Menguji Kebenaran Iman Kita

Kutipan dari buku baru berjudul MENGUJI KEBENARAN IMAN KITA, penerbit Pustaka Nusatama, 2009

Bagian yang membahas: Iman dan perbuatan

Kalam Tuhan

Kalam Tuhan

Kaum Evangelis pada umumnya tidak percaya bahwa orang Katolik adalah sungguh-sungguh Kristen, dan mereka tidak mau menganggap orang Katolik sebagai saudara dalam Kristus, karena orang Katolik dianggap menganut ajaran yang sesat, yaitu bahwa perbuatan seseorang ikut menentukan proses keselamatan. Kaum Evangelis juga memperhatikan cara pembaptisan orang Katolik, faham mengenai api penyucian, ajaran tentang indulgensi, dan mereka beranggapan bahwa orang Katolik kurang menempatkan hubungan pribadi dengan Tuhan Yesus sebagai pokok.

Faham Evangelis tercermin dalam ajaran mereka: Sola fides (hanya iman) dan sola scriptura (hanya Alkitab, tapi Alkitabnya tanpa Deuterokanonika) . Kaum Evangelis beranggapan bahwa ajaran-ajaran Gereja Katolik banyak tidak bersumberkan pada Alkitab. Paling tidak kaum Evangelis minta bukti bahwa ajaran Gereja Katolik sungguh bersumberkan Alkitab. Kaum Evangelis punya anggapan bahwa soal Ekaristi dan soal Hirarki Gereja Katolik kurang didukung teks Alkitab. Adapun yang menjadi dasar pendapat Evangelis, sbb: Manusia diselamatkan oleh karena iman saja, bukan karena perbuatan, jasa, prestasi ataupun ritus-ritus yang dibuatnya.

Orang Katolik sendiri pada dasarnya juga sependapat dengan faham ini, bahwa manusia diselamatkan karena iman, namun perbuatan sebagai umat beriman juga diperhitungkan untuk memperoleh keselamatan. Yang dapatmenjadi alasan utama dari Gereja Katolik yaitu bahwa manusia itu diselamatkan oleh RAHMAT Tuhan. Rahmat adalah kemurahan Tuhan yang menyerahkan hidupNya untuk keselamatan manusia.

Karena didalam tata rahmat tindakan pertama berasal dari Allah, maka tak seorang pun dapat memperolah rahmat pertama yang membuahkan pertobatan, pengampunan dan pembenaran. Rahmat adalah kemurahan yang bebas dari Allah melalui penyerahan Diri Yesus. Ini merupakan pertolongan Ilahi kepada seseorang untuk membawa mereka kepada tujuan adikodrati, yaitu hubungan mereka dengan Allah. Rahmat ini mengubah sifat alami seseorang.

Oleh apa manusia dibenarkan Allah?

Kaum Evangelis mengatakan bahwa pembenaran adalah suatu perbuatan Aallah di mana Allah menyatakan kebenaran dari iman Kristen. Maka hanya oleh iman kita dibenarkan.

Namun Gereja Katolik mengajarkan bahwa pembenaran dimulai pada suatu saat dari hidup kita dan akan berlangsung terus sepanjang hidup orang Kristen. Maka iman dan perbuatan tidak bisa dipisahkan. Perbuatan-perbuatan kita meneruskan pembenaran setelah dimulai oleh iman. Pembenaran tidak berhenti pada suatu waktu, tetapi berproses terus. Bagi orang Katolik pembenaran membawa serta pengudusan seluruh hakekat manusia.

Apakah perbuatan diperlukan untuk pembenaran?

Gereja Katolik menjawab: YA. Perbuatan juga ikut menentukan.Hal ini jelas dari Alkitab, Surat Yakobus: Apakah gunanya saudara-saudaraku, jika seseroang mngatakan bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan. Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. …. Hai manusia bodoh, apakah kamu minta bukti bahwa iman tanpa perbuatan itu sia-sia? Bukankah Abraham dibenarkan karena perbuatan-perbuatan nya, ketika ia mempersembahkan Iskak anaknya diatas mezbah .. Kamu lihat bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatan nya dan bukan hanya karena iman (Yakobus 2:14 – 26).

Kaum Evangelis memandang bahwa surat Yakobus itu dulu cuma tambahan, maka tidak dimasukkan dalam teologi mereka, karena tidak cocok dengan faham dasar mereka.

Gereja Katolik menegaskan: Pembenaran menurut tradisi Katolik terjadi oleh karena iman di dalam Kristus, dalam perbuatan-perbuatan baik yang hidup dalam menanggapi ajakan Allah untuk percaya.

Iman Katolik memegang teguh bahwa iman tanpa perbuatan baik tidak cukup, karena perbuatan-perbuatan baik ini menunjukkan keinginan seseroang untuk bekerja sama dengan rahmat yang mendahuluinya. Apa yang diperlukan untuk keselamatan adalah iman yang diungkapkan keluar dalam perbuatan dan diungkapkan ke dalam menjadi keyakinan.

Tuhan Yesus memberikan contoh hidup, bahwa perbuatan-perbuatan baik seseorang itu mengalir dari iman, misalnya:
setiap orang yang mendengarkan perkataaanKu dan melakukannya, Ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu (Matius 7: 24)
Siapakah dari antara kedua orang itu melakukan kehendak ayahnya? (Matius 21: 28-32)
Orang Samaria yang baik hati. Pergilah dan perbuatlah demikian (Lukas 10:25-37)
Perumpamaan tentang Talenta: Baik sekali perbuatanmu itu (Matius 25:14-30)
Pengadilan terakhir. Aku berkata kepadamu: segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku (Matius 25:31-46). Bukan setiap orang yang berseru kepadaKU: Tuhan, Tuhan, akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di surga. (Matius 7:21)
Dengan ini sebenarnya tidak disangsikan lagi bahwa pendapat Gereja Katolik melahan lebih berdasarkan Alkitab dari pada faham Evangelis, karena mereka hanya berpedoman pada surat St. Paulus Rom 4:9-14 dan juga Rom 3:28. Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman dan bukan karena ia melakukan hukum taurat.

Kesalahan tafsir dari Evangelis ialah bahwa perbuatan begitu saja disamakan dengan pelaksanaan hukum taurat. Padahal menurut Gereja Katolik, perbuatan adalah apa yang yang dilakukan manusia sebagai ungkapan iman. Maka Gereja Katolik juga mengutip: Allah akan membalas setiap orang menurut perbuatannya, yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, kemuliaan, kehormatan dan ketidak binasaan. Tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri. (Rom 2:6-8). Ini juga iman Rasul Paulus. Selain itu, Gereja Katolik masih mengutip dari Efesus : Sebab oleh karena kasih karunia kamu diselamatkan melalui iman, itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah. Itu bukan oleh hasil pekerjaanmu. Jangan ada orang yang memegahkan diri, karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik (Ef 2:8-11). Gereja Katolik mau menegaskan bahwa iman pun adalah rahmat Allah, maka perbuatan-perbuatan baik dari seorang beriman bukan prestasi atau jasa yang patut dimegahkan, tapi juga anugerah Tuhan.

Kelemahan pokok dari kaum Evangelis, yakni seluruh teologi dan ajarannya didasarkan pada surat Paulus, dan tidak pernah mengutip dari Injil. Sedangkan Gereja Katolik lebih dahulu menerima Injil dan melihat surat Paulus dan Perjanjian Lama dari pandangan Injil Yesus Kristus secara jelas menerangkan:

Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku (Matius 25:40).

________________________________________

Dalam buku 104 halaman tsb. juga diulas dengan lugas dan mudah hal-hal lain untuk memahami ajaran iman Katolik vis a vis dengan ajaran Evangelis. Hal ini penting, karena banyaknya kegiatan ekumene, yang karena umat Katolik kurang memahami iman katoliknya, mereka terbawa oleh hal yang kurang lengkap.

Yayasan Pustaka Nusatama
Jl. Sawit 21, Sawit sari – Yogyakarta
Email: ypn-ykt@plasa. com

(dari milis MABRI.yahoo.groups)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Remah-remah

Ilusi Negara Islam (kontroversi)

Beberapa hari terakhir saya banyak menerima email dalam milis tertentu

Ilusi Negara Islam

Ilusi Negara Islam

yang mendiskusikan soal buku “Ilusi Negara Islam”. Berikut beberapa isinya:

Dari: MGR
Kepada: islamliberal@ yahoogroups. com
Terkirim: Senin, 18 Mei, 2009 12:08:54

Kami baru menerima berita dari Mas Ahmad Suaedy Direktur the Wahid Institute, toko-toko yang menjual buku “Ilusi Negara Islam” diteror: akan diserbu, dibakar melalui telepon-telepon tak dikenal.

Di Gramedia pun buku ini belum sempat beredar. Anda mungkin akan kesulitan mendapatkan buku ini di pasaran. Syukur alhamdulillah, melalui jasa internet, pembredelan dan ancaman untuk sebuah karya tidak akan berhasil sempurna. Kini bagi siapa pun yang ingin membaca buku ini silakan mengunduhnya (download) PDF melalui alamat berikut:

http://www.bhinnekatunggalika.org/downloads/ilusi-negara-islam.pdf
http://www.bhinneka tunggalika. org/galeri. html

——-

Untuk berita peluncuran buku ini Sabtu malam: http://oase. kompas.com/ read/xml/ 2009/05/17/ 15241171/ Ilusi.negara. islam

diperbanya k.di.empat. negara

—–

Pers Release Peluncuran buku dan dvd

الحمدلله رب العالمين وبه نستعين على أمورالدنيا والدين
والصلاة والسلام على أشرف الأنبيآء والمرسلين سيدنا مجمد وعلى أله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان الى يوم الدين ، اما بعد

The Wahid Institute, Gerakan Bhinneka Tunggal Ika, dan The Maarif Institute

Tokoh Islam Moderat Meluncurkan Buku–“Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia,” dan dan Seri TV/Video–“Lautan Wahyu: Islam sebagai Rahmatan lil-‘Alamin,” untuk Mewujudkan Islam sebagai Rahmatan lil-‘Alamin

Jakarta, 16 Mei 2009

JAKARTA, INDONESIA (16 Mei 2009)—Tiga tokoh besar Islam moderat meluncurkan buku dan seri video untuk melestarikan tradisi dan budaya bangsa Indonesia yang santun dan toleran berdasarkan nilai-nilai luhur agama, serta mewujudkan dunia yang aman, damai, dan sejahtera. Program ini juga bertujuan membantu dunia mengatasi krisis kesalahpahaman tentang agama dan kesalahkaprahan pengamalannya yang mengancam kedamaian di mana-mana.

Mantan Presiden Indonesia, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), bersama mantan Ketua Umum Muhammadiyah, Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif (Buya), dan tokoh terkemuka Nahdlatul Ulama, KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus), bersama-sama mengajak dan berusaha mengilhami masyarakat dan para elit untuk bersikap terbuka, rendah hati, dan terus belajar agar bisa memahami agama secara spiritual dan mendalam. Karena dengan cara demikian pemahaman agama kelompok garis keras yang dangkal dan sempit tidak akan bisa menginfiltrasi dan menghasut bangsa Indonesia untuk mengkhianati nilai-nilai luhur ajaran agama serta tradisi dan budaya bangsanya.

“Saya tidak khawatir terhadap non-Muslim atau siapa pun selama mereka terus belajar; yang saya khawatirkan adalah ketika seseorang berhenti belajar dan menganggap kebenaran sudah ada di tangannya dan kemudian menganggap yang lain salah. Sebab, sabda Nabi saw., ‘Orang akan tetap baik-baik saja, tetap pandai selama mau belajar. Ketika orang itu berhenti belajar karena sudah merasa pandai, mulailah dia bodoh’,” (Gus Mus).

Sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia menjadi salah satu medan pertarungan ideologi yang signifikan. Kelompok-kelompok garis keras telah menggunakan simbol-simbol agama untuk merekrut dukungan umat Islam. Dengan menggunakan bahasa yang sama dengan umat Islam pada umumnya, mereka berusaha meraih dukungan atas nama agama sebanyak-banyaknya. Padahal, makna yang mereka pahami jauh berbeda dari makna yang lazim dipahami oleh umat Islam Indonesia.

Ketiga tokoh ini menegaskan pentingnya melestarikan Pancasila, UUD 1945, dan NKRI, serta nilai-nilai luhur agama yang menjiwai bangunan bangsa dan negara Indonesia, yang kini dibayang-bayangi oleh infiltrasi paham dan aksi-aksi gerakan transnasional yang meresahkan. Demi tujuan ini, mereka menyerukan persatuan dan kerjasama semua pihak dan lapisan masyarakat, karena kebenaran yang tidak terorganisai bisa dikalahkan oleh kejahatan maupun kezhaliman yang terorganisasi.

The Wahid Institute, Maarif Institute, dan Gerakan Bhinneka Tunggal Ika bersama-sama menerbitkan buku Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia, yang merupakan hasil penelitian lapangan dan konsultasi selama lebih dari dua tahun. Penelitian lapangan yang meliputi 24 kabupaten di 17 propinsi ini melibatkan tak kurang dari 30 peneliti yang kebanyakan berasal dari jaringan UIN/IAIN. Mereka telah melakukan wawancara mendalam terhadap 591 responden yang berasal dari 58 kelompok dan organisasi yang berbeda.

Buku ini juga dilengkapi dengan hasil konsultasi dengan para ulama, intelektual, aktivis ormas Islam, para pengusaha, praktisi pendidikan, dan pejabat pemerintahan yang merasa prihatin dengan perkembangan gerakan Islam transnasional di Indonesia. Penelitian lapangan dan konsultasi dengan para tokoh ini berhasil mengungkap asal-usul, ideologi, agenda, dana, sistem, dan jaringan gerakan Islam transnasional dan kaki tangannya di Indonesia. Di samping rekomendasi untuk menghadapi dan mengatasi gerakan garis keras, buku ini juga menyajikan counter teologis atas klaim-klaim telogis mereka.

“Studi ini kami lakukan dan publikasikan untuk mengbangkitkan kesadaran seluruh komponen bangsa, khususnya para elit dan media masa, tentang bahaya ideologi dan paham garis keras yang dibawa ke Tanah Air oleh gerakan transnasional Timur Tengah dan tumbuh seperti jamur di musim hujan dalam era reformasi kita,” tulis KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

“Buku ini adalah salah satu buku yang bisa menggugah kesadaran kita,” kata Prof. Dr. A. Syafii Maarif, yang juga merupakan salah seorang narasumber dan penasehat seri televisi Lautan Wahyu.

Sedangkan seri video Lautan Wahyu: Islam sebagai Rahmatan lil-‘Alamin adalah hasil interview dengan para ulama dan intelektual dalam dan luar negeri mengenai beberapa aspek ajaran Islam, terutama yang selama ini telah dipahami dan dipraktikkan secara salah kaprah. Seri Lautan Wahyu ini diharapkan bisa membuka pikiran dan hati serta memperluas wawasan tentang ajaran Islam, agar tujuan utama Kanjeng Nabi Muhammad saw. diutus, yakni sebagai wujud kasih-sayang Tuhan bagi seluruh makhluk yang akhir-akhir ini seperti dibantah oleh aksi-aksi beberapa kelompok umat Islam sendiri, bisa terwujud sebagaimana mestinya.

“Pesan al-Qur’an memang luar biasa, sebesar kesadaran manusia sendiri. Kalau kesadaran manusianya barbarian, apalagi (al-Qur’an) hanya dibaca untuk pembenaran berkelahi,” ungkap Moeslim Abdurrahman, maka Islam tidak akan bisa menjadi rahmat bagi seluruh makhluk-Nya. Dan, “Setiap dakwah yang bertentangan dengan prinsip-prinsip al-Qur’an (hikmah, peringatan yang baik, perdebatan yang lebih baik), adalah dakwah yang salah. Para ulama dan intelektual wajib mengingatkan pelaku dakwah yang demikian, dan jika mereka menolak maka pemerintah wajib menangkap dan menghukum mereka sesuai dengan aturan yang berlaku,” jelas Syeikh al-Akbar al-Azhar, Dr. Muhammad Sayid Thanthawi, salah seorang narasumber dan penasehat program Lautan Wahyu.

Buku dan seri TV/video ini menegaskan pentingnya melestarikan nilai-nilai luhur agama, tradisi dan budaya bangsa yang santun serta toleran, dan sekaligus menyajikan counter teologis atas idiom-idiom dan term-term keagamaan yang selama ini sering digunakan oleh gerakan extremis transnasional untuk merekrut simpati dan dukungan dari umat Islam, seperti dakwah, amar ma‘rûf nahy munkar, Khilafah Islamiyah, dan lain-lain. Secara khusus, dalam buku ini juga dilampirkan dokumen SKPP Muhammadiyah No. 149/Kep/I.0/ B/2006 yang merupakan keputusan untuk membela diri dari infiltrasi partai politik seperti PKS, dan Keputusan Majlis Bahtsul Masa’il NU bahwa Khilafah Islamiyah maupun negara Islam tidak mempunyai rujukan teologis baik di dalam al-Qur’an maupun hadits. Dokumen-dokumen ini adalah peringatan tegas dan kuat bahwa gerakan transnasional yang mengancam Pancasila, UUD 1945, dan NKRI, serta praktik dan tradisi keberagamaan bangsa Indonesia.

Usaha untuk mengatasai ancaman ini harus dilakukan secara damai dan bertanggung jawab, khususnya melalui pendidikan dan pembinaan kebebasan beragama dan berkeyakinan. Maka tanpa mengesampingkan pentingnya pembangunan ekonomi, pengelolaan pendidikan dan aspek-aspek keagamaan yang mengutamakan tradisi dan budaya bangsa Indonesia berdasarkan nilai-nilai luhur agama, dalam jangka panjang merupakan hal yang sangat penting bagi bangsa Indonesia.

Buku Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia dalam bentuk e-book dapat diperoleh secara gratis melalui http://www.bhinnekatunggal ika.org

Tinggalkan komentar

Filed under Remah-remah

Untuk Sebuah Nama

Bunda Hati Kudus

Ingatlah ya Bunda Hati Kudus

Bunda Hati Kudus

Bunda Hati Kudus


akan segala karya ajaib
yang dilakukan Tuhan bagimu!

Perayaan 150 tahun devosi dan gelar Bunda Hati Kudus, (1859 – 2009), berpuncak pada 30 Mei 2009 ini. Sebuah nama unik, spesifik, bernuansa kerohanian; sugguh khas bagi para pengagumnya di seantero jagad.

Untuk Sebuah Nama,
kita lambungkan madah pujian agung bagi Allah Sang Pencipta semesta. Dia telah mempersembahkan seorang bunda yang disebut Bunda Hati Kudus kepada kita. Sebuah nama yang meneguhkan dan menguatkan langkah penge-mbaraan kita anggota Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus (Congeragtie van de Fraters van Onze Lieve Vrouw van het Heilig Hart).

Untuk itu kita tidak sekadar merayakan dan mendevosikan sebuah nama, tetapi kita harus berani membuka lembaran sejarah di balik nama itu; kita harus berani bertanya, “Siapa yang berdiri di balik nama indah itu. Dan siapa pula yang telah mengayubahagiakan figur itu? Bukankah Tuhan sendiri yang memilih dan membawanya kepada kita? Dialah Maria, Bunda tersuci yang dikandung tanpa noda yang un-tuk pertama kalinya dimaklumkan oleh Pater Chevalier de-ngan gelar “Bunda Hati Kudus”
Figur agung di balik gelar itu yang patut kita kenangkan dan patut kita teladani perjalanan ziarahnya.
Dialah, figur lembut yang pandai mendengarkan. Dia rela mendengarkan suara Allah yang datang menyapa dan me-ngundangnya,“Salam Maria penuh rahmat Tuhan sertamu.
Dia juga figur yang tanggap serta rendah hati, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku sesuai kehendak-MU”.
Kita patut belajar dari kerendahan hatinya yang selalu mendengarkan. Kepedulian Maria kepada sesama seperti yang telah dibuktikannya di Kana sungguh menggugah hati kita. Mengapa tidak, rupanya Maria dengan tekun mencermati kebutuhan nurani sesamanya. Maria berani menyampaikan kepada Yesus bahwa, “Mereka kehabisan anggur”sekalipun ia mendapatkan sebuah jawaban yang tidak mengenakan hatinya. “Mau apa dari-Ku Ibu, saat-Ku belum tiba!”Maria sungguh-sungguh percaya akan kebaikan dan kepedulian Yesus kepada sesama yang membutuhkan bantuan. Maria tidak pernah ragu akan kebaikan Yesus. Di sini Maria telah mengajarkan kita teladan iman yang teguh kepada Yesus.

Maka marilah kita dengan hening serta teguh hati mengikuti dan meresapi doa kepada Bunda Hati Kudus ini

Ingatlah ya bunda hati Kudus akan semua karya agung yang dikerjakan Tuhan melalui engkau. Ia memilihmu sebagai ibu-Nya, dan menghendaki engkau berdiri dekat salib-Nya. Ia memberi kepadamu bagian dalam kemuliaan-Nya. Ia mendengarkan doamu.
Semoga kami hidup seperti engkau dalam kasih sayang Puteramu, agar datanglah kerajaan Puteramu.
Bimbinglah semua manusia kepada sumber air yang terpancar dari dalam hati Yesus yang menyebar luas di seluruh bumi, harapan dan keselamatan, keadilan dan damai.
Pandanglah kepercayaan kami kepadamu, dan tunjukkanlah selalu bahwa engkaulah bunda kami. Amin.

Selamat Pesta Bunda Hati Kudus!

Tinggalkan komentar

Filed under Religius

Turut berdukacita atas meninggalnya:

Ibu Apolonia Kewa Leni
(saudari dari Fr. Ignatius, BHK)

• pada hari Jumat, 15 Mei 2009
• pkl. 17.00 (wita)
• di Lewoleba, Lembata
_____________________________________

dan
_____________________________________
Ibu Margaretha Dut
(saudari dari Fr. Dominikus, BHK)

• pada hari Jumat, 15 Mei 2009
• di Lasang, Manggarai

Semoga arwah mereka beristirahat kekal di Rumah Bapa.

Tinggalkan komentar

Filed under Berita Duka

Mengapa the Wahid Institute berupaya membangun pemikiran Islam moderat?

AHMAD SUAEDY: Salah satu karakter dari Islam Indonesia yang paling menonjol adalah pluralitasnya. Ada perbedaan antara Islam di Jawa Tengah dan di Jawa Timur, atau di Jawa Barat.

Contohnya, Sultan Hamengku Buwono X (gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta) menganggap dirinya seorang Muslim yang baik dari keyakinannya, prateknya dan juga ekspresinya. Tapi Islamnya berbeda dengan Islam orang Nahdatul Ulama (NU) yang mempunyai kultur sendiri di pesantren. Ada juga perbedaan antara Islam di Jawa dan di luar Jawa.

Oleh karena itu, Islam di Indonesia menjadi barometer untuk Islam di dunia saat ini.

Islam Indonesia, khususnya Islam NU dengan budaya pesantren, adalah Islam pribumi. Tidak ada bedanya antara Islam dan Indonesia. Sejarah masyarakat Islam menurut versi ini adalah sejarah Indonesia. Sejarah Indonesia adalah sejarah Islam. Kebudayaan Indonesia adalah kebudayaan Islam. Kebudayan Islam adalah kebudayaan Indonesia.

Ini berbeda dengan kesadaran Islam formalistik yang menganggap Indonesia itu bukan Islam jadi harus di-Islamisasi atau diubah menurut kultur mereka, misalnya dengan mengenakan jubah. Pandangan ini khususnya datang dari Arab, Pakistan bahkan dari Malaysia.

Bagi kami, bangsa Indonesia dengan segala instrumennya ya Islam itu sendiri. Kami pakai baju kami yang bisa. Itulah yang kami tawarkan.

Indonesia itu adalah juga plural bukan saja dari segi Islamnya tapi juga dari segi latar belakang etnis.

Apa yang mendorong the Wahid Institute membangun pemikiran-pemikiran ini?

Islam Indonesia yang saya sebut berkarakter pluralis belum memperoleh perhatian di dunia. Jadi perlu ada proses globaliasasi terhadap paham pluralistik ini untuk menggantikan yang anti-pluralistik. Itu adalah agenda penting kami.
Kebudayaan Barat cenderung mendominasi kami. Dalam situsi itu,terjadi “clash of civilizations” antara Barat dan Islam yang monolitik. Islam Indonesia sebenarnya tidak terlibat di dalamnya. Tapi ini potensi yang bisa ditawarkan. Kalau Barat ingin memberikan penawarannya, harus juga negosiasi dengan kultur Islam Indonesia tanpa harus terjadi clash of civilizations.

Apa sebenarnya yang ditawarkan Islam Indonesia?

Kami menawarkan pengalaman-pengalam an pluralitas kami kepada dunia yang cenderung monolitik.
Pengalaman-pengalam an pluralistik kami bisa menjadi faktor utama demokratisasi, karena di situ ada prinsip saling menghormati, saling tidak menyerang dan prinsip saling belajar.

Potensi besar Islam Indonesia adalah menciptakan civil society yang kuat. Kelompok masyarakat di Indonesia itu cukup kuat. Kita lihat misalnya, pemerintah di sini tak bisa menutup pesantren, betapa pun pesantren itu dianggap bertentangan dengan banyak orang. Lain kalau misalnya terbukti pesantren itu menjadi tempat pembuatan bom atau narkoba. Tetapi secara politik itu tidak bisa. Bedah dengan di Malaysia, Pakistan dan Arab Saudi. Di sana, kalau orang ingin berbeda dengan arus utama atau dengan pemerintah mereka harus menjadi underground.

Di Pakistan, ada Jamaat-e-Islami, suatu partai politik yang mempunyai basis cukup kuat seperti NU di sini. Islam di sana diseragamkan. Orang tidak boleh berbeda.

Sedangkan di sini, NU tak bisa dijadikan satu. NU di daerah ini tidak sama dengan NU di sebelahnya. Inilah independensi kelompok-kelompok masyarakat yang disebut civil society. Inilah yang bisa memberikan potensi besar untuk munculnya demokrasi atau dalam istilah poluter: social capital. Civil society adalah social capital dalam demokrasi.

Sekalangan umat Muslim mengatakan Al Quran adalah satu-satunya kitab suci benar, tak bisa ditawar-tawar.
Dalam Islam, keesahan Tuhan dan kenabihan Muhammad itu tidak bisa ditawar. Namun, kami belajar keyakinan di dalam Islam dengan referensi lain juga. Keyakinan harus diimplemetasikan di dalam perbuatan. Dalam Islam keyakinan harus diimplementasikan dalam amal. Dalam implementasi itu kami bisa belajar dari orang lain. Untuk semakin dekat dengan Allah, para sufi belajar juga dari tradisi Yahudi dan Kristen.

Untuk menciptakan kemakmuran sistem ekonomi kami tidak bisa langsung ambil dari Al Quran, tapi kami harus belajar dari sosialisme, kapitalisme bahkan komunisme, misalnya.

Keyakinan tentu tak bisa dipertukarkan atau tak bisa dipengaruhi. Saling belajar menurut saya adalah sesuatu yang penting. Kalau ada seseorang menolak untuk ikut upacara agama tertentu itu adalah hak dia, tapi kalau menganggu upacara orang lain, itu soal lain. Bagi saya, ikut kegiatan Gereja asal bukan diyakini bahwa itu keyakinan saya ngak masalah. Orang berhak menolak. Orang bahkan berhak mengatakan bahwa itu tidak benar atau itu melanggar. Tetapi yang tidak boleh adalah memaksa apalagi melakukan kekerasan.

Berapa besar kelompok anti-pluralisme di Indonesia?

Dilihat kuantitatifnya, kelompok itu sebenarnya kecil. Tapi kuantitatif itu harus dilihat juga dari akses mereka.
Dalam situasi sekarang, terutama sejak reformasi 1997, beberapa hal perlu diperhatikan. Pertama, ada semacam mainstreaming dari agenda mereka baik terhadap kelompok masyarakat, ormas, partai politik maupun terhadap perundang-undangan. Jadi ada elemen-elemen dari kelompok anti-pluralis yang masuk menjadi mainstream. Kita bisa melihat misalnya fatwa MUI yang anti-pluralisme.

Apa yang sedang dilakukan the Wahid Institute untuk mengkaunter perkembangan ini serta untuk mewujudkan cita-citanya?

Ada tiga hal besar. Pertama tingkat wacana. Kita mengintrodusir berbagai pemikiran yang bisa membantu mengangkat konsep-kosep pluralitas, toleransi, hak asasi manusia dan lain-lain dengan cara penelitian, pelaporan dan penerbitan buku, serta website. Tanggal 17 Maret kita meluncurkan sebuah buku dengan judul “Ragam Ekspresi Islam Nusantara” yang ingin mengatakan bahwa Indonesia secara historis adalah pluralistik.

Yang kedua capacity building lewat lokakarya, diskusi dan pelatihan untuk pemimpin agama lokal. Kami mengajak mereka untuk ikut memecahkan persoalan lokal tanpa harus terjatuh pada konservatisme dan fundamentalisme. Gerakan Islam fundamentalis menawarkan perbagai problem masyarakat dengan satu obat yakni shariah.

Ketiga adalah dialog – antaragama, antarnegara, antardaerah. Beberapa waktu lalu bekerja sama dengan Kedutaan Inggris, enam imam dari Inggris datang ke Indonesia lalu kita membuat forum antaragama di sini. Kita perkenalkan imam-imam Inggris itu dengan pimpinan agama lain di sini.

Apakah ada kelompok-kelompok Islam lain yang mengupayakan cita-cita yang sama?

Banyak sekali kelompok yang bergerak untuk pluralisme agama di Indonesia. Jauh lebih banyak kelompok yang menawarkan persaudaraan meskipun tidak selalu dalam bahasa pluralisme. Cuma lebih besar perhatian media atau perhatian orang saat terjadi atau saat ada sesuatu yang tidak biasa seperti anti-pluralisme.

Saya sejak kecil hidup di mayoritas Muslim yang sangat taat. Di tetangga saya ada gereja yang berseberangan dengan pesantren, tapi tidak pernah umat Gereja serta warga pesantren itu saling menganggu. Mereka bergaul secara biasa.

Apakah kelompok-kelompok Muslim radikal semakin kuat?

Bukan ketakutan akan kekuatan mereka. Persoalan sekarang adalah bagaimana menawarkan model Islam yang kami yakini, dan bersamaan dengan itu memecahkan persoalan yang ada. Saat menawarkan model Islam yang pluralis, kami pun menciptakan kemakmuran atau memberantas kemiskinan dan meningkatkan pendidikan.

Di masa lalu, “kaum Muslim yang ideologis” ingin agar Islam menjadi dasar ideologi bangsa. Namun itu tidak mungkin. Contohnya, Bank Islam. Bank itu kini sudah dipisahkan dari ideologi semula, dan sekarang ideologi bank itu sama dengan bank lain. Model dan istilahnya di-Arab-kan, tapi sebenarnya itu sudah dipisahkan dari ideologi Islam. Bank Shariah memang memakai istilah-istilah dan prinsip shariah tapi ideloginya sudah ideologi kapitalis, bagaimana menciptakan keuntungan sebesar-besarnya. Hampir tidak ada di situ, misalnyamengatakan, dengan bank itu maka orang miskin akan ditolong.

Begitu juga dengan perda-perda shariah.
Sejak mulanya Indonesia sudah pluralis, bahkan sebelum Islam datang. Ledakan bom di Bali dan kerusuhan-kerusuhan di beberapa bagian negeri ini terjadi karena intervensi dari luar. Meskipun kita tidak bisa menolak bahwa ada unsur Indonesia yang terlibat. Tetapi hal seperti itu bukan karakter Indonesia.

Apakah Anda punya rekanan dengan kelompok lain?

Kalau ada kesempatan, kami berdialog dan bekerja sama dengan kelompok-kelompok lain. Ini juga bagian dari capacity building. Kami tahu ada lebih banyak kelompok yang memiliki cita-cita yang sama. Kalau kita punya persoalan bersama di satu daerah tertentu, kita menyelesaikannya bersama-sama.

Bagaimana hubungan institute ini dengan Gereja Katolik?

Secara formal kita tak punya hubungan spesifik. Tetapi saya tahu beberapa hal tentang Gereja Katolik, kebijakan dan devisi-devisinya. Saya cukup dekat dan sering berkomunikasi dengan Pastor Ignatius Ismartono, koordinator Pelayanan Krisis dan Rekonsiliasi dari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), serta Pastor Antonius Benny Susetyo, sekretaris eksekutip Komisi Hubungan Agama dan Kepercayaan KWI. Kita bekerja sama dalam berbagai seminar, namun kita belum punya kerja sama yang sustainable.

Bersama Pastor Ismartono, kita sedang mendiskusikan tentang kemungkinan menjalankan dialog antaragama di Papua. Mungkin ini akan menjadi bentuk kerja sama yang relatif sustainable. Dia mengatakan kepada saya bahwa Gereja Katolik juga menghadapi problem besar dalam berhadapan dengan kepentingan- kepentingan politik lokal.

Apa pandangan Anda tentang Gereja Katolik Indonesia?

Saya memberi apresiasi besar terhadap Gereja Katolik karena strateginya. Saya membaca nota pastoral, surat gembala, serta hasil Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia sejak 1980. Ada strategi yang menurut saya sangat membantu saya dan teman-teman. Gereja Katolik memakai prinsip teologi pembebasan tapi menyesuaikannya dengan situasi di sini, misalnya menciptakan kelompok-kelompok komunitas mandiri atau kelompok basis.

Tapi saya juga mengeritik Gereja karena terlalu lunak, misalnya, untuk Pemilu 2009 kalau tidak salah pemimpin Gereja hanya menganjurkan kepada umatnya untuk memilih, tapi tidak menukik pada problem sekarang, misalnya jangan pilih caleg yang korupsi, meskipun caleg itu beragama Katolik. Kalau itu pasti menarik. Saya ingat sekali Surat Gembala APP Tahun 1997, ketika Pemilu Soeharto yang terakhir. Saat itu KWI mengeluarkan surat gembala untuk membebaskan orang Katolik untuk memilih atau tidak memilih karena situasi waktu itu. Itu bagi saya yang paling monumental dari KWI. Ternyata agama lain tidak melakukan
seperti itu. ***

Tinggalkan komentar

Filed under Berita UCAN

Sepak Bola Antaragama Tingkatkan Dialog Agama

TAPANULI TENGAH, Sumatra Utara (UCAN) — Dialog antaragama meningkat di Sibolga, Sumatra Utara, ketika beberapa pemuka agama mempunyai ide untuk mengadakan sepak bola untuk menyatukan orang yang berbeda keyakinan.

Ketika turnamen itu dimulai tujuh tahun lalu, hanya ada empat tim yang mewakili Buddha, Katolik, Muslim dan Protestan. Kemudian, masuklah kelompok lain dari komunitas setempat, termasuk pegawai negeri sipil (PNS), militer dan polisi, dalam pertandingan itu.

Meskipun tidak ada istilah kalah dan menang dalam pertandingan itu, mereka tetap dipimpin oleh seorang wasit yang berpakaian berbeda dengan kedua tim itu.

“Selama turnamen berlangsung belum sekalipun terjadi perkelahian. Masing-masing tim bermain sportif,” kata Pastor Johanes Jeharut, ketua Komisi Hubungan Antaragama Keuskupan Sibolga.

“Kalau ada pemain berkelahi, saya akan masuk ke tengah lapangan dengan mengenakan jubah pastor untuk melerai mereka,” katanya.

Pastor Jeharut merupakan salah satu pemrakarsa turnamen sepak bola itu.

Pada mulanya turnamen itu dirancang sebagai acara tahunan untuk merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia.

“Gagasan itu muncul dari beberapa orang yang berbeda agama yang sering berkumpul-kumpul karena dianggap positif. Pemerintah kota Sibolga memberikan dana,” kata Pelerius Simanullang, seorang katekis awam berusia 42 tahun dari pusat pastoral keuskupan, yang juga membantu mengelola pertandingan itu.

Indonesia adalah sebuah negara yang beranekaragam, di mana Muslim menjadi kelompok mayoritas. Namun, ada juga banyak umat Katolik, Protestan, Buddha, Hindu dan Konghucu.

Walaupun UUD Negara RI menjamin kebebasan beribadah bagi semua pemeluk agama, berbagai konflik tak bisa dielakan muncul beberapa tahun ini.

Pastor Benno Ola Tage, ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Medan, percaya masih ada banyak tugas yang harus dilakukan dalam memajukan kerukunan agama.

Ia menyesalkan bahwa para imam dan religius sangat kurang berminat dalam dialog antaragama dan menceritakan dalam sebuah perayaan ekumene di keuskupan agung itu tidak ada seorang pastor Katolik dan biarawati pun yang hadir.

“Uskup Agung Emeritus Pius Datubara OFM Cap yang saat itu hadir mengaku merasa malu,” kata Pastor Tage.

Ia menambahkan bahwa ia berharap lebih banyak imam dan biarawati akan terlibat “dalam dialog dengan umat dari Gereja dan agama lain.”

Simanullang dan Pastor Jeharut serta Pastor Tage baru-baru ini bertemu dalam acara dialog antaragama di Pandan, Sumatra, bersama 56 imam, biarawati dan awam Katolik untuk membahas bagaimana dialog antaragama dapat ditingkatkan. Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan-Keuskupan Provinsi Gerejawi Medan bekerjasama dengan komisi hubungan antaragama konferensi waligereja Indonesia mengadakan pertemuan itu.

Para pemuka Islam dan Protestan juga hadir.

Sekretaris eksekutif Komisi HAK KWI, Pastor Antonius Benny Susetyo, mengingatkan bahwa dialog dengan umat agama lain itu penting bagi umat Katolik yang hidup di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang majemuk ini.

Ia mengakui bahwa dialog di antara kelompok-kelompok agama lain bisa menjadi menakutkan kalau masing-masing tidak mengenal satu sama lain.

Tidak saling kenal itu menimbulkan kecurigaan dan prasangka-prasangka ,” katanya. Itulah alasan mengapa jejaring dan kerjasama di antara para pemuka agama harus dibangun dan mengapa banyak persoalan agama perlu didiskusikan, yang bisa dimulai dengan dialog kehidupan dan dialog karya, tambahnya. ***

Tinggalkan komentar

Filed under Berita UCAN

Para Pemimpin Gereja Soroti Tantangan yang Dihadapi Guru Agama Katolik

BINTARO, Banten (UCAN) — Para pejabat Gereja mengakui bahwa guru-guru pendidikan agama Katolik di sekolah negeri menghadapi banyak tantangan, seperti kurangnya sarana untuk mengajar, kurangnya dukungan imam dan gaji rendah.

Banyak guru agama Katolik masih honorer (tidak tetap) dan gajinya lebih rendah daripada guru tetap, kata Pastor Fransiskus Xaverius Adi Susanto SJ.

Imam yang menjabat sekretaris eksekutif Komisi Kateketik Konferensi Waligereja Indonesia itu berbicara kepada UCA News setelah pertemuan 49 guru Katolik di Bintaro pada 5-8 April.

Pertemuan itu diisi dengan sharing tentang berbagai tantangan yang dihadapi guru Katolik dalam tugas mereka. BIMAS Katolik Departemen Agama mengadakan pertemuan itu dengan tema “Mari kita tingkatkan kompetensi spiritualitas guru agama se-wilayah Propinsi Banten.”

Propinsi Banten, yang mayoritas Muslim, berbatasan dengan Jakarta dan merupakan bagian dari keuskupan agung Jakarta.

Pastor Susanto mengatakan kepada UCA News bahwa meskipun BIMAS Katolik, bagian dari Departemen Agama RI yang melayani komunitas Katolik, “telah memberikan bantuan (buku) namun karena faktor tertentu, sarana pendidikan Katolik itu tidak bisa sampai ke daerah.”

Imam itu menyarankan supaya pemerintah mengangkat guru agama Katolik sebagai pegawai negeri sipil, kemudian menaikan gaji mereka, dan komisi-komisi kateketik keuskupan membantu menyediakan buku pelajaran agama Katolik.

Para guru tetap menerima gaji sekitar 1,5 juta rupiah per bulan, sedangkan guru agama Katolik honorer menerima kurang dari 1 juta rupiah.

Pelajaran pendidikan agama, yang diajarkan kepada para siswa dari berbagai agama, itu wajib di sekolah-sekolah Indonesia.

Pastor Bernardus Hardijantan Dermawan, ketua Komisi Kateketik Keuskupan Agung Jakarta, mengatakan kepada UCA News bahwa guru agama Katolik di sekolah-sekolah negeri sepertinya “ditelantarkan” dan kebanyakan pastor paroki kurang mengetahui permasalahan yang mereka hadapi.

Sekretaris Komisi Kateketik KAJ Marcus Leonhard Supama mengatakan bahwa komisinya mengadakan retret dan berbagai program pelatihan bagi guru agama Katolik. Di Banten, “kami meminta para guru agama Katolik untuk memahami situasi lokal dan menghargai para penganut agama lain,” katanya.

Supama mengakui bahwa para siswa Katolik di sekolah negeri jumlahnya sangat sedikit sehingga “sekolah-sekolah kurang memperhatikan mereka dengan baik.” Di beberapa sekolah, contohnya, para siswa Katolik mengikuti pelajaran agama di kantin sekolah atau di bawah pohon. “Di beberapa paroki ada pastor yang memberikan fasilitas ruangan untuk dipakai guru agama Katolik mengajar pendidikan agama Katolik,” katanya.

Dalam pertemuan itu, Petrus Kanisius Kebaowolo, seorang guru Katolik di Sekolah Dasar Negeri Tanah Tinggi III di Tangerang, Banten, menceritakan bagaimana ia dikunci dalam mushola sekolahnya selama satu jam tiga tahun lalu.

“Saya menduga oknum yang mengunci saya terkait ketidaksetujuannya penggunaan mushola untuk mengajar agama Katolik. Pada hal saya sudah meminta ijin kepada kepala sekolah untuk menggunakannya,” kata Kebaowolo. “Mushola itu juga digunakan guru bahasa Inggris untuk mengajar.”

Pria awam itu mengajar 15 siswa Katolik berusia 7-12 tahun di mushola itu karena sekolah itu tidak memiliki ruang kelas untuk pelajaran agama Katolik. Namun, sejak 18 bulan lalu, kepala sekolah memberinya ruang kelas untuk digunakan setelah jam sekolah.

Pastor Daniel Cambielli SX, mantan ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Padang, mendorong para peserta pertemuan. Meskipun “banyak problem, guru tidak boleh putus asa,” nasehatnya kepada mereka, seraya mengatakan bahwa Yesus setia dalam menjalankan tugas perutusan yang dipercayakan oleh Bapa-Nya hingga wafat di kayu salib. ***

Tinggalkan komentar

Filed under Berita UCAN