keluarga Chevalier ini, dalam kerjasama dengan Cor Novum Internasional, bersama-sama melibatkan diri dalam penggalian berkelanjutan karisma dan spiritualitas bersama, yang dinspirasikan oleh Pater Jules Chevalier pendiri devosi Bunda Hati Kudus. Oleh karena itu, Ametur Indonesia dimaksudkan untuk menggali, memperdalam dan mempromosikan spiritualitas hati di lingkup masing-masing tarekat/kelompok awam, dalam keluarga Chevalier secara lebih luas dan bagi umat secara menyeluruh. Secara khusus diharapkan agar tim Ametur Indonesia akan membantu para anggota Keluarga Chevalier dalam pembinaan awal, pembinaan lanjut dan pendampingan karya-karya kerasulan mereka.

Nama yang dipilih adalah Ametur Indonesia agar tidak mencampurkan dengan nama Cor Novum yang direservasi untuk Pusat Spiritualitas bersama di Issoudun, Perancis.

Aktivitas perdana yang diselelnggarakan oleh Tim Ametur ini adalah menyelenggarakan Lokakarya Spiritualitas Hati, yang dipandu oleh P. Hans Kwakman MSC, pada 16 – 21 Maret 2009 di Wisma Hening Griya, Baturaden, Purwokerto. Kursus ini dihadiri oleh 33 peserta (MSC, PBHK, TMM, Frater BHK, Awam) yang berproses bersama para anggota Tim Ametur yang sekaligus turut menjadi peserta. Dari Kongregasi Frater BHK diwakili oleh Fr. Damianus (Provinsial), Fr. Gonsalis (Tim Spiritualitas), Fr. Timotheus, Fr. Erikson, Fr. Melkhior dan Fr. Silvester.

Tim Ametur Indonesia akan berfokus, dalam kegiatan-kegiatannya, pada studi dan penelitian sumber-sumber spiritualitas hati serta promosi spiritualitas hati melalui program-program yang disusun bersama.

Tim Ametur akan bertanggung jawab kepada Pimpinan empat Tarekat dan Perwakilan Awam Chevalier, yang mengangkatnya. Pimpinan empat Tarekat bersama perwakilan awam akan mendukung kegiatan-kegiatan Ametur Indonesia secara financial, seperti ordinary budget, yang akan diajukan secara tahunan, sambil membuka diri untuk mencari peluang-peluang dana lainnya.

Semoga melalui Santa Maria, Bunda kita pada hati Kudus Yesus, Ametur Indonesia menjadi sumber air kehidupan dan keselamatan, darinya kita akan senantiasa menimba, dengan kegirangan, kesejukan bagi kehidupan kita secara pribadi dan komuniter.

Iklan

4 Komentar

Filed under Religius

Untuk Sebuah Nama

Bunda Hati Kudus

Ingatlah ya Bunda Hati Kudus

Bunda Hati Kudus

Bunda Hati Kudus


akan segala karya ajaib
yang dilakukan Tuhan bagimu!

Perayaan 150 tahun devosi dan gelar Bunda Hati Kudus, (1859 – 2009), berpuncak pada 30 Mei 2009 ini. Sebuah nama unik, spesifik, bernuansa kerohanian; sugguh khas bagi para pengagumnya di seantero jagad.

Untuk Sebuah Nama,
kita lambungkan madah pujian agung bagi Allah Sang Pencipta semesta. Dia telah mempersembahkan seorang bunda yang disebut Bunda Hati Kudus kepada kita. Sebuah nama yang meneguhkan dan menguatkan langkah penge-mbaraan kita anggota Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus (Congeragtie van de Fraters van Onze Lieve Vrouw van het Heilig Hart).

Untuk itu kita tidak sekadar merayakan dan mendevosikan sebuah nama, tetapi kita harus berani membuka lembaran sejarah di balik nama itu; kita harus berani bertanya, “Siapa yang berdiri di balik nama indah itu. Dan siapa pula yang telah mengayubahagiakan figur itu? Bukankah Tuhan sendiri yang memilih dan membawanya kepada kita? Dialah Maria, Bunda tersuci yang dikandung tanpa noda yang un-tuk pertama kalinya dimaklumkan oleh Pater Chevalier de-ngan gelar “Bunda Hati Kudus”
Figur agung di balik gelar itu yang patut kita kenangkan dan patut kita teladani perjalanan ziarahnya.
Dialah, figur lembut yang pandai mendengarkan. Dia rela mendengarkan suara Allah yang datang menyapa dan me-ngundangnya,“Salam Maria penuh rahmat Tuhan sertamu.
Dia juga figur yang tanggap serta rendah hati, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku sesuai kehendak-MU”.
Kita patut belajar dari kerendahan hatinya yang selalu mendengarkan. Kepedulian Maria kepada sesama seperti yang telah dibuktikannya di Kana sungguh menggugah hati kita. Mengapa tidak, rupanya Maria dengan tekun mencermati kebutuhan nurani sesamanya. Maria berani menyampaikan kepada Yesus bahwa, “Mereka kehabisan anggur”sekalipun ia mendapatkan sebuah jawaban yang tidak mengenakan hatinya. “Mau apa dari-Ku Ibu, saat-Ku belum tiba!”Maria sungguh-sungguh percaya akan kebaikan dan kepedulian Yesus kepada sesama yang membutuhkan bantuan. Maria tidak pernah ragu akan kebaikan Yesus. Di sini Maria telah mengajarkan kita teladan iman yang teguh kepada Yesus.

Maka marilah kita dengan hening serta teguh hati mengikuti dan meresapi doa kepada Bunda Hati Kudus ini

Ingatlah ya bunda hati Kudus akan semua karya agung yang dikerjakan Tuhan melalui engkau. Ia memilihmu sebagai ibu-Nya, dan menghendaki engkau berdiri dekat salib-Nya. Ia memberi kepadamu bagian dalam kemuliaan-Nya. Ia mendengarkan doamu.
Semoga kami hidup seperti engkau dalam kasih sayang Puteramu, agar datanglah kerajaan Puteramu.
Bimbinglah semua manusia kepada sumber air yang terpancar dari dalam hati Yesus yang menyebar luas di seluruh bumi, harapan dan keselamatan, keadilan dan damai.
Pandanglah kepercayaan kami kepadamu, dan tunjukkanlah selalu bahwa engkaulah bunda kami. Amin.

Selamat Pesta Bunda Hati Kudus!

Tinggalkan komentar

Filed under Religius

Aneka Gambar Bunda Hati Kudus

Bunda Hati Kudus

Bunda Hati Kudus

Patung Bunda Hati Kudus Asli

Patung Bunda Hati Kudus Asli

Bunda Hati Kudus yang berdiri di bawah kaki salib Puteranya

Bunda Hati Kudus yang berdiri di bawah kaki salib Puteranya

Bunda Hati Kudus versi wanita Jawa

Bunda Hati Kudus versi wanita Jawa

im_a0067

Maria Bunda Hati Kudus dari Perancis

Maria Bunda Hati Kudus dari Perancis

Bunda Hati Kudus

Bunda Hati Kudus

3 Komentar

Filed under Religius

Refleksi Paskah 2009

“God didn’t promise days without pain, laughter without sorrow, sun without rain, but He did promise strength for the day, comfort for tears, and light for the way. Words which do not give the light of Christ increase the darkness.”  (Mother Teresa of Calcutta)

KESAKSIAN KEBANGKITAN

C A H A Y A

Tuhan... jadikalah aku pembawa terangMu!

Tuhan... jadikalah aku pembawa terangMu!

Semalam listrik padam. Ditemani sebatang lilin, angan saya langsung tiba ke kisah seorang baginda raja dan dua putranya. Ketika baginda raja telah berangkat tua, ia mengalami kesulitan, siapa di antara kedua putranya yang akan menjadi putra mahkota. Akhirnya ia mendapat akal. Kepada kedua putranya ia berkata, ”Siapa di antara kamu berdua yang sanggup memenuhi ruangan besar ini sampai malam tiba, dialah yang akan menggantikan aku”.

Keduanya segera meninggalkan istana. Si sulung langsung membeli apa saja yang ditemuinya di jalan, lalu membawa semuanya pulang. Bangsal besar pun segera penuh sesak. ”Ayah, jadikan aku penggantimu. Lihat, ruangan ini sudah penuh oleh hasil bawaanku.” Jawab sang raja, ”Sabarlah, kita harus menunggu adikmu, apalagi batas waktunya malam, dan ini belum juga malam.”

Ketika si adik pulang, ia tak membawa apa-apa. Tetapi ia memerintahkan pelayan menyingkirkan semua bawaan kakaknya. Lalu, di tengah ruangan besar yang kosong itu, ia menyalakan lilin. Nyala lilin semakin terang dan memenuhi ruangan ketika hari semakin gelap. Kepada ayahnya, ia berkata, ”Ayah, kuharap lilin kecil ini telah menjalankan tugasnya, yaitu memenuhi seluruh ruangan dengan cahaya dan kehangatannya.” Siapa yang menjadi putra mahkota tentu kita bisa menduga.

Terang atau cahaya atau apa pun namanya, baru benar-benar kita rasakan manfaatnya bila terang tak ada dan kita termangu dalam gelap. Bayangkan saja bila matahari sehari saja ”mogok” dan tidak terbit. Apa jadinya hidup kita tanpa cahaya? Frans Brentano (1838-1917), filsuf yang banyak memukau dengan jenis teka-teki bermutu pengasah otak, memberikan sebuah teka-teki sebagai berikut: ”Terangnya tak tertandingi, lajunya tak tersaingi burung di udara, mampu menembus mengalahkan anak panah, pintu dan jendela dia terobos tanpa paksa, tak terduga, mendadak ia ada di mana-mana, apakah itu, coba terka!” Itulah cahaya, jawab Brentano.

Semalam, ketika hanya ditemani sebatang lilin, saya semakin paham apa maksud Yesus, Tuhan kita, dengan berkata bahwa kita pengikut-Nya harus menjadi terang, menjadi cahaya bagi dunia, paling kurang bagi lingkungan dan sekitar kita sendiri.

(Dari ”Cerita Kecil Saja”, Stephie Kleden Beetz)

Pemberdayaan Kesejatian Hidup,

”Pemberdayaan Hubungan antarUmat Beriman”

demikian tema Aksi Puasa Pembangunan

(APP 2009)

Umat Katolik diajak untuk membuka diri kepada masyarakat dan lingkungan hidupnya yang nyata majemuk. Kita harus bersikap realistis bahwa jika kita ingin hidup berdampingan dengan tenteram dan damai, maka kita harus membuka diri dan dengan ikhlas menerima kehadiran orang lain, teristimewa yang berbeda institusi keagamaan dengan kita.

Baca dan renungkan (Yohanes 17 : 1 – 26), bagaimana Yesus berdoa untuk murid-murid-Nya dan juga untuk dunia mohon persatuan teguh.

Intinya bahwa kita iklhas menjadi ”cahaya” bagi dunia.

Paskah, memang diidentikan dengan ”cahaya, api yang bernyala menerangi.” Di malam Paskah, dalam tradisi gereja Katolik diawali dengan upacara ”cahaya”, gereja dan umat berada dalam kegelapan. Kemudian lilin Paskah yang adalah lambang cahaya Kristus yang bangkit diarak memasuki gereja dan menerangi umat dan ruangan gereja. Sambil berarak Iman berseru setengah bernyayi, ”Kristus cahaya dunia” dan umat meriah bersorak menjawab, ”Syukur kepada Allah”. Kemudian umat menyalakan lilin-lilin kecil di tangannya dengan api dari lilin Paskah.

Menjadi cahaya di tengah dunia gulita. Kita menjadi sebatang kandil mungil di dunia. Sebuah simbol agung khas paskah beruang-ulang kita kenangkan lewat upacara liturgi gereja. Tetapi, apakah kita sadar bahwa simbol itu seharusnya menjadi realitas dalam hidup beriman dan bermsyarakat? Sejauh mana kita berani bersaksi bahwa kita adalah cahaya dunia? Cahaya yang menerangi dan menyejukkan kehidupan? Ataukah kita justru menjadi ”virus” penyebar fenomena kegelapan dan kekacauan di dunia lewat kesaksian hidup semu kita?

Semoga sikap cerdik si bungsu dalam cerita awal renungan menjadi pedoman:

arif buat berlangkah dalam hidup ini.

Dan mari jauhi sikap picik sang sulung

yang memaknakan hidup ini lewat aksi penumpukan harta kekayaan serta adu gengsi yang justru menjadi penghalang masuk dan merebaknya cahaya suci.

Dan kita masing-masing boleh bertanya,

siapakah aku ini,

si bungsu ataukah si sulung?”

Selamat Berhari Raya Cahaya 2009

2 Komentar

Filed under Religius

Refleksi Prapaskah 2009

Ini adalah uskup agung yang pernah bertugas di Rusia dan kini sudah sepuh. Di masa mudanya sebagai mahasiswa yang cerdas, ia terpilih untuk melanjutkan studi S-3 di bidang hukum gereja. Di samping menjalankan tugas akademisnya, ia mendapat giliran membantu di sebuah rumah sakit. Di sini ia punya kesempatan untuk meneruskan disertasinya. Sebuah metode yang unik ia pakai: ia kumpulkan berbagai pendapat ilmuwan, ia catat dengan cermat sumbernya, siapa pengarangnya, dan akan dimasukkan ke bagian mana dari tesisnya. Kemudian kutipan yang beratus-ratus jumlahnya ia susun rapi di atas meja kerjanya. Tak cukup di atas meja, ia tata dan ia urutkan sampai di lantai.

Suatu hari, pembantu yang mengurus kebersihan rumah membuka kamar kerja romo muda ini dan berhamburanlah ratusan kutipan kecil itu diterpa angin dari arah jendela dan pintu. Ia lalu menyapu dan ketika akan memasukkan kertas-kertas itu ke keranjang sampah, masuklah si romo. Pucat bagaikan kapur, si romo gemetar menahan diri untuk berteriak sejadi-jadinya. Daya ledak di dada sekuat gunung api yang siap sembur. Terlambat lima menit saja, semua jerih payah dan cucur keringatnya selama satu tahun lebih sudah jadi mangsa api. Namun romo kita dalam cerita ini cepat menguasai diri dan menyuruh pergi si pembantu, yang jadi gemetar dan panik tak paham apa sebenarnya kesalahannya.

Setelah tenang kembali, si romo muda menata lagi ratusan keping kertas yang berisi kutipan berharga dari berbagai sumber itu. Entah berapa lama ia harus menatanya kembali. Mene-ngadalah ke langit, ia berkata, ”Tuhan, terima kasih karena sudah memberikan kesabaran ke-padaku di saat yang sulit.”

Peribahasa Cina mengatakan,

”Jika engkau menahan diri sesaat saja dalam kemarahanmu yang luar biasa, engkau luput seratus hari dari seribu penyesalan”

(dari ”cerita kecil saja”, stephie kleden – beetz)

Para Frater yang dikasihi Tuhan,

Masa refleksi agung tahunan ”pra paska 2009” tiba.

Budaya bangsa kita mengajarkan sebuah petuah mulia,

”Penyabar kekasih Tuhan”.

Kali ini kita diajak untuk mengetes diri, apakah saya ini penyabar atau pemarah? Bukanlah, kemarahan akan mlahirkan banyak dosa?

Kita memang sering gampang marah. Jarang dan sedikit sekali di antara kita yang memiliki kemampuan untuk dapat mngendalikan diri dari ancaman maut ini, marah. Bahkan, sering, sedikit saja ada gangguan, kita sudah meledak memuntahkan ke-marahan yang menakutkan. Meresahkan suasana hidup. Bahkan, saya pernah me-nyaksikan ada seseorang yang berlari tunggang langgang karena ia tidak tega, ia tidak mampu menahan mendengar dan menyaksikan ”ledakan kmarahan” dari seseorang di hadapannya. Memang, kemarahan itu menakutkan! Dan kesabaran itu mengharukan!

Kemarahan dapat beranak pinak, artinya

sebuah kemarahan akan melahirkan sejuta kemarahan; bahkan dikatakan, ”kemarahanmu mendatangkan dosa di hatimu”

Pernahkah Anda sangat marah, di suatu kesempatan?

di suatu tempat?

karena suatu alasan sepeleh?

bagaimana perasaanmu setelah itu?

pernahkah berjanji untuk berhenti marah?

Nah,

adakan sebuah flash back akan peristiwa itu dan refleksikan dengan penuh konsentrasi!

Tuhan Ajari Kami

Tuhan,

ajari kami masing-masing agar tidak gampang panik dan marah menghadapi kehidupan harian ini

di komunitas-komunitas bersama saudara-saudara kami

kuatkan niat baik kami agar mampu mengontrol diri saat hendak marah

mampuhkan kami, agar boleh meneladan Yesus Putra-Mu

yang tetap mampu bersabar kepada siapa pun

jika memang kemarahan itu tidak seharusnya ditumpahkan

semoga semangat kerendahan hati serta kesadaran diri

selalu menghiasai hari-hari hidup kami

agar kami mampu mengatur hidup ini

menjadi kian bermakna, hening, dan lembut

bersahabat dan sabar

Amin.


“If you are patient in one moment of anger, you will escape a hundred days of sorrow.” (Chinese Proverb)

Tinggalkan komentar

Filed under Religius

Sapaan Paus Pada Hari Orang Sakit Sedunia

Setiap tahun, tepatnya tanggal 11 Februari, Gereja merayakan liturgi peringatan Bunda Maria dari Lourdes. Pada saat yang sama pula dirayakan Hari Orang Sakit Sedunia. Biro Nasional KKI mengolah Sapaan Paus Paus Benediktus XVI, pada peringatan Hari Orang Sakit Sedunia 2007. Tak(belum) ada Sapaan Paus Hari Orang Sakit 11 Februari 2009. Kiranya sapaan Paus ini dapat menjadi Sabda yang menyembuhkan orang-orang sakit, menguatkan hati para perawat dan pelayan kesehatan. Saudara-Saudari terkasih, Gereja memberikan perhatian khusus pada orang-orang yang menderita sakit berat. Mereka ditemukan di berbagai belahan benua, khususnya di tempat-tempat, di mana kemiskinan dan kekerasan hidup yang menyebabkan penderitaan dan kemalangan. Sadar akan penderitaan yang mereka alami, saya dalam roh, hadir khususnya pada Hari Orang Sakit Sedunia, bersatu dengan mereka yang berkumpul dan berdiskusi tentang pemberantasan penyakit yang belum tersembuhkan di dunia saat ini dan mendorong berbagai upaya komunitas Kristiani untuk memberikan kesaksian tentang kelembutan dan belas kasih Allah. Keadaan sakit, jelas membawa orang masuk ke dalam suatu momen krisis dan pergulatan batin yang mendalam dengan keadaan pribadinya sendiri. Kemajuan dalam ilmu pengetahuan tentang kesehatan sudah menyediakan sarana yang mendukung untuk mengatasi masalah ini, paling tidak menangani aspek fisiknya. Akan tetapi, kehidupan manusia memiliki keterbatasan dalam dirinya sendiri, dan cepat atau lambat, kehidupan itu akan berakhir dengan kematian. Ini merupakan suatu pengalaman, yang pada waktunya semua manusia akan sampai ke sana. Terhadap kematian itu kita harus selalu mawas diri. Kendati terjadi kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan tentang kesehatan, pengobatan belum dapat ditemukan untuk setiap jenis penyakit. Oleh karena itu di rumah sakit, rumah perawatan, dan rumah-rumah kediaman di seluruh dunia, kita menjumpai penderitaan begitu banyak saudara-saudari kita yang tidak tersembuhkan dan sering mencapai tahap ajal yang sangat memprihatinkan. Tambahan pula, jutaan manusia di seluruh dunia mengalami kondisi sanitasi yang buruk dan tak ada akses ke sumberdaya kesehatan yang sangat diperlukan, sekalipun pada tingkat dasar, dengan akibat bahwa jumlah manusia yang dianggap tidak ”tersembuhkan” semakin besar. Gereja bertekad mendukung orang sakit yang tak tersembuhkan dan mendekati ajal dengan menyerukan kebijakan sosial yang adil, yaitu ”kebijakan yang membantu menghilangkan sebab-sebab dari berbagai penyakit dan dengan mendesak perbaikan pengobatan bagi mereka yang sekarat dan mereka yang belum tersedia obat-obatannya’. Ada suatu kebutuhan besar untuk mendorong kebijakan yang menciptakan situasi di mana manusia dapat merawat orang-orang sakit yang tak tersembuhkan dan mati dengan cara yang lebih manusiawi. Di sini perlu ditekankan sekali lagi kebutuhan akan pusat perawatan yang lebih meringankan penderitaannya, menyediakan perawatan yang menyeluruh, para perawat memberikan kepada orang sakit bantuan yang lebih manusiawi dan kebutuhan akan pelayanan rohani. Ini merupakan suatu hak azasi yang menjadi milik setiap orang, suatu hal yang harus kita perhatikan. Di sini saya hendak meneguhkan usaha-usaha mereka yang bekerja hari demi hari untuk memastikan bahwa mereka yang sakitnya tak tersembuhkan dan menjelang ajal, bersama dengan keluarga mereka untuk memperoleh perawatan yang memadai dan penuh cinta. Gereja, dengan mengikuti teladan ”Orang Samaria” yang Baik Hati”, telah menunjukkan perhatian khusus bagi mereka yang lemah dan tak berdaya. Melalui anggota perorangan dan lembaganya, ”Orang Samaria yang Baik Hati”, itu terus berdiri di sepanjang jalan penderitaan dan mengunjungi orang-orang yang kegelapan, mendekati ajal, kelaparan, untuk memelihara martabat mereka pada saat-saat yang sangat penting dari keberadaan manusia. Banyak orang seperti itu-para petugas perawatan kesehatan yang profesional, petugas pastoral, dan sukarelawan dan lembaga-lembaga di seluruh dunia tanpa kenal lelah melayani para penderita, di rumah sakit, unit perawatan yang meringankan penderitaan, di jalan-jalan kota, di perumahan-perumahan rakyat dan paroki-paroki. Saya menaruh perhatian kepada kalian, saudara-saudari yang terkasih, yang menderita sakit tak tersembuhkan dan menjelang ajal. Saya mengajak kalian semua untuk merenungkan Penderitaan Kristus yang tersalib, dan dalam persatuan dengan Dia, menyerahkan diri dengan penuh kepercayaan kepada Allah Bapa bahwa seluruh hidup berada di tangan-Nya. Percayalah bahwa penderitaanmu, dalam persatuan dengan penderitaan Kristus, akan menjadi sangat berguna bagi Gereja dan dunia. Saya berdoa kepada Tuhan untuk menguatkan imanmu dalam cinta-Nya, khususnya selama masa percobaan yang Anda alami saat ini. Harapan saya, di mana pun kalian berada, kalian akan selalu menemukan kekuatan rohani dan daya batin yang diperlukan untuk mengembangkan iman dan membawa Anda semakin dekat dengan Allah Kehidupan. Melalui para imam dan petugas pasrotalnya, Gereja ingin membantu kalian dan berada di samping kalian, menolong kalian pada saat-saat yang sangat membutuhkan, dan menghadirkan belaskasih Tuhan kepada semua orang yang menderita. Akhirnya, saya menyerukan kepada semua umat beriman di seluruh dunia, dan khususnya mereka yang membaktikan diri pada pelayanan kepada orang-orang yang lemah, untuk terus menerus memohon bantuan Bunda Maria, Salus Infirmorum, untuk memberikan kesaksian tentang perhatian penuh cinta dari Allah Bapa kita. Semoga Santa Perawan Maria, Bunda kita, menggembirakan hati orang yang sakit dan memelihara semua orang yang telah mengabdikan diri sebagai ”Orang Samaria yang Baik Hati”, untuk menyembuhkan luka-luka fisik dan luka-luka batin dari mereka yang menderita. Bersatu dengan kalian semua, dalam pikiran dan doa, saya dari lubuk hati yang paling dalam memberikan Berkat Apostolik sebagai tanda peneguhan dan kedamaian jiwa dalam Tuhan.

Pesan Paus Benediktus XVI

Hari Orang Sakit Sedunia ke-15.

11 Februari 2007

Tinggalkan komentar

Filed under Religius

Mari kita berkenalan dengan tokoh-tokoh utama dalam drama penyaliban ini. Tokoh yang menjatuhkan hukuman mati kepada ke-26 martir tersebut ialah Toyotomi Hideyoshi, yang lebih dikenal dengan nama Taikosama, seorang penguasa Jepang yang tinggal di Benteng Osaka. Pelaksana hukuman mati ialah Terazawa Hazaburo,saudara Gubernur Nagasaki. Sebagai tokoh utama adalah ke-26 martir yang dijatuhi hukuman mati. Ikut serta mengiringi mereka ialah para misionaris Yesuit dari Nagasaki, para pelaut Spanyol, para pedagang dari Macao, para prajurit serta para algojo.

Terazawa dan kerumunan orang banyak sudah menunggu ke-26 orang yang dijatuhi hukuman mati tersebut di Bukit Nishizaka -sekarang lebih dikenal dengan sebutan Bukit Kudus atau Bukit Para Martir. Suatu tugas yang amat berat bagi Terazawa. Seorang dari para tawanan, Paulus Miki, adalah sahabat karibnya; ia sering mendengarkan khotbahnya. Para tawanan itu tidak melakukan kejahatan apapun dan Terazawa tahu itu. Oleh karenanya, Terazawa memperkenankan sedikit kelonggaran, misalnya mengijinkan dua orang imam Yesuit – Rm. Pasio dan Rm. Rodriguez – untuk mendampingi para martir menjelang ajal mereka.

Jam setengah sebelas rombongan para martir tiba. Di barisan depan tampak para pengawal membuka jalan melalui khalayak ramai yang telah menunggu. Dibelakang mereka, berjalan para martir. Mereka tampak amat letih. Tenaga mereka telah terkuras habis oleh tiga puluh hari perjalanan yang meletihkan dari Urakami ke Nagasaki 600 mil (±966 km). Tangan mereka terikat erat, kaki mereka, yang bersusah-payah berjalan di atas timbunan salju, meninggalkan tetesan-tetesan darah di sepanjang jalan. Daun telinga kiri mereka telah dipotong sebulan yang lalu sebelum mereka meninggalkan Kyoto. Badan mereka memar dan penuh luka karena sepanjang perjalanan mereka disiksa dan dengan demikian dijadikan contoh pelajaran bagi warga lainnya. Sungguh suatu Jalan Salib yang amat berat dan panjang.

Ketika rombongan martir tiba di atas bukit, 26 kayu salib sudah siap tergeletak di tanah menanti mereka. Panjangnya rata-rata lebih dari dua meter, dua balok yang saling menyilang dengan sebuah pasak dimana para korban dapat duduk mengangkang. (lihat Apakah Hukuman Mati di Hadapan Umum Dapat Dibenarkan?) Rm. Ganzalo, yang pertama tiba, langsung menghampiri salah satu salib tersebut: “Inikah untukku?” tanyanya. Ia berlutut dan memeluk salibnya. Para martir yang lain ikut melakukan hal yang sama. Kemudian, satu per satu, para martir diikatkan pada kayu salib. Tidak ada paku. Kaki dan tangan serta leher mereka dibelenggu pada tiang salib dengan gelang besi. Sebuah tali diikatkan melingkar pada pinggang mereka agar mereka terikat erat pada salib. Bagi Rm Petrus Bautista, gelang besi tidak cukup kuat. “Paku saja, saudaraku,” pintanya kepada seorang algojo sembari merentangkan tangannya.Ternyata cukup sulit mengikatkan Paulus Miki pada kayu salib. Calon imam Jepang itu terlalu pendek dan kakinya tidak mencapai gelang besi. Seorang algojo mengikatkan tubuh Paulus Miki pada salib dengan lilitan kain linen. Ketika algojo menginjak-injak tubuhnya untuk mempererat lilitan kain, seorang misionaris tidak dapat menahan diri. “Biarkan ia melakukan tugasnya, Romo,” kata Paulus Miki, “percayalah, tidak terlalu sakit.”

Ketika semua martir telah terikat pada kayu salib, keduapuluh enam salib tersebut secara serempak diberdirikan dan dengan sebuah hentakan keras salib-salib tersebut ditancapkan ke tanah. Para martir merasakan sakit yang amat hebat di sekujur tubuh mereka akibat hentakan tersebut. Kemudian para martir bersatu dalam suatu paduan suara puji-pujian dimana doa, harapan, iman dan kemenangan yang telah menanti bercampur menjadi satu.

Yohanes dari Goto pagi itu baru saja mengucapkan sumpah pertamanya sebagai seorang Yesuit. Remaja berumur 19 tahun itu telah siap untuk mempersembahkan kepada Tuhan hidup yang tanpa cela, hati yang belia, yang penuh harapan dan semangat sukacita. Ketika Yohanes mendekati salibnya, seorang misionaris berusaha menguatkan hatinya. Surga sudah hampir berada di tangan. “Jangan khawatir, Romo,” jawab Yohanes dengan tersenyum, “saya sadar akan hal itu.”

Di sebelahnya, disalibkan Louis Ibaraki, berumur 12 tahun. Ketika seseorang menyebutkan kata ‘surga’ kepadanya, remaja itu meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari belenggunya, seolah-olah hendak terbang ke angkasa. Suara soprannya terdengar sayup-sayup ditelan keributan massa: “Surga, surga.Yesus, Maria!”

Alasan hukuman mati bagi para martir ditancapkan pada ujung sebuah tombak. Paulus Miki dapat membacanya dari salibnya:”Karena orang-orang ini berasal dari Filipina dengan menyamar sebagai duta besar dan tinggal di Miyako, menyebarkan agama Kristen, yang selama bertahun-tahun ini saya larang dengan keras, saya sampai pada keputusan untuk menghukum mati mereka, bersama dengan orang-orang Jepang yang telah menerima agama tersebut.”Paulus meluruskan tubuhnya yang tergantung di kayu salib, memandang ke arah
orang banyak dan berseru dengan suara nyaring: “Kalian semua yang berada di sini, dengarkanlah saya.” Keheningan segera meliputi seluruh bukit:”Saya tidak datang dari Filipina, saya ini seorang Jepang asli, seorang saudara dari Serikat Yesus. Saya tidak melakukan kejahatan apapun, dan satu-satunya alasan mengapa saya dijatuhi hukuman mati ialah bahwa saya telah mewartakan ajaran Tuhan kita Yesus Kristus. Saya sungguh merasa bahagia diperkenankan meninggal oleh karena alasan tersebut, kematian saya merupakan suatu
anugerah besar dari Tuhan. Pada saat yang genting ini, saat dimana kalian bisa percaya
bahwa saya tidak akan menipu kalian, saya ingin menekankan dan menyatakan
dengan gamblang bahwa tidak ada seorang pun beroleh keselamatan jika tidak
melalui ajaran Kristen.”Paulus juga melihat Terazawa dan para algojo. Bagi mereka, ia juga menyampaikan pesannya yang terakhir:”Agama Kristen mengajarkan agar kita mengampuni musuh-musuh kita dan semua orang yang bersalah kepada kita. Oleh karena itu saya hendak mengatakan bahwa saya mengampuni Taikosama. Saya mendambakan semua orang Jepang menjadi Kristen.” Kemudian Paulus Miki mengarahkan jiwanya ke surga:”Tuhan ke dalam tangan-Mu aku menyerahkan jiwaku. Datanglah menyambutku, ya Para Kudus Allah.”

St. Martin menyanyikan madah “Kemuliaan” dan “O, pujilah Tuhan, ya segala bangsa.”. Fr. Gonzalo mendaraskan Bapa Kami. Para martir yang lain memadahkan nyanyian serta puji-pujian. Kemudian di seluruh bukit, termasuk orang banyak yang menonton, dengan penuh semangat menggemakan: Yesus, Maria..Yesus, Maria.” Tetapi tidak semua. Seorang martir, Fr Filipus dari Yesus, tidak bisa ikut menyanyi. Pasaknya di kayu salib terlalu rendah; dan seluruh tubuhnya bergantung pada gelang besi di lehernya, mencekiknya hingga sulit bernapas. Dengan sisa-sisa kekuatannya, Fr Filipus menyerukan nama Yesus tiga kali. Terazawa melihatnya sekarat dan tidak ingin melihatnya menderita lebih lama lagi. Ia memberi perintah dan dua algojo mengakhiri penderitaan martir Meksiko tersebut dengan sebilah tombak. Pada saat yang sama ibunya di Meksiko sedang mempersiapkan perlengkapan jubahnya untuk Misanya yang pertama. Pohon ara di rumah orangtuanya tiba-tiba bersemi dengan daun-daun baru.

Kematian Fr Filipus menjadi tanda dimulainya pelaksanaan hukuman mati. Empat orang algojo segera bersiap-siap. Tombak mereka panjang dengan pisau yangmenyerupai pedang, tersembunyi di balik sarung pedang mereka. Setelah mengambil posisi, para algojo membuka sarung pedangnya. Dengan tikaman di dada, jiwa-jiwa para martir dihantar ke surga.
Ketika tiba giliran Rm Blanco, sambaran tombak menyebabkan tangannya lolos dari belenggu gelang besi. Rm Blanco berusaha keras kembali ke posisi semula agar ia pun dapat mati disalib seperti Yesus Kristus. Ketika Rm Martin ditikam dengan tombak, mata tombaknya terlepas dan tertancap di dadanya. Algojo naik ke atas salib, merogoh lukanya dan mencabut mata tombak dari dadanya. Rm Martin tetap tenang dan tak bergeming, tabah menunggu tikaman berikutnya.

Martir yang paling akhir wafat ialah Rm Bautista. Sepanjang pelaksanaan hukuman salib, ia nyaris tak bergerak, tenggelam dalam doa dan ekstasi. Sekarang,ketika para algojo dan tombak yang berlumuran darah itu berada di hadapannya, ia menggerakkan bibirnya untuk mengucapkan doanya yang terakhir: “Tuhan,ke dalam tangan-Mu kuserahkan jiwaku.” Kemudian ia tidak bergerak lagi, bahkan ketika tombak menghujam di dadanya. Darah mengalir dengan deras tetapi ia tampak seperti masih hidup. Sempat tersiar kabar bahwa ia tidak wafat
disalib. Beberapa hari sesudah hukuman mati itu, beberapa orang melihat tubuhnya
bergerak-gerak, sebagian lagi bahkan melihatnya mempersembahkan Misa di RS St. Lazarus! (Jenasah para martir dibiarkan tergantung pada kayu salib hingga beberapa minggu kemudian).

Orang-orang Kristen Portugis dan Jepang yang hadir dalam pelaksanaan hukuman mati tersebut tidak dapat menahan diri lagi. Mereka menerobos para pengawal,maju mendekati salib dan membasahi sobekan-sobekan kain dengan darah para martir serta mengumpulkan bongkahan-bongkahan tanah yang telah disucikan oleh darah mereka. Mereka bahkan menyobek jubah dan kimono para martir untuk dijadikan reliqui. Para pengawal memukuli mereka dan mengusir mereka pergi. Darah orang banyak yang mengalir kemudian bercampur dengan darah para martir. Terazawa menempatkan para pengawal di seluruh bukit dan mengeluarkan larangan keras bagi siapa saja untuk tidak mendekati salib. Setelah menyelesaikan tugasnya, Terazawa meninggalkan bukit. Orang banyak yang hadir melihat bahwa seorang prajurit yang tegar seperti Terazawa itu menangis.Sinar matahari sore menyinari bukit di mana ke-26 martir masih tergantung di kayu salibnya masing-masing. Mereka seperti sedang tertidur, beristirahat setelah perjalanan yang panjang dan melelahkan. Ke-26 martir itu sesuai
dengan urutan salibnya ialah:

1. ST. FRANSISKUS, seorang tukang kayu dari Kyoto, seorang yang teguh dan
setia. Ia memaksa mengikuti para martir hingga ia sendiri akhirnya ditangkap
dan boleh bergabung dengan rombongan para martir.

2. ST. COSMAS TAKEYA, seorang pembuat pedang dari Owari. Ia dibaptis oleh
Serikat Yesus dan bekerja sebagai seorang katekis bersama Ordo Fransiskan
(OFM) di Osaka.

3. ST. PETRUS SUKEJIRO, seorang pemuda dari Kyoto yang dikirim oleh Rm
Organtino untuk mendampingi para martir dalam perjalanan mereka ke Nagasaki.
Pengabdiannya yang besar pada tugasnya menghasilkan rahmat baginya untuk bergabung dalam bilangan para martir.

4. ST. MIKAEL KOZAKI, berusia 46 thun, berasal dari Ise, seorang pembuat busur. Dengan keahliannya sebagai tukang kayu, ia ikut serta membangun biara-biara serta gereja-gereja OFM di Kyoto dan Osaka. Ia mempercayakan miliknya yang paling berharga kepada para biarawan OFM, yaitu anaknya, Thomas.

5. ST. YAKOBUS KISAI, berusia 64 tahun, seorang Serikat Yesus awam. Devosinya kepada Sengsara Kristus amat mendalam. Dikenal sebagai seorang yang lemah lembut dan hatinya penuh kedamaian. Ia berasal dari Okayama dan bertugas mengurus para tamu yang berkunjung ke kediaman Serikat Yesus.

6. ST. PAULUS MIKI, berusia 30 tahun, berasal dari Tsunokuni, putera seorang
perwira yang gagah berani bernama Miki Handayu. Rasa syukurnya atas
panggilannya untuk mewartakan Injil melebihi apapun juga. Sebentar lagi tiba saatnya bagi
Paulus Miki untuk ditahbiskan sebagai seorang imam. Seorang pengkhotbah
terbaik di daerahnya. Ia baru diam ketika algojo menghujamkan tombak ke dadanya.

7. ST. PAULUS IBARAKI, berasal dari Owari dari sebuah keluarga samurai. Ia
bersama keluarganya tinggal dekat biara OFM. Hidup miskin tetapi banyak
membantu orang-orang lain yang lebih miskin darinya. Ia juga seorang pengkhotbah.

8. ST. YOHANES DARI GOTO, pemuda berusia 19 tahun dari pulau Goto ini penuh
dengan sukacita. Ia melayani Tuhan sepanjang hidupnya. Ia bersekolah di
sekolah Serikat Yesus untuk menjadi seorang Katekis dan membantu para misionaris
dengan keahliannya melukis dan bermain musik. Ia ditempatkan di Osaka di
bawah bimbingan Rm Morejon sampai Tuhan menawarkan mahkota kemartiran kepadanya.

9. ST. LOUIS IBARAKI, berusia 12 tahun, yang termuda dari rombongan para
martir. Ia dilahirkan di Owari, keponakan St. Paulus Ibaraki dan St. Leo
Karasumaru.Anak yang menyenangkan dan disayangi semua orang. Ia tetap menyanyi dan
tertawa ketika serdadu memotong telinga kirinya. Sepanjang perjalanan yang
jauh ke Nagasaki dan selama tergantung di atas kayu salib, ia membuktikan
ketabahan dan kebesaran hatinya. Ia menolak mentah-mentah ketika dibujuk
untuk mengingkari imannya. “Ada Louis kecil bersama kita,” tulis Rm Fransiskus Blanco di malam menjelang hukuman mati, “dan ia begitu penuh keberaninan dan semangat yang
mengharukan semua orang.”

10.ST. ANTONIUS, berusia 13 tahun, dilahirkan di Nagasaki. Ayahnya seorang
Cina dan ibunya seorang Jepang. Remaja yang polos ini belajar di biara OFM
di Osaka. Hal yang amat memilukan hatinya ialah ketika melihat ibunya menangis
tidak jauh dari salibnya. Ajal menjemput ketika ia memadahkan lagu-lagu pujian.

11.ST. PETRUS BAPTISTA, berusia 50 tahun, berasal dari San Esteblan del Valle (Avila, Spanyol). Pemimpin Misi OFM (Saudara-saudara Dina) di Jepang, dulunya seorang duta besar dari Spanyol. Ia merupakan ayah bagi kaum lepra dan pemimpin rombongan martir. Hidupnya penuh dengan kebajikan dan kekudusan.

12.ST. MARTIN DARI KENAIKAN (Yesus ke surga), berusia 30 tahun, berasal dari
Guipuzcoa, Spanyol. Kesucian hatinya sungguh mengagumkan. Biasa menghabiskan
waktu malamnya dengan doa.

13.ST. FILIPUS DARI YESUS, seorang Meksiko berusia 24 tahun. Hidupnya penuh
dengan tantangan yang membingungkan, adu kekuatan antara Kristus dan Filipus, tidak satupun dari mereka yang mau kalah. Pada akhirnya Kristus menjadi pemenang dan sekarang Filipus penuh dengan semangat untuk menebus masa-masa dimana ia menjadi anak yang hilang: ia yang wafat pertama sebagai martir.

14.ST. GONZALO GARCIA, berusia 40 tahun, berasal dari Bazain, India. Ayahnya
seorang Portugis dan ibunya seorang India. Seorang katekis bersama Serikat Yesus. Ia masuk OFM awam, dan menjadi tangan kanan St. Petrus Baptist. Masyarakat India mengangkatnya menjadi santo pelindung Bombay.

15.ST. FRANSISKUS BLANCO, berasal dari Monterrey (Galacia, Spanyol). Datang
ke Jepang bersama dengan St. Martin dari Kenaikan. Seorang yang pendiam,
lembut dan genius.

16.ST. FRANSISKUS DARI ST MIKAEL, berusia 53 tahun, berasal dari La Parrilla
(Valladolid, Spanyol). Seorang awam ordo OFM.

17.ST. MATIAS, kita tidak mengetahui latar belakangnya. Para prajurit mencari Matias lain yang tidak dapat diketemukan, atau ia menawarkan diri untuk menggantikan Matias yang dicari. Para prajurit dengan senang hati menerima dia. Tuhan juga menerimanya juga.

18.ST. LEO KARASUMARU, berasal dari Owari, adik dari St. Paulus Ibaraki. Hidupnya merupakan teladan. Memberikan sumbangan besar kepada OFM dalam membangun
gereja dan mengelola rumah sakit. Seorang katekis yang penuh semangat dan doa.

19.ST. BONAVENTURA, dibaptis ketika masih bayi, tak lama kemudian ibunya
meninggal. Ibu tirinya mengirim Bonaventura ke biara Budha. Suatu hari ia
mengetahui perihal pembaptisannya dan mengunjungi Biara OFM di Kyoto untuk mendapatkan
lebih banyak keterangan. Di biara, ia mendapatkan kedamaian hati. Sepanjang perjalanannya menuju hukuman mati, ia berdoa bagi iman ayahnya dan pertobatan ibu tirinya.

20.ST. TOMAS KOZAKI, berusia 14 tahun, berasal dari Ise. Seorang anak desa
yang tingkah lakunya kasar, tetapi hatinya mulia. Ia membantu ayahnya yang
bekerja sebagai tukang kayu. Ia tinggal di biara OFM. Seorang yang jujur, tegas, dan
memiliki semangat pengabdian yang tinggi dalam melayani Tuhan. Surat perpisahannya kepada ibunya menjadi reliqui yang amat berharga.

21.ST. YOAKIM SAKAKIBARA, berusia 40 tahun, berasal dari Osaka. Ketika sedang sakit keras, seorang katekis membaptisnya. Sebagai rasa terima kasih, St.Yoakim membantu pendirian biara OFM di Osaka dan kemudian tinggal di sana sebagai juru masak. Ia unggul dalam kebaikan hati dan kesediaannya untuk melayani.

22.ST. FRANSISKUS, berusia 48 tahun, berasal dari Kyoto. Seorang dokter dan
pengkhotbah yang penuh semangat. Setelah ia dan isterinya dibaptis, mereka
tinggal di dekat biara OFM. Mereka merawat orang-orang sakit tanpa memungut
bayaran dan membawa mereka kepada Kristus.

23.ST. TOMAS DANGI, seorang penjual obat, wataknya keras. Dengan rahmat
Tuhan ia berkembang menjadi seorang katekis yang lembut hati. Ia mendirikan
tokonya di sebelah biara OFM, dan sementara ia menjual obat, ia juga menunjukkan
kepada para pelanggannya jalan menuju surga.

24.ST. YOHANES KINUYA, berusia 28 tahun, berasal dari Kyoto. Seorang penenun
dan pedagang kain sutera. Ia memindahkan tokonya dekat biara OFM.

25.ST. GABRIEL, berusia 19 tahun, berasal dari Ise. Dibaptis dan dibimbing oleh Fr. Gonzalo. Ia maju pesat dalam iman. Gabriel bekerja sebagai seorang katekis.

26.ST. PAULUS SUZUKI, berusia 49 tahun, berasal dari Owari. Ia unggul dalam semagat pewartaan, salah seorang katekis terbaik yang membantu OFM. Ia diserahi tugas mengelola Rumah Sakit St Yusuf di Kyoto.

Banyak yang percaya bahwa itulah saat akhir kehidupan Kristiani di Jepang.
Bagaimana pun juga, semua orang melihat apa yang telah terjadi. Ketika para
misionaris kembali ke Jepang sekitar tahun 1860-an, pada awalnya mereka tidak menemukan tanda-tanda kehidupan Kristiani di sana. Baru setelah mereka menetap di sana, mereka menemukan beberapa orang Kristen. Kemudian, mereka menemukan ribuan orang Kristen di daerah sekitar Nagasaki. Mereka ini memelihara imannyasecara sembunyi-sembunyi.

Kedua puluh enam martir Jepang ini dibeatifikasi pada tahun 1627, dan diangkat sebagai santo oleh Paus Pius IX pada tahun 1862. Pestanya dirayakan setiap tanggal 6 Pebruari.

“Kami mohon padamu para martir Jepang, sudilah menolong kami agar memiliki
keberanian seperti yang engkau miliki. Engkau berdiri tegak mempertahankan
iman.Engkau tidak menyerah. Engkau menyerahkan hidupmu bagi Kristus. Bantulah
kami untuk memiliki keberanian yang sama dalam segala sesuatu yang kami
kerjakan.Juga, bantulah kami untuk membuat keputusan yang tepat seperti yang engkau
lakukan. Terima kasih karena engkau sudi mendoakan kami. Amin.”

Sumber:
1. “On Martyrs Hill” by Diego R. Yuki S.J.;
2. “The Cross Becomes A Pulpit” by Diego R. Yuki S.J.;
3. “Conquerors of Death” by Diego R. Yuki S.J.;

Disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA:www.indocell . net/yesaya
Peace & Love ,Rachel
Http://remang- remang.blogspot. com/2009/ 02/aku-hamil. html

Tinggalkan komentar

Filed under Religius