Category Archives: Remah-remah

Hal remeh-temeh dari komunitas provinsialat

BERITA BULETIN UCAN BAHASA INDONESIA EDISI TERBIT: 4 – 8 MEI 2009

INDONESIA – Karakter Islam Indonesia adalah Pluralistik?
5 Mei 2009??|??IJ07097. 641b??| 1.607 kata

2_05836_medali perakSJAKARTA (UCAN)?–?Indonesia menawarkan versi Islam yang pluralistik kepada dunia yang bertabrakan dengan bentuk Islam yang ?monolitik,? yang terutama datang dari Timur Tengah, kata seorang cendekiawan Islam.

Seraya menjelaskan karakter Islam Indonesia, Ahmad Suaedy, direktur dari the Wahid Institute, mengatakan bahwa Islam Indonesia itu “pribumi” dan pluralistik, baik dalam ekspresi dan hubungannya dengan agama-agama lain.

Selain itu, Indonesia adalah negara yang memiliki penduduk Muslim terbesar di dunia, dan 87 persen dari 220 juta penduduknya beragama Islam.

The Wahid Institute, yang didirikan oleh mantan presiden Abdurrahman Wahid, berkarya untuk menciptakan dunia yang adil dan damai dengan membangun pemikiran Islam moderat yang mendorong terciptanya demokrasi, pluralisme agama-agama, multikulturalisme dan toleransi di kalangan kaum Muslim di Indonesia dan di seluruh dunia.

Suaedy, 45, mengatakan dalam wawancara baru-baru ini bahwa Islam Indonesia belum mendapatkan perhatian memadai dari media atau dari publik, baik Muslim maupun non-Muslim.

Suaedy adalah juga pendiri Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKIS), serta peneliti dari Insitut Dialog Antariman di Indonesia.

Wawancaranya sebagai berikut:

UCA NEWS: Mengapa the Wahid Institute berupaya membangun pemikiran Islam moderat?

AHMAD SUAEDY: Salah satu karakter dari Islam Indonesia yang paling menonjol adalah pluralitasnya. Ada perbedaan antara Islam di Jawa Tengah dan di Jawa Timur, atau di Jawa Barat.

Contohnya, Sultan Hamengku Buwono X (gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta) menganggap dirinya seorang Muslim yang baik dari keyakinannya, prateknya dan juga ekspresinya. Tapi Islamnya berbeda dengan Islam orang Nahdatul Ulama (NU) yang mempunyai kultur sendiri di pesantren. Ada juga perbedaan antara Islam di Jawa dan di luar Jawa.

Oleh karena itu, Islam di Indonesia menjadi barometer untuk Islam di dunia saat ini.

Islam Indonesia, khususnya Islam NU dengan budaya pesantren, adalah Islam pribumi. Tidak ada bedanya antara Islam dan Indonesia. Sejarah masyarakat Islam menurut versi ini adalah sejarah Indonesia. Sejarah Indonesia adalah sejarah Islam. Kebudayaan Indonesia adalah kebudayaan Islam. Kebudayan Islam adalah kebudayaan Indonesia.

Ini berbeda dengan kesadaran Islam formalistik yang menganggap Indonesia itu bukan Islam jadi harus di-Islamisasi atau diubah menurut kultur mereka, misalnya dengan mengenakan jubah. Pandangan ini khususnya datang dari Arab, Pakistan bahkan dari Malaysia.

Bagi kami, bangsa Indonesia dengan segala instrumennya ya Islam itu sendiri. Kami pakai baju kami yang bisa. Itulah yang kami tawarkan.

Indonesia itu adalah juga plural bukan saja dari segi Islamnya tapi juga dari segi latar belakang etnis.

Apa yang mendorong the Wahid Institute membangun pemikiran-pemikiran ini?

Islam Indonesia yang saya sebut berkarakter pluralis belum memperoleh perhatian di dunia. Jadi perlu ada proses globaliasasi terhadap paham pluralistik ini untuk menggantikan yang anti-pluralistik. Itu adalah agenda penting kami.

Kebudayaan Barat cenderung mendominasi kami. Dalam situsi itu, terjadi “clash of civilizations” antara Barat dan Islam yang monolitik. Islam Indonesia sebenarnya tidak terlibat di dalamnya. Tapi ini potensi yang bisa ditawarkan. Kalau Barat ingin memberikan penawarannya, harus juga negosiasi dengan kultur Islam Indonesia tanpa harus terjadi clash of civilizations.

Apa sebenarnya yang ditawarkan Islam Indonesia?

Kami menawarkan pengalaman-pengalam an pluralitas kami kepada dunia yang cenderung monolitik. Pengalaman-pengalam an pluralistik kami bisa menjadi faktor utama demokratisasi, karena di situ ada prinsip saling menghormati, saling tidak menyerang dan prinsip saling belajar.

Potensi besar Islam Indonesia adalah menciptakan civil society yang kuat. Kelompok masyarakat di Indonesia itu cukup kuat. Kita lihat misalnya, pemerintah di sini tak bisa menutup pesantren, betapa pun pesantren itu dianggap bertentangan dengan banyak orang. Lain kalau misalnya terbukti pesantren itu menjadi tempat pembuatan bom atau narkoba. Tetapi secara politik itu tidak bisa. Bedah dengan di Malaysia, Pakistan dan Arab Saudi. Di sana, kalau orang ingin berbeda dengan arus utama atau dengan pemerintah mereka harus menjadi underground.

Di Pakistan, ada Jamaat-e-Islami, suatu partai politik yang mempunyai basis cukup kuat seperti NU di sini. Islam di sana diseragamkan. Orang tidak boleh berbeda.

Sedangkan di sini, NU tak bisa dijadikan satu. NU di daerah ini tidak sama dengan NU di sebelahnya. Inilah independensi kelompok-kelompok masyarakat yang disebut civil society. Inilah yang bisa memberikan potensi besar untuk munculnya demokrasi atau dalam istilah poluter: social capital. Civil society adalah social capital dalam demokrasi.

Sekalangan umat Muslim mengatakan Al Quran adalah satu-satunya kitab suci benar, tak bisa ditawar-tawar. Dalam Islam, keesahan Tuhan dan kenabihan Muhammad itu tidak bisa ditawar. Namun, kami belajar keyakinan di dalam Islam dengan referensi lain juga. Keyakinan harus diimplemetasikan di dalam perbuatan. Dalam Islam keyakinan harus diimplementasikan dalam amal. Dalam implementasi itu kami bisa belajar dari orang lain. Untuk semakin dekat dengan Allah, para sufi belajar juga dari tradisi Yahudi dan Kristen.

Untuk menciptakan kemakmuran sistem ekonomi kami tidak bisa langsung ambil dari Al Quran, tapi kami harus belajar dari sosialisme, kapitalisme bahkan komunisme, misalnya.

Keyakinan tentu tak bisa dipertukarkan atau tak bisa dipengaruhi. Saling belajar menurut saya adalah sesuatu yang penting. Kalau ada seseorang menolak untuk ikut upacara agama tertentu itu adalah hak dia, tapi kalau menganggu upacara orang lain, itu soal lain. Bagi saya, ikut kegiatan Gereja asal bukan diyakini bahwa itu keyakinan saya ngak masalah. Orang berhak menolak. Orang bahkan berhak mengatakan bahwa itu tidak benar atau itu melanggar. Tetapi yang tidak boleh adalah memaksa apalagi melakukan kekerasan.

Berapa besar kelompok anti-pluralisme di Indonesia?

Dilihat kuantitatifnya, kelompok itu sebenarnya kecil. Tapi kuantitatif itu harus dilihat juga dari akses mereka. Dalam situasi sekarang, terutama sejak reformasi 1997, beberapa hal perlu diperhatikan. Pertama, ada semacam mainstreaming dari agenda mereka baik terhadap kelompok masyarakat, ormas, partai politik maupun terhadap perundang-undangan. Jadi ada elemen-elemen dari kelompok anti-pluralis yang masuk menjadi mainstream. Kita bisa melihat misalnya fatwa MUI yang anti-pluralisme.

Apa yang sedang dilakukan the Wahid Institute untuk mengkaunter perkembangan ini serta untuk mewujudkan cita-citanya?

Ada tiga hal besar. Pertama tingkat wacana. Kita mengintrodusir berbagai pemikiran yang bisa membantu mengangkat konsep-kosep pluralitas, toleransi, hak asasi manusia dan lain-lain dengan cara penelitian, pelaporan dan penerbitan buku, serta website. Tanggal 17 Maret kita meluncurkan sebuah buku dengan judul “Ragam Ekspresi Islam Nusantara” yang ingin mengatakan bahwa Indonesia secara historis adalah pluralistik.

Yang kedua capacity building lewat lokakarya, diskusi dan pelatihan untuk pemimpin agama lokal. Kami mengajak mereka untuk ikut memecahkan persoalan lokal tanpa harus terjatuh pada konservatisme dan fundamentalisme. Gerakan Islam fundamentalis menawarkan perbagai problem masyarakat dengan satu obat yakni shariah.

Ketiga adalah dialog ? antaragama, antarnegara, antardaerah. Beberapa waktu lalu bekerja sama dengan Kedutaan Inggris, enam imam dari Inggris datang ke Indonesia lalu kita membuat forum antaragama di sini. Kita perkenalkan imam-imam Inggris itu dengan pimpinan agama lain di sini.

Apakah ada kelompok-kelompok Islam lain yang mengupayakan cita-cita yang sama?

Banyak sekali kelompok yang bergerak untuk pluralisme agama di Indonesia. Jauh lebih banyak kelompok yang menawarkan persaudaraan meskipun tidak selalu dalam bahasa pluralisme. Cuma lebih besar perhatian media atau perhatian orang saat terjadi atau saat ada sesuatu yang tidak biasa seperti anti-pluralisme.

Saya sejak kecil hidup di mayoritas Muslim yang sangat taat. Di tetangga saya ada gereja yang berseberangan dengan pesantren, tapi tidak pernah umat Gereja serta warga pesantren itu saling menganggu. Mereka bergaul secara biasa.

Apakah kelompok-kelompok Muslim radikal semakin kuat?

Bukan ketakutan akan kekuatan mereka. Persoalan sekarang adalah bagaimana menawarkan model Islam yang kami yakini, dan bersamaan dengan itu memecahkan persoalan yang ada. Saat menawarkan model Islam yang pluralis, kami pun menciptakan kemakmuran atau memberantas kemiskinan dan meningkatkan pendidikan.

Di masa lalu, “kaum Muslim yang ideologis” ingin agar Islam menjadi dasar ideologi bangsa. Namun itu tidak mungkin.

Contohnya, Bank Islam. Bank itu kini sudah dipisahkan dari ideologi semula, dan sekarang ideologi bank itu sama dengan bank lain. Model dan istilahnya di-Arab-kan, tapi sebenarnya itu sudah dipisahkan dari ideologi Islam. Bank Shariah memang memakai istilah-istilah dan prinsip shariah tapi ideloginya sudah ideologi kapitalis, bagaimana menciptakan keuntungan sebesar-besarnya. Hampir tidak ada di situ, misalnya mengatakan, dengan bank itu maka orang miskin akan ditolong.

Begitu juga dengan perda-perda shariah.

Sejak mulanya Indonesia sudah pluralis, bahkan sebelum Islam datang. Ledakan bom di Bali dan kerusuhan-kerusuhan di beberapa bagian negeri ini terjadi karena intervensi dari luar. Meskipun kita tidak bisa menolak bahwa ada unsur Indonesia yang terlibat. Tetapi hal seperti itu bukan karakter Indonesia.

Apakah Anda punya rekanan dengan kelompok lain?

Kalau ada kesempatan, kami berdialog dan bekerja sama dengan kelompok-kelompok lain. Ini juga bagian dari capacity building. Kami tahu ada lebih banyak kelompok yang memiliki cita-cita yang sama. Kalau kita punya persoalan bersama di satu daerah tertentu, kita menyelesaikannya bersama-sama.

Bagaimana hubungan institute ini dengan Gereja Katolik?

Secara formal kita tak punya hubungan spesifik. Tetapi saya tahu beberapa hal tentang Gereja Katolik, kebijakan dan devisi-devisinya. Saya cukup dekat dan sering berkomunikasi dengan Pastor Ignatius Ismartono, koordinator Pelayanan Krisis dan Rekonsiliasi dari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), serta Pastor Antonius Benny Susetyo, sekretaris eksekutip Komisi Hubungan Agama dan Kepercayaan KWI. Kita bekerja sama dalam berbagai seminar, namun kita belum punya kerja sama yang sustainable.

Bersama Pastor Ismartono, kita sedang mendiskusikan tentang kemungkinan menjalankan dialog antaragama di Papua. Mungkin ini akan menjadi bentuk kerja sama yang relatif sustainable. Dia mengatakan kepada saya bahwa Gereja Katolik juga menghadapi problem besar dalam berhadapan dengan kepentingan- kepentingan politik lokal.

Apa pandangan Anda tentang Gereja Katolik Indonesia?

Saya memberi apresiasi besar terhadap Gereja Katolik karena strateginya. Saya membaca nota pastoral, surat gembala, serta hasil Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia sejak 1980. Ada strategi yang menurut saya sangat membantu saya dan teman-teman. Gereja Katolik memakai prinsip teologi pembebasan tapi menyesuaikannya dengan situasi di sini, misalnya menciptakan kelompok-kelompok komunitas mandiri atau kelompok basis.

Tapi saya juga mengeritik Gereja karena terlalu lunak, misalnya, untuk Pemilu 2009 kalau tidak salah pemimpin Gereja hanya menganjurkan kepada umatnya untuk memilih, tapi tidak menukik pada problem sekarang, misalnya jangan pilih caleg yang korupsi, meskipun caleg itu beragama Katolik. Kalau itu pasti menarik. Saya ingat sekali Surat Gembala APP Tahun 1997, ketika Pemilu Soeharto yang terakhir. Saat itu KWI mengeluarkan surat gembala untuk membebaskan orang Katolik untuk memilih atau tidak memilih karena situasi waktu itu. Itu bagi saya yang paling monumental dari KWI. Ternyata agama lain tidak melakukan seperti itu. ***
———

INDONESIA?-? Para Pemuka Agama Bersatu Menentang Diskriminasi terhadap Penderita HIV/AIDS
5 Mei 2009??|??IJ07133. 641b??|??468 kata

JAKARTA (UCAN)?–?Sebuah kelompok dari berbagai kepercayaan yang berbeda berkumpul di sebuah hotel di Jakarta untuk bersama-sama berkampanye menolak diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS (ODHA).

Umat Katolik, Protestan, Muslim, Buddha, Konghucu, Hindu, Jemaah Ahmadiyah Indonesia dan Baha’i sepakat mengadakan berbagai program pelatihan untuk para tokoh agama tentang HIV/AIDS dan saling bertukar informasi tentang penyakit ini.

Pertemuan yang baru-baru ini diadakan oleh Joint United Nations Program on HIV/AIDS (UNAIDS) itu menyatakan bahwa sekaranglah waktunya bagi semua orang untuk menghilangkan stigma negatif yang masih melekat pada penderita HIV/AIDS.

Tujuan diadakan pertemuan itu adalah untuk membicarakan isu-isu hak asasi manusia, terutama mengenai HIV/AIDS, dengan fokus pada dukungan para tokoh agama.

Para pemuka agama hanya menyadari masalah-masalah yang kompleks yang dihadapi penderita HIV/AIDS.

Rumah Sakit St. Carolus di Jakarta Pusat membantu penderita HIV/AIDS dan menerima mereka setiap hari di klinik khusus HIV/AIDS yang dibentuk pada Februari lalu.

Klinik yang dikelola oleh Kongregasi Suster-Suster St. Carolus Borromeus itu memahami, HIV/AIDS tak hanya menimbulkan masalah kesehatan tetapi juga masalah psikologis dan spiritual.

?Alasan utama klinik ini dibuka karena para pasien HIV/AIDS tidak hanya dilayani obat tapi juga konseling,? kata Dokter Angela Nusatya Abidin, direktur medik rumah sakit itu.

Selama ini, klinik itu hanya membantu sedikit orang, meskipun daftar pasiennya meningkat setiap bulannya.

Dokter Abidin mengatakan 10 penderita HIV/AIDS berobat dan 38 lainnya berkonsultasi setelah klinik itu dibuka

Klinik itu memiliki 10 konselor yang melayani konseling psikologi dan spiritual enam hari seminggu.

?Para konselor perlu ditambah karena konselor klinik ini masih kurang,? kata wanita awam Katolik itu.

Klinik itu juga memiliki beberapa dokter dan perawat. Bekerjasama dengan Departemen Kesehatan, klinik itu memberikan obat kepada para pasien.

Melayani penderita HIV/AIDS bukan hal baru lagi bagi RS St. Carolus. Sebelumnya, para pasien ditangani di bagian perawatan umum. ?RS ini tidak mau membuat klinik khusus HIV/AIDS karena kami tidak mau membeda-bedakan (penderita HIV/AIDS) dengan pasien lain,? kata Dokter Abidin.

Pada lokakarya yang diadakan PBB itu, para peserta, termasuk mereka dari KWI, sepakat untuk ?melayani para penderita HIV dan AIDS secara pro aktif melalui pendekatan spiritual, moral dan personal serta edukasi.?

Irwanto, seorang dosen dari Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, menjadi salah satu fasilitator lokakarya itu. ?Para pemuka agama sangat dipercaya oleh penderita HIV/AIDS karena mereka dapat merasakan kasih sayang,? katanya, seraya mendesak para tokoh agama mendorong umat mereka supaya secara terbuka membahas penyakit ini.

Nancy Fee, koordinator UNAIDS Indonesia, mengatakan dalam sambutannya bahwa pertemuan ini bertujuan untuk mengundang para tokoh agama supaya memberikan dukungan spiritual kepada penderita HIV/AIDS. “Kita tidak hanya melayani dari segi medis tapi pencegahan juga sangat penting melalui penanaman nilai-nilai spiritual dan moral,” tegasnya.

Perempuan itu juga menyoroti peningkatan penyakit itu di Indonesia, yang menurutnya meningkat setiap tahun. Data Menteri Kesehatan menunjukkan ada 2.947 penderita pada 2007 dan meningkat menjadi 4.968 pada 2008.

Namun, website UNAIDS memperkirakan bahwa sedikitnya ada 190.000 penderita HIV/AIDS di Indonesia tahun 2008.
———

INDONESIA?-? Keuskupan Agung Jakarta Bantu Kaum Buruh
5 Mei 2009??|??IJ07155. 641b??|??491 kata

JAKARTA (UCAN)?–?Ketua Biro Pelayanan Buruh Keuskupan Agung Jakarta (BPB KAJ) bersama sekitar 10.000 buruh melakukan aksi unjukrasa di Istana Negara, meminta pemerintah supaya membantu mereka dan buruh lainnya sehingga tetap bertahan di tengah-tengah krisis global.

Lukas Gatot Widyanata mengatakan ia bergabung dalam aksi demonstrasi pada 1 Mei itu untuk mendukung kaum buruh.

?Ini adalah panggilan kita. Gereja merasa prihatin dengan nasib kaum buruh yang semakin parah dari tahun ke tahun. Dengan kehadiran Gereja, mereka merasa didukung dan tidak berjuang sendiri,? katanya.

Ribuan warga Indonesia kehilangan pekerjaan karena kegiatan ekspor terhenti. Bahkan, buruh yang masih bekerja juga menghadapi perjuangan berat karena upah yang diterima sekitar 800 ribu hingga 1,2 juta rupiah per bulan. Jumlah itu tidak memungkinkan bagi seorang buruh yang sudah berkeluarga untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Dalam situasi normal, BPB KAJ memfokuskan pada pelatihan keterampilan dan advokasi. Namun, biro itu harus meningkatkan usaha bantuannya itu karena krisis finansial semakin memburuk.

?Upaya yang dilakukan Gereja terhadap kaum buruh sekarang ini lebih pada merespon krisis global dengan bantuan darurat agar mereka bisa memperoleh makanan dan tempat tinggal,? kata Widyanata kepada UCA News.

?Biro ini memberikan bantuan logistik dengan menjual sembako murah, dan khusus bagi mereka yang mendapat PHK dan tidak memiliki uang akan diberikan secara gratis,? katanya. Biro itu juga membantu mereka menyewa rumah dan memberikan beasiswa.

Buruh tekstil Theresia Susianti, 32, seorang janda dari dua anak, merupakan satu dari kaum buruh yang mengalami dampak krisis finansial.

Pabrik tempat ia bekerja mengalami penurunan ekspor dan mengurangi jumlah pekerja. Ia merasa takut pekerjaannya akan hilang.

?PHK tidak bisa terelakkan,? katanya. ?Kami mengharapkan Gereja bisa membantu kami dengan menyiapkan modal dana agar kami bisa mengembangkan usaha lain.?

Widyanata mengatakan biro keuskupan itu berjejaring dengan paroki-paroki, khususnya paroki-paroki di kawasan industri seperti kabupaten Tangerang di Banten, sebuah propinsi di sebelah barat ibukota negara.

Meskipun area itu dihuni oleh sekitar 4.000 buruh Katolik, Widyanata mengatakan upaya-upaya keuskupan agung Jakarta tidak hanya membantu para anggota Gereja saja.

?Kami juga memberi bantuan kepada buruh non-Katolik yang di-PHK,? kata Widyanata. Namun, ia menambahkan bahwa Gereja hanya dapat memberikan sedikit pendampingan saja dan harus bekerjasama dengan serikat-serikat buruh.

?Kami nanti dituduh melakukan kristenisasi, ? kata Widyanata.

Meskipun situasi ekonomi suram, ia berharap para buruh belajar dari krisis saat ini tentang bagaimana bisa menghasilkan pendapatan di masa depan.

?Mereka bisa menemukan potensi diri dan mengembangkannya melalui berbagai macam usaha mandiri untuk memperoleh pendapatan tambahan,? katanya.

Biro itu selama ini melayani kaum buruh di 15 komunitas.

?Di setiap komunitas, kami mendirikan kredit union dan memberikan trainning interpreneur, dan pendampingan rohani,? katanya.

Pemerintah berada di bawah tekanan untuk mengurangi jumlah pengangguran.

Lorensius Sena, seorang buruh Katolik dari Bandung, Jawa Barat, mengatakan kepada UCA News ia bergabung dalam demonstrasi itu untuk mendesak pemerintah pusat supaya berfokus pada perbaikan nasib kaum buruh.

?Kami menuntut dihapuskannya sistem outsourcing, menaikkan upah minimum regional, serta jangan lagi ada pemutusan hubungan kerja di masa masa ekonomi sulit seperti sekarang,? kata Sena. ***
——–

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Berita UCAN, Remah-remah

Menguji Kebenaran Iman Kita

Kutipan dari buku baru berjudul MENGUJI KEBENARAN IMAN KITA, penerbit Pustaka Nusatama, 2009

Bagian yang membahas: Iman dan perbuatan

Kalam Tuhan

Kalam Tuhan

Kaum Evangelis pada umumnya tidak percaya bahwa orang Katolik adalah sungguh-sungguh Kristen, dan mereka tidak mau menganggap orang Katolik sebagai saudara dalam Kristus, karena orang Katolik dianggap menganut ajaran yang sesat, yaitu bahwa perbuatan seseorang ikut menentukan proses keselamatan. Kaum Evangelis juga memperhatikan cara pembaptisan orang Katolik, faham mengenai api penyucian, ajaran tentang indulgensi, dan mereka beranggapan bahwa orang Katolik kurang menempatkan hubungan pribadi dengan Tuhan Yesus sebagai pokok.

Faham Evangelis tercermin dalam ajaran mereka: Sola fides (hanya iman) dan sola scriptura (hanya Alkitab, tapi Alkitabnya tanpa Deuterokanonika) . Kaum Evangelis beranggapan bahwa ajaran-ajaran Gereja Katolik banyak tidak bersumberkan pada Alkitab. Paling tidak kaum Evangelis minta bukti bahwa ajaran Gereja Katolik sungguh bersumberkan Alkitab. Kaum Evangelis punya anggapan bahwa soal Ekaristi dan soal Hirarki Gereja Katolik kurang didukung teks Alkitab. Adapun yang menjadi dasar pendapat Evangelis, sbb: Manusia diselamatkan oleh karena iman saja, bukan karena perbuatan, jasa, prestasi ataupun ritus-ritus yang dibuatnya.

Orang Katolik sendiri pada dasarnya juga sependapat dengan faham ini, bahwa manusia diselamatkan karena iman, namun perbuatan sebagai umat beriman juga diperhitungkan untuk memperoleh keselamatan. Yang dapatmenjadi alasan utama dari Gereja Katolik yaitu bahwa manusia itu diselamatkan oleh RAHMAT Tuhan. Rahmat adalah kemurahan Tuhan yang menyerahkan hidupNya untuk keselamatan manusia.

Karena didalam tata rahmat tindakan pertama berasal dari Allah, maka tak seorang pun dapat memperolah rahmat pertama yang membuahkan pertobatan, pengampunan dan pembenaran. Rahmat adalah kemurahan yang bebas dari Allah melalui penyerahan Diri Yesus. Ini merupakan pertolongan Ilahi kepada seseorang untuk membawa mereka kepada tujuan adikodrati, yaitu hubungan mereka dengan Allah. Rahmat ini mengubah sifat alami seseorang.

Oleh apa manusia dibenarkan Allah?

Kaum Evangelis mengatakan bahwa pembenaran adalah suatu perbuatan Aallah di mana Allah menyatakan kebenaran dari iman Kristen. Maka hanya oleh iman kita dibenarkan.

Namun Gereja Katolik mengajarkan bahwa pembenaran dimulai pada suatu saat dari hidup kita dan akan berlangsung terus sepanjang hidup orang Kristen. Maka iman dan perbuatan tidak bisa dipisahkan. Perbuatan-perbuatan kita meneruskan pembenaran setelah dimulai oleh iman. Pembenaran tidak berhenti pada suatu waktu, tetapi berproses terus. Bagi orang Katolik pembenaran membawa serta pengudusan seluruh hakekat manusia.

Apakah perbuatan diperlukan untuk pembenaran?

Gereja Katolik menjawab: YA. Perbuatan juga ikut menentukan.Hal ini jelas dari Alkitab, Surat Yakobus: Apakah gunanya saudara-saudaraku, jika seseroang mngatakan bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan. Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. …. Hai manusia bodoh, apakah kamu minta bukti bahwa iman tanpa perbuatan itu sia-sia? Bukankah Abraham dibenarkan karena perbuatan-perbuatan nya, ketika ia mempersembahkan Iskak anaknya diatas mezbah .. Kamu lihat bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatan nya dan bukan hanya karena iman (Yakobus 2:14 – 26).

Kaum Evangelis memandang bahwa surat Yakobus itu dulu cuma tambahan, maka tidak dimasukkan dalam teologi mereka, karena tidak cocok dengan faham dasar mereka.

Gereja Katolik menegaskan: Pembenaran menurut tradisi Katolik terjadi oleh karena iman di dalam Kristus, dalam perbuatan-perbuatan baik yang hidup dalam menanggapi ajakan Allah untuk percaya.

Iman Katolik memegang teguh bahwa iman tanpa perbuatan baik tidak cukup, karena perbuatan-perbuatan baik ini menunjukkan keinginan seseroang untuk bekerja sama dengan rahmat yang mendahuluinya. Apa yang diperlukan untuk keselamatan adalah iman yang diungkapkan keluar dalam perbuatan dan diungkapkan ke dalam menjadi keyakinan.

Tuhan Yesus memberikan contoh hidup, bahwa perbuatan-perbuatan baik seseorang itu mengalir dari iman, misalnya:
setiap orang yang mendengarkan perkataaanKu dan melakukannya, Ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu (Matius 7: 24)
Siapakah dari antara kedua orang itu melakukan kehendak ayahnya? (Matius 21: 28-32)
Orang Samaria yang baik hati. Pergilah dan perbuatlah demikian (Lukas 10:25-37)
Perumpamaan tentang Talenta: Baik sekali perbuatanmu itu (Matius 25:14-30)
Pengadilan terakhir. Aku berkata kepadamu: segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku (Matius 25:31-46). Bukan setiap orang yang berseru kepadaKU: Tuhan, Tuhan, akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di surga. (Matius 7:21)
Dengan ini sebenarnya tidak disangsikan lagi bahwa pendapat Gereja Katolik melahan lebih berdasarkan Alkitab dari pada faham Evangelis, karena mereka hanya berpedoman pada surat St. Paulus Rom 4:9-14 dan juga Rom 3:28. Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman dan bukan karena ia melakukan hukum taurat.

Kesalahan tafsir dari Evangelis ialah bahwa perbuatan begitu saja disamakan dengan pelaksanaan hukum taurat. Padahal menurut Gereja Katolik, perbuatan adalah apa yang yang dilakukan manusia sebagai ungkapan iman. Maka Gereja Katolik juga mengutip: Allah akan membalas setiap orang menurut perbuatannya, yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, kemuliaan, kehormatan dan ketidak binasaan. Tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri. (Rom 2:6-8). Ini juga iman Rasul Paulus. Selain itu, Gereja Katolik masih mengutip dari Efesus : Sebab oleh karena kasih karunia kamu diselamatkan melalui iman, itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah. Itu bukan oleh hasil pekerjaanmu. Jangan ada orang yang memegahkan diri, karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik (Ef 2:8-11). Gereja Katolik mau menegaskan bahwa iman pun adalah rahmat Allah, maka perbuatan-perbuatan baik dari seorang beriman bukan prestasi atau jasa yang patut dimegahkan, tapi juga anugerah Tuhan.

Kelemahan pokok dari kaum Evangelis, yakni seluruh teologi dan ajarannya didasarkan pada surat Paulus, dan tidak pernah mengutip dari Injil. Sedangkan Gereja Katolik lebih dahulu menerima Injil dan melihat surat Paulus dan Perjanjian Lama dari pandangan Injil Yesus Kristus secara jelas menerangkan:

Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku (Matius 25:40).

________________________________________

Dalam buku 104 halaman tsb. juga diulas dengan lugas dan mudah hal-hal lain untuk memahami ajaran iman Katolik vis a vis dengan ajaran Evangelis. Hal ini penting, karena banyaknya kegiatan ekumene, yang karena umat Katolik kurang memahami iman katoliknya, mereka terbawa oleh hal yang kurang lengkap.

Yayasan Pustaka Nusatama
Jl. Sawit 21, Sawit sari – Yogyakarta
Email: ypn-ykt@plasa. com

(dari milis MABRI.yahoo.groups)

Tinggalkan komentar

Filed under Remah-remah

Ilusi Negara Islam (kontroversi)

Beberapa hari terakhir saya banyak menerima email dalam milis tertentu

Ilusi Negara Islam

Ilusi Negara Islam

yang mendiskusikan soal buku “Ilusi Negara Islam”. Berikut beberapa isinya:

Dari: MGR
Kepada: islamliberal@ yahoogroups. com
Terkirim: Senin, 18 Mei, 2009 12:08:54

Kami baru menerima berita dari Mas Ahmad Suaedy Direktur the Wahid Institute, toko-toko yang menjual buku “Ilusi Negara Islam” diteror: akan diserbu, dibakar melalui telepon-telepon tak dikenal.

Di Gramedia pun buku ini belum sempat beredar. Anda mungkin akan kesulitan mendapatkan buku ini di pasaran. Syukur alhamdulillah, melalui jasa internet, pembredelan dan ancaman untuk sebuah karya tidak akan berhasil sempurna. Kini bagi siapa pun yang ingin membaca buku ini silakan mengunduhnya (download) PDF melalui alamat berikut:

http://www.bhinnekatunggalika.org/downloads/ilusi-negara-islam.pdf
http://www.bhinneka tunggalika. org/galeri. html

——-

Untuk berita peluncuran buku ini Sabtu malam: http://oase. kompas.com/ read/xml/ 2009/05/17/ 15241171/ Ilusi.negara. islam

diperbanya k.di.empat. negara

—–

Pers Release Peluncuran buku dan dvd

الحمدلله رب العالمين وبه نستعين على أمورالدنيا والدين
والصلاة والسلام على أشرف الأنبيآء والمرسلين سيدنا مجمد وعلى أله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان الى يوم الدين ، اما بعد

The Wahid Institute, Gerakan Bhinneka Tunggal Ika, dan The Maarif Institute

Tokoh Islam Moderat Meluncurkan Buku–“Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia,” dan dan Seri TV/Video–“Lautan Wahyu: Islam sebagai Rahmatan lil-‘Alamin,” untuk Mewujudkan Islam sebagai Rahmatan lil-‘Alamin

Jakarta, 16 Mei 2009

JAKARTA, INDONESIA (16 Mei 2009)—Tiga tokoh besar Islam moderat meluncurkan buku dan seri video untuk melestarikan tradisi dan budaya bangsa Indonesia yang santun dan toleran berdasarkan nilai-nilai luhur agama, serta mewujudkan dunia yang aman, damai, dan sejahtera. Program ini juga bertujuan membantu dunia mengatasi krisis kesalahpahaman tentang agama dan kesalahkaprahan pengamalannya yang mengancam kedamaian di mana-mana.

Mantan Presiden Indonesia, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), bersama mantan Ketua Umum Muhammadiyah, Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif (Buya), dan tokoh terkemuka Nahdlatul Ulama, KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus), bersama-sama mengajak dan berusaha mengilhami masyarakat dan para elit untuk bersikap terbuka, rendah hati, dan terus belajar agar bisa memahami agama secara spiritual dan mendalam. Karena dengan cara demikian pemahaman agama kelompok garis keras yang dangkal dan sempit tidak akan bisa menginfiltrasi dan menghasut bangsa Indonesia untuk mengkhianati nilai-nilai luhur ajaran agama serta tradisi dan budaya bangsanya.

“Saya tidak khawatir terhadap non-Muslim atau siapa pun selama mereka terus belajar; yang saya khawatirkan adalah ketika seseorang berhenti belajar dan menganggap kebenaran sudah ada di tangannya dan kemudian menganggap yang lain salah. Sebab, sabda Nabi saw., ‘Orang akan tetap baik-baik saja, tetap pandai selama mau belajar. Ketika orang itu berhenti belajar karena sudah merasa pandai, mulailah dia bodoh’,” (Gus Mus).

Sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia menjadi salah satu medan pertarungan ideologi yang signifikan. Kelompok-kelompok garis keras telah menggunakan simbol-simbol agama untuk merekrut dukungan umat Islam. Dengan menggunakan bahasa yang sama dengan umat Islam pada umumnya, mereka berusaha meraih dukungan atas nama agama sebanyak-banyaknya. Padahal, makna yang mereka pahami jauh berbeda dari makna yang lazim dipahami oleh umat Islam Indonesia.

Ketiga tokoh ini menegaskan pentingnya melestarikan Pancasila, UUD 1945, dan NKRI, serta nilai-nilai luhur agama yang menjiwai bangunan bangsa dan negara Indonesia, yang kini dibayang-bayangi oleh infiltrasi paham dan aksi-aksi gerakan transnasional yang meresahkan. Demi tujuan ini, mereka menyerukan persatuan dan kerjasama semua pihak dan lapisan masyarakat, karena kebenaran yang tidak terorganisai bisa dikalahkan oleh kejahatan maupun kezhaliman yang terorganisasi.

The Wahid Institute, Maarif Institute, dan Gerakan Bhinneka Tunggal Ika bersama-sama menerbitkan buku Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia, yang merupakan hasil penelitian lapangan dan konsultasi selama lebih dari dua tahun. Penelitian lapangan yang meliputi 24 kabupaten di 17 propinsi ini melibatkan tak kurang dari 30 peneliti yang kebanyakan berasal dari jaringan UIN/IAIN. Mereka telah melakukan wawancara mendalam terhadap 591 responden yang berasal dari 58 kelompok dan organisasi yang berbeda.

Buku ini juga dilengkapi dengan hasil konsultasi dengan para ulama, intelektual, aktivis ormas Islam, para pengusaha, praktisi pendidikan, dan pejabat pemerintahan yang merasa prihatin dengan perkembangan gerakan Islam transnasional di Indonesia. Penelitian lapangan dan konsultasi dengan para tokoh ini berhasil mengungkap asal-usul, ideologi, agenda, dana, sistem, dan jaringan gerakan Islam transnasional dan kaki tangannya di Indonesia. Di samping rekomendasi untuk menghadapi dan mengatasi gerakan garis keras, buku ini juga menyajikan counter teologis atas klaim-klaim telogis mereka.

“Studi ini kami lakukan dan publikasikan untuk mengbangkitkan kesadaran seluruh komponen bangsa, khususnya para elit dan media masa, tentang bahaya ideologi dan paham garis keras yang dibawa ke Tanah Air oleh gerakan transnasional Timur Tengah dan tumbuh seperti jamur di musim hujan dalam era reformasi kita,” tulis KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

“Buku ini adalah salah satu buku yang bisa menggugah kesadaran kita,” kata Prof. Dr. A. Syafii Maarif, yang juga merupakan salah seorang narasumber dan penasehat seri televisi Lautan Wahyu.

Sedangkan seri video Lautan Wahyu: Islam sebagai Rahmatan lil-‘Alamin adalah hasil interview dengan para ulama dan intelektual dalam dan luar negeri mengenai beberapa aspek ajaran Islam, terutama yang selama ini telah dipahami dan dipraktikkan secara salah kaprah. Seri Lautan Wahyu ini diharapkan bisa membuka pikiran dan hati serta memperluas wawasan tentang ajaran Islam, agar tujuan utama Kanjeng Nabi Muhammad saw. diutus, yakni sebagai wujud kasih-sayang Tuhan bagi seluruh makhluk yang akhir-akhir ini seperti dibantah oleh aksi-aksi beberapa kelompok umat Islam sendiri, bisa terwujud sebagaimana mestinya.

“Pesan al-Qur’an memang luar biasa, sebesar kesadaran manusia sendiri. Kalau kesadaran manusianya barbarian, apalagi (al-Qur’an) hanya dibaca untuk pembenaran berkelahi,” ungkap Moeslim Abdurrahman, maka Islam tidak akan bisa menjadi rahmat bagi seluruh makhluk-Nya. Dan, “Setiap dakwah yang bertentangan dengan prinsip-prinsip al-Qur’an (hikmah, peringatan yang baik, perdebatan yang lebih baik), adalah dakwah yang salah. Para ulama dan intelektual wajib mengingatkan pelaku dakwah yang demikian, dan jika mereka menolak maka pemerintah wajib menangkap dan menghukum mereka sesuai dengan aturan yang berlaku,” jelas Syeikh al-Akbar al-Azhar, Dr. Muhammad Sayid Thanthawi, salah seorang narasumber dan penasehat program Lautan Wahyu.

Buku dan seri TV/video ini menegaskan pentingnya melestarikan nilai-nilai luhur agama, tradisi dan budaya bangsa yang santun serta toleran, dan sekaligus menyajikan counter teologis atas idiom-idiom dan term-term keagamaan yang selama ini sering digunakan oleh gerakan extremis transnasional untuk merekrut simpati dan dukungan dari umat Islam, seperti dakwah, amar ma‘rûf nahy munkar, Khilafah Islamiyah, dan lain-lain. Secara khusus, dalam buku ini juga dilampirkan dokumen SKPP Muhammadiyah No. 149/Kep/I.0/ B/2006 yang merupakan keputusan untuk membela diri dari infiltrasi partai politik seperti PKS, dan Keputusan Majlis Bahtsul Masa’il NU bahwa Khilafah Islamiyah maupun negara Islam tidak mempunyai rujukan teologis baik di dalam al-Qur’an maupun hadits. Dokumen-dokumen ini adalah peringatan tegas dan kuat bahwa gerakan transnasional yang mengancam Pancasila, UUD 1945, dan NKRI, serta praktik dan tradisi keberagamaan bangsa Indonesia.

Usaha untuk mengatasai ancaman ini harus dilakukan secara damai dan bertanggung jawab, khususnya melalui pendidikan dan pembinaan kebebasan beragama dan berkeyakinan. Maka tanpa mengesampingkan pentingnya pembangunan ekonomi, pengelolaan pendidikan dan aspek-aspek keagamaan yang mengutamakan tradisi dan budaya bangsa Indonesia berdasarkan nilai-nilai luhur agama, dalam jangka panjang merupakan hal yang sangat penting bagi bangsa Indonesia.

Buku Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia dalam bentuk e-book dapat diperoleh secara gratis melalui http://www.bhinnekatunggal ika.org

Tinggalkan komentar

Filed under Remah-remah

Situ Gintung II

Pada hari sabtu (4/4) menjelang malam, kami sekomunitas dikejutkan dengan munculnya aliran air yang cukup deras dari plafon di bagian utara kapel. Setelah diselidik ternyata air itu berasal dari pipa bocor dalam plafon yang baru dikerjakan beberapa hari sebelumnya. Semua menjadi makin panik karena air sudah menggenangi lantai dan mulai turun hingga ke lantai dasar. Beberapa frater menyeletuk, “ini bisa menjadi bencana Situ Gintung II!” Untunglah, beberapa saat kemudian bapak yang menangani instalasi pipa itu datang dan membenahi kembali. Tapi malam itu, fr. melkhior dan fr. Ferdinandus harus banjir keringat mengeringkan lantai yang digenangi air itu.

Tinggalkan komentar

Filed under Remah-remah

Demam Internet

img_8106Di komunitas St. Gregorius (provinsialat), sejak dipasang jaringan internet, anggota komunitas mulai keranjingan menjelajah dunia maya untuk mencari aneka informasi. Pada suatu kesempatan makan siang, fr. Ferdinandus mengungkapkan kegembiraannya karena berhasil menemukan informasi mengenai budi daya pohon sengon. Maklum saja, saat ini ia sedang menanam sekitar 1000  pohon sengon di areal provinsialat. Pada kesempatan lain, fr. Melkhior juga sangat antusias mencoba membuat web blog (blog) pribadinya untuk menuangkan ide-ide mengenai dunia arsitektur. Fr. Klemens, sesepuh komunitas juga tidak ketinggalan. Semangat belajarnya yang luar biasa untuk minta diajari mencari informasi mengenai dunia kecintaannya, apalagi kalau bukan mengenai zoology. Selamat belajar para frater…

Tinggalkan komentar

Filed under Remah-remah

KEKERASAN TERHADAP ANAK

Pengertian Bullying

Konon, istilah bullying ini terkait dengan bull, sapi jantan yang suka
mendengus (untuk mengancam, menakuti-nakuti, atau memberi tanda).
Kamus Marriem Webster menjelaskan bahwa bully itu adalah to treat
abusively (memperlakukan secara tidak sopan) atau to affect by means
of force or coercion (mempengaruhi dengan paksaan dan kekuatan).

Dalam dunia anak-anak, Dan Olweus, seorang pakar yang berkonsentrasi
menangani praktek bullying, menyimpulkan, bullying pada anak-anak itu
mencakup penjelasan antara lain:

a) upaya melancarkan permusuhan atau penyerangan terhadap korban,

b) korban adalah pihak yang dianggap lemah atau tak berdaya oleh
pelaku, dan

c) menimbulkan efek buruk bagi fisik atau jiwanya (Preventing
Bullying, Kidscape, UK, 2001).

Bu Ria (36), sebut saja begitu, akhirnya lebih memilih memindahkan
anaknya ke sekolah lain. Ini dilakukan karena kasihan selalu mendengar
keluhan si putri yang kerap dijadikan objek pemalakan oleh sekelompok
anak di sekolah. Misalnya, makanan yang dibawanya dari rumah suka
diambil, peralatan sekolah suka diganti sama yang jelek, atau bahkan
uang jajannya pun tak luput dari praktek pemerasan. Menurut si putri,
dirinya diam saja sebab ada anak lain yang menolak kemauan si perkasa
diancam dengan kata-kata yang menakutkan. Misalnya, tidak ditemani,
selalu dicemooh sebagai orang pelit, dan semisalnya.

Apa yang dialami Bu Ria itu sebetulnya hanyalah gambaran kecil dari
praktek bullying yang sangat variatif. Menurut pengamatan Dan Olweus,
dkk, bullying di kalangan anak-anak itu memiliki bentuk yang beragam,
antara lain:

* Penyerangan fisik: memukul, menendang, mendorong, dan seterusnya

* Penyerangan verbal: mengejek, menyebarkan isu buruk, atau menjuluki
sebutan yang jelek

* Penyerangan emosi: menyembunyikan peralatan sekolah, memberikan
ancaman, menghina

* Penyerangan rasial: mengucilkan anak karena ras, agama, kelompok, dst

* Penyerangan seksual: meraba, mencium, dan seterusnya

Dalam dunia anak-anak, bullying biasanya terjadi karena adanya
kerjasama yang bagus dari ketiga pihak, yang oleh Barbara Coloroso
((The Bully, The Bullied, dan The Bystander: 2004), disebutnya dengan
istilah tiga mata rantai penindasan.

Pertama, bullying terjadi karena ada pihak yang menindas.

Kedua, ada penonton yang diam atau mendukung, entah karena takut atau
karena merasa satu kelompok.

Ketiga, ada pihak yang dianggap lemah dan menganggap dirinya sebagai
pihak yang lemah (takut bilang sama guru atau orangtua, takut melawan,
atau malah memberi permakluman) .

Atas kerjasama ketiga pihak itu biasanya praktek bullying sangat
sukses dilakukan oleh anak yang merasa punya punya power atau
kekuatan. Jika kebetulan anak kita masuk di sekolah yang pengawasan
gurunya lebih dari cukup, mungkin akan cepat terdeteksi. Tapi bila
tidak, maka kitalah yang sangat diharapkan proaktif.

Siapa Korban Dan Siapa Pelaku?

Pak Wardiman setengah menyesali keputusannya “menyogok” pihak sekolah
agar menerima si anak yang usianya kala itu belum cukup enam tahun.
Dipikirnya, dengan masuk SD lebih dini itu bagus. Dia khawatir anaknya
nanti menjadi orang bodoh karena kerjaannya main terus di rumah.
Seiring dengan berjalannya waktu, terasa ada yang ganjil dari
perkembangan si anak. Di sekolah yang pengawasan gurunya sangat
terbatas, si anak kerap dijadikan korban yang harus mengalah oleh
teman yang badanya lebih gede dan usianya lebih tua.

Apa yang dialami Pak Wardiman itu sebetulnya hanya sebuah kasus.
Maksudnya, tidak semua anak yang usianya lebih muda itu akan pasti
menjadi korban bullying. Faktor usia bisa menjadi sebab langsung dan
bisa pula menjadi sebab tidak langsung atau bisa saja tidak terkait
sama sekali. Usia tidak selalu menjadi sebab. Mungkin lingkungan
sekolah, mungkin pengaruh pola asuh, atau mungkin karena yang lain.

Dari penjelasan sejumlah pakar tentang korban bullying, umumnya para
korban itu memiliki ciri-ciri “ter”, misalnya:
terkecil, terbodoh, terpintar, tercantik, terkaya, dan seterusnya.

Di bukunya Barbara Colorosa (The bully, The bullied, dan The
bystander: 2004), ciri-ciri yang terkait dengan korban itu antara lain:

* Anak baru di lingkungan itu.

* Anak termuda atau paling kecil di sekolah.

* Anak yang pernah mengalami trauma sehingga sering menghindar karena
rasa takut

* Anak penurut karena cemas, kurang percaya diri, atau anak yang
melakukan sesuatu karena takut dibenci atau ingin menyenangkan

* Anak yang perilakunya dianggap mengganggu orang lain.

* Anak yang tidak mau berkelahi atau suka mengalah

* Anak yang pemalu, menyembunyikan perasaannya, pendiam atau tidak mau
menarik perhatian orang lain

* Anak yang paling miskin atau paling kaya.

* Anak yang ras atau etnisnya dipandang rendah

* Anak yang orientasi gender atau seksualnya dipandang rendah

* Anak yang agamanya dipandang rendah

* Anak yang cerdas, berbakat, memiliki kelebihan atau beda dari yang lain

* Anak yang merdeka atau liberal, tidak memedulikan status sosial, dan
tidak berkompromi dengan norma-norma.

* Anak yang siap mendemontrasikan emosinya setiap waktu.

* Anak yang gemuk atau kurus, pendek atau jangkung.

* Anak yang memakai kawat gigi atau kacamata.

* Anak yang berjerawat atau memiliki masalah kondisi kulit lainnya.

* Anak yang memiliki kecacatan fisik atau keterbelakangan mental

* Anak yang berada di tempat yang keliru pada saat yang salah
(bernasib buruk)

Sedangkan untuk para pelaku, mereka umumnya memiliki ciri-ciri sebagai
berikut:

* Suka mendominasi anak lain.

* Suka memanfaatkan anak lain untuk mendapatkan apa yang diinginkan.

* Sulit melihat situasi dari titik pandang anak lain.

* Hanya peduli pada keinginan dan kesenangannya sendiri, dan tak mau
peduli dengan perasaan anak lain.

* Cenderung melukai anak lain ketika orangtua atau orang dewasa
lainnya tidak ada di sekitar mereka.

* Memandang saudara-saudara atau rekan-rekan yang lebih lemah sebagai
sasaran.

* Tidak mau bertanggung jawab atas tindakannya.

* Tidak memiliki pandangan terhadap masa depan atau masa bodoh
terhadap akibat dari perbuatannya.

* Haus perhatian

Bagaimana Membantu Korban?

Kita semua diajari untuk menolong dua pihak, baik yang tertindas atau
yang menindas. Menolong yang tertindas bisa dilakukan dengan
membebaskan mereka dari ketertindasan. Ini penting sebab jika si
korban tidak segera ditolong, akibat yang paling fatal bisa meninggal
dunia.

Seorang wali murid di salah satu SD di Jakarta Timur akhirnya hanya
bisa berbagai pengalaman agar peristiwa buruk yang pernah menimpanya
tak lagi terjadi. Anak lelakinya meninggal dunia. Menurut diagnosa
dokter, di dada si anak ada memar bekas pukulan benda keras. Mungkin
saja benda keras itu tidak langsung mengakibatkan hilangnya nyawa.
Karena si anak takut bilang dan kurang ada perhatian dini, akhirnya
terjadilan kejadian yang tidak diharapkan itu.

Jangankan anak-anak yang masih di SD, anak remaja saja belum tentu
bisa berterus terang kepada orangtuanya soal ini. Kalau merujuk pada
kasus-kasus di sekolah tinggi kedinasan milik pemerintah, para korban
penindasan di sana bukan lagi anak-anak, melainkan mahasiswa. Mereka
bungkam dengan berbagai alasan.

Dari kajian para ahli, jika korban bullying itu dibiarkan atau tidak
mendapatkan penanganan, mereka akan :
depresi, mengalami penurunan harga diri, menjadi pemalu, penakut,
prestasinya jeblok, mengisolasi diri, atau ada yang mau mencoba bunuh
diri karena tidak tahan (Stop Bullying, Kidscape: 2005).

Lantas, bagaimana membantu si korban? Untuk membantu si korban,
Coloroso menyarankan:

* Yakinkan bahwa kita akan berada di sisinya dalam mengatasi masalah ini.

* Ajari si anak untuk menjadi orang baik namun juga tidak takut
melawan kesombongan.

* Galilah inisiatif dari si anak tentang cara-cara yang bisa ditempuh.
Ini untuk menumbuhkan kepercayaan diri si anak atau ajukan beberapa
usulan.

* Rancanglah pertemuan dengan pihak sekolah.

* Jangan lupa membawa penjelasan yang faktual dan detail. Misalnya
bukti fisik, harinya, prosesnya, nama anak-anaknya, tempat
kejadiannya, dan lain-lain. Kalau bisa, cari juga dukungan dari wali
murid lain yang anaknya kerap menjadi korban.

* Usahakan dalam pertemuan itu muncul kesepakatan yang pasti akan
dijalankan dan akan membuat anak aman dari penindasan. Maksudnya,
jangan hanya puas mengadu dan puas diberi janji.

* Akan lebih sempurna jika pihak sekolah mau memfasilitasi pertemuan
dengan wali yang anaknya pelaku dan yang anaknya menjadi korban untuk
ditemukan solusinya

Yang perlu kita hindari adalah

praktekmenyalahkan atau menyudutkan si anak.
Misalnya
mengatakan, kamu sih yang mancing, kamu sih yang nggak mau mengerti,
dan seterusnya. Kesalahan ada pada pelaku, bukan pada korban.

Hindari juga membuat rasionalisasi yang meremehkan
Misalnya
kita mengatakan, wah digituin aja sedih, jangan cengeng dong, dia kan
hanya bercanda, dan seterusnya. Terus, jangan juga langsung meledak
dan ngamuk. Ini malah membuat anak enggan bercerita. Galilah dari si
anak sebanyak mungkin.

Bagaimana Membantu Pelaku?

Bagaimana cara membantu pelaku? Membantu pelaku adalah dengan
mencegahnya. Pencegahan ini bisa diajarkan dengan cara-cara di bawah ini:

* Beri disiplin.
Jelaskan bahwa menindas itu perbuatan salah, ajari untuk
bertanggungjawab atas kesalahannya, misalnya minta maaf, mengontrol
proses agar tidak mengulangi lagi, dan meyakinkan dirinya bahwa dia
bukan orang jahat. Dia hanya butuh belajar untuk menjadi orang yang
lebih baik.

* Ciptakan kesempatan untuk berbuat baik kepada keluarga atau
teman-temannya di sekolah, misalnya mengundang hari ulang tahun,
berbagi, dan seterusnya

* Tumbuhkan empati, misalnya menjenguk atau menelpon yang sakit,
membantu yang membutuhkan, mengutarakan kata-kata yang baik

* Ajari keterampilan berteman dengan cara-cara yang asertif, sopan,
dan tenang. Tunjukkan bahwa memaksa orang lain itu tidak baik.

* Pantaulah acara televisi yang ditonton mereka, video game yang
dimainkan, aktivitas-aktivitas komputer yang mereka lakukan, dan musik
yang mereka dengarkan atau mainkan. Jika berbau kekerasan, ajarilah
untuk mengganti secara bertahap

* Libatkan dalam kegiatan-kegiatan yang lebih konstruktif, menghibur,
dan menggairahkan.

* Ajari anak Anda untuk beritikad baik kepada anak lain.

* Hindari kekerasan dalam bentuk apapun ketika memperlakukan mereka.
Kekerasan seringkali melahirkan kekerasan

Kesimpulan

Praktek bullying, entah itu pelaku atau korbannya bisa menimpa siapa
saja. Anak-anak tentu belum sepenuhnya menyadari kefatalan yang
ditimbulkannya. Karena itu, peranan orangtua dalam mencegah dan
menolong sangat diharapkan. Dengan keterlibatan orangtua yang notebene
lebih matang, mudah-mudahan bisa memutus mata rantai kekerasan di
antara mereka. Semoga bermanfaat.

Oleh : Ubaydillah, AN

sumber
http://groups. yahoo.com/ group/anakcerdas /message/ 787

Tinggalkan komentar

Filed under Remah-remah

Tukang Periuk

Seperti seorang tukang periuk

yang mengambil tanah liat dari ladangnya

dan meremas-remas tanah liat itu dengan tangannya

dan sebelumnya ia telah mengetahui

bentuk apa yang akan diciptakannya

demikianlah Engkau membentuk hidupku.

Aku tidak memberontak

ketika Engkau menjamah dengan tanganMu

dan menciptakan aku menjadi manusia

mengangkat aku dari ketiadaan

Sungguh agung cintaMu kepadaku

Hidupku adalah kehendakMu

Menyadari kenyataan ini, akhirnya aku tertunduk diam

nafasMu Tuhan, adalah kekuatanMu

menjadikan aku seperti sekarang ini

dan aku dijunjung tinggi

jauh melampaui ciptaan lain

Engkau tidak hanya menjadi pencipta ya Tuhan

Engkau lebih daripada itu

Engkau batu karangku dan sumber imanku

Karena setiap hari aku dapat membangun harapanku

Karena setiap hari aku dapat menyebut namaMu: Bapa.

Kemuliaan …

Bunda hati Kudus, doakanlah kami.

Tinggalkan komentar

Filed under Remah-remah