Renungan

“God didn’t promise days without pain, laughter without sorrow, sun without rain, but He did promise strength for the day, comfort for tears, and light for the way. Words which do not give the light of Christ increase the darkness.”  (Mother Teresa of Calcutta)

KESAKSIAN KEBANGKITAN

C A H A Y A

cahaya paskah

cahaya paskah

Semalam listrik padam. Ditemani sebatang lilin, angan saya langsung tiba ke kisah seorang baginda raja dan dua putranya. Ketika baginda raja telah berangkat tua, ia mengalami kesulitan, siapa di antara kedua putranya yang akan menjadi putra mahkota. Akhirnya ia mendapat akal. Kepada kedua putranya ia berkata, ”Siapa di antara kamu berdua yang sanggup memenuhi ruangan besar ini sampai malam tiba, dialah yang akan menggantikan aku”.

Keduanya segera meninggalkan istana. Si sulung langsung membeli apa saja yang ditemuinya di jalan, lalu membawa semuanya pulang. Bangsal besar pun segera penuh sesak. ”Ayah, jadikan aku penggantimu. Lihat, ruangan ini sudah penuh oleh hasil bawaanku.” Jawab sang raja, ”Sabarlah, kita harus menunggu adikmu, apalagi batas waktunya malam, dan ini belum juga malam.”

Ketika si adik pulang, ia tak membawa apa-apa. Tetapi ia memerintahkan pelayan menyingkirkan semua bawaan kakaknya. Lalu, di tengah ruangan besar yang kosong itu, ia menyalakan lilin. Nyala lilin semakin terang dan memenuhi ruangan ketika hari semakin gelap. Kepada ayahnya, ia berkata, ”Ayah, kuharap lilin kecil ini telah menjalankan tugasnya, yaitu memenuhi seluruh ruangan dengan cahaya dan kehangatannya.” Siapa yang menjadi putra mahkota tentu kita bisa menduga.

Terang atau cahaya atau apa pun namanya, baru benar-benar kita rasakan manfaatnya bila terang tak ada dan kita termangu dalam gelap. Bayangkan saja bila matahari sehari saja ”mogok” dan tidak terbit. Apa jadinya hidup kita tanpa cahaya? Frans Brentano (1838-1917), filsuf yang banyak memukau dengan jenis teka-teki bermutu pengasah otak, memberikan sebuah teka-teki sebagai berikut: ”Terangnya tak tertandingi, lajunya tak tersaingi burung di udara, mampu menembus mengalahkan anak panah, pintu dan jendela dia terobos tanpa paksa, tak terduga, mendadak ia ada di mana-mana, apakah itu, coba terka!” Itulah cahaya, jawab Brentano.

Semalam, ketika hanya ditemani sebatang lilin, saya semakin paham apa maksud Yesus, Tuhan kita, dengan berkata bahwa kita pengikut-Nya harus menjadi terang, menjadi cahaya bagi dunia, paling kurang bagi lingkungan dan sekitar kita sendiri.

(Dari ”Cerita Kecil Saja”, Stephie Kleden Beetz)

Pemberdayaan Kesejatian Hidup,

”Pemberdayaan Hubungan antarUmat Beriman”

demikian tema Aksi Puasa Pembangunan

(APP 2009)

Umat Katolik diajak untuk membuka diri kepada masyarakat dan lingkungan hidupnya yang nyata majemuk. Kita harus bersikap realistis bahwa jika kita ingin hidup berdampingan dengan tenteram dan damai, maka kita harus membuka diri dan dengan ikhlas menerima kehadiran orang lain, teristimewa yang berbeda institusi keagamaan dengan kita.

Baca dan renungkan (Yohanes 17 : 1 – 26), bagaimana Yesus berdoa untuk murid-murid-Nya dan juga untuk dunia mohon persatuan teguh.

Intinya bahwa kita iklhas menjadi ”cahaya” bagi dunia.

Paskah, memang diidentikan dengan ”cahaya, api yang bernyala menerangi.” Di malam Paskah, dalam tradisi gereja Katolik diawali dengan upacara ”cahaya”, gereja dan umat berada dalam kegelapan. Kemudian lilin Paskah yang adalah lambang cahaya Kristus yang bangkit diarak memasuki gereja dan menerangi umat dan ruangan gereja. Sambil berarak Iman berseru setengah bernyayi, ”Kristus cahaya dunia” dan umat meriah bersorak menjawab, ”Syukur kepada Allah”. Kemudian umat menyalakan lilin-lilin kecil di tangannya dengan api dari lilin Paskah.

Menjadi cahaya di tengah dunia gulita. Kita menjadi sebatang kandil mungil di dunia. Sebuah simbol agung khas paskah beruang-ulang kita kenangkan lewat upacara liturgi gereja. Tetapi, apakah kita sadar bahwa simbol itu seharusnya menjadi realitas dalam hidup beriman dan bermsyarakat? Sejauh mana kita berani bersaksi bahwa kita adalah cahaya dunia? Cahaya yang menerangi dan menyejukkan kehidupan? Ataukah kita justru menjadi ”virus” penyebar fenomena kegelapan dan kekacauan di dunia lewat kesaksian hidup semu kita?

Semoga sikap cerdik si bungsu dalam cerita awal renungan menjadi pedoman:

arif buat berlangkah dalam hidup ini.

Dan mari jauhi sikap picik sang sulung

yang memaknakan hidup ini lewat aksi penumpukan harta kekayaan serta adu gengsi yang justru menjadi penghalang masuk dan merebaknya cahaya suci.

Dan kita masing-masing boleh bertanya,

siapakah aku ini,

si bungsu ataukah si sulung?”

Selamat Berhari Raya Cahaya 2009

************************************************************************************************************

Ini adalah uskup agung yang pernah bertugas di Rusia dan kini sudah sepuh. Di masa mudanya sebagai mahasiswa yang cerdas, ia terpilih untuk melanjutkan studi S-3 di bidang hukum gereja. Di samping menjalankan tugas akademisnya, ia mendapat giliran membantu di sebuah rumah sakit. Di sini ia punya kesempatan untuk meneruskan disertasinya. Sebuah metode yang unik ia pakai: ia kumpulkan berbagai pendapat ilmuwan, ia catat dengan cermat sumbernya, siapa pengarangnya, dan akan dimasukkan ke bagian mana dari tesisnya. Kemudian kutipan yang beratus-ratus jumlahnya ia susun rapi di atas meja kerjanya. Tak cukup di atas meja, ia tata dan ia urutkan sampai di lantai.

Suatu hari, pembantu yang mengurus kebersihan rumah membuka kamar kerja romo muda ini dan berhamburanlah ratusan kutipan kecil itu diterpa angin dari arah jendela dan pintu. Ia lalu menyapu dan ketika akan memasukkan kertas-kertas itu ke keranjang sampah, masuklah si romo. Pucat bagaikan kapur, si romo gemetar menahan diri untuk berteriak sejadi-jadinya. Daya ledak di dada sekuat gunung api yang siap sembur. Terlambat lima menit saja, semua jerih payah dan cucur keringatnya selama satu tahun lebih sudah jadi mangsa api. Namun romo kita dalam cerita ini cepat menguasai diri dan menyuruh pergi si pembantu, yang jadi gemetar dan panik tak paham apa sebenarnya kesalahannya.

Setelah tenang kembali, si romo muda menata lagi ratusan keping kertas yang berisi kutipan berharga dari berbagai sumber itu. Entah berapa lama ia harus menatanya kembali. Mene-ngadalah ke langit, ia berkata, ”Tuhan, terima kasih karena sudah memberikan kesabaran ke-padaku di saat yang sulit.”

Peribahasa Cina mengatakan,
”Jika engkau menahan diri sesaat saja dalam kemarahanmu yang luar biasa, engkau luput seratus hari dari seribu penyesalan”

(dari ”cerita kecil saja”, stephie kleden – beetz)

Para Frater yang dikasihi Tuhan,

Masa refleksi agung tahunan ”pra paska 2009” tiba.

Budaya bangsa kita mengajarkan sebuah petuah mulia,
”Penyabar kekasih Tuhan”.
Kali ini kita diajak untuk mengetes diri, apakah saya ini penyabar atau pemarah? Bukanlah, kemarahan akan mlahirkan banyak dosa?

Kita memang sering gampang marah. Jarang dan sedikit sekali di antara kita yang memiliki kemampuan untuk dapat mngendalikan diri dari ancaman maut ini, marah. Bahkan, sering, sedikit saja ada gangguan, kita sudah meledak memuntahkan ke-marahan yang menakutkan. Meresahkan suasana hidup. Bahkan, saya pernah me-nyaksikan ada seseorang yang berlari tunggang langgang karena ia tidak tega, ia tidak mampu menahan mendengar dan menyaksikan ”ledakan kmarahan” dari seseorang di hadapannya. Memang, kemarahan itu menakutkan! Dan kesabaran itu mengharukan!

Kemarahan dapat beranak pinak, artinya
sebuah kemarahan akan melahirkan sejuta kemarahan; bahkan dikatakan, ”kemarahanmu mendatangkan dosa di hatimu”

Pernahkah Anda sangat marah, di suatu kesempatan?
di suatu tempat?
karena suatu alasan sepeleh?
bagaimana perasaanmu setelah itu?
pernahkah berjanji untuk berhenti marah?

Nah,
adakan sebuah flash back akan peristiwa itu dan refleksikan dengan penuh konsentrasi!

Tuhan Ajari Kami

Tuhan,
ajari kami masing-masing agar tidak gampang panik dan marah menghadapi kehidupan harian ini
di komunitas-komunitas bersama saudara-saudara kami
kuatkan niat baik kami agar mampu mengontrol diri saat hendak marah
mampuhkan kami, agar boleh meneladan Yesus Putra-Mu
yang tetap mampu bersabar kepada siapa pun
jika memang kemarahan itu tidak seharusnya ditumpahkan
semoga semangat kerendahan hati serta kesadaran diri
selalu menghiasai hari-hari hidup kami
agar kami mampu mengatur hidup ini
menjadi kian bermakna, hening, dan lembut
bersahabat dan sabar
Amin.

“If you are patient in one moment of anger, you will escape a hundred days of sorrow.” (Chinese Proverb)

***************************************************

Gelar dan devosi Bunda Hati Kudus (Notre Dame du Sacré-Coeur; Our Lady of the Sacred Heart) tidak bisa dilepaskan dari Pater Jules Chevalier, pendiri Tarekat MSC dan PBHK.

Beberapa data penting tentang Jules Chevalier

1824 – Jules Chevalier lahir pada 15 Maret 1824. Ia anak bungsu dari tiga bersaudara, yang keesokkan harinya langsung dibaptis dengan nama «Jean-Jules», di Richelieu. Bapaknya bermana Charles Chevalier. Ibunya bernama Louise Orly.

1841 – Di bulan Oktober, dalam usia agak terlambat 17 tahun, ia masuk seminari kecil di St Gaultier, wilayah keuskupan Bourges.

1846-1851 – Jules melanjutkan masuk seminari tinggi di Bourges. Tanggal 14 Juni 1851, Jules ditahbiskan di katedral St Stefanus, Bourges. Tulis Pater Chevalier: «Saya merayakan perayaan misa pertama dalam kapel kecil di taman. Kapel itu dipersembahkan pada Bunda Perawan. Pada saat konsekrasi,, misteri yang agung serentak ketaklayakanku, benar-benar membuat saya mencucurkan air mata. Agar saya dapat menyelesaikan misa itu, saya harus dikuatkan kembali oleh imam konselebranku. Itu hari yang tak pernah kulupakan.”

1851-1854 – Tiga hari setelah pentahbisannya, ia langsung pergi ke tempat tugasnya. Pertama ia bertugas sebagai pastor pembantu di kampung kecil Ivroy-le-pré (17 Juni 1851), lalu di Châtillon-sur-Indre (21 Januari 1852), dan di Aubiny-sur-Nère (14 Oktober 1853). Pada 20 Oktober 1854, Pater Jules Chevalier tiba di Issoudun, dan menjabat sebagai pastor pembantu di paroki St Cyr, Issoudun.

1855 – 9 September: Pendirian Tarekat MSC mendapat restu eklesial. Diresmikan oleh Kardinal Du Pont, Uskup Agung Bourges. Chevalier memikirkan gelar Bunda Hati Kudus untuk Maria sebagai tanda syukur.

1857 – Untuk mengucapkan rasa terima kasih mereka pada Bunda Perawan Maria, atas peranannya yang besar hingga lahir tarekat MSC, Pater Chevalier mencetuskan untuk pertama kali nama yang indah ini: « Bunda Hati Kudus ». Nama, temuannya, ini mulai dipublikasikan kemudian pada tahun 1859. Juga atas permintaan para awam, lahirlah kemudian Fraternitas BHK. Majalah Les Annales Bunda Hati Kudus diterbitkan tahun 1866, yang dipimpin oleh Pater Victor Jouët msc

1858 – Dimulainya pembangunan gereja indah Basilika Bunda Hati Kudus. Baru tgl 7 Juli 1864 bangunan tersebut selesai dan diberkati.

1869 – Pemahkotaan patung pertama Bunda Hati Kudus, atas nama Paus, dalam kapel Bunda Hati Kudus. Perayaan misa mulia dan agung menandai peristiwa bersejarah tersebut pada tgl 8 September. Itulah hari ziarah terbesar jumlahnya dalam sejarah tempat ini. Sekitar 40 uskup dan 400 imam yang hadir.

1874 – Tgl 30 Agustus, Pater Chevalier mendirikan tarekat Putri-putri Bunda Hati Kudus (PBHK).

1880 – Tahun penuh bencana! Semua kaum religius di daratan Prancis dikejar-kejar. Akan tetapi, kelak patut disyukuri, saat itulah buah evangelisasi tumbuh di mana-mana di dataran Eropa: Belanda, Belgia, Austria, Jerman, Spanyol, Italia, Inggris dan Irlandia.

Tgl 25 Maret, Kadinal Simeoni, atas nama Paus Leo XIII, mengusulkan misi Melanesia dan Micronesia pada Tarekat MSC. Disetujui. Lima misionaris pertama MSC diutus, namun tiga yagn smapai, yakni : Pater Navarre, Pater Cramaille dan Bruder Fromm. Tgl 1 September 1881 mereka meninggalkan pelabuhan Barcelona. Era sebagai misionaris dimulai yang berlanjut hingga hari ini, para MSC sudah hadir di semua benua.

1901 – Sekali lagi terlihat Pemerintah Prancis dengan serius menentang gereja melalui undang-undang antireligius. Seluruh milik harta, kompleks, gedung gereja, baik milik MSC maupun suster PBHK diambil oleh pemerintah.

1905 – Lahirlah UU pemisahan Gereja dan Negara.

1907 – Tgl 21 Oktober. «Dengan perasaan sedih saya memberitahukan kepada anda tetang kematian Rev. Pater Chevalier, pada pkl 18.00, tadi malam. Kematiannya yang tenang dan jernih membawa penghiburan dalam kesedihan kami… », tulis Pater E. Meyer msc.

Asal Usul Devosi dan Gelar Bunda Hati Kudus

Pater Chevalier senang menceriterakan asal mula gelar dan devosi tersebut. Menurutnya untuk mengerti asal mulanya kita harus kembali ke peristiwa 8 Desember 1854:

“Untuk menemukan asal mula devosi kepada Bunda Hati Kudus, sebagaimana kita kenal sekarang, kita harus kembali ke peristiwa 8 Desember 1854, hari kenangan pemakluman dogma Maria Dikandung Tanpa Noda.”<!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–>

Lalu ia menjelaskan mengenai asal mula Tarekat Misionaris Hati Kudus, yang tidak lepas dari : – novena kepada Maria tanpa noda, yang dibuka pada 30 Nopember dan berakhir pada 8 Desember 1854; – cara doa-doa mereka dikabulkan melalui tanda yang diterima pada hari kesembilan;<!–[if !supportFootnotes]–>[2]<!–[endif]–> – keadaan yang mendorong mereka untuk mengadakan novena kedua kepada Bunda Kita, dari 28 Januari (pesta Hati Maria tanpa noda) sampai dengan 6 Pebruari; – dan bagaimana doa-doa mereka dikabulkan lagi.<!–[if !supportFootnotes]–>[3]<!–[endif]–> Namun nyatanya tanda kedua ini tidak cukup untuk meyakinkan para anggota Dewan dari Uskup Agung Dupont mengenai kelayakan pembentukan Tarekat yang diusulkan: “Proyek itu ditolak secara aklamasi.”<!–[if !supportFootnotes]–>[4]<!–[endif]–>

“Rekanku yang terkasih, kata Pemimpin Seminari Tinggi Bourges kepada Pater Chevalier, “lupakan saja gagasan itu karena sudah menemui ajal sejak awal……” Tetapi Pater Chevalier menanggapi: “Jangan secepat itu, Pater Pemimpin! Perawan Terberkati belum memberikan kata terakhirnya; kami akan terus berdoa kepadanya.” “Baiklah, memang anda harus berdoa dan bilamana doa itu dikabulkan, dia akan mengerjakan suatu mukjizat besar.”<!–[if !supportFootnotes]–>[5]<!–[endif]–>

Maka Pater Chevalier dan Maugenest berdoa lagi kepada Bunda Kita, meskipun hal ini bukan dalam bentuk novena. “Mukjizat besar” dikerjakannya! Kali ini tanda yang diterima bukanlah perubahan pikiran dari para anggota Dewan Uskup, tetapi perubahan prosedur dari pihak Uskup Agung, Kardinal Dupont. Meskipun beliau tidak biasa bertindak berlawanan dengan nasehat dewannya, kali ini ia membuat pengecualian dan memberi otorisasi kepada kedua imam pembantu paroki Issoudun untuk membentuk suatu Tarekat.

Bagi Pendiri bantuan yang diterima dari Bunda Kita selama masa genting kehidupannya merupakan suatu pengalaman mendalam. Baginya hal itu merupakan bukti bahwa pembentukan Tarekat Misionaris Hati Kudus merupakan kehendak Allah, dan bahwa Bunda Kita menyertai dia dalam proyek ini. Kenyataannya, dalam suatu versi “Kontrak antara Maria dan kedua imam Hati Kudus”, pasal III, kedua pendiri berjanji :

“Sebagai tanda terima kasih kepada Maria, mereka akan memandang dia sebagai Pendiri dan Pemegang Kedaulatan mereka. Mereka akan menyatukan diri dengannya dalam segala karya serta berupaya agar dia dicintai secara khusus.”<!–[if !supportFootnotes]–>[6]<!–[endif]–>

Perasaan-perasaan syukur serta janji sedemikian memenuhi pikiran dan hati mereka sehingga tepat pada hari peresmian sebagai Misionaris Hati Kudus, 12 September 1855, pesta Nama Suci Maria, mereka tidak hanya merenungkan makna nama mereka, tetapi juga mulai memikirkan Maria sebagai Bunda Hati Kudus.<!–[if !supportFootnotes]–>[7]<!–[endif]–> Bukankah Bunda Kita adalah juga seorang Misionaris Hati Kudus? Bukankah dia menyertai mereka dalam usaha ini?

Selama bertahun-tahun Pater Chevalier merenungkan hal ini dalam keheningan, tetapi nampaknya ia baru berbagi pikiran dengan rekan-rekan sejawatnya ketika ia sudah harus mewujudkannya. Percakapannya “di bawah pohon limau” telah menjadi bagian dari “saga pembentukan” Tarekat MSC.

Pada musim semi tahun 1859 dimulai bagian pertama pembangunan gereja baru. Gedung ini terdiri dari panti imam dengan lengkungnya, tiga jajar pertama ruang tengah dan bagian-bagian untuk bangku-bangku samping. Dengan fasilitas-fasilitas ini kami dimungkinkan untuk melanjutkan latihan-latihan religius kami di kapel sementara itu. Juga pada waktu ini kami tidak merasa pasti entah kami akan memperoleh dana cukup untuk menyelesaikan bagian pertama. Rupanya tidaklah bijaksana untuk mengerjakan seluruh rencana ini.

Dengan mudah anda dapat mengerti bahwa selama pembangunan bagian pertama ini pikiran para Misionaris terus menerus dipenuhi dengan usaha penting ini, demikian juga hati mereka. Mereka pun sering berbicara mengenai usaha tersebut.

Pada tahun 1859 kami biasanya melewatkan rekreasi sore kami sambil duduk di bawah naungan pohon-pohon limau, karena matahari sangat panas. Pada suatu waktu beberapa konfrater hadir, baik dari komunitas kami maupun dari paroki-paroki tetangga.<!–[if !supportFootnotes]–>[8]<!–[endif]–> Seperti biasanya, kami membicarakan soal pembangunan gereja – hanya bercakap-cakap santai tanpa banyak berkonsentrasi pada pokok itu.

Tiba-tiba Pater Chevalier, yang rupanya sedang penuh dengan gagasan, bertanya kepada kami: “Nama apa yang akan kita berikan pada kapel Bunda Kita yang berada di dalam gereja kita?”

Kami menjawab sesuai daya tarik dan devosi kami masing-masing. Yang satu berkata: Hati Maria tanpa noda, atau Bunda Kemenangan. Yang lain: Bunda Kita, Bunda Kerahiman, dan yang lain lagi: Bunda Rosario.

“Tidak, tidak,” kata Pater Chevalier. “Kita akan menyebutnya Bunda Hati Kudus. Demikian gelar tercinta ini diucapkan untuk pertama kali dan mereka heran mendengarnya. “Hal itu akan berarti, “ kata Pater Piperon, “permohonan diajukan kepada Bunda Kita di Gereja Hati Kudus.”

“Bukan itu, rekanku terkasih,” kata Pater Chevalier dengan segera. “Gelar ini, ‘Bunda Hati Kudus’, memiliki suatu makna mendalam. Itu berarti bahwa karena keibuannya yang ilahi, Maria mempunyai pengaruh besar terhadap Hati Yesus dan melalui dia kita harus datang ke Hati ilahi ini.”

“Ini adalah sesuatu yang baru…” “Sesuatu yang baru! Tidak seperti yang anda pikirkan. Bagaimana pun juga, di dalam gereja kita akan ada suatu kapel yang dipersembahkan kepada Bunda Hati Kudus.”

“Tapi, apakah hal itu sesuai dengan teologi?” “Tentu saja,” jawab Pater Chevalier. Lalu dengan penuh keyakinan ia mulai menjelaskan alasan-alasan utama yang membenarkan pernyataannya. Pater yang mem-pertanyakan gelar itu mendesak lagi dan berusaha untuk melemahkan argumen Pater Chevalier. Lalu ia menambahkan: “Tidak ada sesuatu yang baru. Anda tahu betul bahwa anda sudah melangkah terlalu jauh. Bagi saya, hal itu nampaknya menyesatkan.”

Tentu saja kata-kata ini, yang diucapkan di tengah kehangatan diskusi, keras namun tidak banyak berpengaruh. Rekreasi mereka berakhir, lalu mereka berpisah.

Bagaimana pun juga, seorang konfrater dari Pater Chevalier menghabiskan sebagian sore hari itu menuliskan pada lengkung atas sekeliling patung Maria tanpa noda, di bawah pohon-pohon tempat mereka berdiskusi, seruan ini: “Bunda Hati Kudus, doakanlah kami.”

Sejak itu gelar baru tersebut menjadi pokok percakapan penting dalam komunitas:

Pada hari itu, setelah makan malan, dua Misionaris (Maugenest tidak hadir) melanjutkan diskusi tentang keabsahan gelar Bunda Hati Kudus. Setiap hari, hampir sepanjang bulan, masing-masing menyodorkan argumen-argumen baru untuk mendukung pendapat masing-masing. Hasil diskusi panjang ini diringkaskan dalam beberapa halaman, yang kemudian menjadi brosur kecil pertama mengenai devosi kepada Bunda Hati Kudus.<!–[if !supportFootnotes]–>[9]<!–[endif]–>

Namun gelar itu baru mulai dikenal di luar komunitas ketika bagian pertama dari gereja Hati Kudus diberkati pada 7 Juni 1861, karena pada hari itu jendela Bunda Hati Kudus dipasang di kapel Bunda Kita. Pater pendiri memberi penjelasan tentang gambar itu sebagai berikut:

Saatnya telah tiba untuk memenuhi janji kita secara resmi dan memperkenalkan secara publik gelar yang telah diberikan kepada Maria, Bunda Hati Kudus. Kembali pada 1856, kita telah menulis gelar itu pada alas patung yang merepresentasikan Maria tanpa noda. Setiap hari kita menghormati patung ini, yang berdiri di taman kita di bawah naungan pohon-pohon limau. Kita tidak dapat menyembunyikan lagi harta berharga ini. Suatu pertanyaan muncul mengenai pemilihan tema untuk jendela kaca berwarna yang akan menghiasi tempat suci Bunda Kita. Bentuk apakah yang seharusnya diberikan? Apakah yang akan menjadi ciri-ciri yang menonjol? Barangkali kita perlu menonjolkan kehendak baik dari Yesus terhadap Ibu-Nya dan pengaruh sang Ibu terhadap Hati Puteranya.

Oleh karena itu, kita terikat pada gagasan merepresentasikan Perawan Terberkati, yang berdiri sambil menghancurkan kepala ular yang terkutuk dengan kakinya; mengulurkan tangannya kepada umat beriman, dan mengundang mereka untuk datang menimba dari dia segala rahmat yang dibutuhkan. Di hadapannya berdiri Kanak-Kanak Yesus berumur dua belas tahun. Dengan satu tangan ia menunjuk ke arah Hati-Nya, dan dengan tangan lain Ia menunjuk kepada Ibu-Nya, agar kita memahami bahwa kepa-danyalah kita harus pergi bilamana kita ingin memperoleh segala rahmat, karena dialah sumber-nya.<!–[if !supportFootnotes]–>[10]<!–[endif]–>

Representasi: Penggambaran tentang BHK

Dalam buku oleh Pater Piperon diuraikan sebagai berikut:<!–[if !supportFootnotes]–>[11]<!–[endif]–>

Dalam merancang jendela Bunda Hati Kudus, Pater Chevalier yang terhormat berusaha mengungkapkan secara menyentuh kuasa mengagumkan dari Maria terhadap Hati Yesus. Untuk maksud itu, ia meminta seorang seniman untuk melukiskan Maria tanpa noda dengan tangan terulur dan mata yang me-mandang ke bawah pada Yesus. Hal itu berarti juga bahwa ia memandang kepada anak-anaknya, kaum beriman. Dialah Bunda Kita yang dikandung tanpa noda, sebagaimana ia menampakkan diri kepada Suster Katarina Labouré, pengikut Santo Vinsensius de Paul.

Dalam pikiran Pater yang terhormat, gambar ini merupakan juga suatu persembahan tanda terima kasih kepada Perawan tanpa noda, yang telah begitu bermurah hati mengabulkan doa-doanya yang tekun pada 8 Desember 1854.

Kanak-kanak Yesus berusia dua belas tahun akan berdiri di depannya, dengan satu tangan menunjuk ke Hati-Nya, dan tangan lain kepada Ibu-Nya, seakan-akan hendak mengatakan kepada semua orang: “Bilamana anda menginginkan rahmat – Hatiku adalah sumbernya – maka datanglah kepada Ibu-Ku. Dia adalah bendahari yang dapat membagikan sekehendak hatinya segala kekayaan yang terkandung di dalamnya.”

Kanak-kanak Yesus direpresentasikan berusia dua belas tahun, seturut Penginjil Santo Lukas, yang, setelah melaporkan bahwa Yesus ditemukan oleh Maria dan Yosef di tengah kaum terpelajar, menam-bahkan: “Ia pulang bersama mereka ke Nazaret, dan ia tetap hidup dalam asuhan mereka.” Gambar ini dibuat untuk mengungkapkan kuasa pengantaraan Maria terhadap Hati Yesus.

Asal mula dari devosi kepada Bunda Hati Kudus terkait erat dengan pembangunan gereja Hati Kudus di Issoudun. Kita telah melihat di atas bagaimana lukisan pada jendela atas altar Bunda Kita di dalam gereja tersebut menjadi bahan percakapan di bawah empat pohon limau. Sekarang kita harus menelusuri pengaruh jendela itu, yang melukiskan gambar pertama Bunda Hati Kudus, dalam pengembangan devosi tersebut dan dalam penyelesaian gedung gereja Hati Kudus. Cara gereja itu muncul merupakan gambaran cara Tarekat muncul, yakni melalui kehadiran penuh kuasa dari Bunda Hati Kudus. Asal mula keduanya mengibaratkan kehadiran Maria di Kalvari, di mana Gereja dibentuk dari lambung Yesus yang tertikam.

Ada tiga representasi:

1. Patung besar di Kapel Bunda Hati Kudus, dengan Yesus yang berdiri di depan Maria.

2. Patung di gua (crypt), yakni yang lebih dikenal: Kanak-Kanak Yesus di pangkuan Maria.

3. Kalvari di basilik: Yesus di salib dan Maria di kaki Kalvari.

<!–[if !supportLists]–>I. <!–[endif]–>REPRESENTASI PERTAMA: DISARANKAN OLEH PATER CHEVALIER

Yang pertama-tama adalah kaca jendela berwarna, lalu muncul patung marmer besar di kapel. Ada dua pribadi, yakni Maria dan Yesus:

– Bunda Hati Kudus tidak pernah direpresentasikan sendirian, seperti misalnya Maria

yang dikandung tanpa noda atau Maria dari Lourdes, dsb.

– Praktek kesalehan kristen telah sering merepresentasikan Perawan Maria sendirian atau Maria dengan seorang anak di pangkuannya.

Dua tokoh yang direpresentasikana adalah YESUS dan MARIA.

1. Pater Chevalier mempunyai devosi besar kepada Maria:

– sebagai seorang anak ia dipersembahkan kepada Maria (Lihat Richelieu, Bunda Keajaiban)

– kemudian, devosi ini berlanjut. Pada 1830, ketika Chevalier berumur 6 tahun, Maria

menampakkan diri kepada Katarina Labouré di Paris. Maka, ada gerakan devosi Maria

yang besar di Perancis sambil menyebarkan medali kramat. Jutaan medali ini disebarkan.

– di seminari Jules Chevalier mempelajari spiritualitas yang disebut sekolah Perancis, yang dicirikhaskan oleh devosi besar dari Yohanes Eudes dan Olier.

2. Pater Chevalier mempunyai devosi besar kepada Yesus (sekolah spiritualitas Perancis):

– Yesus di hadapan mata, di dalam hati, di tangan.

– Penemuan Hati Kristus, pusat segala sesuatu; pengalaman pribadi.

– Hati Kudus adalah pusat segala sesuatu.

– Maria dilihat dalam relasi dengan pusat ini: suatu anugerah Hati Yesus yang menghantar ke Hati Yesus, dan seterusnya.

– Melalui intuisi rohani ia membuat sintese dua devosi ini: BUNDA HATI KUDUS.

II. REPRESENTASI KEDUA: YESUS DI PANGKUAN MARIA – SEKITAR 1875

Mengapa ada perubahan seperti dituntut oleh Roma?

1. Roma tidak menyukai jenis patung Perancis.

2. Beberapa contoh dianggap tidak baik: anak terlalu kecil dan di kaki IbuNya.

3. Bahasa kadang-kadang berarti ganda: Maria menjadi penguasa (sovereign), Ratu Hati Yesus..

Di Roma sudah dibuat sebuah patung, yakni Yesus sebagai seorang anak, dengan hatiNya yang kelihatan jelas, sambil memegang kedua tanganNya mengarah kepada kita. Pater Chevalier menolak patung ini. Ia menerima Yesus dalam tangan IbuNya, dan apa yang diiginkannya adalah patung dengan isyarat berikut:

– Yesus yang sedang menunjuk ke hatiNya

– dan menunjuk kepada Ibu-Nya

– dan Maria menunjuk ke Hati Yesus.

III.REPRESENTASI KETIGA: MARIA DI BAWAH SALIB – KALVARI DI BASILIK, 1964

Sesudah Konsili Vatikan II ada perasaan alergi mengenai Hati Kudus. Hal ini dirasakan berkaitan dengan patung-patung dan juga bahasa.

Dirasakan kebutuhan untuk kembali ke sumber devosi atau spiritualitas hati:

– Yesus di salib

– Yesus wafat

– dengan lambungNya yang tertikam dengan tombak dan mengalirkan darah dan air (Yoh 19)

– “Mereka akan memandang kepada Dia yang telah mereka tikam” (Zak 12:10). Zakaria melanjutkan: “Pada waktu itu akan terbuka suatu sumber bagi keluarga David dan bagi penduduk Yerusalem untuk membasuh dosa dan kecemaran.” (Zak 13:1). Hal itu mengingatkan kita akan teks-teks lain seperti Yeheskiel 35:25 (perecikan air suci), Yeh 36:26 (janji tentang hati yang baru), Yeh 46 (sumber di sisi kanan Bait Allah), Yoh 2:19 (Yesus memaklumkan diriNya ketika ia berada di Bait Allah).

Maria di kaki salib bersama dengan Yohanes:

– ia memandang; – ia berkontemplasi; – ia mengerti (dan membantu Yohanes mengerti)

Marilah kita melihat Kalvari di dalam basilik:

– Maria sedang berkontemplasi

– ia sedang mengundang kita untuk berkontemplasi bersama dia

– ia sedang menyambut sumber itu, baginya dan bagi kita

– ia sedang mengundang kita untuk berbuat seperti dia, untuk berada bersama dia bagi orang-orang lain.

Maria di bawah salib sangat disukai oleh Pater Chevalier, karena di tempat inilah ia menjadi Ibu kita.

Perkembangan Pesat

Devosi Bunda Hati Kudus berkembang pesat atas jasa Asosiasi Doa, Konfraternitas Bunda Hati Kudus dan Konfraternitas Agung Bunda Hati Kudus serta majalah Annales. Tercatat dalam angka sebagai berikut:

Desember 1864 100.000 anggota

Desember 1865 200.000 anggota

September 1866 600.000 anggota

Desember 1867 1.500.000 anggota

Juni 1868 2.000.000 anggota

1.719.906 ujud doa; 17.300 surat ucapan terima kasih. Dalam Annales dari Issoudun 1882 disebutkan jumlah 14.690.000 anggota; dan dalam Annales 1891 disebutkan lebih dari 18 juta anggota.

Pemahkotaan Patung Bunda Hati Kudus

Pesta pemahkotaan ditetapkan oleh Uskup Agung Bourges pada 8 September1869, merupakan hari yang sangat mulia. Pater Chevalier adalah seorang penyelenggara yang hebat, dan kali ini ia melampaui diri sendiri. Ia menerima kerja sama yang luar biasa: cuaca bagus, 13 Uskup Agung dan Uskup, seorang rahib Trapis, seorang protonotaris apostolik, lebih dari 700 imam dan ribuan peziarah dari pelbagai wilayah berpartisipasi dalam perayaan tersebut. Warga Issoudun menjadi sangat antusiastik: mereka menghiasi seluruh kota, sangat kooperatif menyambut para tamu, dan juga para pejabat sipil ikut ambil bagian.

Pada pkl 07.00 Uskup Agung Bourges menahbiskan altar di kapel Bunda Hati Kudus, sedangkan Uskup Autun menahbiskan altar utama Gereja Hati Kudus. Pada pkl 10.00 Uskup Poitiers mempersembahkan misa mulia di alam terbuka untuk umat yang berjumlah sangat besar, sedangkan Misa Agung dipersembahkan di Gereja Hati Kudus oleh Uskup Agung Sens. Dalam perayaan Misa inilah Mgr Pie, Uskkup Poitiers menyampaikan khotbahnya yang bagus, yang direkam dalam Annales 1869. Pada pkl 14.00 Uskup Tulle memberikan konferensi tentang Bunda Hati Kudus, yang dilanjutkan dengan prosesi agung. Sebagai perbandingan dengan zaman kita cobalah baca tulisan-tulisan di Annales 1869 dan 1870 tentang banyaknya bendera yang dibawa dalam prosesi; nampaknya hal ini sangatlah penting. Setiap kelompok umat punya tempatnya dalam prosesi: setiap sekolah, organisasi, sedangkan band-band berpawai di antara mereka. Dua mahkota, yang akan digunakan dalam perayaan itu, dibawa dalam prosesi. Ketika prosesi kembali ke “Place du Sacré-Cœur” pada pkl 18.00 patung yang digunakan dalam prosesi ditempatkan di atas altar di alam terbuka. Para Uskup berbaris pada anak-anak tangga di depan altar, dan setelah menyanyikan “Ave Maris Stella” mereka memberikan berkat.

Pemahkotaan patung Bunda Hati Kudus atas nama Paus terjadi delapan kali: di Issoudun (1869), Sittard (1873), Innsbruck (1874), Averbode, Belgi (21 Agustus 1910), Barcelona, Spanyol (5 Desember 1943), Mexico-City (26 September 1948), São Paulo, Brasil (8 Desember 1954), Roma (12 Desember 1954) di gereja-gereja atau basilika-basilika.

Pusat-Pusat Pertama Devosi BHK

Pusat-pusat pertama dan terpenting dari devosi ini di luar Perancis, di mana Konfraternitas secara resmi dibentuk oleh Uskup setempat. Kalau kita mengurutkan secara kronologis pusat-pusat tersebut kita mendapatkan daftar berikut ini:

ISSOUDUN, Perancis: 6 April 1864

Sittard, Belanda, 23 Januari 1867

Osimo, Itali: 8 September 1870

Tarragona, Spanyol: 31 Mei 1871

Innsbruck, Austria: 6 Januari 1872

Roma, Itali: 8 Desember 1872

Averbode, Belgi: 23 Maret 1877

Doa Memorare

Karena doa ‘Ingatlah, ya Bunda Hati Kudus….’ secara erat terkait dengan karangan Pater Chevalier pada 1862-1863, baik waktu maupun isinya, kiranya pada tempatnya sekarang untuk berbicara sedikit mengenai asal, bentuk dan isinya. Karena Pater Bertolini telah mengadakan penelitian sangat mendalam tentang hal ini, kita sekarang mengetahui penyusun doa ini, bahkan tanggal persis penulisannya.<!–[if !supportFootnotes]–>[12]<!–[endif]–>

Karena Pater Jouet menulis novena Bunda Hati Kudus berdasarkan Memorare (Ingatlah),<!–[if !supportFootnotes]–>[13]<!–[endif]–> beberapa orang berpendapat bahwa dialah penyusun doa itu. Namun, hal itu tidak mungkin, karena Pater Jouet tiba di Issoudun untuk pertama kali pada Desember 1864. Hanya pada waktu itulah ia mulai mengenal Bunda Hati Kudus. Tetapi Pater Chevalier menerbitkan Memorare beserta Statuta Asosiasi Bunda Hati Kudus, yang disetujui oleh Uskup Agung Bourges pada 29 Januari 1864. Kemudian kita akan melihat bahwa Pater Jouet memainkan peranan penting dalam pembetulan beberapa ungkapan doa ini, pada 1883, tetapi ia tidak berperanan dalam merancang versi pertamanya.

Calon penting lain untuk dipertimbangkan di sini adalah Pater Chevalier, karena dialah orang pertama yang menerbitkan Memorare, dan doa itu merefleksikan substansi karangannya pada 1862-1863. Kenyataannya, atas beberapa cara Pater Chevalier bertanggung jawab atas doa ini, tetapi sekarang kita tahu bahwa pada 8 Desember 1863 ia menerima suatu versi doa itu dari seorang lain yang telah membaca karangannya dan tersentuh olehnya.

Pada 29 Januari 1864 Statuta Asosiasi itu disetujui dan Pater Chevalier menerbitkan versi pertama Memorare seperti yang kita kenal. Versi kedua kemudian menyusul. Akan diberikan di sini versi pertama dan kedua:

1864 : Ingatlah, ya Bunda Hati Kudus, akan kuasa tak terbatas yang telah dianugerahkan kepadamu oleh Puteramu ilahi atas Hati-Nya yang patut disembah. Penuh kepercayaan akan jasa-jasamu, saya sekarang memohon perlindunganmu. Oh Ratu mulia Hati Yesus, Hati sumber segala rahmat yang tak habis-habisnya dan yang dapat kau bukakan sesuka hatimu, untuk membagikan kepada manusia harta kekayaan cintakasih dan kerahiman, terang dan keselamatan, yang terkandung di dalamnya. Saya mohon kepadamu, kabulkanlah permohonanku…. Tidak! Saya tidak akan kau tolak; dan karena engkaulah Bundaku, Bunda Hati Kudus, berkenanlah mendengarkan dan mengabulkan doaku. Amen.

1868 : Ingatlah, ya Bunda Hati Kudus, akan kuasa tak terbatas yang telah dianugerahkan kepadamu oleh Puteramu ilahi atas Hati-Nya yang patut disembah. Penuh kepercayaan akan jasa-jasamu, kami sekarang memohon perlindunganmu. Oh Ratu mulia Hati Yesus, Hati sumber segala rahmat yang tak habis-habisnya dan yang dapat kau bukakan sesuka hatimu, untuk membagikan kepada manusia harta kekayaan cintakasih dan kerahiman, kehidupan dan keselamatan, yang terkandung di dalamnya. Kami mohon kepadamu, kabulkanlah permohonan kami. Tidak! Kami tidak akan kau tolak; dan karena engkaulah Bunda kami, Bunda Hati Kudus, berkenanlah mendengarkan dan mengabulkan doa-doa kami. Amin.

Dalam Pouvoir, 5e éd. (1868) Pater Piperon masih memiliki versi 1864, sedangkan Pater Chevalier memiliki versi baru dalam edisi baru bukunya Notre-Dame du Sacré-Coeur (1868). Maka sementara itu perubahan telah dibuat. Versi 1864 berbentuk tunggal. Versi 1868 adalah doa kelompok, cocok bagi Asosiasi Bunda Hati Kudus. Supaya empat versi ditempatkan bersama-sama, maka akan disampaikan juga versi 1883 dan 1968.

1883 : Ingatlah, ya Bunda Hati Kudus, atas kuasa tak terkira yang telah dianugerahkan kepadamu oleh Putera ilahimu atas hati-Nya yang patut disembah. Penuh kepercayaan akan jasa-jasamu, kami sekarang mohon perlindunganmu. Oh bendahari surgawi hati Yesus, hati sumber segala rahmat yang tak habis-habisnya, dan yang dapat kau bukakan sesuka hatimu, untuk membagikan kepada kami semua harta kekayaan cintakasih dan kera-himan, terang dan keselamatan, yang terkandung di dalamnya. Kami mohon kepadamu, kabulkanlah permohonan-permohonan kami. Tidak! Kami tidak akan kau tolak; dan karena engkaulah Bunda kami, Bunda Hati Kudus, berkenanlah mendengarkan dan mengabulkan doa-doa kami. Amin.

1968 : Ingatlah, ya Bunda Hati Kudus, akan segala keajaiban yang Tuhan kerjakan bagimu. Ia telah memilih engkau menjadi ibu-Nya. Ia menghendaki engkau berdiri dekat salib-Nya, dan menghendaki engkau mengambil bagian dalam kemuliaan-Nya. Ia mendengarkan doamu. Persembahkan kepada-Nya doa-doa pujian dan syukur kami; sampaikan kepada-Nya permohonan-permohonan kami. Semoga kami hidup seperti engkau dalam cinta Puteramu agar Kerajaan-Nya datang. Hantarlah kami ke sumber air hidup, yang mengalir dari hati-Nya dan menyebarkan ke seluruh dunia pengharapan dan keselamatan, keadilan dan perdamaian. Pandanglah kepercayaan kami kepadamu; kabulkanlah doa kami. Tunjukkanlah dirimu selalu sebagai Bunda kami. Amin.

Solemnity of Our Lady of the Sacred Heart

On the last Saturday in May

ENTRANCE ANTIPHON: Jer 31,3b-4a

I have loved you with a never-ending love;

and so, taking pity on you

I have drawn you to myself

so that you may be joy-fully heartened,

O virgin Israel.

OPENING PRAYER

O God, you have made known to us

the inexpressible riches of your love, in Christ;

you chose to unite Blessed Mary, the Virgin,

to the mystery of his heart.

Let us, we pray, also be sharers in your love,

and witnesses to it in your Church.

We ask you this through Jesus, the Christ, your Son,

who lives and reigns with You and the Holy Spirit, for ever and ever.

Amen.

FIRST READING: Is 66, 10-14c

RESPONSORIAL PSALM: Ps 45, 11-12; 14-17.

Response: Listen daughter, pay careful attention.

SECOND READING: Gal 4,4-7

ALLELUIA: Lk 11,28

But he replied, “Still happier those who hear the word of God and keep it.

GOSPEL: Jn 19,25-37

PRAYER OVER THE GIFTS

Lord, take our prayers and the gifts we bring you

out of love for Blessed Mary the Virgin.

May your acceptance of what we offer help us

to sense within ourselves, as she did,

what was also in Christ Jesus, your Son.

He lives and rules forever. Amen.

COMMUNION ANTIPHON: 1Jn 4,16b

God is love; and whoever is filled with love

is full of God; God is in him.

PRAYER AFTER COMMUNION

Celebrating the feast of Blessed Mary the Virgin,

we have drunk deep from the fountain of the Saviour.

Lord let this mystery of unity and love

inspire us always to do those things which please you,

and lovingly serve our brothers.

We ask you this through our Lord,

Jesus Christ, who lives and reigns

with You and the Holy Spirit,

for ever and ever. Amen.

(Text of the Mass of OLSH approved in 1972 by the Vatican)

Sumber utama: Jan G. Bovenmars, MSC, Our Lady of the Sacred Heart, Rome 1996.

Bahan Kursus Spiritualitas Cor Novum 1996.

(J. Mangkey, msc)

Materi ini dipresentasikan pada Weekend Formator Keluarga Chevalier

Malang, 18 – 20 Desember 2008

<!–[if !supportFootnotes]–>

<!–[endif]–>

<!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–> J. Chevalier, Notre-Dame du Sacré-Coeur Mieux Connue, edisi baru, 1879, hal. 5-8; Rapports, hal. 1-6; NDS, hal. 1-5. Sesungguhnya kita dapat menelusurinya lebih jauh dan menunjuk beberapa khotbah yang ditulisnya ketika ia berada di seminari Bourges, khususnya khotbah berjudul “Belaskasih Perawan Maria yang Terberkati terhadap para pendosa”, suatu teks yang berulang kali dikutipnya dalam khotbah-khotbah selanjutnya. Pertama-tama ia berbicara mengenai Bunda Kita sebagai Pengantin Allah dan bertanya: “Sejak ia dimuliakan, hak apakah yang tidak diberikan oleh gelar mulia ini bersama dengan Tuhan? Bersama Olier ia menyimpulkan: “Maria telah menaklukkan hati Allah-nya. Lalu Chevalier merefleksikan keibuan ilahi dari Bunda Kita dan menunjuk pada kuasa yang terkandung di dalamnya, sebagaimana dimanifestasikan di Kana, dan ia menyimpulkan: “Betapa besar kuasamu, Maria, di surga, atas Hati Yesus. Menurut St. Bernardus kuasa itu tak terbatas, bukan karena kodrat tetapi karena rahmat: ‘Melalui dia Putera yang penuh kuasa telah menjadikan sang Ibu penuh kuasa pula’. Oleh karena itu, Allah berkehendak agar segala rahmat dibagikan melalui Maria. Mengapa? Karena Maria memberikan Yesus kepada kita, maka sepantasnyalah ia memberikan kita kepada Yesus.” Olier menekankan kuasa Maria atas Hati Allah, dan menurut pandangannya dasar dari kuasa ini adalah relasi antara Maria sebagai Pengantin dengan Bapa. Pater Chevalier sudah terbiasa dengan pandangan ini, namun dalam karya-karya berikutnya ia menekankan kuasa Maria atas Hati Yesus dan pertama-tama menunjuk pada keibuan ilahi dari Maria sebagai dasar kuasa ini.

<!–[if !supportFootnotes]–>[2]<!–[endif]–> Tanda yang diterima pada 8 Desember 1854 sering kali dijelaskan secara keliru. Pater Chevalier dan Maugenest tidak menerima uang apa pun pada hari itu, dan juga tidak menerima surat apa pun. Mereka semata-mata diberitahu oleh anggota paroki bernama Auguste Petit, atas nama tuan Philippe de Bengy, bahwa seorang dermawan, yang tidak mau menyebut namanya, sedang menyediakan dua puluh ribu frank yang diperuntukkan bagi suatu karya yang baik di Berry. Berdasarkan pernyataan adanya bantuan keuangan inilah kedua imam tersebut mengakui pengabulan doa-doa mereka oleh Perawan tanpa noda. Sebenarnya, baru beberapa bulan kemudian seorang yang tak mau disebut namanya, yakni tuan Ferdinand de Champgrand, bersedia mengeluarkan uang yang dibutuhkan untuk proyek khusus ini; ia mempunyai gagasannya sendiri. Lihat ‘Surat-Surat dari de Champgrand’ dalam J. Chevalier, Personal Notes, Appendix n. III, hal 122-132, yang diterbitkan oleh J. Bertolini.

<!–[if !supportFootnotes]–>[3]<!–[endif]–> Pengabulan novena kedua adalah tawaran bantuan tahunan sebesar seribu frank oleh nyonya du Quesne.

<!–[if !supportFootnotes]–>[4]<!–[endif]–> J. Chevalier, Personal Notes, hal. 23.

<!–[if !supportFootnotes]–>[6]<!–[endif]–> J. Chevalier, The Annals of the Little Society, hal. 4, pasal III. Versi lain dari Kontrak ini ditemukan dalam dokumen kecil yang berharga, tulisan Pater Chevalier, 1855-56, dan diterbitkan oleh J. Bertolini sebagai Appendix 1 dalam J. Chevalier, Personal Notes, hal. 106-110. Juga dalam versi yang lebih tua ini, yang ditulis hanya setahun setelah perjanjian dengan Bunda Kita dibuat, kedua pendiri itu berjanji bahwa mereka akan berusaha sejauh mungkin untuk mempromosikan devosi kepada Bunda Kita, terutama devosi kepada Hatinya yang tanpa noda. Dalam versi ini setiap pasal, II-VIII, berbicara mengenai Bunda Kita, dan bahkan dua pasal terakhir secara eksklusif mengenai dia. Karena dokumen tua ini mengungkapkan dengan baik spiritualitas kedua pendiri, terutama menyangkut Hati Maria tanpa noda, kami menurunkan teks versi lebih tua sebagai Lampiran 1. Pada tahap ini kedua pendiri secara jelas mewarisi spiritualitas St. Sulpisius, St. Yohanes Eudes dan Olier, yang berpusat pada Hati Yesus dan Hati Maria tanpa noda.Kedua devosi ini berjalan berdampingan; Bunda Kita belum dilihat dalam cahaya Hati Yesus.

<!–[if !supportFootnotes]–>[7]<!–[endif]–> J. Chevalier, Le Sacré-Coeur de Jésus dans ses rapports avec Marie, 1884, hal. 5: “Seturut kerinduan mereka untuk menunjukkan cinta dan rasa syukur mereka kepada Maria, pada hari itu juga, dalam pikiran mereka, mereka memberi dia nama ‘Bunda Hati Kudus’.”

<!–[if !supportFootnotes]–>[8]<!–[endif]–> Di sini Pater Piperon sendiri menambahkan catatan ini: “Tidak mungkin menentukan baik bulan maupun hari saat percakapan ini berlangsung. Tidak ada catatan mengenai hal itu. Sejauh kita dapat mengandalkan memoir-memoir yang ada, percakapan itu pasti terjadi menjelang akhir Mei atau permulaan Juni.

<!–[if !supportFootnotes]–>[10]<!–[endif]–> Chevalier, Histoire d’Issoudun, hal. 368f.

<!–[if !supportFootnotes]–>[12]<!–[endif]–> Jean Bertolini MSC, Surat tgl 20-23 April 1964 kepada G. Delbos MSC. Ms, 17 halaman. GAmsc. Id., “Souvenez-vous à ND du SC: Origine.” MSC salinan kasar, 6 Juni 1964, 5 hal. GAmsc.

<!–[if !supportFootnotes]–>[13]<!–[endif]–> V. Jouet, rasul agung Bunda Hati Kudus, akan diperkenalkan secara resmi dalam bab kedua. Ia menerbitkan novenanya pertama-tama dalam Annals of Issoudun, 1867, hal. 81-82. Novena itu sudah banyak kali dicetak dan diterjemahkan.

====================================================

N A T A L

“Yesus, selamat datang di tengah kami umat-Mu”

Dewan Provinsi Indonesia serta Staf

Mengucapkan


Selamat Hari Raya Natal

25 Desember 2008

&

Tahun Baru

2009

Frater yang kami kasihi,

Kita baru saja melewati tahun penuh kenangan 2008,

Dengan menengok dan mengenang, serta mensyukuri sejarah penziarahan “80 tahun” Kongregasi kita dari negeri Belanda ke Indonesia serta “Emas 50 tahun” karya kita, Yayasan Mardi Wiyata di Indonesia.

Betapa kita bersyukur, betapa kita beraksi, betapa kita mengenangnya lewat aneka ekspresi; dalam ajang ke-rohanian, kependidikan, kebudayaan, buku kenangan, bahkan karya sosial nyata dalam masyarakat di Banyu-wangi dan Malang Selatan. Semua realitas itu telah me-mbekas di atas pasir kesadaran kita pun sesama kita. Dan itu, menjadi bagian dari “sejarah pengembaraan” kita di bumi ini.

Kita benar-benar hidup di atas bongkah bumi fana ini, turut berputar beredar di atas planet bumi maya yang kian menyesakkan dada. Bersama 7.953.703 umat Ka-tolik serta 220 juta masyarakat Indonesia (Demografi Indonesia, 2006), kita adalah saksi-saksi hidup yang pantas menulis sejarah perjuangan hidup ini. Dan rea-litas serupa ini, akan tetap menghiasi desah nafas per-jalanan hidup kita sebagai warga Kongregasi pada masa mendatang. Kita tetap dan senantiasa percaya, bahwa Tuhan yang telah memanggil dan mengantarkan kita ke mana-mana, senantiasa menyertai kita.

Kini, hari Tuhan tiba untuk kita,

Kini hari Tuhan datang melawati kita. Anak Natal yang Kudus di palungan papa adalah sahabat sejati yang setia merangkul kita dalam kedinginan serta kekakuan sikap kita, lewat kebekuan dan kekerasan hati kita, lewat ke-setiaan kita yang mulai memudar; dan lewat malam gu-lita, yang diselimuti kegelapan dosa – dosa kita Dia rela datang demi dan untuk kita.

Mari, dalam suasana keakraban Natal, kami mengajak Anda semua sejenak menoleh, menatap kembali jejak-jejak langkah kita setahun silam, sambil berani bersikap kritis dengan bertanya,

“Bagaimana sikap lahir batinku sebagai anggota tarekat, masih setiakah aku kepada tugas panggilanku?”

“Bagaimanakah kualitas pelayananku kepada konfraterku?”

“Apakah aku masih bersikap jujur dan polos dalam pelayananku?”

“Apakah aku masih setia memikul tugas-tugas tarekat yang dipikulkan ke pundaku sebagi pemimpin tarekat, pemimpin karya, serta aneka pelayanan dalam komunitasku?”

Kami percaya,

pribadi seorang Frater yang peka, setia, serta rendah hati akan dapat menemukan “di mana dia berdiri se-panjang 2008, dan ke mana dia berlangkah, serta apa yang telah dipersembahkannya.”

Semoga tahun 2009 yang membentang sunyi di hadap-an kita, menjadi tahun optimis, sekalipun realitas me-nantang memang senantiasa menghadang.

“Mari, meneruskan ziarah kita”

Salam dan doa,

Dewan Provinsi Indonesia

____________________________________________________________________________

Renungan Adventus 2008

ADVENTUS

“Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang

(Mat. 24:42)

Para Frater yang kami kasihi,

Kembali kita diajak untuk mendengarkan, berdiam diri sejenak, merefleksi, dan melakukan kasih.

Adventus kembali tiba, ia datang mengetuk nurani kita untuk memandang ke depan.

Kini lingkaran waktu itu tiba,”adventus, sebuah penantian”

“Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan bagi-Mu; ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya

(Markus, 1:2 – 3)

Sebagai pribadi-pribadi yang sadar akan keberadaan kita, selaku orang-orang khusus yang melintasi jalan khusus sesuai iman dan kepercayaan kita; bahwa betapa kita sadar dan merasa penting untuk hidup sesuai terang Tuhan. Kita adalah biarawan, kita dikenal oleh banyak orang lewat relasi pengabdian di tengah dunia yang menampilkan wajah ganda: anta-ra kemakmuran, kemiskinan dan kemelaratan, penya-kit dan perang, wabah serta hedonisme yang meraja-lela yang menggelisahkan dunia.

Dan ujung-ujung realitas itu kini menari-nari di de-pan pelupuk mata kita, artinya kita (yang hidup khusus ini) turut menyaksikannya; bagaimana reaksi kita? Bagaimana nurani tulus kita sebagai biara-wan? Sebagai guru dan pendidik serta sebagai warga masyarakat? Kita pun turut dalam arena “ujian” itu. Kita sebaiknya menunjukkan sikap “transparan” kita dalam karya nyata.

Apakah sebagai Pemimpin Kongregasi, Yayasan Pen-didikan, Lembaga Pendidikan, sebagai Kepala Seko-lah, sebagai guru dan pegawai atau bendahara, kita telah mengabdi secara total serta tulus ikhlas? Atau kita pun ternyata turut andil menciptakan kebohong-an publik dalam dunia yang serba semu yang me-numbuhsuburkan “gelombang hedonisme, dengan tan-pa sadar ikut memamerkan kekayaan materi? Meng-hamburkan uang dan pangkat serta gelar? Sampai kita melupakan “janji kepedulian dan kesederhanaan” dengan sekadar mengikuti mode zaman? Ataukah kita pun turut bermain politik khas biara yang ujung-ujungnya menciptakan persaingan dan kesengsaraan di antara sesama Saudara sekongregasi? Beranikah mengaku bahwa kita telah bersikap tulus dan jujur? Beranikah kita memproklamasikan diri sebagai priba-di handal yang peduli terhadap Saudara-saudara yang tertindas?

Semoga figur kokoh polos yang lantang meneriaki kejujuran serta pertobatan, masih setia mau mene-mani kita. Dan sesungguhnya “dia” tidak pernah mati.. Keberaniannya untuk berkata dengan benar, berbuat dengan benar, dapat dan tetap menjadi obor penerang malam – malam kita di bumi ini.

“Bertobatlah, sebab kerajaan Surga sudah dekat” (Mat. 3:3).

Dialah Yohanes Pembaptis.

Mari Saudara,

Kita bersama memasuki masa Adven ini dengan berani bersikap dan tidak menimbulkan wajah ganda.

Marilah kita berani mengakui kesalahan serta ke-lalaian kita dengan mulai bersikap jujur dan terbuka.

Marilah kita mempersiapkan diri untuk menyongsong Juru selamat kita dengan bersikap penuh kepriha-tinan di tengah sesama warga yang hidup dalam ke-sengsaraan.

Selamat Memasuki Masa Penuh Refleksi

*****

Remah-remah Rohani

di Penghujung Maret ‘05

DERITA DAN RAHMAT

( Dari “Notes di Saku Baju” seorang Frater BHK )

(A) Ada empat (4) alur permenungan ditulis oleh seorang Frater (Jumat, 20 Desember 1996)…….” Saya menuliskan empat (4) ungkapan hatiku sebagai berikut”:

<!–[if !supportLists]–>(1) <!–[endif]–>Jalan derita yang bermakna diterima dengan sukacita, bukan untuk menghindarinya.

(2) Menderita karena berbuat benar, bukan karena berbuat salah akan bermakna ganda.

(3) Yesus memberi jalan derita yang bermakna dan menerima derita yang bermakna itu, yakni antara Golgota – Yerusalem. (Ada derita antara bumi – surga, ada sukacita).

<!–[if !supportLists]–>(4) <!–[endif]–>Derita dan rahmat perlu ada dalam hidup saya.

(B) Dalam “The Joy in Loving” karya Jaya Chaliha dan Edward Le Joly, 365 Hari Bersama Ibu Teresa, Renungan 30 Oktober, halaman 378 tertulis,

“Saya ingin mengatakan sesuatu kepada kalian;

Seandainya kalian merasakan beratnya dosa kalian, jangan takut!

Allah adalah Bapa yang penuh kasih;

Belas kasih Allah itu jauh lebih besar

Daripada yang dapat kita bayangkan”

Para Frater, kata-kata bermakna ini keluar dari mulut seorang yang dikagumi dunia, dialah suster Teresa. Dia telah memberikan kesaksian hidup dengan pelayanan tulus tanpa pamrih. Dia telah mampu menjembatani dunia yang berbeda, etnis yang berbeda, suku bangsa yang berbeda, budaya serta agama yang berbeda; dan yang terpenting dia telah menunjukkan wajah Kristus kepada dunia;

Sungguh,

AMOR OMNIA VINCET

CINTA MENGALAHKAN SEGALANYA

(Sanggupkah kita menyambung aliran rahmat dari ujung jemarinya?

(C) Sampai wafat-Nya di salib Maria mendampingi Puteranya.

Dalam iman, pengharapan, dan cinta. Dari atas salib-Nya Yesus memberikan Maria sebagai ibu kepada Yohanes; dan dalam diri Yohanes kepada kita sekalian.

Dengan tindakan ini Yesus menunjukkan kasih sayang-Nya dan membuka hati-Nya sebagai sumber keselamatan ( Konstitusi bagian Spiritual, bab IV, ayat 51 ).

(D) Yesus Berkata:

“Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi” (Lk 22:42)

Maka seorang malaekat dari langit menampakkan diri kepada-Nya (Lk.22:43)

Para Frater, suatu sikap penyerahan tulus yang dipersembahkan kepada Tuhan, dapat mengalirkan rahmat kekuatan serta penghiburan berlimpah; dalam kelemahan dan kesendirian kita, Ia datang dan merangkul kita; bawalah semua problema hidup kita

kepada-Nya!”

Para Frater yang dikasihi Tuhan, inilah empat (4) peristiwa kesaksian nurani serta iman dari ke-4 tokoh kita. ( Seorang Frater, Suster Teresa, bunda Maria, dan Yesus). Mereka ada (pernah ada, dan akan selalu ada), hidup, mengalami, menghayati, dan bersaksi melalui suatu proses hidup konkret mereka.

Bagaimanakah dengan kesaksian proses hidup Anda dan saya?

“Sanggupkah kita menerima derita dan menghayatinya sebagai rahmat?”

Mari kita renungkan !

Tatkala seorang Frater manula duduk sendiri dalam sepi di sebuah kursi rotan kokoh, ia masih tampak agung dan wibawa. Ia menatap sebuah taman kecil di depannya. Sementara itu seorang Frater sarjana, cerdas, tampak lincah sambil menjinjing tas hitam kecil, ia berlangkah mantab menuju kampus yang telah bertahun-tahun dige-lutinya; langkah-langkahnya pelan namun pasti. Seorang Frater Kepala Sekolah dengan wajah agak serius melintasi sealur lorong panjang, tam-pak sejumlah siswa dan karyawan menyalaminya, dan ia pun membalas dengan agak tersenyum. Dan di sana ada seorang Frater belia bergegas hendak ke kampus menimbah ilmu, ia seakan tenggelam dalam rutinitasnya antara bosan dan suka. Dan di sudut lain ada seorang Frater amat belia sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk ke-butuhan dapur biara.

Inilah deskripsi situasi riil dari rutinitas kita sehari-hari. Apa yang hadir dalam benak kita di saat-saat “sibuk sendiri” itu? Adakah api rahmat mengulurkan tangan tulusnya laksana pucuk cemara semampai menari dihempas angin? Ataukah hanya ada segunda dada sunyi kita diselimuti oleh dera sebongkah awan hitam kelabu kebosa-nan?

Adakah rahmat dalam derita?

Malang, 22 Februari 2005

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s